
Dewi memutuskan untuk menunggu Edgar di dalam ruangan nya. Ibu hamil itu menyusun kembali rantang makanan dan menutup nya.
Mengusir kebosanan Dewi memilih untuk berselancar di ponsel nya. Sampai akhir nya ia tertidur di sofa panjang.
Pukul 16:00 Dewi terbangun dari tidur nya, ia menatap jam dinding di ruangan Edgar. Ibu hamil itu berbinar saat pintu di buka dari luar. Tapi seketika senyum itu hilang saat yang muncul bukan suaminya melainkan asisten suaminya.
"Loh ibu ada disini?" Tanya Dava ia pun terkejut saat melihat Dewi yang berada di dalam ruangan Edgar.
"Ya dav, apa suamiku sudah selesai meeting?" Tanya Dewi, ibu hamil itu berdiri dari duduk nya.
"Pak Edgar sedang ada meeting di perusahan lain Bu, kemungkinan akan pulang malam." Jelas Dava, ia bisa melihat gurat sedih di wajah istri bos nya.
"Kalau begitu aku akan pulang saja dav" Dewi meraih tas nya dan berjalan menuju pintu keluar.
Sedangkan Dava hanya menatap Dewi dengan kasihan. Ia tidak bisa berbuat apa-apa.
***
Pukul 19:00 Edgar sudah sampai di rumah. Pria itu langsung menuju kamar nya untuk membersihkan diri. Ia menoleh pada kamar Dewi saat sampai di dekat tangga. Pintu itu tertutup, Edgar kembali meneruskan langkah nya.
Setengah jam berendam air hangat, bisa membuat rasa penatnya berangsur menghilang. Edgar turun ke lantai bawah untuk mengambil air minum. Dan lagi ia menoleh ke arah kamar Dewi yang masih tertutup.
Membuka kulkas dan mengambil air dingin, Edgar duduk di meja makan. Bu asih menyiapkan makanan yang di pesan Edgar ke atas meja.
"Dewi sudah makan belum Bu?" Tanya Edgar, entah mengapa hatinya merasa tidak enak saat melihat kamar Dewi yang masih saja tertutup dari saat ia pulang kerja.
"Bu Dewi belum pulang dari siang pak."
Deg-- jawaban bu asih sanggup membuat dada Edgar bergemuruh. Bayangan mimpi buruk tiba-tiba melintas di kepala nya. Bayangan saat sang istri kecelakaan membutakan pikiran nya. Apalagi saat ini istrinya sedang hamil. Ia tidak ingin kehilangan istri dan anak nya. Pria itu berlari ke depan tempat dimana pak Rudi dan Danu berjaga.
"Dan!"
"Danu!" Teriak Edgaremanggil sopir pribadi istrinya.
"Danu!"
Danu yang sedang menikmati segelas kopi dengan kacang kulit sampai tersedak saat mendengar namanya di panggil dengan keras.
Dengan terbatuk-batuk Danu menghampiri Edgar yang berjalan cepat ke arah nya.
"I..iya pak ada apa?" Tanya Danu saat Edgar sudah berada di depan nya.
Pria lajang itu masih terbatuk karena belum sempat minum.
"Dimana istriku?" Tanya Edgar khawatir.
__ADS_1
Danu menatap Edgar Dengan bingung, "tadi siang ibu menyuruh saya untuk pulang pak. Katanya ibu akan pulang bersama bapak selesai bapak meeting." Jelas Danu, memang Dewi menyuruh nya untuk pulang tadi siang. Karena Dewi mengira ia akan pulang bersama Edgar.
"Sial!" Edgar meremas rambut nya. Pria itu langsung berlari menuju ke dalam rumah.
Danu yang berdiri mematung di tempat nya menatap heran pada majikan nya itu.
"Bu Dewi itu kan istri nya, kenapa tanya nya sama aku. Aneh sekali pak Edgar. Uhuk uhuk ..." gumam Danu sampai melupakan ia tadi sedang tersedak. Danu berlari ke dalam pos dan menyambar air putih yang hendak di minum pak Rudi.
Sedangkan Edgar berlari ke arah kamar nya dan menyambar jaket serta kunci mobil nya. Turun ke lantai bawah dengan tergesa-gesa pria tampan itu terus saja menghubungi Dewi tapi berakhir dengan nomor tidak aktif.
"Kamu dimana wi?"
Saat hampir sampai di dekat pintu, Edgar berhenti kala melihat daun pintu di buka dari luar. Muncul wanita yang membuat nya nyaris kehilangan akal sejak tadi. Hati nya sedikit lega saat istrinya muncul dengan menenteng sekantong plastik hitam. Bayangan mimpi buruk itu terhempas jauh.
Menelisik tubuh istrinya dari atas sampai bawah Seketika Edgar langsung bernafas lega saat melihat istri nya tidak apa-apa.
"Darimana saja wi?, Kenapa pulang terlambat?" Tanya Edgar tidak ada amarah di dalam suaranya. Pria itu benar-benar lega menyaksikan istri nya kembali pulang dengan keadaan baik-baik saja.
Dewi menunduk ia takut akan di marahi Edgar lagi. "Dari rumah mba ayu mas, lili sedang sakit. Aku menjenguk nya sebentar."
