Aku Vs Masa Lalu Suamiku

Aku Vs Masa Lalu Suamiku
bab 72


__ADS_3

Dewi melambaikan tangan saat melihat pak Suryo berjalan ke arah nya.


"Apa kabar Bu Dewi?" Tanya pak Suryo sembari mengambil alih tas yang di bawa Dewi.


Pak Suryo tidak berani menanyakan kabar Edgar, karena sebelum Dewi kesini. Dewi sudah menceritakan semua permasalahan dengan sang suami. Pak Suryo lebih memilih untuk diam saja dan tidak mau ikut campur.


"Saya baik pak. bapak bagaimana kabar nya?" Tanya Dewi saat sudah sampai di samping mobil dan pak Suryo menaruh tas Dewi di dalam bagasi mobil.


"Saya baik Bu, sudah berapa bulan?" Tanya pak Suryo menunjuk perut Dewi dengan tatapan.


"Sudah 7 bulan."


"Semoga lancar sampai hari kelahiran nggih bu, tapi mohon maaf ini Bu, apa bisa menunggu sebentar. Soal nya saya juga menjemput anak saya. Baru pulang juga dari Jakarta." Tanya pak Suryo dengan logat khas Jawa nya.


"Tidak apa-apa pak, saya tunggu di dalam mobil ya." Ucap Dewi dan di angguki oleh pak Suryo.


Menunggu di dalam mobil, Dewi menatap air mineral yang tadi di berikan Danan padanya. Karena haus, ibu hamil itu meneguk nya sampai setengah botol.


Tak lama pak Suryo dan anak nya sudah terlihat, Dewi terkejut dengan anak pak Suryo yang berjalan


di samping nya.


"Danan" gumam Dewi pelan.


"Maaf bu Dewi menunggu lama, perkenalkan ini anak saya namanya Danan." Ujar pak Suryo saat sudah di dalam mobil, ia memperkenalkan anak nya.


"Danan" ujar Danan mengulurkan tangan pada Dewi dengan senyum penuh arti.


"Dewi" jawab Dewi, ibu hamil itu sempat heran kenapa Danan memperkenalkan diri lagi. Tapi ia mengikuti semua alur yang di ciptakan Danan.


"Anak saya ini kerja di Jakarta Bu, usaha warung disana." Pak Suryo membuka pembicaraan.


"Cafe pak,," ralat Danan, karena bapak nya itu selalu menyebut cafe nya warung.


"Sama saja to le, sama-sama jual makanan dan minuman kok." Pak Suryo tak mau kalah.


Danan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, "terserah bapak saja lah." Ucap Danan mengalah.


Sedangkan Dewi yang duduk di belakang hanya tersenyum melihat perdebatan anak dan bapak di depan nya.


"Nah ini Bu Dewi dari Jakarta juga le, mau berlibur kesini. Rencana nya mau nginep di rumah kita. Karena kalau di hotel kan sendirian takut nya ada apa-apa soal nya Bu Dewi kan sedang hamil. Jadi lebih baik dirumah kita to le. Ada ibu dan Ajeng yang bisa menjaga. Apalagi bidan juga Deket." Terang pak Suryo panjang lebar.


"Nggak usah di jelasin, aku sudah tahu kok pak. Wong kita satu kereta dan tempat duduk tadi." Ujar Danan membuat pak Suryo terkejut.


Karena kesal pak Suryo memukul bahu anak nya, "aww, sakit lho pak kok di pukul." Pekik Danan mengusap lengan bekas pukulan bapak nya.


"Lha kok kamu Ndak bilang dari tadi, percuma bapak jelasin panjang lebar." Uca pak Suryo kesal.


"Lha wong bapak Ndak tanya kok." Jawab Danan membela diri.


"Ndak, Ndak pak. Jangan di pukul lagi." Pekik Danan saat bapak nya siap menggeplak bahu nya lagi.


Dewi yang melihat ke akraban Danan dan pak Suryo tertawa kecil. Danan melihat Dewi dari kaca spion. Ia tersenyum melihat Dewi yang tertawa.


***


"Selamat datang di desa kami Bu Dewi" ujar pak Suryo saat mobil memasuki jalanan yang di kelilingi persawahan.


Dari arah depan terlihat gunung Merapi yang berdiri kokoh dengan gagah nya. 3 kata yang mewakili suasana desa adalah sejuk, nyaman, segar. Di sepanjang jalan tak henti-hentinya Dewi menatap kagum pada pemandangan di desa ini.

