Aku Vs Masa Lalu Suamiku

Aku Vs Masa Lalu Suamiku
bab 42


__ADS_3

Dewi terbangun dari tidur nya, dilihat nya arah samping nya. Suaminya sudah tidak ada. Dewi turun dari tempat tidur menuju ruang pakaian, Edgar juga tidak ada. Dibuka nya kamar mandi lagi lagi suaminya tidak ada.


Ia melangkah keluar kamar menuju dapur mencari keberadaan kedua asisten nya.


"Bu ... Suami ku sudah berangkat?" Tanya nya dengan nafas memburu, berjalan cepat dari kamar menuju dapur membuat nya sedikit kelelahan.


"Sudah non, tadi pagi pagi sekali. Emm ..." Bu asih tidak melanjutkan perkataannya.


Ana membawakan segelas air putih untuk Dewi, lalu ia berdiri disamping Bu asih.


"Kenapa Bu?" Tanya Dewi menatap ada yang tidak beres pada wanita yang mendekati kepala lima itu.


"Tuan Edgar membawa koper, apa ada tugas luar kota non?" Ujar Bu asih.


Dewi tersentak hampir saja menjatuhkan gelas ditangan nya, tapi dengan sigap ana menangkap gelas itu.


Dia menghempaskan tubuh nya pada kursi ruang makan. Dia tidak menyangka suami nya mengambil sikap ini.


"Apa semua yang kamu bicarakan pada ku hanya omong kosong belaka mas? Apa rasa cinta yang kamu ungkap kan itu semua nya bohong?" Lirih Dewi. Tangan nya mencengkram kuat ujung baju nya.


"Hiks hiks ,, apa aku tidak penting di hidup mu mas?" Dewi menangis terisak, biasanya dia akan menyembunyikan masalah rumah tangga nya dari orang lain. Tapi sekarang dia benar-benar lelah sampai tidak menyadari Bu asih dan ana mendengar suara nya.


Bu asih menghampiri Dewi, mengusap punggung majikan nya yang bergetar hebat.


Dipeluk nya tubuh wanita itu, Dewi terisak di pelukan Bu asih. Bu asih yang mendengar isakan dari nona nya menjadi tidak tega. Ia membantu Dewi masuk ke dalam kamar nya. 


Di tatap nya sekali lagi nona nya itu sebelum keluar dari kamar. Bu asih menghela nafas, Dewi tertidur setelah lelah menangis.


Ia tidak sengaja melihat foto USG yang terselip di antara bantal saat menenangkan nona nya.


***


Dewi terbangun dari tidur nya saat mendengar dering ponsel. Diraih nya hp itu.

__ADS_1


Terlihat pesan dari Edgar.


"Aku ada urusan mendadak diluar kota, tidak sempat mberitahu mu tadi pagi."


Setelah membuka pesan dari suami nya, Dewi berjalan menuju ruang pakaian. Di ambil nya semua pakaian nya sendiri bukan pakaian yang dibelikan suami nya.


Dimasukkan nya kedalam koper. Dewi menatap nanar koper itu.


Bu asih yang sedang membersih kan ruang tamu terkejut ketika melihat Dewi turun dari tangga dengan menyeret koper di tangan nya.


"Nona mau kemana?" Tanya Bu asih buru-buru menghampiri Dewi.


"Aku mau pulang ke rumah ibu ku Bu. Terimakasih atas bantuannya selama ini ya." Ucap Dewi.


Dia sudah memutuskan untuk merelakan Edgar, dia akan merawat bayi nya sendiri.


Bu asih tersentak, perkataan majikan nya seakan hari yang terakhir ia tinggal di rumah ini.


"Mas Edgar tidak mencintai ku Bu." Lirih Dewi. "Dia masih mencintai Risa, mantan pacar sekaligus cinta pertama nya." Lirih nya lagi.


Berulang kali Bu asih mencegah Dewi tapi usaha nya sia-sia. Nona nya itu masih saja pergi dari rumah.


Danu yang ingin mengantar pun ditolak mentah-mentah.


"Biarkan dia pergi, kali ini kita tidak perlu ikut campur. Biarkan Edgar merasa menyesal." Tegas pak  Rudi pada istri nya yang dari tadi merengek meminta suami nya mencegah Dewi.


Laki laki yang setia berada di samping Edgar sejak masih kecil itu hanya menghela nafas kasar.


"Tapi non Dewi sedang hamil pak," ujar Bu asih pada suami nya yang tengah menyesap sebatang rokok lalu menghembuskan nya.


"Bagus kalau seperti itu, anak nakal itu sudah keterlaluan sekarang. Biarkan dia merasakan jauh dari istri nya dan anak nya." Jawab pak Rudi santai.


Bu asih yang mendengar perkataan Suami nya hanya mendengus sebal.

__ADS_1


***


Dewi memutuskan untuk menginap di kedai nya. Kedatangan nya tentu saja membuat Mia terkejut apalagi saat melihat koper di tangan kirinya.


"Apa yang terjadi wi?" Mia menghampiri Dewi, dan membawakan koper nya.


Dewi tidak menjawab. Dia hanya diam dan menunduk. 


Seharian di kedai Mia membujuk Dewi untuk pulang, daripada sendirian di kedai. Lebih baik dirumah nya sendiri dan ada yang menemani.


Setelah beberapa menit Mia membujuk Dewi akhir nya ibu hamil itu pun menyetujui.


"Wi, kamu pulang. Mana Edgar?" Tanya Bu Dian menghampiri anak nya.


Bukan nya menjawab pertanyaan nya, putri nya itu malah menangis. Dengan segera dipeluk nya tubuh putri nya.


Bu Dian merasa pasti ada masalah yang sangat serius sampai Dewi memutuskan untuk pulang.


Bu Dian mengajak Dewi untuk duduk. Setelah tenang, Bu dian meminta anak nya menceritakan apa yang sedang terjadi. Dewi pun menceritakan semua nya. Bu Dian hanya menghela nafas berat.


"Mia, bawa Dewi ke kamar biar dia bisa istirahat." Titah Bu Dian pada Mia. 


Setelah anak nya sudah masuk ke dalam kamar. Bu Dian menelefon Edgar. Ia hendak bertanya sesuatu. Tapi berulang kali ia menghubungi Edgar tapi nomor nya tidak aktif.


"Kenapa bisa menjadi seperti ini?"


-


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2