Aku Vs Masa Lalu Suamiku

Aku Vs Masa Lalu Suamiku
bab 75


__ADS_3

Duduk berdua di gubuk, ibu hamil itu meneguk segarnya air kelapa yang baru saja di petik Danan.  


"Ah segar nya, manis"  


"Mau lagi Dew?" Tanya Danan, menunjuk 2 kelapa yang masih tersisa. 


"Tidak, terimakasih mas." Dewi memandang ke atas langit, awan bertaburan saling bergerak sesuai rotasi bumi. Menghela nafas pelan. 


"Suami mu masuk berita lagi hari ini." Ucap Danan, ia tahu selama disini Dewi tidak pernah sekalipun membuka hp nya. 


Dewi menoleh pada Danan sebentar lalu menatap ke depan kagi tanpa  menunjukan reaksi apa-apa.  


"Tidak ingin tahu?" Tanya Danan lagi. 


Dewi menggeleng "apa yang harus aku tahu, apa yang harus aku lihat?. Sakit itu rasanya masih melekat di hati ku. Tapi hati ku sendiri tidak mau melupakan nya, aku saja di hianati oleh hati ku sendiri." Dewi tersenyum getir. 


"Tapi waktu pasti akan menyembuhkan luka ku, entah itu cepat atau lambat. Aku pasti bisa berdiri kokoh dengan kedua kaki ku sendiri. Hanya tinggal menunggu bayiku lahir dan semua akan selesai. Sebentar lagi, aku hanya perlu bersabar sebentar lagi" imbuh Dewi, ibu hamil itu teringat dengan ucapan sang suami yang akan menceraikan nya setelah bayi ini lahir. Dia seharus nya tidak harus bersedih kan?. Walaupun awal nya Dewi yang mengajukan surat cerai itu. Tapi dia membatalkan semua niat nya karena melihat ketulusan Edgar saat menemui nya di Bandung.  


Memupuk harapan pada suaminya berharap kehidupan rumah tangga nya berjalan baik dan semestinya. Tapi itu semua hanya menjadi angan saat ia mendengar segala tuduhan yang ditunjukan untuknya. Hatinya Hancur lebur berterbangan sampai tak bisa di rakit kembali. Kembali menelan kecewa untuk yang kesekian kalinya. Dewi memilih menyerah dan menyudahi semua ini. 


Tersentak saat merasakan jemari tangan mengusap air matanya, Dewi menatap Danan dalam. Seperkian detik waktu terasa berhenti dalam posisi ini. Mata mereka saling memandang. 


Hingga suara cempreng Ajeng membuyarkan semua nya. 


"Mba Dew, ayo pulang. Sudah panas sekali nanti gosong." Ajeng berjalan menghampiri Danan dan Dewi yang bersikap salah tingkah. 


Di pinggir jalan, pak Suryo dan Bu Sri menghela nafas pasrah. Melihat putra nya yang sepertinya mempunyai perasaan lebih pada Dewi. 


"Apa bapak berfikiran sama dengan yang ibu fikirkan sekarang?" Tanya Bu Sri menatap suaminya yang sampai sekarang masih terlihat tampan baginya. Senyum dengan lesung pipi yang sampai sekarang masih sanggup membuat hati nya berdebar. Dan juga menurun pada putra nya itu. 


Pak Suryo mengangguk dan berjalan menuju motor nya, "nanti tak coba berbicara dengan anak itu. Mumpung belum terlambat dan semakin jauh." Ucap nya. 


*** 


Hari-hari berlalu, Edgar memutuskan kembali menyibukan diri pada pekerjaan nya. Tapi dengan kembalinya ia di perusahaan tak lantas menghentikan pencarian nya pada istri nya. Semua masih berusah mencari titik terang. 


Menanti cinta istri nya kembali, memendam semua rindu yangembuncah di dada. Edgar memandang bingkai foto di atas meja. Foto istrinya yang tersenyum selalu berhasil menentramkan jiwa. Menelungkup kan kepalanya di atas meja pria itu merasa putus asa. 


