
Seminggu berlalu, Dewi mulai menjalani aktivitas nya seperti biasa.
"Kita mau kemana sih wi?" Tanya Mia yang sudah berada di mobil bersama Dewi. Kedai ditutup lebih awal. Dia dipaksa oleh Mia mengikuti nya.
"Mau ke mall." Jawab Dewi singkat sambil tersenyum. Menatap jalanan yang mulai padat karena waktunya orang pulang bekerja.
Dewi melirik Danu didepan. Danu yang fokus pada jalanan tidak sadar jika dari tadi Dewi memperhatikan nya. Dewi tampak berfikir sebentar, senyum samar tersunggir dari bibir nya dia merencenakan sesuatu sepertinya.
"Danu kamu ini umur berapa?. Aku lupa umur mu sepertinya." Tanya Dewi pada Danu.
"27 tahun nona." Masih fokus pada jalanan didepan nya. Tidak curiga apapun saat majikan nya bertanya mengenai umur.
"Kamu suka sama ana ya?"
"Ti..tidak nona." Danu gelagapan menjawab, dia bertanya tanya bagaimana bisa nona nya ini tahu. Padahal dia tidak pernah terang terangan menyatakan cinta pada ana.
Mia yang duduk disamping Dewi memutar bola mata dengan malas. Tahu apa yang direncanakan Dewi nanti nya.
"Mak comblang mulai menjalan kan misinya."
"Kamu tidak bisa berbohong padaku Danu. Aku beberapa kali memergoki kamu memandang ana dari jauh. Hahaha" tergelak sendiri dengan bayangan bayangan yang ada di kepala nya.
Glek..
Danu menelan Saliva nya dengan susah. Sudah diam diam menyimpan perasaan nya tapi ketahuan juga oleh majikan nya.
"Bagaimana nona bisa menyadari itu sedangkan ana sampai sekarang masih belum menyadari perasaan ku."
"Ah itu hanya kebetulan saja nona." Mencoba mengeles.
"Benarkah ? Tapi seperti nya tidak begitu tuh.." masih menggoda sopirnya.
Dia tidak tahu jika sekarang wajah Danu sudah seperti udang rebus.
"Ah kalau tidak mau mengaku tidak apa-apa. Tapi kalau butuh bantuan ku bilang saja ya. Aku akan membantu mu menyatakan perasaan mu."
Danu hanya terdiam, sesaat mobil sudah memasuki parkiran mall. Dewi dan Mia turun di ikuti Danu yang setia di belakangnya.
Dia akan terus mengikuti Dewi pergi, guna mengawasi nya. Dia tidak mau kecolongan lagi yang bisa mengancam pekerjaan nya.
Danu bergidik ngeri saat bayangan wajah marah Edgar terlintas di hadapan nya.
Dewi dan Mia memasuki toko baju.
Saat Dewi meraih baju yang disukai nya tiba tiba ada tangan lain yang juga meraih nya.
__ADS_1
Deg..
Dewi menatap wanita itu, mengingat ingat sepertinya pernah melihat nya.
"Risa. Dia Risa kan. Cantik sekali."
"Apa aku boleh mengambil nya? Aku sangat menyukai nya." Tanya Risa pada Dewi yang malah terdiam menatap nya.
Dewi melepas genggaman nya pada baju itu. Mundur beberapa langkah.
"Ambilah aku bisa mencari baju yang lain." Ucap nya yang langsung meraih tangan Mia membawanya keluar dari toko itu.
"Wi kenapa kamu berikan pada dia? Kan kamu duluan yang mengambil nya." Tanya Mia saat mereka sudah berada di luar toko.
"Biarkan saja mi, nanti saja kita cari lagi. ayo kita makan saja aku lapar."
"Tapi wi.." belum menyelesaikan kalimat nya Dewi sudah menarik tangan nya lagi.
Dia bisa menangkap wajah sedih Dewi sekilas. Apa Dewi mengenal wanita itu. Kalau kenal kenapa dia langsung menjauh.
"Apa kamu baik baik saja wi?" Tanya Mia yang melihat Dewi sedih Menundukkan kepala nya.
"Mia.. wanita tadi itu Risa." Matanya sudah mengembun. Toai dengan segera mengusap nya.
Mia memicingkan mata, otak nya mengingat siapa Risa itu. Dia menyerah tidak mendapat jawaban.
"Dia,, dia mantan kekasih suami ku." Ucap nya lirih tapi Mia bisa mendengar nya.
"Itu kan hanya mantan wi. Sudah masa lalu sekarang kan kamu yang jadi istrinya Edgar. Istri yang di cintai nya.Kamu tidak perlu khawatir." Ujar Mia menenangkan Dewi.
