Aku Vs Masa Lalu Suamiku

Aku Vs Masa Lalu Suamiku
bab 78


__ADS_3

Puas menikmati suasana seribu candi, Edgar memutuskan untuk pulang saat hari sudah mulai senja. Perasaan bahagia yang di rasakan pria itu tak sepenuh nya ia rasakan. Setelah ini ia akan benar-benar merelakan istri nya. Edgar menggigit bibir, lidah nya Kelu saat hari rasanya begitu cepat berlalu. Di lihat nya Dewi di samping nya yang tampak juga bahagia, ibu hamil itu menatap ke luar jendela menikmati langit temaran yang menghiasi setiap roda mobil berputar.


Ada rasa haru yang menyeruak di dada edgar saat mengingat tawa riang sang istri. Wajah cantik istrinya bertambah mempesona. Sepanjang perjalanan pulang Edgar sering mencuri pandang ke arah istri nya dan ibu hamil itu tidak menyadari.


Terlalu menikmati jalanan kota Yogya, mata Dewi berbinar saat melihat penjual rujak di pinggir jalan. Ia menatap sendu gerobak rujak yang kian jauh dari pandangan nya.


"Kamu mau rujak itu?" Tanya Edgar tiba-tiba membuat snag istri langsung menoleh padanya.


Dewi mengangguk, "mau mas" ucap nya pelan sejak tadi ia ingin memberitahu Edgar kalau ia menginginkan rujak itu. Tapi mengingat perceraian yang akan terjadi lagi, Dewi merasa tidak berhak.


"Kenapa tidak bilang?" Tanya Edgar lembut, pria itu memutar balik mobil nya.


Dewi tidak menjawab ia hanya menunduk dan tidak tahu mau menjawab apa. Tidak mungkin ia menjawab kalau ia malu.


"Aku masih suami mu sampai bayi kita lahir wi, tak perlu merasa canggung padaku. Kamu boleh meminta apa saja padaku. Jangan bersikap seperti ini, ini ... Ini membuatku ..." Edgar menggigit bibir berusaha menahan gejolak di hatinya.


"Katakan saja apa yang kamu inginkan, bersikaplah seperti biasa nya wi. Aku masih suami mu, semua Yang ada padaku masih menjadi milikmu termasuk cintaku." Ucap Edgar, bibir nya Kelu ia tidak mau ini semua terjadi tapi ia tak bisa berbuat banyak. Sekeras apapun ia memohon, Dewi tetap pada pendirian nya.


"Tunggu disini, aku akan membelikan nya untuk mu." Ucap Edgar, sebelum keluar dari mobil ia menyempatkan mengelus pipi gembul Dewi sekilas.


10 menit Edgar sudah masuk ke dalam mobil membawa satu kotak mika rujak buah dan Menyerahkan pada dewi.


"Terimakasih mas" ucap ibu hamil itu senang. Berbagai buah dan sambal gula merah menggiurkan lidah.


"Ada imbalan nya wi, itu tidak geratis." Edgar terkekeh melihat wajah bingung istri nya.


Menaruh jari telunjuk nya di bibir dan menepuk-nepuk nya. Edgar berusaha memberi kode.


"Kamu mau aku suapi mas?" Tanya Dewi yang berfikir kalau suaminya minta disuapi.


Edgar menghela nafas kasar istrinya tak menyadari kode darinya.


"Sudah lah dimakan sa..."


Cup- Edgar membelalakan matanya mendapat ciuman tiba-tiba dari istri nya.


"Kamu sengaja menggoda ku ya wi ..."


"Ti..tidak mas hempt...hempt"


Edgar menarik tengkuk istri nya, ia cium bibir istri nya yang membuat nya candu. Lumayan lembut di berikan Edgar hingga membuat istri nya terbuai.


"Aku berharap Tuhan mau berbaik hati lagi padaku, aku tidak mau bercerai darimu. Semoga tuhan menunjukan keajaiban nya padaku kali ini." Batin Edgar di sela ciuman nya.


Edgar melepas pertautan bibir nya, dipandangi nya wajah wanita yang ia cintai. Jemari nya meraih rambut yang menutupi wajah cantik istri nya ke belakang telinga. Pria itu menempelkan hidung nya di hidung sang istri.


"Aku mencintaimu Dewi"


Deg~ ada haru yang menyeruak di dalam dada Dewi saat mendengar kalimat cinta dari suami nya.