"Lain kali pergi bersama Danu, aku tidak mau menjadi suami yang tidak bertanggung jawab."
Tegur Edgar, kembali dingin seperti biasa.
"Ya mas, maaf kalau membuatmu khawatir."
***
5 hari berlalu, sikap Edgar masih seperti biasanya. Diam dan tidak berbicara banyak. Seperti pagi ini tampak Dewi berjalan dari arah dapur dengan sepiring nasi goreng dan susu hamil nya.
Seperti biasa ibu hamil itu memilih menyingkir saat melihat Edgar berada di meja makan. Dewi tidak mau di marahi Edgar lagi saat berusaha mendekatinya. Duduk di depan tv dengan sepiring nasi goreng. Ibu hamil itu makan dengan lahap nya.
Edgar yang berada di meja makan menatap istri nya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Maafkan aku wi, aku masih kecewa padamu."
Sepiring nasi goreng di pangkuan nya tandas, masuk ke dalam perut berbagi dengan sang buah hati yang tengah meringkuk di dalam rahim nya. Dewi berjalan ke dapur untuk menaruh piring kotor. Ia tidak berani menatap suaminya saat berjalan melewati nya.
Sedangkan Edgar memperhatikan setiap gerak gerik istri nya. Edgar tertegun saat mendapati jika perut istrinya sudah bertambah besar. Tubuh ibu hamil itu membengkak. Pria itu semakin tertegun saat melihat istrinya berjalan dengan membawa anak mereka.
Edgar tidak bisa membayangkan betapa berat dan lelah nya Dewi setiap hari nya.
Selesai sarapan, Edgar langsung berangkat ke kantor. Mengabaikan Dewi yang menatap nya dari ruang tv.
"Mas ..." Panggil Dewi akhirnya ia berniat menawarkan Edgar untuk menemaninya periksa kandungan. Karena Edgar sendiri yang bilang padanya akan menemani nya sebelum pertengkaran ini terjadi.
__ADS_1
Edgar menghentikan langkah nya, menunggu kelanjutan ucapan istri nya.
"Apa mas ada waktu untuk menemaniku periksa kandungan?" Harap cemas Dewi akhirnya memberanikan diri.
"Aku sedang sibuk." Jawab Edgar singkat "pergi bersama Danu, jangan coba-coba pergi sendiri." Imbuhnya memperingati sang istri.
"Ya mas.." pundak Dewi melemas mendengar penolakan dari suami nya.
Duduk menunggu antrian, Dewi menatap iri pada ibu hamil lain nya yang di temani suami mereka masing masing.
Berusaha menguatkan hati nya, Dewi tidak mau berlarut dalam kesedihan. Terdengar suara suster memanggil nama nya. Dewi masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Sendiri atau bersama suami Bu?" Tanya sang dokter.
"Sendiri dok."
Saat memastikan keadaan bayi nya baik baik saja, Dewi memutuskan untuk tes DNA. Dia sudah lelah atas tuduhan sang suami. Ia berencana mengakhiri semua ini.
Pulang dari rumah sakit, Dewi menyelinap masuk ke dalam kamar Edgar. Ia mencari sampel untuk tes DNA nya.
Setelah menemukan nya ibu hamil itu keluar dari kamar suaminya. Pelan pelan menapaki tangga, ibu hamil itu terkejut saat melihat Edgar yang berdiri memandang nya dari bawah tangga.
Berhenti di ujung tangga, Dewi menunduk sambil meremas jemari nya.
"Mas, tumben pulang saat makan siang?" Takut-takut Dewi memberanikan diri bertanya.
"Ada berkas yang ketinggalan. Bukankah sudah ku peringati jangan pernah masuk ke kamar ku atau lantai atas?" Suara Edgar penuh penekanan.
"Maaf mas, kata dokter berjalan di tangga bisa memperlancar persalinan." Akhirnya Dewi menemukan alasan atas berdirinya dia di tangga.
Tak ada jawaban dari Edgar, pria itu naik ke atas tanpa mempedulikan istri nya. Dewi bernafas lega saat Edgar tidak bertanya lebih.
Buru-buru masuk ke dalam kamar, Dewi menunggu Edgar sampai pria itu pergi. Terdengar derap langkah menuju pintu Dewi yakin itu pasti suami nya. Dengan cepat ia menyambar tas nya dan ikut keluar dari rumah.
Saat berhenti di depan mini market, Edgar melihat mobil yang di kendarai Danu melintas.
"Mau kemana lagi kamu wi? Bukankah Erik di luar negri. Apa kamu mau menemui Erik? Apa mereka berdua membohongiku kalau mereka akan saling menjauh. " Tangan Edgar terkepal. Ia melajukan mobil nya dengan cepat mengikuti mobil istrinya.
"Sial!" Bayangan istrinya bermesraan dengan Erik kembali berputar di kepala Edgar. Tangan nya memegang erat kemudi.
"Kalau itu benar, akan ku bunuh keduanya!"
..
..
__ADS_1
..
hallo, sedang berada di konflik berat dalam cerita ini. jangan lupa komen, like dan vote agar author tambah semangat nulis ya.