
"apa peduli mu?" Jawab Dewi ketus, ia merasa perlu melakukan ini. lelah menghadapi sikap suaminya yang se enak nya.
"Peduliku ?" Edgar mengulang kata Dewi " kamu itu istri ku. Jelas saja aku peduli."
"Hah! Tidak salah mas? Selama beberapa Minggu ini kamu kemana saja? Bahkan kamu beralasan keluar kota hanya untuk merawat Risa kan." Tanya Dewi, ia sudah lelah berpura pura tidak tahu.
"Kenapa telefon ku tidak kamu angkat?" Tanya Edgar mengalihkan pembicaraan.
"Aku sibuk!" Jawab Dewi dengan asal.
"Apa kamu sibuk dengan teman dekat mu?" Tanya Edgar menyindir.
"Apa maksud mu mas?" Mendengar perkataan Edgar membuat emosi Dewi tersulut. "Bukan kah seharus nya aku yang bilang seperti itu ?" Imbuh nya dengan tersenyum sinis.
"Lalu ini apa wi?" Tanya Edgar melempar amplop coklat ke atas meja.
Dengan segera Dewi membuka nya. Dia terkejut saat melihat foto nya tadi sore bersama Erik ditaman.
"Kamu mengawasi ku mas?" Tanya Dewi memasukan kembali foto itu ke dalam amplop dan melemparkan nya ke atas meja.
"Aku mengirim beberapa orang untuk mengawasi mu selama aku pergi. Dan itu yang ku dapat dari mereka." Jawab Edgar menatap lekat istri nya.
"Lalu kamu mencurigai ku berselingkuh dengan mas Erik?" Tanya Dewi dengan suara tinggi menatap tajam pada suami nya.
"Tentu saja aku curiga, aku menghubungi mu tapi tidak kamu angkat. Dan malah mendapat laporan jika istriku berduaan dengan laki laki di taman. Romantis sekali ..." Sindir Edgar dengan tersenyum sinis.
Edgar berjalan mendekati Dewi, Dewi mundur beberapa langkah saat edgar dengan sigap mencengkram bahu nya. menyentuh punggung Dewi dengan tangan nya, punggung yang tadi sempat di usap Erik karena ingin menenangkan Dewi.
"apa pelukan laki laki itu hangat?" tanya Edgar dingin , mata nya masih menatap punggung Dewi.
Dewi hanya diam saja dia mengkerut kala melihat lirikan mata Edgar yang menakutkan.
"kamu bahagia bisa berduaan nya?"
"aku? lalu bagaimana dengan dirimu yang menghilang tanpa kabar mas?, Bahkan kamu membohongiku demi merawat Risa!" Suara Dewi meninggi, ia akan mengeluarkan semua yang mengganjal dihati nya saat ini.
Edgar hanya terdiam, dia tahu dia salah telah membohongi istri nya. Dia melakukan itu karena tidak mau Dewi sakit hati jika tahu ia tengah merawat Risa.
__ADS_1
"Selama berhari hari kamu selalu berangkat pagi dan pulang larut malam. Aku berinisiatif membawakan mu makan siang. Apa yang aku dapat saat datang ke kantor mu? Suami ku tidak ada diruangan nya dan sekertaris mu bilang kalau kamu diluar kota. Aku mencoba percaya. Tapi saat aku melihat dengan mata kepala ku sendiri, melihat suami ku dengan telaten nya merawat mantan pacar nya di taman rumah sakit! mulai saat itu aku sudah memutuskan untuk pergi dari rumah mu!"
Dewi tersenyum getir, dadanya merasa sesak.
Deg ...
Edgar mengangkat pandangan nya menatap istri nya.
"Kamu sudah tahu semua nya?" Tanya nya.
"Ya!"
"Aku lelah mas, aku lelah berjuang sendiri selama ini. Aku kira setelah kamu menemui Risa dirumah sakit, kamu sudah menyelesaikan semua nya. Tapi ternyata belum ya?" Dewi tersenyum getir menatap intens suami nya.
"Bodoh nya aku sampai sekarang masih mempertahankan hubungan ini! Hanya demi a ..." Dewi tidak melanjutkan perkataannya.
"Apa aku ini penting bagimu mas?" Tanya Dewi pada Edgar yang masih terdiam mendengar kan semua perkataan nya.
"Kamu sangat penting bagiku wi ..."
"Kalau aku penting bagimu, kenapa aku merasa tersisihkan. Bahkan aku ditipu suami ku sendiri. Ditinggal sendiri di rumah yang masih lekat dengan bayang bayang mantan pacar suami ku." Dewi berusaha sekuat tenaga menahan air mata nya agar tidak tumpah.
"Kamu ini lucu sekali mas, kamu menyuruh orang lain untuk merawat istri mu saat terluka. Dan kamu sendiri malah dengan suka rela meluangkan waktu mu untuk merawat Risa. Hebat sekali ... Kenapa tidak kamu bunuh saja aku agar kamu bisa terus bersama Risa tanpa merasa terbeban kan oleh ku!" Teriak Dewi, suaranya memenuhi ruang tamu.