Mengalihkan rasa yang bergejolak di dalam hati nya, ibu hamil itu membuka kotak mika dan langsung menusukan potongan buah itu masuk ke dalam mulut nya.


Dewi menyodorkan potongan buah serta sambal di depan bibir sang suami dan tentu saja langsung di terima Edgar. Sebisa mungkin ia tidak akan menyia-nyiakan momen apapun bersama istrinya.


"Kenapa kita tidak sekalian langsung ke Malioboro saja mas?" Tanya Dewi tenang dan mulut nya masih mengunyah rujak buah menggiurkan itu.


"Aku tidak mau kalian kelelahan, masih ada hari esok kita akan ke Malioboro." Edgar menggigit bibir, sebenarnya itu hanya alasan nya saja yang ingin berlama-lama bersama istri nya.


"Ohh baiklah."


Menatap istrinya sekilas, Edgar menegakkan duduk nya. "Pria itu yang di rumah pak Suryo. Siapa namanya?"


"Mas Danan" jawab Dewi tenang, tidak menyadari gurat cemburu di wajah pria di samping nya.


"Itu anak pak Suryo?" Tanya Edgar lagi, ia akan mengorek informasi dari istrinya sendiri.


"Iya, anak pertamanya. Dan yang kedua perempuan, Ajeng namanya. Kenapa mas?"


Mendapat pertanyaan balik dari istrinya membuat Edgar sedikit gugup tapi ia masih bisa bersikap biasa.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, hanya ingin tahu saja. Apa dia tidak bekerja?" Tanya Edgar lagi, tatapan nya masih menatap jalanan di depan.


Dewi yang mulai merasa ada sesuatu pada suaminya. "Dia punya cafe di Jakarta, setiap musim panen mas Danan pulang membantu orang tua nya."


Edgar menatap istrinya sekilas yangbjuga sedang menatap nya kini. "Kamu sudah kenal dia saat di Jakarta?" Tanya Edgar, mendengar Dewi memanggil Danan dengan sebutan mas membuat telinga nya panas.


"Tidak. Aku tidak sengaja bertemu dia di kereta dan tidak menyangka kalau mas Danan itu anak pak Suryo." Ucap Dewi, ia memicingkan mata menatap Edgar intens.


Merasa tak nyaman di tatap istrinya seperti itu, Edgar berdehem pelan. "Hemm ... Hemm.."


"Tolong ambilkan air mineral di dalam situ wi, seperti nya tenggorokan ku kering."


Dewi menurut mengambil air mineral dan menyerahkan nya pada Edgar.


"Mas Edgar cemburu?"


"Uhuk ...uhukk" seketika Edgar tersedak saat mendapat pertanyaan frontal dari istri nya.


"Aku... Aku hanya memastikan saja dia laki-laki yang baik atau tidak. Karena sepertinya kalian sangat dekat. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada kalian" ujar Edgar berusaha bersikap biasa.


"Kalau cemburu tinggal bilang saja mas, seperti kata mas Edgar kalau mas masih suami ku sampai bayi ini lahir." Ucap Dewi ketus.


"Kamu menyukai nya?" Tanya Edgar datar.


"Iya, mas Danan laki-laki yang baik. Selama disini dia banyak membantuku termasuk pak Suryo, Bu Sri dan juga Ajeng." Ucap Dewi.


Hati Edgar seketika mencelos, apa ini karma yang di terimanya?. Apa ini yang di rasakan Dewi saat Edgar merawat Risa dulu.


***


Sampai di rumah pak Suryo, Edgar melihat istri nya yang tertidur. Karena tak tega membangunkan Dewi, lantas Edgar menggendong nya.


Di dalam ruang tamu Edgar berpas-pasan dengan Danan yang keluar dari kamar nya.


Danan tersentak, hatinya sakit melihat pemandangan di depan nya. Dewi yang tertidur di gendongan Edgar.


"Maaf, dimana kamar istriku?" Tanya Edgar, dan Danan menunjuk pintu kamar di sebelah kanan Edgar.


Danan yang melihat itu langsung membantu Edgar membuka pintu kamar Dewi. Ada perasaan tidak rela saat melihat Dewi di gendong Edgar.


"Terimakasih" ucap Edgar dan langsung masuk ke dalam kamar istrinya. Meninggalkan Danan yang masih terdiam di tempatnya.


