Aku Vs Masa Lalu Suamiku

Aku Vs Masa Lalu Suamiku
bab 80


__ADS_3

Rembulan yang bersinar terang semakin memperindah malam di kota Yogya. Menyinari setiap sudut kota ini Dengan cahaya nya. Suasana tiba-tiba menjadi hangat, memberi kenangan pada masing-masing insan di setiap sudut kota istimewa ini.


Duduk berdua bersama sang pujaan hati membuat perasaan Edgar menjadi bahagia. Tapi di sudut hati nya ada rasa sedih yang juga melanda. Ini adalah hari terakhir nya disini. Dan besok pagi Edgar harus pulang ke ibukota. Meninggalkan semua kenangan indah nya bersama sang istri di kota ini.


Andai ia bisa memutar waktu, ia tidak akan memilih berada di posisi ini. Posisi yang membuat dirinya sulit bergerak dan tidak bisa memilih jalan mana yang ingin ia ambil. Takdir memaksakan kehendak nya, takdir sudah mempersiapkan jalan untuk nya.


Jalan perpisahan dari istri nya.


Menikmati alunan musik merdu yang dimainkan oleh musisi jalanan. Edgar tiba-tiba berdiri dari duduk nya membuat ibu hamil yang sedang menikmati es krim itu mendongak menatap suaminya yang berdiri tinggi menjulang di hadapan nya.


Dewi semakin bingung saat Edgar mengulurkan tangan nya, dengan hati yang sedih Dewi mengira Edgar akan mengajak nya pulang secepat ini bahkan es krim di tangan nya saja belum habis.


"Kita pulang sekarang mas?" Tanya Dewi dengan raut wajah yang sedih dan kecewa.


Edgar yang melihat ekpresi Dewi tersenyum hangat, "tidak sayang, ayo ikut aku." Edgar menggerak-gerakkan tangan nya.


Dewi menerima uluran tangan Edgar dan berjalan bersama, tapi Dewi semakin bingung saat Edgar membawanya mendekati musisi jalanan. Ia memperhatikan Edgar yang sedang berbicara dengan salah satu pemain musik itu.


Setelah itu Edgar menarik tangan Dewi membawanya ke tengah-tengah sekumpulan orang yang sedang menonton dan menikmati musik. Dewi yang merasa bingung dan malu menyembunyikan wajah nya di lengan sang suami. kalau hanya ingin menonton cukup berdiri di antara penonton itu, tidak harus di tengah-tengah dan menjadi pusat perhatian semua orang disini.


"Mas kenapa kita di tengah-tengah, malu mas. Kita bisa menikmati musik bersama dengan mereka bukan di tengah-tengah seperti ini." Bisik ibu hamil itu menunjuk para penonton lewat sorot matanya.


"Kita akan berdansa sayang. kamu Belum pernah berdansa dengan ku kan?" Jawab Edgar tersenyum hangat dan mengusap lembut rambut istri nya. berusaha membuat istrinya rileks dan tidak tegang.


"Tapi aku malu mas, lihat semua orang memandang ke arah kita. Kita ini seperti pasangan mesum yang baru ketahuan. Dan di arak keliling Malioboro."


Edgar tergelak mendengar penuturan istri nya, "bukan hanya kita yang berdansa ada pasangan lain juga sayang. Lihat .." Edgar menunjuk 2 pasangan yang juga sedang berjalan ke tengah-tengah.


"Jadi bukan hanya kita yang seperti pasangan mesum yang sedang ketahuan. Mereka juga. setidak nya walaupun malu tapi ada teman nya kan." Edgar semakin tergelak dan berhenti saat Dewi mencubit pinggang nya.


"Jangan menggoda ku mas." Ketus Dewi.


"Baiklah sudah cukup basa basi nya nyonya, ayo berdansa dengan ku. Aku ingin membuat kenangan yang tidak akan pernah kita lupakan. Aku mau hubungan kita selesai dengan indah sama seperti awal hubungan kita yang terjalin dengan indah." Edgar tersenyum hangat mengulurkan tangan nya.

__ADS_1


Dewi tertegun, ia hanya bisa menerima uluran tangan pria yang sebentar lagi akan berubah status. Dada nya bergemuruh, ada rasa tidak rela saat Edgar mengucapkan kalimat perpisahan.


Musik di mulai, pasangan suami istri itu menari mengikuti irama musik. Membuat dunia ini hanya milik mereka. Disini mereka memadu kasih, dan sekarang untuk terakhir kalinya disini juga mereka memutuskan hubungan. hubungan yang belum genap 1 tahun itu harus kandas karena kesalahpahaman.


Mengalungkan tangan nya di leher sang suami, Dewi mengangkat pandangan nya menatap dalam wajah sang suami yang tersenyum hangat padanya.


"Aku mencintai mu" ucap Edgar pelan seketika membuat hati Dewi tersentuh.


Ibu hamil itu memandang wajah suaminya Dengan mata yang berkaca-kaca. Cairan bening seakan mendesak ingin keluar.