__ADS_1


"Sungguh indah ciptaan tuhan, sungguh besar kuasa Tuhan menciptakan bumi dan seisi nya. Berada di salah satu sudut kota Yogya, aku berharap Tuhan mau sedikit berbaik hati padaku." Gumam Dewi dalam hati, netra nya masih menatap hamparan luas persawahan. Langit senja menambah kehangatan sudut kota yang istimewa ini.


20 menit memasuki gapura desa, mobil yang di kendarai pak Suryo berhenti di depan salah satu rumah. Rumah sederhana dengan perkarangan yang cukup luas. Terlihat rapi tertata berbagai bunga dan tanaman ikut menambah kesan nyaman di rumah itu.


Dewi Turun dari mobil saat di bukakan pintu oleh Danan, ibu hamil itu tersenyum.


"Terimakasih"


"Mas Danan"


Panggil Gadis remaja dengan rambut di kepang yang langsung berlari menghambur memeluk danan.


"Ajeng kangen banget lho mas" ucap gadis itu saat menguraikan pelukannya.


"Aku Ndak kangen tuh" jawab Danan, sengaja mengusili adik perempuan nya.


"Yawis kalau Ndak kangen, Ndak usah pulang. Sana pergi lagi"


"Gitu aja marah to jeng.." ujar Danan seraya mengacak-acak rambut adik nya.


"Ih mas Danan, rusak nih kepangan ku." protes Ajeng.


"Palingan juga ibu yang ngepangin to" ejek Danan seraya menjulurkan lidah nya.


"Biarin," jawab Ajeng tak mau kalah. Ajeng terdiam Saat netra nya menangkap sosok wanita asing di samping bapak nya. Apalagi wanita itu sedang hamil.


"Itu istrinya mas Danan?" Tanya Ajeng mengira Dewi adalah istri kakak nya. Melihat wanita itu tengah hamil, Ajeng mengira Danan sudah menikah di Jakarta " mas Danan nikah diem-diem?" Imbuhnya.


Seketika semua mata mengarah pada Dewi tak terkecuali Danan.


Dengan gemas, Danan menyentil kening adik nya yang asal bicara itu.


"Lha kamu ngomong nya ngawur saja jeng."


"Sudah sudah, nanti bapak ceritain. Ayo masuk ke dalam dulu Ndak enak di lihat tetangga." Ujar pak Suryo menghentikan perdebatan kakak dan adik itu.


Tampak Bu Sri istri pak Suryo berjalan menghampiri Dewi, "mari masuk nak" ucap Bu Sri merangkul pundak Dewi dan menuntun nya masuk ke dalam rumah.


Melihat ibu dan Dewi masuk, Ajeng pun juga ikut masuk ke dalam rumah. sedangkan Danan, entah apa yang di pikirkan pria itu.


***


Di sebuah rumah mewah di kawasan perumahan elit ibu kota. Tampak ayah dan anak saling bersitegang.


Plak!


Satu tamparan mendarat mulus di pipi kiri sang anak yang baru selesai menjelaskan apa hal yang membuat nya datang ke rumah nya.


Plak!


Lagi satu tamparan di pipi kanan. Tidak ada perlawanan dari Edgar. Pria itu menunduk. Mengakui semua kesalahan dan kebodohan nya.


Terlihat Bu Novi menghampiri pak Cakra dan mengusap punggung nya. "Sabar pa,,"


"Aku tidak bisa sabar dengan anak ini!, Aku tidak pernah mendidik mu menjadi laki-laki pengecut dan tidak bertanggung jawab seperti ini!" Pak Cakra hendak menampar Edgar kembali tapi di tahan oleh Bu Novi.


"Sudah pa, sekarang yang penting bagaimana cara menemukan Dewi. Mama khawatir dengan keadaan nya. Apalagi Dewi sedang mengandung." Ujar Bu Novi menengahi.


Pak Cakra menghela nafas berat, memijit kepalanya yang sedikit pusing.

__ADS_1


"Papa masih tidak habis pikir, bagaimana bisa kamu mengambil sikap bodoh seperti itu. Satu bulan meninggalkan istri mu demi merawat wanita lain. Jika istri mu yang berada di posisi Risa, dan ada pria lain yang merawat istri mu. Apa kamu akan terima?, Apa kamu tidak akan sakit hati?" Pak Cakra menatap putra nya yang masih diam menunduk.


"Rasanya aku malu sudah membesarkan mu Edgar Permana putra!"


"Edgar tahu, selama ini membuat kesalahan yang sangat fatal. Papa boleh memukul Edgar sepuas nya. Tapi setelah itu tolong bantu Edgar mencari keberadaan Dewi. Edgar tidak bisa hidup tanpa Dewi pa. Apalagi Dewi sedang mengandung anak Edgar pa.." pria itu masih menunduk di tempat nya berlutut tapi dari suara nya, pak Cakra bisa melihat nada penyesalan dan keputusasaan.


