
Hari ini Dewi libur berjualan. Dia meminta Mia menemaninya menuju butik tempat dia fighting baju pengantin karena Edgar sebelum nya mengabari tidak bisa menjemput Dewi karena ada pekerjaan mendadak yang harus diselesaikan nya.
Dewi dan Mia sudah sampai di butik dengan menggunakan taxi.
Dia masuk butik dan langsung disambut ramah oleh pegawai butik itu.
"Selamat datang di butik kami nona, mari ikut saya." Ucap sang pegawai itu menuntun Dewi untuk mengikutinya.
Dewi menatap beberapa gaun pengantin yang berjejer.
"Cantik sekali" gumam nya.
Dia menatap gaun putih dengan manik manik di dada , bagian bawah nya yang lebar membuat kesan indah pada gaun itu.
"Anda mau mencoba yang ini nona?" Tanya pegawai wanita itu.
Dewi tampak ragu, dia menatap keluar mencari sosok kekasih nya.
"Tuan Edgar mungkin akan datang sebentar lagi, silahkan nona mencobanya terlebih dahulu" ucap pegawai itu yang sebelum nya sudah dikabari Edgar agar melayani terlebih dulu calon istri nya.
Dewi menurut, dia menoleh pada Mia yang duduk disofa panjang untuk menunggu.menitipkan tas nya dan Mia langsung meraih nya.
Agak lama memakai gaun itu karena bagian bawah yang menjuntai. Setelah selesai Dewi keluar dari ruang ganti rencana nya ia akan meminta saran dari Mia.
Ceklek ..
Pintu dibuka nya, Dewi terkejut saat Edgar ternyata sudah menunggu nya duduk disofa.
Edgar mendongak menatap Dewi. Dia tersenyum lalu menghampiri Dewi.
"Gaun ini cocok sekali untuk mu sayang,sangat cantik sekali." Puji Edgar yang membuat Dewi tersenyum malu.
"Apa mas menyukai nya?" Tanya Dewi.
"Tentu saja." Ucap Edgar.
Mia yang memperhatikan kedekatan Dewi dengan Edgar hanya bisa mengulum senyuman.
__ADS_1
"Kalian serasi sekali.. aaa aku juga ingin punya kekasih..."
Fighting baju berjalan dengan lancar. Dewi pulang dengan Mia naik taxi karena Edgar tidak bisa mengantar nya. Dia disibukan oleh Pekerjaan nya karena sebentar lagi dia akan menikah.
Sesampainya dirumah Dewi mempersilahkan Mia duduk diruang tamunya.
Saat hendak mengambilkan minum untuk Mia, Dewi dikejutkan dengan suara anak kecil yang memanggil namanya dari arah dapur.
"Ante,, ante" ucap anak kecil itu berlari menghampiri Dewi lalu memeluk kakinya.
"Eh.. Lily disini sayang." Ucap Dewi lalu membungkukan badan nya meraih tangan Lily yang meminta digendong.
"Kapan datang mba?" Tanya Dewi pada kakak nya yang muncul dari dapur sudah membawa minuman untuk Mia.
"Tadi satu jam yang lalu kira kira. Gimana acara fighting nya, lancar kan?"
"Lancar mba. Mba ayu nginap sini?"
"Iya, tapi mas arka tidak. Kerjaan nya tidak bisa ditinggal." Ucap ayu kakak Dewi.
Dewi hanya mengangguk. Lalu Mereka duduk diruang tamu. Mengobrol seperti biasa, melepas kangen satu sama lain.
"Ya mba," ucap Dewi dan Mia bersamaan.
Setelah melihat ayu masuk kedalam kamar nya. Mia menatap Dewi disamping nya.
"Wi aku boleh minta tolong tidak?" Ucap Mia
"Kenapa mi? Ada masalah?" Tanya Dewi yang menatap raut sedih diwajah teman nya itu.
"Aku diusir dari kontrakan wi. Karena sudah nunggak 2 bulan lebih. Apa aku boleh menginap disini untuk malam ini. Aku janji kalau sudah dapat kontrakan baru aku langsung pergi." Ucap Mia memohon pada Dewi.
Dewi tidak tega menatap teman nya itu..
"Tidak apa apa mi, menginap saja disini. Nanti aku bilang pada ibu ku ya." Ucap Dewi.
Hari sudah malam, Mia menginap dirumah Dewi setelah sebelum nya izin pada Bu Dian.
__ADS_1
"Iya tidak apa apa, menginap saja disini. Nanti kalau Dewi sudah menikah dia ikut suami nya. Ibu jadi tidak ada teman nya. Kamu bisa tinggal disini temani ibu." Ucap Bu Dian pada Mia.
Mia yang mendengar perkataan Bu Dian menteskan air mata , dia menangis dan langsung dipeluk oleh bu Dian.
" Kenapa menangis nak?" Tanya Bu Dian.
" Mia sangat berterimakasih Bu, ibu sudah mengizinkan Mia tinggal disini. Mia selama ini sendirian tidak ada yang menemani." Ucap Mia yang masih sesenggukan.
Mia adalah anak yatim piatu, kedua orang tua nya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena sakit. Dia tinggal dikontrakkan sendiri. Banting tulang sendiri untuk mencukupi kebutuhan nya. Saudara ibu nya yang dekat tidak ada yang mau dimintai tolong untuk tempat tinggal. Sedangkan saudara ayah nya entah berada dimana.
Saat kesusahan untung saja dia bertemu Dewi yang berbaik hati mau memberi nya pekerjaan. Dia terharu, orang lain yang tidak mempunyai hubungan darah dengan nya dengan baik hati mau menolong nya sedangkan saudara nya malah tidak mau.
Begitulah kehidupan. Terkadang yang dekat adalah orang yang paling tega pada kita.
Dewi mengajak Mia ke kamar nya, mereka duduk ditepi ranjang.
" Mi kamu sudah aku anggap seperti saudara ku sendiri. Jangan sungkan ya mi anggap rumah sendiri." Dewi mengusap punggung Mia yang masih bergetar.
"Terimakasih ya wi, aku tidak tau bagaimana hidup ku kalau tidak bertemu kamu." Ucap Mia memeluk erat tubuh Dewi.
"Sudah sudah, ayo kita tidur. Kamu bisa memilih mau tidur sama aku atau tidur di kamar sebelah."
"Aku tidur sama kamu saja wi. Tapi barang barang ku akan aku taruh dikamar sebelah besok. Biar kamu tetap merasa nyaman dan tidak tercampur oleh barang barang ku." Ucap Mia.
"Ya sudah tidak apa apa. Ayo tidur." Ajak Dewi.
Mereka berdua akhir nya terlelap dengan mimpi masing-masing.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Terimakasih
"