
Terbangun dengan suasana berbeda, suara Ayam saling bersahutan berlomba-lomba menjadi alarm hidup yang nyaring bunyinya. Dewi memindahkan lengan Edgar yang membelit perut besar nya. Menguncir rambut nya yang berantakan tinggi-tinggi, Dewi menatap Edgar yang masih terlelap disebelah nya.
Di isap nya dengan lembut pipi Edgar, ibu hamil itu mencium pipi suaminya sekilas dan menyunggingkan senyuman saat tubuh Edgar menggeliat pelan karena terganggu karena ulah nya.
Dewi memandang wajah suaminya dengan intens. Di tatap nya wajah suaminya yang seperti sawah di penuhi rumput baru. Kumis tipis yang tidak dicukur membuat wajah pria itu seperti bukan dirinya Saja. Karena Edgar paling tidak bisa jika ada kumis yang tumbuh di wajah nya.
"Apa kamu hidup dengan baik selama ku tinggal disini mas?" Gumam Dewi pelan, jemarinya mengusap kumis tipis yang tak menjadi pengganggu ketampanan suaminya.
Turun dari kasur pelan-pelan Dewi menoleh ke arah suaminya sekilas sebelum keluar dari kamar.
Keluar dari kamar nya, Dewi di sambut Danan yang sudah duduk di kursi ruang tamu.
"Pagi Dew," sapa Danan, berdiri dari duduk nya dan menghampiri Dewi.
"Pagi mas, mau ku buatkan kopi?" Tawar Dewi, karena setiap pagi pria itu selalu minum kopi. Tinggal serumah dengan Danan membuat Dewi sedikit nya tahu kebiasaan pria yang mengutarakan perasaan nya 1 hari yang lalu padanya.
"Nanti saja Dew, aku ingin mengajak mu jalan-jalan pagi dulu." Ucap Danan.
"Tapi mas, mas Edgar masih tidur" Dewi melirik ke arah pintu kamar nya.
"Biarkan Edgar tidur, dia pasti lelah baru sampai sini dan seharian bersamamu di Prambanan. Ayo Dew, udara pagi hari bagus untuk mu dan bayi mu..."
Dewi mengangguk, ia menoleh ke arah pintu kamar nya sebentar sebelum mengikuti Danan.
Hampir sebulan tinggal di desa ini membuat Dewi sudah terbiasa dengan aktivitas warga desa. Tak jarang warga desa yang mengenal Dewi menyapanya dengan ramah.
"Dulu kalian menikah karena dijodohkan?" Tanya Danan tenang.
Dewi yang berjalan di samping Danan mengangkat pandangan, melihat wajah pria yang selalu sigap mencarikan apa mau nya selama dia disini.
"Tidak mas, kami menikah karena keinginan kami sendiri." Jawab Dewi
Danan mengangguk, " apa kalian akan bercerai sungguhan?"
"Mungkin saja." Jawab Dewi singkat " ah akhir nya sampai, ayo mas aku ingin sekali kue putu ayu." Dewi menggandeng tangan Danan dan mengajak nya berjalan cepat menuju penjual jajanan pasar di pinggir jalan. Langganan nya selama tinggal disini.
Danan yang di tarik Dewi hanya menurut, banyak hal yang ingin ia tanyakan tapi sepertinya ibu hamil itu menghindari.
"Pelan-pelan saja Dew, ingat kamu sedang hamil" Dewi tidak menyahut tapi ibu hamil itu memperlambat jalan nya.
Yang tadinya hanya menginginkan kue putu ayu, sekarang kantong plastik hitam itu terisi penuh beberapa jajanan pasar. Begitulah ibu hamil, ingin saja apapun.
Kembali kerumah menenteng sekantong plastik, Danan mengajak Dewi beristirahat dulu di sebuah pos pinggir sawah.
__ADS_1
"Banyak sekali Dew, ini bukan hanya putuayu tapi jualan mbok Sumi kamu borong semua."Danan menggeleng.
"Habis nya aku pengen semuanya mas" ucap ibu hamil tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih.
"Ya sudah, ayo di makan kamu belum sarapan kan." Danan mengusap rambut Dewi gemas.
Danan memandang Dewi yang sedang makan, mulut nya komat Kamit memilih apa lagi makanan yang selanjut nya ia makan. Danan terkekeh geli melihat tingkah Dewi, sikap yang apa adanya itu terlihat menggemaskan bagi Danan.
"Ah, dadar gulung saja dulu." Ucap ibu hamil itu saat sudah menentukan apa yang mau di makan selanjut nya.
Merasa di tatap Danan, Dewi menyodorkan kue dadar gulung di depan bibir pria itu. "Mas Danan mau? Ini buka mulut. Enak sekali tahu mas."