"Bangun!" Perintah pak Cakra pada Edgar yang masih berlutut.


"Bangun!, Kamu tidak boleh putus asa. Jika benar menyesal kamu harus semangat mencari keberadaan istri mu. Walaupun papa tidak yakin saat kamu menemukan nya, Dewi bisa memaafkan mu. Terlalu dalam luka yang kamu torehkan di hati nya." Ujar pak Cakra membantu Edgar bangun.


"Besok kita mulai pencarian sekeliling Jakarta dan Bandung. Sekarang pulang dan beristirahat lah." Ucap pak Cakra.


"Kenapa tidak sekarang saja pa!" Kekeh Edgar. Ia khawatir dengan keadaan istri dan anaknya.


"Kamu tidak lihat jam berapa sekarang?" Tunjuk pak Cakra pada jam di di dinding yang sudah menunjukan pukul 23.00 malam.


"Tapi bagaimana nanti kalau Dewi semakin jauh?" Pria itu masih bersikeras.


"Pulanglah, besok kita akan mengatur rencana. Memeriksa semua cctv di rumah mu dan mobil apa yang di pakai istri mu."


Deg..


Edgar baru teringat rumah nya di lengkapi dengan cctv. Rasa khawatir dan takut nya membuat otak nya tidak bisa berfikir jernih.


Akhirnya edgar pun menurut, ia pulang dengan perasaan sedikit lega papa nya mau membantu nya. Tapi tetap saja hatinya was-was dan khawatir dengan keselamatan istri dan anak yang masih di kandung Dewi.


Sampai di dalam rumah, Edgar masuk ke dalam kamar, tapi bukan kamar nya melainkan kamar istri nya.


air matanya tumpah saat membaca hasil tes DNA yang diam-diam di lakukan oleh istri nya.


"Maafkan papa yang sempat meragukan mu sayang, papa memang bodoh." Ucap Edgar di sela-sela tangis nya.


Membuka surat kedua, hati Edgar semakin sakit saat membaca tulisan istrinya.


Untuk mas Edgar, suamiku.


Saat kamu membaca surat ini pasti aku sudah pergi darimu.


Kamu tahu mas, kamu adalah cinta pertama ku. Kamu adalah orang yang mengambil ciuman pertama ku. Kamu adalah orang pertama yang berhasil membuat ku menjadi perempuan sesabar dan setangguh ini.


Aku mengira kisah cintaku akan berjalan mulus, menikah, punya anak, dan bahagia bersama suami ku sampai maut memisahkan.


Aku selalu berkomitmen untuk setia pada satu orang yaitu suamiku. Aku tidak pernah sekali pun membuka hatiku untuk pria lain. Bahkan aku tidak pernah memberi kesempatan hatiku untuk jatuh pada pria lain. Itu semua aku lakukan untuk mu, hanya kamu.


Dulu aku bisa mengalah dan memaklumi saat kamu berniat membayar rasa bersalah mu pada Risa dengan merawat nya yang sakit keras. Tapi kenapa kamu tidak jujur padaku? Kenapa kamu harus berbohong demi merawatnya. Sebegitu tidak penting kah aku di hidup mu?


Dan saat kamu memutuskan untuk meninggalkan ku dirumah sendirian dan merawat Risa di belahan dunia lain. Aku memutuskan pergi darimu dan membiarkan mu untuk bebas melakukan apa yang kamu yakini.


Tapi kenapa saat aku ingin melepaskan mu, kamu kembali dan mencariku? Apa karena kamu tahu saat itu aku sedang mengandung anak mu?


Kamu meminta maaf dan bersikap manis padaku. Aku lagi lagi memaafkan mu. Tapi saat kamu melihat video ku bersama mas Erik, kamu langsung marah dan menuduhku berselingkuh. Parah nya lagi kamu meragukan anak mu sendiri tanpa mencari tahu kebenaran nya.


Memang aku tidak merasa sakit saat melihat mu memilih merawat wanita lain daripada dirumah bersama ku? Hatiku sakit mas.


Dan saat ini aku memutuskan pergi lagi dari hidup mu, 2 bulan lagi setelah anak ini lahir. Aku tunggu surat cerai dari mu.


Aku tidak akan menuntut apapun darimu, aku hanya mau anak ini. Aku hanya mau putra ku.


Dari, Dewi..

__ADS_1


Membaca tulisan istrinya, Edgar semakin terisak. Pria itu menangis dan menyesali semua nya.


__ADS_2