"Tapi mas Edgar masih mencintai nya mi. Ya walaupun aku sudah mendengar ungkapan cinta mas Edgar. Tapi aku masih ragu."
"Makan saja dulu wi. Tidak usah terlalu dipikirkan." Titah Mia setelah pelayan membawakan pesanan makanan mereka.
Akhir nya Dewi dan Mia menikmati makanan didepan nya dengan tenang. Danu berada dimeja lain juga sedang menikmati secangkir kopi.
Setelah selesai, Dewi hendak bangkit dari duduk nya ingin pergi ke toilet tapi tatapan nya bertemu pada Risa yang sedang berjalan ke arah nya.
"Hai kita ketemu lagi, terimakasih untuk baju nya ya. Nama ku Risa." Menunjuk tas yang ada ditangan kanan nya lalu mengulurkan tangan Tersenyum menatap Dewi.
Dewi tertegun sejenak sebelum tangan nya membalas uluran tangan Risa.
"Sama sama.aku Dewi. Apa aku boleh bicara sebentar dengan mu Risa."
"Eh, tentu saja."
__ADS_1
Mia yang melihat itu hanya diam mengamati wanita di sampingnya.
"Kenapa jaman sekarang wanita pada aneh sih. Pakai Wig segala. Sepertinya dia orang kaya. Kenapa tidak menggunakan uang nya untuk merawat rambut alih alih malah membeli wig. Terserah lah apa peduliku." Mia Bergumam sendiri didalam hati.
Suasana berubah menjadi canggung. Ketiga nya masih terdiam tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Dewi tersadar saat mendengar Mia yang menyedot minuman nya dengan keras sampai mengeluarkan suara karena minuman itu sudah habis hanya tertinggal es batu nya saja.
"Ah maaf.. suaranya mengganggu ya. Baiklah kalian bicaralah dengan nyaman. Aku akan ke toilet sebentar." Pamit Mia langsung berjalan keluar dari restoran itu.
"Risa,, apa kamu masih ingat dengan Edgar?"
Deg..
Risa terdiam sebentar,matanya mengamati Dewi didepan nya.
"Edgar. Kamu mengenal nya.?" Tanya Risa antusias.
"Ya." Jawab Dewi singkat. "Apa kamu sudah sembuh dari penyakit mu. Ah maaf kalau membuat mu merasa tidak nyaman." Buru buru mengalihkan pandangan nya saat tatapan Risa menelisik kearah nya.
"Kamu siapa? Darimana kamu tahu soal penyakit ku. Aku hanya memberitahu Mama Novi soal ini." Tanya nya penasaran " atau Mama Novi yang memberitahu mu?"
"Iya, mama yang memberi tahu ku." Ucap Dewi tangan nya meraih tangan Risa menggenggam nya.
"Sebenarnya ini hanyalah wig. Rambut ku sudah rontok seiring berjalan nya aku melakukan kemoterapi." Jelas nya. Menatap wig yang berada di kepalanya.
Dewi pun refleks ikut melihat wig yang dipakai Risa. Rasa kasihan menyergap seketika.
Risa menatap Dewi membalas genggaman tangan nya.
"Sebenarnya kamu siapa?"
"A..aku istri nya mas Edgar. Mas Edgar selama ini mencari mu Risa. Bertemulah dengan nya aku akan mengaturnya. Dia masih mencintai mu." Tukas nya.
Risa tersentak , melepaskan genggaman nya dari tangan Dewi.
"Istri? Kalau kamu istrinya kenapa kamu mau mempertemukan ku dengan Edgar. Apa kamu tidak mencintai nya? Apa pernikahan kalian dipaksakan?" Pertanyaan beruntun dengan lancar keluar dari bibir Risa.
"Emm.. aku mencintai nya, sangat. Pernikahan kita juga bukan karena dipaksakan. Tapi suamiku masih saja memikirkan mu. Aku berfikir mungkin diantara kalian ada yang belum terselesaikan. Bertemulah dengan nya. Selesaikan Masalah kalian, dan setelah itu aku meminta mu untuk menjauhi suamiku." Pinta Dewi. Akhirnya dia mengambil keputusan ini. Dia sudah lelah. dia ingin memiliki Edgar seutuhnya.
Dia ingin hanya dirinya yang menempati hati suaminya, mendapatkan cinta satu-satu nya.
"Kenapa kamu melakukan itu?" Lirih Risa. Seketika pandangan nya kabur dan berubah menjadi gelap.
"RISA!" Teriak Dewi langsung menghampiri Risa yang pingsan. Mia yang baru kembali dari toilet pun berlari saat melihat Risa pingsan dipangkuan Dewi.
__ADS_1
"Danu! Bantu aku membawa nya kerumah sakit!" Teriak nya pada Danu.