"Jangan menangis sayang, malam ini aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak membuat mu bersedih. Kalau kamu tidak mau aku gagal, tolong simpan dulu air matamu sampai dansa kita selesai." Edgar mengusap air mata disudut mata istri nya.


"Apa kamu bahagia?"


Entah kenapa mendengar pertanyaan seperti itu membuat ibu hamil itu semakin ingin menangis. Melepaskan kalungan tangan nya di leher sang suami. Berganti tangan nya memeluk pinggang Edgar erat. Ia sembunyikan wajah nya di dada bidang sang suami.


"Aku bahagia mas." Ucap Dewi disela isakan nya, air mata yang susah ia tahan sejak tadi tak mampu ia tahan lagi dan menerobos keluar tanpa persetujuan.


"Terimakasih sayang, sudah memberiku kesempatan untuk mencintai mu. Mencintai wanita sesempurna dirimu. Terimakasih sudah mau mencintai pria seperti ku."


Tak ada jawaban dari ibu hamil itu, Dewi masih saja menyembunyikan wajah nya di dada sang suami. Jemari nya mencengkram erat kaos yang di pakai suaminya. menikmati rasa yang tidak bisa di ucapkan hanya dengan kata-kata. tidak mempedulikan tatapan orang-orang yang berpusat padanya. mungkin orang lain mengira Dewi dan Edgar sedang berbahagia menikmati momen ini tanpa mereka sadari, ada hati yang sesak ingin memberontak dan protes pada takdir.


***


"Oke, kita pulang sekarang. Pakai sabuk pengaman nya dulu ya" Edgar memakai kan sabuk pengaman di tubuh sang istri.


"Apa ini nyaman?" Tanya Edgar


Dewi mengangguk, Edgar mulai melajukan mobil nya. Di sepanjang perjalanan nya Edgar melirik sang istri yang diam saja.


"Apa kamu baik-baik saja wi?" Tanya Edgar, ia bisa melihat wajah sembab istrinya dengan jelas.


"Ya mas" jawab Dewi singkat.

__ADS_1


Edgar dan Dewi sampai di rumah pak Suryo saat rembulan sudah meninggi. Tampak Dewi yang langsung masuk kamar meninggalkan Edgar dan pak Suryo yang sedang membicarakan sesuatu.


"Pak Suryo, saya sangat berterimakasih atas kebaikan pak Suryo pada saya dan Dewi. Besok saya akan kembali ke Jakarta.." Edgar menggigit bibir menyiapkan diri untuk mengatakan kalimat selanjutnya.


"Saya dan Dewi sudah memutuskan untuk bercerai" Edgar menunduk.


Pak Suryo menepuk pundak Edgar "apa tidak bisa di pertahankan lagi nak?"


Edgar menggeleng " sudah tidak bisa pak, Dewi tetap pada pendiriannya. Saya minta tolong pada pak Suryo untuk menjaga Dewi selama disini. Dan saya mohon saat Dewi waktunya melahirkan tolong kabari saya."


Pak Suryo mengangguk "kalau itu sudah menjadi keputusan kalian, tidak apa-apa. Nak Edgar, jika tuhan menakdirkan kalian berjodoh pasti kalian akan bersama lagi."


"Ini di dalam ATM ini ada uang, untuk kebutuhan Dewi selama disini pak. Dan ini untuk pak Suryo pribadi saya sangat berterimakasih sudah di izinkan tinggal disini. Terimakasih atas kebaikan bapak." Ucap Edgar menyerahkan ATM dan amplop pada pak Suryo.


"Saya terima ATM untuk keperluan Dewi, tapi saya tidak bisa menerima ini nak. Saya ikhlas. Kalian sudah saya anggap seperti anak saya sendiri." Pak Suryo menyerahkan kembali amplop coklat yang di berikan Edgar.


"Saya mohon pak, saya akan bersedih jika bapak tidak menerima nya. Itu untuk bapak. Tolong di terima ya pak. Saya masuk ke dalam kamar dulu. Malam pak"


Pak Suryo menghela nafas memandang amplop dan ATM di tangan nya. Ia menoleh pada pintu kamar yang baru saja tertutup.


"Semoga kalian bahagia Dengan keputusan kalian."


***


Masuk ke dalam kamar, Edgar melihat Dewi yang sudah terlelap di atas kasur. Mendekati istri nya Edgar ikut berbaring di samping sang istri.


Menatap langit-langit kamar, Edgar menghela nafas berat. Ini malam terakhir nya bersama sang istri. Ia mendesah saat waktu terasa cepat berlalu.


Merengkuh tubuh istrinya, Edgar memeluk erat tubuh Dewi dan mencium kening nya berulang.


"Aku rasanya tidak sanggup jika harus berpisah dengan mu. Tapi demi kebahagiaan mu aku terpaksa.." Edgar menggigit bibir, menahan agar suara tangis nya tidak keluar.


"Aku mencintai mu Diandra Dewi"

__ADS_1


__ADS_2