"Bagaimana aku bisa menjalani hidupku kalau kamu tidak ada disisi ku, aku benar-benar merindukan mu" pria itu menangis di sela kalimat nya. 


Dava yang sedari tadi berdiri di depan pintu ruangan Edgar mengehela nafas berat. Sebagai sahabat ia merasa sangat kasihan pada sahabat nya itu. Menunggu beberapa menit sampai suara tangis tak terdengar. Dava baru membuka pintu dengan sikap biasa. 


"Pak, ada rapat dengan HPD grup 2 jam lagi."  


"Bisa kamu wakili dav?" Tanya Edgar, ia tidak mau bertemu Risa sama sekali. 

__ADS_1


"Kali ini pak Hardi sendiri yang menangani, aku dengar Risa di rumah sakit dan apa kamu mau menjenguk nya?"  


"Tidak, aku tidak mau terlibat apapun dengan Risa." 


Dava tersenyum, pertanyaan nya tadi hanya mengetes Edgar. Dan ternyata Edgar benar-benar sudah menyesal. 


"Baiklah, saya permisi dulu." Ucap Dava hendak pamit tapi ia berhenti saat snag atasan mengatakan sesuatu. 


"Apa sudah ada titik terang kemana pergi nya istri ku?" Tanya Edgar, suaranya mengandung kepasrahan. 


"Belum, secepat mungkin aku akan mengabari jika sudah ada kabar." Jawab Dava.  "Tenang lah gar, Dewi akan kembali padamu jika tuhan menakdirkan nya."  


*** 


Di sepanjang rapat antara dua perusahaan, pimpinan dari HPD grup yang tak lain Hardi permadana tak pernah lepas ia memperhatikan penampilan sang CEO.  Pria tua itu menarik salah satu sudut bibir nya. 


Diteliti nya penampilan Edgar yang tak seperti biasa. Kantung mata dan wajah sendu itu memperlengkap semua nya.  


Selesai rapat, Edgar menatap pak Hardi yang belum juga keluar dari ruangan. Merasa ada sesuatu yang hendak di bicarakan, Edgar memilih menunggu pria tua itu berbicara. 


"Ada yang mau bapak bicarakan? Apa tadi persentase karyawan saya kurang memuaskan?" Edgar akhirnya bertanya lebih dulu. 


Pak Hardi tersenyum, membuat Edgar mengekerutkan kening bingung " kamu jarang tidur?"  


"Istri mu belum ketemu?"  


Edgar menggeleng, "tapi saya masih berusaha" 


"Bukan hanya kamu saja yang merasa menyesal, Risa putri ku pun merasakan hal sama. Setelah pertemuan nya dengan mu di apartemen, Risa sadar akan kesalahan nya. Tapi ..." Pak Hardi menghela nafas sebentar sebelum melanjutkan ucapan nya. "Semenjak kamu menjelaskan dan menolak perasaan Risa. Ia hampir bunuh diri sesaat sebelum kami tiba di apartemen nya." 


Edgar hanya menyimak, semenjak istri nya pergi, Edgar muak dengan segala hal yang berkaitan dengan Risa. 


"Aku tahu keadaan seperti ini di sebabkan oleh putriku. Putri ku sudah mendapatkan balasan nya. Tapi sebagai ayah aku tidak tega menolak permintaan putriku. Apalagi dengan kondisi nya seperti ini." Pak Hardi memandang Edgar lekat. "Bisakah kamu menemui Risa jika waktu luang?"  


"Saya tidak punya waktu luang pak, saya bahkan belum bisa menemukan keberadaan istri saya. Jadi, maaf saya tidak bisa menuruti permintaan bapak." Ucap Edgar tegas menolak permintaan rekan bisnis nya itu. 


"Tidak apa-apa, mungkin lain waktu." Pak Hardi bangun dari duduk nya, ia menepuk pelan pundak Edgar. 