Andai Mia dan Bu Dian sedang dirumah, pasti mereka akan terkejut mendengar teriakan Dewi. Seorang Diandra Dewi yang dikenal sabar dan lembut sekarang bisa berteriak bahkan teriakan nya sangat mengerikan.
"Sstt ... Omong kosong apa yang kamu katakan sayang. Jangan mengatakan itu lagi. Aku tidak mau kehilangan mu."
Edgar memeluk tubuh istri nya, dengan sekuat tenaga Dewi memberontak melepaskan diri dari dekapan Edgar. Amarah yang memenuhi hati nya membuat nya bisa lepas dari pelukan suaminya.
"Sudah lah, aku lelah. Silahkan keluar dari rumah ku mas!" Usir Dewi .
"Aku akan menginap disini, ayo kita ke kamar mu." Ajak Edgar dia akan merayu lagi istrinya nanti agar tidak marah. Sesungguh nya saat mendapat laporan dari orang suruhan nya. Hati Edgar seperti terbakar melihat istrinya berduaan dan tertawa dengan laki laki lain. Apalagi laki laki itu pernah dekat dengan istrinya dulu.
Tetapi Dewi menolak, menghempaskan dengan kasar tangan suami nya yang hendak menyentuh nya.
Saat Edgar masih membujuk Dewi untuk masuk ke kamar nya. Tiba tiba pintu terbuka dari luar. Muncul Mia dan Bu Dian yang baru saja pulang.
__ADS_1
"Nak Edgar disini, kenapa tidak masuk kamar sudah larut malam." Bu Dian melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul 23:00.
Dengan berat hati Dewi mengajak Edgar masuk ke dalam kamar nya. Ia tidak mau pertengkaran nya dilihat ibu nya.
***
Didalam kamar Dewi yang sudah selesai membersihkan diri keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidur nya.
"Kenapa menatap ku terus?" Tanya Dewi saat melihat Edgar yang dari tadi mandangi nya terus.
Edgar menggeleng, "aku merindukan istriku." Ia menghampiri Dewi ingin memeluk nya tapi Dewi menolak.
"Mandi dan bersihkan dirimu mas, aku mau tidur." Ucap Dewi sembari berjalan ke arah tempat tidur nya.
"Aku tidak bawa pakaian ganti wi," kata Edgar menghampiri istri nya yang sudah merebahkan diri dikasur empuk nya.
"Makanya pulang saja kerumah mu sana!" Ujar Dewi masih berusaha mengusir suaminya.
"Aku mau menginap disini. Walaupun kamu mengusirku aku tidak akan pergi. Memang nya kamu mau kalau ibu melihat pertengkaran kita?." Edgar tersenyum jahil menggoda istrinya.
Dewi mendengus kesal. " Akan aku Carikan baju bapak, semoga saja masih ada." Dewi Turun dari ranjang menuju pintu.
Setelah mendapatkan baju yang ia minta dari ibu nya, Dewi kembali ke kamar. Terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi. Dewi mengetuk pintu kamar mandi itu.
Pintu dibuka dari dalam muncul Edgar yang tidak memakai pakaian apapun, rambut nya masih penuh dengan sampo.
"Astaga mas, kenapa tidak memakai apapun!" Pekik Dewi mengalihkan pandangan nya.
"Kenapa ? lagian Kamu sudah sering melihat nya sebelum nya kan." Jawab Edgar tersenyum usil.
"Ini! Cepat selesai kan. Aku mau tidur." Dewi menyerahkan pakaian pada Edgar lalu meminta pakaian kotor suaminya agar bisa dia cuci. Setelah selesai mencuci Dewi berjalan ke arah tempat tidur. Suaminya belum keluar dari dalam kamar mandi. Ia merebahkan badan nya dikasur empuk nya.
Setelah beberapa menit, Edgar keluar dari kamar mandi dengan memakai baju dan celana bapak Dewi.
Dewi menoleh ke arah suami nya, baju bapak nya terlihat kekecilan di badan Edgar, tapi celana nya terlihat pas.
Dewi menahan tawanya, dan memiringkan badan nya membelakangi Edgar.
__ADS_1
Edgar ikut merebahkan diri di samping istri nya. Menatap langit langit kamar istri nya.
Edgar melirik ke arah istri nya yang membelakangi nya. Ingin sekali ia memeluk tubuh mungil itu. Jujur saja selama merawat Risa Edgar tidak bisa berhenti memikirkan istri nya. Ia sangat merindukan istri nya. Tapi dia harus melakukan ini demi menebus rasa bersalah nya pada Risa. Rasa bersalah yang tanpa alasan datang berbarengan dengan rasa kemanusiaan.