
1 purnama terlewati dengan baik, tak ada drama atau masalah apapun. Semua berjalan dengan semestinya dan bahagia. Menyambut hari kelahiran putra nya 2 Minggu lagi dengan suka cita. Kamar sudah di hias dengan tema kartun. Semua perlengkapan sudah tertata rapi dalam lemari.
Tetapi ibu hamil itu menunduk dalam diam, ia tidak mau berbicara. Sejak Edgar bilang padanya akan ke Bandung membahas pembangunan hotel baru dengan sang investor.
"Sayang, aku hanya sebentar disana. Tidak menginap dan aku pastikan malam ini sampai dirumah dan memeluk mu saat tidur." Edgar masih mencoba membujuk Dewi yang tidak rela melepas belitan di pinggang nya.
"Tapi aku tidak mau di tinggal mas, kalau tiba-tiba dedek bayinya mau keluar gimana?." Rengek Dewi semakin mempererat belitan di pinggang sang suami.
"Masih 2 Minggu lagi perkiraan lahiran nya sayang. Jadi jangan cemas ya, setelah ini aku tidak akan keluar kota lagi sampai waktunya dedek bayi lahir. Jadi izinkan aku pergi ya.. ini sangat penting sekali sayang." Edgar menjelaskan.
"Beneran?" Dewi mengangkat pandangan, mendongak pada sang suami menunggu jawaban.
"Ya sayang, andai saja ini bisa diwakilkan pasti aku akan mewakilkan nya pada Dava. Tapi ini tidak bisa sayang, investor memintaku langsung untuk membahas proyek ini." Edgar membungkukan tubuhnya, menyempatkan mencium pucuk kepala istri nya sekilas.
"Baiklah." Akhirnya Dewi mengizinkan, ia tidak bisa egois. Ada ribuan karyawan yang bergantung pada suaminya. Walaupun rasa cemas dan takut mengikutinya setiap waktu, seperti bayang-bayang. Bayangan melahirkan yang ia tonton di ponsel nya menari-nari di kepala.
Dewi menatap mobil sedan suaminya dengan tatapan sendu. Ibu hamil itu masuk ke dalam rumah dan menuju dapur.
"Bu tolong buatkan jus jambu ya" pinta ibu hamil itu pada Bu asih. Setelah nya ia mengambil cemilan dan duduk di depan tv. Mengisi kekosongan waktunya untung menonton acara di tv. Saat tangan nya sedang asik menekan tombol pada remot tv, Dewi merasakan ada rasa yang berbeda pada perut nya. Ibu hamil itu mengernyit saat rasa itu datang dan kembali fokus pada tv saat rasa itu menghilang.
***
Alana yang sedang sibuk dengan komputer di depan nya dikejutkan oleh kedatangan Dava. Pria yang tak pernah ia sangka menjadi pria yang dijodohkan dengannya itu tampak serius memandang nya.
"Apa sudah dapat keputusan?" Tanya Dava, ia memandang lekat gadis di depan nya.
Alana menggeleng, sepulang dari pertemuan nya sebulan yang lalu. Pria tampan di depan nya ini tiba-tiba menawarkan pernikahan padanya dan memberi waktu sebulan untuk membiarkan Alana berfikir.
Alana tahu Dava tak mencintai nya, tapi ia bingung kenapa pria yang tengah tersenyum di hadapan nya ini dengan berani menawarkan pernikahan hanya karena alasan sudah lelah di jodohkan dan menurut nya Alana lah yang cocok dari banyak nya perempuan yang di jodohkan mamanya.
Walaupun Alana sendiri juga merasa lelah terus di jodohkan mama nya.
Sebulan ini juga mamanya selalu membujuknya untuk menerima lamaran Dava. Bu Rina yakin jika Dava adalah laki-laki yang tepat untuk putri nya. Apalagi ia sudah mengenal keluarga Dava.
__ADS_1
"Datang di restoran xx jam 8 nanti malam. Aku menunggu jawaban mu disana." Ujar Dava lalu berbalik dan meninggalkan gadis yang masih bengong di tempat nya duduk.
"Bagaimana ini? Apa aku harus menerima lamaran itu. Dia saja tidak mencintai ku kenapa menyuruhku menikah dengan nya." Gerutuan Alana terhenti saat ponsel nya berdering. Menampilkan foto sang mama yang memenuhi layar ponsel berlogo apel tergigit itu.
Alana menjauhkan ponsel nya dari telinga saat suara sang mama memenuhi ruangan.
"Ini keputusan Alana ma, mama tidak bisa memaksa Alana. Alana yang menikah dan menjalani rumah tangga." Alana memutuskan sambungan telepon itu sepihak.