Membaringkan tubuh istri nya di atas kasur ada geliyatan kecil tapi sesaat terlelap kembali. Edgar berjongkok di samping sang istri.


"Masih seperti dulu, kamu kalau sudah nyenyak tidur tidak akan mudah terbangun dengan pergerakan apapun.


Edgar mencium kening istri nya lama, ia menoleh ke arah pintu yang amsih terbuka dan tersentak saat melihat Danan masih berdiri disana.


"Maaf, apa ada yang mau di bicarakan? Jika tidak saya mau beristirahat." Ucap Edgar, ia menoleh ke arah dalam rumah dan melihat pak Suryo berjalan ke arah mereka.


"Mas Edgar sudah pulang? Tidak jadi ke Malioboro?" Tanya pak Suryo.


" Dewi sepertinya sudah kelelahan. Jadi kita memutuskan besok saja ke Malioboro." Jawab Edgar, ia menatap Danan sekilas. Bisa ia lihat pria itu tidak terlalu suka dengan keberadaan nya.


"Ya sudah, mas Edgar juga istirahat saja. Kalau mau mandi kamar mandi nya ada di belakang di samping dapur." Ujar pak Suryo memberitahu.


"Terimakasih pak."


Pak Suryo mengangguk dan mengajak Danan mengikuti nya. Walaupun enggan tapi Danan tetap menurut DNA mengikuti bapak nya.


Danan heran, bapak nya mengajak nya jalan kaki. Saat sudah agak jauh dari rumah nya pak Suryo menatap putra pertamanya.


"Jangan melewati batasan mu Danan" ucap pak Suryo serius.


"Tapi suaminya Dewi itu sudah banyak menyakiti hati Dewi. Dan mereka akan bercerai sebentar lagi. Apa Danan salah jika mencintai Dewi dan berharap padanya?" Tanya Danan, suaranya menggebu-gebu.


"Kamu mau mereka beneran bercerai? Jangan gila Danan! Sadar, Dewi itu masih istri orang!" Pak Suryo menggoyangkan pundak Danan berulang.


"Aku tidak menyuruh nya bercerai. Dewi yang memutuskan itu sendiri. Aku akan menunggu nya pak."

__ADS_1


"Sebisa mungkin kita mencegah mereka bercerai. Kamu tidak melihat nya? Masih ada cinta yang besar di mata Dewi untuk suaminya. Begitupun Edgar." Pak Suryo kini melunak.


"Bukankah itu kesalahan Edgar sendiri pak?. Dia tidak pantas mendapatkan wanita baik seperti Dewi. Laki-laki itu harus di beri pelajaran biarkan dia menyesal sudah menyia-nyiakan istrinya." Ucap Danan lantang.


"Tanpa kamu sadari, Edgar sudah menyesal sejak lama. Bapak sudah mengenal nya. Bapak bisa melihat penyesalan teramat dalam dari diri Edgar. Maka dari itu bapak mau membuat mereka berdua membatalkan niat nya dan bapak harap kamu mau membantu."


"Tidak! Aku tidak mau."


Pak Suryo menghela nafas kasar. "Baiklah, kita lihat lusa apakah Dewi akan memilih untuk terus disini atau ikut Dengan suami yang di cintai nya." Ucap pak Suryo pasrah. Putra nya sedang jatuh cinta tak gampang memberi nasihat pada orang yang sedang jatuh cinta. Karena pak Suryo tahu ini cinta pertama putra nya.


***


Selesai membersihkan tubuh nya, Edgar ikut berbaring di samping sang istri. Walaupun dengan perasaan cemas jika nanti istri nya menolak dia ada disini.


Berulang kali memejamkan mata, Edgar tak bisa tidur. Ia bangun dari kasur dan menuju ke depan rumah. Suasana sepi di desa sungguh menentramkan. Edgar melihat pak Suryo dan Danan berjalan ke arah nya.


"Belum tidur mas?" Tanya pak Suryo.


"Belum pak, sehabis mandi malah jadi segar. Mungkin sebentar lagi." Jawab edgar.


"Baiklah, saya ke dalam dulu ya." Ucap pak Suryo menepuk pundak Edgar sekilas dan masuk kedalam rumah.


Saat Danan juga hendak masuk ke dalam rumah, Edgar mebuat langakh nya terhenti.