"Biasanya orang pergi untuk menenangkan diri pasti di tempat yang biasanya menurut mereka nyaman. Bahkan biasanya tempat itu tempat yang sangat ingin dia kunjungi. Dan sebagai seorang suami, kau pasti tahu kan tempat yang ingin sekali dikunjungi istrimu." Ucap pak Hardi. "Aku permisi dulu," 


Setelah pak Hardi keluar dari ruangan rapat. Edgar yang merasa bingung terus mengingat tempat yang ingin dikunjungi istrinya. Tapi sebelum itu Edgar heran, kenapa seperti nya pak Hardi tahu banyak tentang istri nya. Saat menyadari sesuatu Edgar langsung berlari keluar dari ruangan untuk menyusul pak Hardi. 


"Sial!" Umpatnya kala melihat mobil milik pak Hardi sudah berjalan menjauh dari kantor nya. 


"Ada apa gar?" Tanya Dava yang baru datang dari luar. 

__ADS_1


"Sepertinya pak Hardi tahu sesuatu tentang keberadaan istriku." 


Dava mengerutkan kening, " apa hubungan nya Dewi dengan pak Hardi gar?" 


"Aku tidak tahu pasti, tapi aku yakin orang tua itu pasti tahu sesuatu."


***


Pulang ke rumah nya saat waktu sudah melewati tengah malam, Edgar menghempaskan kasar tubuh nya di atas kasur. Rasanya ia tidak ingin kembali kerumah nya. Semua hampa tanpa ada kehadiran sang istri. Sudah dua Minggu ia seperti ini.


Memiringkan tubuhnya menghadap jendela, Edgar memandang ke arah luar dengan tatapan kosong. Sinar rembulan yang masuk ke dalam kamar nya lewat celah gorden membuat suasana menjadi lebih sendu. Sepi menerpa di balik banyak nya kegaduhan di kepala.


Edgar mengingat saat-saat bulan madu nya, ia tersenyum mengingat betapa ceria nya sang istri disana.


"Aku baru sadar, senyumu semanis ini wi. Sampai kapan takdir memisahkan kita seperti ini?. Aku sangat merindukan mu, apa kamu merasakan hal yang sama?" 


Di dalam kamar yang hanya tersinari oleh sinar rembulan malam. Edgar menutup matanya Dengan lengan nya. Merasai segala sepi yang melekat. 


Sedangkan Dewi yang belum bisa tidur, berdiri di dekat jendela kamar nya. Dingin nya Angin yang menerpa kulit seperti tak ada rasanya. Entah kenapa ia merindukan suaminya. 


Danan yang baru pulang dari rumah teman nya, melihat Dewi yang berdiri disana dengan melamun. Ia menghampiri nya.


"Dew..." Panggil Danan, 


Dewi menoleh ke arah Danan.


"Belum tidur Dew?, Sudah jam 1 tidak baik untuk ibu hamil tengah malam seperti ini belum tidur." Ucap Danang memperingati.


"Aku tadi terbangun dan sampai sekarang belum bisa tidur lagi" jawab Dewi "baru pulang mas?" Tanya nya.


Danan mengangguk "mau ku temani? Keluarlah kita bisa menonton tv dulu."


"Tidak usah mas, nanti malah membangunkan semua orang. Aku akan tidur sebentar lagi." Ucap Dewi.


"Baiklah, aku masuk dulu, tutup jendela Dew."


Setelah Danan masuk ke rumah, Dewi segera menutup jendela. Ia duduk di di tepi tempat tidur. Tak lama ia mendengar pintu kamar nya di ketuk.


"Mas Danan..." Panggil nya pelan saat membuka pintu kamar.


"Aku buatkan susu hamil mu. Setelah minum susu pasti akan mengantuk." 


"Terimakasih mas" 


Dewi meletakan susu hamil di atas meja, ia merasa Danan selalu perhatian padanya. Sejak dirumah ini, pria itu selalu menuruti semua keinginan nya. Bahkan ia rela keluar malam hanya demi mendapatkan wedang ronde keinginan Dewi.

__ADS_1


__ADS_2