
"La bawakan aku kopi dan panggilkan Dava suruh dia menemui ku!" Perintah Edgar pada sekertaris nya.
"Baik tuan. Apa ada lagi tuan?" Mengambil berkas yang sudah ditandatangani Edgar.
"Tidak ada. Kamu boleh pergi."
"Baik. Permisi tuan."
Edgar mengangguk, lalu dia berjalan ke arah sofa menghempaskan tubuhnya disana.
Tok tok..
"Masuk" ucap Edgar tanpa menoleh pada pintu.
Terlihat Dava masuk dengan membawa secangkir kopi.
"Ada apa? Aku berposisi sebagai asisten atau sahabat disini?" Tanyanya sambil menaruh kopi di meja depan Edgar.
"Sahabat." Jawab nya singkat.
"Akh, oke bagaimana gar apa ada masalah?" menghempaskan tubuh nya di sofa yang lain. menunggu apa yang akan dibicarakan sahabat nya ini.
"Cari tahu apa saja yang di sukai istriku dan laporkan padaku segera!" Titah Edgar, Dava tidak terkejut sama sekali. dengan santai nya dia menyeruput kopi nya sebentar sebelum bercerita.
"Dewi suka traveling, tapi semenjak ayahnya meninggal dia sudah jarang melakukan nya lagi. Dia suka bakso, dia suka berbagi pada orang lain setiap akhir pekan." Dava bercerita.
Edgar terkejut, menegakan badan nya lalu menatap tajam Dava.
"Ada hubungan apa kamu dengan istriku! Kenapa kamu tau sampai sedetail itu tentang nya!?" Bertanya kesal.
"Hei, dengarkan aku dulu. Aku tahu semua tentang istrimu karena paman yang menyuruhku. Aku jamin aku tidak bertemu dengan nya sebelum menikah dengan mu. Aku hanya mengamatinya dari jauh dan bertanya pada teman dekat nya saja." Dava Membela diri.
"Apa! Kenapa kamu tidak melapor padaku?" rasanya sudah ingin memukul laki laki didepan nya ini.
"Itu tugas dari paman, kenapa aku harus melapor padamu?" menjawab dengan santai nya lagi.
"Dewi kan istriku, jadi aku berhak dong!" Berkata dengan pede nya.
"Benar dia istrimu? Selama beberapa bulan kamu dekat dengan nya kenapa tidak ada satupun yang kamu ketahui tentang nya?" Ledek Dava.
"A..aku tahu!"
__ADS_1
"Tapi maaf ya Edgar, urusan pekerjaan sudah beda lagi ceritanya. Jika paman yang memberiku tugas maka ini urusan ku dengan paman saja begitupun sebaliknya."
Ucap nya santai sambil menaikan kaki kirinya dan kaki kanan menopang nya.
"Baiklah baiklah, lalu apa lagi?"
Edgar mengalah karena dia tau seprofesional apa Dava jika sedang bekerja. Dia sama sekali tidak pernah meragukan hasil kerja Dava.
"Dia suka minuman manis, mawar, dan.."
"Tunggu!" Ucap Edgar menghentikan ucapan Dava.
"mawar?"
"Lanjutkan.!"
Dava memberitahu semua yang disukai Dewi padanya.
Dia bisa menarik kesimpulan bahwa Edgar sama sekali tidak mengetahui apa yang disukai dan tidak disukai istri nya.
melihat di sekeliling nya, Dava yakin kalau Edgar masih menyimpan perasaan pada Risa.
***
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, ana bergegas membukakan pintu karena Bu asih sedang mencuci piring.
"Maaf Dengan siapa ya?" Tanya ana pada orang didepan nya.
"Saya mama nya Edgar mertua nya Dewi." Ucap Bu Novi.
"Ma.. maaf nyonya saya tidak tahu. Silahkan masuk nyonya."
Bu Novi memandang ana sebentar, dia tahu kalau ana baru disini karena yang mengenal nya hanya Bu asih dan penjaga gerbang. Karena sebelum nya mereka berdua bekerja dirumah Bu Novi.
"Tidak apa apa." Ucap Bu Novi tersenyum.
Bu Novi menunggu di ruang tamu, sedangkan ana berlari ke arah kamar majikan nya.
Setelah beberapa menit Dewi turun dari tangga menghampiri mama mertua nya.
"Ma, sudah datang. Dewi sudah buatkan puding untuk Mama."
__ADS_1
"Oh ya? Wah senang nya.." ucap Bu Novi.
"Mba ana tolong bawa puding nya kemari ya" ucap Dewi pada ana.
Ana datang membawa nampan berisi 2 gelas minum dan puding. Menaruhnya ke meja.
"Silahkan nona, nyonya."
"Terimakasih mba" ucap Dewi sedangkan Bu Novi hanya tersenyum.
Bu Novi memandang vas bunga yang ada di hadapannya. Lalu matanya menatap sekeliling tampak di setiap sudut rumah terdapat bunga aster.
Bu Novi menghela nafas, " apa kamu menyukai rumah ini wi?"
"Suka ma. Kata mas Edgar , dia sendiri yang mendesain." Tersenyum menatap menatap mertuanya.
"Apa kamu suka aster?" Tunjuk nya pada vas bunga didepan nya.
Dewi memandang bunga itu dengan lesu, "sejujurnya Dewi tidak suka bunga aster. Dewi suka nya mawar."
"Eh tapi tidak apa apa ma, aster juga cantik. Ini pasti bunga kesukaan mas Edgar jadi Dewi harus menghargai apa yang disukai suami Dewi." Meralat perkataan nya karena tidak enak dengan mertuanya.
"Ganti saja dengan Bunga mawar, mawar lebih cocok dirumah ini dari pada aster."
Deg..
Dewi merasa ada yang salah sepertinya.
"Maaf ma bukanya .."
"Aster itu bunga kesukaan Risa!" Ucap Bu Novi dengan lantang. Dia sudah tidak sanggup melihat Edgar yang terus menerus masih menganggap Dewi sepeti Risa.
"Apa maksud mama?"
.
.
.
.
__ADS_1
.
Terimakasih