"Bisa bicara sebentar?" Tanya Edgar pada Danan. Danan mengangguk dan duduk di kursi di depan Edgar.


"Ada apa?" Tanya Danan datar, raut ketidaksukaan masih terlihat di wajah pria berlesung pipi itu.


"Kita awali dengan perkenalan dulu. Saya Edgar, Edgar Permana putra." Edgar mengulurkan tangan di depan Danan.


Sempat ragu, tapi Danan menyambut uluran tangan itu. " Saya danan, dananjaya sambara."


"Istriku banyak cerita tentang dirimu." Edgar memulai pembicaraan. "Apa kamu menyukai istriku?"


Deg_ Danan tersentak, ia menelisik pria seperti apa yang ada di depan nya saat ini. Bagaimana bisa ia bertanya dengan frontal seperti ini tanpa amarah sedikitpun.


"Istriku bilang, dia menyukai mu."


Lagi-lagi ucapan Edgar membuat Danan tak bisa berkata apa-apa. Tapi selain itu hati nya sedikit merasa senang.


"Kami sebentar lagi akan bercerai..." Edgar memberi jeda sebentar lidahnya kelu "walaupun sebenarnya aku tidak menginginkan perceraian ini terjadi. Ada buah hati kami yang akan menjadi korban.Tapi aku tidak bisa berbuat apapun. Dewi tetap pada pendirian nya walaupun aku berusaha memohon. Mungkin ini yang terbaik untuk kami berdua. Pasti kau berfikir Aku pria pengecut" edgar tersenyum getir.


"Apa anda tidak mencintai Dewi?" Tanya Danan.


Edgar tergelak mendengar pertanyaan Danan."ada bayi didalam perut Dewi,bagaimana mungkin aku tidak mencintai nya?. Aku bukan pria yang bisa bercinta tanpa perasaan. Aku tidak segila itu."


Danan mengamati Edgar, dilihatnya pria itu tak jauh berbeda di dalam foto. Tapi biasanya pengusaha seperti dirinya sering bermain wanita kan? Begitu yang ada dipikiran Danan.


"Tapi biasanya orang seperti anda ini pasti ..."


"Pemain wanita? Begitu maksud mu?" Ucapan Edgar memotong perkataan Danan. Edgar berdecak dan tersenyum miris "aku memang sering main di klub sebelum menikah dengan dewi, tapi kupastikan aku tidak pemain wanita seperti yang kamu fikir."


"Kita kembali ke pertanyaan awal yang belum kau jawab. Apa kau mencintai Dewi?" Tanya Edgar.


"Ya, sejak pertama kali bertemu dengan nya aku sudah tertarik padanya. Dan setelah mengenalnya lebih dekat perasaan tertarik itu menjadi cinta." Ucap Danan lantang.


Edgar mengangguk, ia bisa melihat keseriusan dalam kalimat Danan.


"Apa kamu bisa berjanji padaku, untuk menjaga Dewi setelah kami bercerai?. Aku percaya padamu." Edgar menggigit bibir, hatinya sesak saat mengatakan itu.


Sedangkan Dewi yang terbangun dari tidur nya sejak Edgar keluar kamar ternyata ibu hamil itu diam-diam mendengarkan pembicaraan kedua pria itu dari balik jendela kamar nya.


Edgar masuk kedalam kamar saat sudah selesai berbicara dengan Danan. Melirik ke arah jendela, Edgar heran ia merasa sudah menutup nya tadi. Tanpa berfikir macam-macam Edgar kembali menutup jendela dan berbaring di samping istrinya.


Edgar tersentak saat merasakan pergerakan istrinya yang tiba-tiba memeluk nya erat. Masih dengan mata terpejam. Edgar mengira mungkin istrinya sedang bermimpi.


Mencium kening Dewi, Edgar merengkuh tubuh istrinya dan memeluk nya erat.


"Semoga setelah kita bercerai, kamu bisa mendapatkan kebahagiaan yang tidak kamu dapat dariku. Mungkin Danan lelaki yang tepat untuk mu. Aku akan bahagia jika kamu juga bahagia." Ucap Edgar pelan, ia menutup wajah nya dengan lengan nya.

__ADS_1


Dewi yang belum tidur bisa merasakan getaran dari tubuh Edgar. Pria itu menangis.


__ADS_2