Tanpa berfikir panjang Danan membuka mulut dan melahap nya. Mereka berdua bersendau gurau dengan menikmati jajanan pasar yang dibelinya tadi.
Tanpa mereka sadari tak jauh dari mereka ada pria yang merasa sesak melihat kedekatan mereka berdua.
Edgar yang memutuskan untuk menyusul Dewi dan danan tak menyangka jika akan melihat pemandangan ini. Pemandangan yang membuat dadanya nyeri seperti tertusuk ratusan pecahan beling.
Edgar menghela nafas, berusaha menguasai gejolak di hatinya. Berjalan mendekati pendopo Edgar merasa seperti berjalan di atas bara api yang sakit nya menjalar sampai ke hatinya. Melihat istri nya, wanita yang di cintai nya sangat dekat dengan pria lain membuat dadanya tercubit. Ngilu menjalar sampai memenuhi kecemburuan nya.
"Wi, kalian disini?"
Dewi dan danan seketika menoleh ke arah asal suara yang sangat ia kenali.
Glek- Dewi menelan kue dadar gulung dengan susah payah saat melihat suaminya sudah berada tepat di depan nya.
Edgar tersenyum, ia melirik Danan sekilas dan kembali menatap istri nya.
"Ayo pulang, jalanan sudah mulai ramai kendaraan." Ucap Edgar lembut mengulurkan tangan nya.
Dewi menyambut uluran tangan suami nya. Ia melirik Danan di sebelah nya. Pria itu tak bersuara apapun, tapi Dewi bisa melihat ada raut ketidaksukaan di wajah pria itu.
***
"Nanti setelah keringat nya hilang langsung mandi ya" ucap Edgar lembut, tangan nya mengusap peluh di kening istrinya.
Dewi bergidik saat merasakan bibir suaminya mendekat ke telinganya.
"Sudah bau asem" bisik Edgar ditelinga istri nya.
Membuat Dewi seketika memukul lengan suaminya, "aww, iya iya ampun nyonya" Edgar tergelak saat istri nya dengan kesal memukul lengan nya.
"Mas Edgar sih nyebelin, mas kan juga belum mandi." Ketus Dewi mengerucutkan bibir nya.
__ADS_1
"Tapi masih tampan kan?" Edgar menaik-naikan alis nya menggoda sang istri.
"Ketampanan mu itu berkurang karena kumis mu itu lho mas." Dewi menunjuk kumis tipis yang tumbuh di atas bibir Edgar.
"Aku sibuk mencari istriku, sampai kumisku ini juga memberontak keluar mau ikut mencari. Eh ternyata istriku ada di kota istimewa ini, sedang merindukan masa bulan madu nya dulu." Edgar tersenyum usil.
"Tidak tuh," Dewi mencibir.
"Yakin tidak merindukan bulan madu kita?" Edgar semakin mendekat ke arah istri nya hingga tubuh Dewi mepet di tempat tidur.
"Ahh geli mas, jangan di glitikin..." Tubuh Dewi menggeliat merasakan geli akibat perbuatan usil suaminya.
"Baiklah sekarang tugas mu nyonya," Edgar menyerahkan alat pencukur bulu ke tangan istri nya.
"Kemari mas, duduk disini" Dewi menyuruh Edgar duduk di kursi dekat jendela.
Dan proses pencukuran bulu kumis pun dimulai. Dewi yang sedang fokus tak menyadari sedari tadi suaminya memandangi nya.
"Apa aku masih bisa merasakan perhatian mu nanti nya wi?" Batin Edgar dalam hati.
Tangan pria itu terulur mengusap lembut perut istri nya.
Edgar dan Dewi saling berpandangan saat merasakan buah hati mereka bergerak.
Tersenyum bahagia jemari Edgar mengikuti setiap pergerakan bayi nya.
"Apa jagoan papa merindukan papa?" Edgar berbicara pada bayinya yang masih saja menunjukan keaktifan nya.
"Sehat terus sampai waktunya lahir ya nak. Papa dan mama menantikan mu."
Dewi tertegun, hatinya merasa tersentuh. Tiba-tiba dadanya bergemuruh memikirkan perceraian yang selalu di ucapkan nya.
"Sudah selesai sayang?"
"Hah!" Dewi terkejut saat mendapat pertanyaan " sedikit lagi mas"
Dewi meneruskan aktivitas nya dengan berbagai pikiran yang berterbangan di kepalanya.
Apa keputusan nya sudah menjadi yang terbaik?
...
hallo, mau cerita sedikit. waktu nulis di bagian interaksi Edgar dengan bayi nya jujur aku nulis sambil nangis. dalam tahun ini aku kehilangan 2 bayiku. hatiku sensitif kalau membahas soal bayi.
__ADS_1
udah itu aja.
selamat membaca semua ❤️ terimakasih