***
Bu asih yang diminta menemani sang nyonya menonton tv menangkap ada sesuatu pada majikan nya. Ia tidak sengaja menangkap kernyitan di wajah Dewi beberapa kali.
"Kenapa non? Apa perutnya sakit?" Tanya Bu asih khawatir.
"Perut ku sakit Bu, tapi hanya sebentar nanti hilang lagi." Ucap Dewi tenang.
"Apa sudah waktunya melahirkan non?" Tanya Bu asih.
"Tidak mungkin Bu, jadwal lahiran nya masih dua Minggu lagi." Jawab Dewi, matanya masih fokus ke arah tv walaupun sekarang dadanya terasa bergemuruh.
Bayangan-bayangan melahirkan sendirian tanpa suaminya tiba-tiba terlintas di otak. Ia tidak mau melahirkan sendirian, ini momen pertama yang di alami nya dan ia tidak mau jika melahirkan tanpa di dampingi suami.
"Bisa saja maju mundur non. Ya sudah tidak apa-apa. Nanti kalau rasa sakit nya muncul lebih sering bilang sama ibu ya." Terang Bu asih. Ia mencoba menenangkan Dewi. Bisa ia tangkap ada rona kegelisahan di wajah majikan nya yang coba Dewi tutupi.
Baru 4 jam dari keberangkatan edgar. Tidak mungkin ia menelfon Edgar dan menyuruh nya untuk pulang.
Dewi memutuskan untuk mandi saat hari sudah sore, baru sampai di pintu kamar mandi ibu hamil itu merasakan rasa sakit di perut nya. Berpegangan pada pintu kamar mandi, Dewi mencoba mengatur nafas nya dan berjalan ke dalam kamar mandi.
Sudah pukul 7 malam, Dewi yang di temani Bu asih di ruang keluarga menahan sakit di perut nya.
"Sudah sering ya non, kita berangkat ke rumah sakit ya." Ucap Bu asih, tak ada jawaban dari Dewi. Tapi Bu asih bisa merasakan genggaman di tangan nya semakin erat.
"Ana, suruh pak Rudi menyiapkan mobil " pinta Bu asih pada ana, gadis muda itu mengangguk dan berlari ke depan rumah.
__ADS_1
Menuntun Dewi masuk ke dalam mobil Bu asih tampak berpesan pada ana beberapa hal. Setelah itu ia masuk ke dalam mobil, duduk di samping Dewi.
"Sakit bu" keluh Dewi, sambil mengambil oksigen banyak-banyak berharap dengan itu bisa mengurangi rasa sakitnya walaupun sedikit.
"Sabar ya non, tarik nafas non. Santai dan tenang" Bu asih menyemangati dan sesekali tangan nya mengelus perut besar Dewi.
mobil pak Rudi sudah masuk ke pelataran rumah sakit setelah 1 jam menempuh perjalanan.
Bu asih yang terus menemani Dewi selalu menyemangati.
"Pak, Edgar sudah di kabari?" Tanya Bu asih pada suaminya yang berdiri tak jauh darinya.
"Satu jam yang lalu saat ku hubungi, Edgar sudah berada di perjalanan. Mungkin sebentar lagi." Pak Rudi menjelaskan.
Bu asih mengangguk, tangan kirinya yang bebas mengusap punggung Dewi berulang. Dokter mengatakan baru pembukaan 4, Dewi sedikit bernafas lega. Berharap suaminya sampai di rumah sakit tepat waktu.
***
Edgar yang masih di perjalanan melihat jam di tangan nya berulang kali. Dia beruntung jalan tol tak sepadat biasanya.
Dadanya bergemuruh,membayangkan wajah cantik istri nya yang sekarang pasti sedang menahan sakit. Berulang kali merutuki dirinya, Edgar merasa bersalah tidak ada di samping istri nya saat ini.
"Cepat dan!" Titah Edgar pada Danu. Pria itu tidak bisa tenang. Selalu bergerak-gerak di tempat nya duduk.
Tangan nya mengepal erat, terus berdoa agar ia bisa sampai Di rumah sakit tepat waktu. Ini momen baru juga untuk nya. Ia tidak mau kehilangan momen ini.
..
hai, aku rencana nya akan menulis kisah Dava dan Alana juga. tapi aku belum bisa memastikan akan ku tulis di sini atau di lapak sebelah. karena di noveltoon aku kesusahan dengan sistem level nya.
aku juga akan melanjutkan novel ku yang lain "perjalanan cinta bintang" yang telah lama ku tinggalkan, judul ini sudah di NT ya baru dapat 40 bab. silahkan mampir di novelku ini karena beberapa bab lagi kisah cinta Edgar dan Dewi akan benar-benar berakhir.
beri komentar kalian untuk menyemangati author ya, terimakasih ❤️
__ADS_1