
Hari ini Edgar menuruti keinginan Dewi untuk ke candi. candi yang berjumlah seribu , wisata yang selalu diburu oleh para wisatawan itu terlihat berdiri dengan gagah nya. Dari hotel menuju candi ini sekitar tiga puluh lima menit.
Dewi tampak bahagia sekali, tersenyum dengan riang gembira akhirnya bisa melihat langsung bangunan kuno yang berdiri megah di hadapan nya. terlihat ia mengambil beberapa foto. dia tidak akan melewatkan satu momen pun.
"Mas ayo kita berfoto disana," ajak Dewi menarik tangan suaminya berjalan ke arah yang di inginkan nya.
Edgar hanya menurut mengikuti kemauan istrinya. Melihat senyum ceria diwajah cantik istrinya Edgar merasa bahagia.
"Pak tolong fotokan kami berdua ya" pintanya pada pak sur yang dengan setia mengikuti kemanapun pasangan itu pergi.
Cekrek
Cekrek
Beberapa foto sudah berhasil diambil. Matahari semakin naik, hawa panas sudah terasa menyelimuti tubuh. tampak para wisatawan berbondong-bondong mencari tempat untuk berteduh dari cahaya menyengat yang di pancarkan sang Surya siang itu.
Edgar mengajak Dewi untuk masuk ke mobil.
"Ini minum dulu, kamu pasti lelah dari pagi berjalan mengelilingi seribu candi ini"
Memberikan minuman dingin pada istri nya.
Dewi meminum nya sampai setengah botol.
"Ahh,,, segar nya."
"Mas itu bukan seribu candi, hanya 999 candi saja." Ucap Dewi meralat perkataan suaminya.
"Sayang sekali ya padahal kurang satu lagi dia bisa mendapatkan wanita yang di cintai nya" ucap Edgar memejamkan mata dan menyilangkan tangan didada nya. Bersandar pada kursi mobil dia kelelahan seperti nya. bagaimana tidak, istrinya terlalu bersemangat dan mengajaknya berkeliling melihat bangunan ini.
"Iya sayang sekali." Lirih Dewi. Dia melirik Edgar disamping nya. suaminya tampak memejamkan mata.
"Mas kamu lelah?" Tanya Dewi tapi tidak ada sahutan dari Edgar. Dia berinisiatif menyandarkan kepala Edgar di pundaknya.
__ADS_1
"Tidur lah mas, semoga mimpi aku ya hehe" lirih Dewi tersenyum geli dengan ucapan nya sendiri. dia menundukkan kepalanya agar bisa melihat dari jarak dekat wajah tampan suami nya. di usap nya lembut rambut Edgar.
Edgar yang hanya pura pura tidur terlihat menyunggingkan senyuman di wajahnya.
Yang awalnya hanya pura pura tidur menjadi tidur beneran, merasakan nyaman nya pundak sang istri.
Dia terbangun saat istrinya memanggil namanya pelan.
Dia mulai mengerjapkan mata, menggeliat sebentar meluruskan otot otot nya.
"Bangun mas, lanjutkan tidur di kamar saja ya." Menepuk pelan bahu suaminya.
"Kenapa kita ke hotel wi, bukanya mau lanjut ke pusat oleh oleh?" Menatap keluar jendela mobil dia sudah berada diparkiran hotel tempatnya menginap.
"Besok saja mas, kita istirahat saja dulu."
"Bisa jalan sendiri kan mas, karena aku tidak sanggup jika harus menggendong mu sampai atas"
Edgar tergelak, setelah nya dia meletakan kedua tangan nya dibelakang tubuh istrinya.
"Karena kamu tidak sanggup jika harus menggendong ku, maka dengan senang hati aku yang menggendong mu saja." Tergelak lagi sambil melangkah kan kaki nya kedalam hotel.
"Mas turunkan aku, aku malu dilihat banyak orang." Melirik kesana kemari semua mata menatap ke arah nya. Malu. Dia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang suami.
"Nah kalau kamu malu sembunyikan saja wajah mu seperti itu."
Edgar masih berjalan santai menuju lift, tidak menghiraukan tatapan iri orang orang padanya.
"Buka pintu nya sayang, kedua tangan ku sudah punya tugas masing-masing." pinta Edgar tergelak melihat istrinya mengerucutkan bibir.
"Kalau begitu turunkan aku mas." Protes Dewi. dia menahan malu sejak tadi akibat perlakuan romantis suaminya yang tiba tiba. membuat dada nya berdebar antara malu dan bahagia.
"Tidak! Ayolah buka saja sayang." terlihat snag suami sudah mulai tidak sabar.
__ADS_1
Akhir nya Dewi membuka pintu kamarnya dengan tangan kirinya. Karena tangan kanan nya berpegangan pada leher sang suami.
Edgar membaringkan tubuh Dewi ke ranjang. Mengunci tubuh istrinya.
"Mas kamu mau apa?" pekik Dewi Melihat Edgar yang sudah berada diatas tubuhnya. mengungkung nya.
"Membuat Edgar junior." Bisik Edgar menggigit kecil pada telinga Dewi dengan gemas.
"Apa kamu tidak lelah mas? Bagaimana kalau nanti malam saja."
Tawar nya, ia menggit bibir menahan rasa geli yang menjalar ditubuhnya karena perlakuan Edgar.
Edgar mendongak menghentikan aktivitas bibir nya di dada sang istri, terlihat beberapa tanda merah sudah terpampang disana.
"Tidak! Tugas ini tidak bisa ditunda lagi sayang. Sudah darurat, harus di kerjakan sekarang juga." Tergelak melihat wajah istrinya yang memerah.
"tadi malam kan sudah." jawab Dewi, sebenarnya dia lelah karena terlalu bersemangat mengelilingi candi tadi. dia ingin istirahat.
"tidak bisa kalau hanya sekali sayang, harus berulang kali agar mendapat bibir yang bagus." begitulah alasan Edgar merayu istri nya.
Mereka berdua menghabiskan siang nya berada didalam kamar, menyalurkan hasrat nya yang sedari tadi menggelora.
Saling membelai, memberi kehangatan pada tubuh masing-masing.
Kegiatan panas itu di akhiri dengan erangan dari keduanya.
Edgar memeluk tubuh kelelahan Dewi membenamkan wajahnya di dada kekarnya. Menghadiahkan kecupan lembut dikening istrinya.
"Terimakasih sayang" ucapnya lembut.
"Hemm." Dewi tidak bisa menjawab dia masih mengatur nafas nya setelah pertempuran itu. Setelahnya ia mendongak menatap wajah sang suami.
"Mas apa kamu mencintaiku?"
__ADS_1
Deg..