
Edgar dan Dewi sudah berada di ruang makan, di meja tersedia olahan seafood dan juga sayur.
Dewi diam menatap semua makanan itu. Dia alergi seafood. Tidak mungkin kalau ia memakan nya. Akhir nya Dewi hanya mengambil cah kangkung. Dia akan bilang pada Bu asih nanti.
"Kenapa hanya makan sayur nya saja sayang?" Tanya Edgar menatap piring di depan istrinya.
"Aku alergi seafood mas, jadi aku tidak bisa memakannya."
Degh ...
Wajah ana dan Bu asih yang berdiri tak jauh dari meja makan langsung berubah pias, nona nya alergi seafood. mereka berdua berusaha mengingat perintah Edgar yang sudah di sampaikan pada mereka. tapi tadi sepertinya mereka sudah mematuhi perintah Edgar atas menu ini. ya menu ini Edgar sendiri yang meminta dan bilang kalau Istrinya menyukai olahan seafood. tapi kenapa sekarang nona nya mengatakan kalau dirinya alergi seafood.
"Buat menu seafood hari ini, istri ku sangat menyukai nya."
"Baik tuan"
"Bukan nya kamu dari dulu sangat menyukai seafood?" Menatap istrinya.
Dewi tertegun, terdiam sebentar.
"Tidak. Aku dari dulu alergi seafood." Jawabnya lirih, tiba tiba dia merasa sakit, suaminya ternyata tidak tahu tentang dirinya.
Edgar yang sekilas menangkap raut sedih diwajah Dewi akhirnya tersadar.
"Uhuk..uhuk.."
"Hati hati, pelan pelan saja makan nya mas." Dewi mengambilkan air untuk suaminya, menepuk pelan punggung suaminYa.
"Terimakasih"
"Ya mas"
Teringat dengan ucapan Edgar tadi, membuat Dewi tidak bisa fokus. Tanpa sadar Dia hanya mengacak acak makanan didepan nya.
Menoleh pada suaminya ..
"Siapa dia mas?" Akhirnya memilih bertanya daripada terus kepikiran.
"Maksud nya?" Santai masih meneruskan makannya.
"Siapa yang mas maksud tadi?" meremas ujung bajunya dibawah meja. " Yang suka seafood."
"Akh sepertinya aku hanya lupa. Maaf ya sayang. Aku lupa kalau istriku ini alergi seafood." Mengelus kepala istrinya dan tersenyum.
__ADS_1
lalu meneruskan makan nya, tampak Edgar sedang tidak fokus dan memikirkan hal lain.
Dewi memandang suaminya dengan tatapan menelisik. Mencari kebenaran lewat sorot matanya.
"Aku ke atas dulu. Ada sedikit pekerjaan tapi aku akan segera kembali." Ucap Edgar yang langsung berdiri, melangkah ke arah ruang kerja nya meninggalkan istrinya yang duduk terpaku dimeja makan. Baru sampai di dekat tangga dia menoleh kebelakang menatap istrinya.
"Maaf" gumam nya lirih.
Terdiam di meja makan Menatap olahan seafood di depan nya. Dewi menunduk rambut nya menjuntai menutupi wajahnya.
"Apa mas Edgar menyembunyikan sesuatu dari ku?"
"Siapa dia?"
Akhirnya menoleh pada kedua asisten nya yang sedang mencuci piring. Menghampirinya.
"Bu.." panggilnya.
Bu asih dan ana segera menoleh mendengar namanya dipanggil.
"Ya nona apa ada yang nona butuhkan lagi?" Tanya Bu asih mendekat disamping nona nya.
"Tidak. Aku hanya minta tolong kalau masak seaffood untuk mas Edgar buatkan aku juga menu yang lain. Aku alergi seafood Bu." terang nya dengan lembut dan tersenyum menyembunyikan sesak di dada nya.,
"Ba..baik nona."
"Aku tahu Bu asih pasti mungkin seumuran ibuku. Maka nya aku memanggil nya ibu. Kalau yang ini?" Tunjuk nya pada ana.
"Saya umur 23 tahun nona." Ucap ana masih menundukkan kepalanya.
"Baiklah karena kamu lebih tua satu tahun dariku. Aku akan memanggil mu mba ya" ucap nya tersenyum.
"Baik nona,panggil saya senyaman anda." Ucap nya sopan.
"Aku ke kamar dulu ya, beristirahatlah jika sudah selesai dengan pekerjaan kalian." Tersenyum.
Bu Asih dan ana menatap kepergian nona nya. setelah memastikan Dewi masuk kamar. mereka berdua saling melemparkan tanya. dan di akhiri dengan ucapan Bu asih.
"sudah, Yang penting kita sudah menjalankan perintah tadi. biar itu menjadi urusan mereka berdua. jangan ikut campur."
Edgar duduk dikursi ruang kerjanya sambil memijit pelipis nya, lalu membuka laci meja mengambil sebuah foto menatap nya dengan tatapan kecewa.
"Andai saja kamu tidak berhianat padaku. Mungkin aku sudah menikahimu saat ini."
__ADS_1
Mengusap kasar wajahnya, raut kekecewaan tercetak jelas diwajah nya saat ini.
"aku mencintai istriku tapi kenapa bayangan mu masih tidak bisa hilang dari ingatan ku." Mendesah kesal kali ini.
Edgar menghentikan lamunan nya saat terdengar ketukan dari luar.
Dengan segera dia menyimpan foto itu lagi dilaci.
"Masuk."
"Mas apa sudah selesai?" Tanya Dewi saat sudah masuk ke dalam ruang kerja suaminya.
Melihat Edgar duduk dengan pulpen ditangan nya. Ia mengamati sekeliling.
Terlihat banyak buku yang berjejer di rak dan juga sofa sekaligus meja. Ini pertama kali nya ia masuk kedalam ruangan kerja Edgar, dia bahkan belum sempat berkeliling rumah nya.
"Sudah, kenapa sayang?
"Ada apa sayang?" BerTanya lagi saat sang istri belum menjawab pertanyaan nya.
"Aku bosan mas," berjalan menghampiri suami nya dan berdiri tepat didepan nya.
"Baiklah, istri ku mau apa sekarang?" Sudah mendekap tubuh istrinya dengan posesif. Menaruh dagunya di pundak sang istri. Pipi mereka menempel sekarang.
"Apa mau lagi?" Menggoda istrinya dengan senyum menyeringai lalu mengecup pipinya.
"Tidak! Ayo kita jalan jalan mas" berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya tapi Edgar malah semakin mempererat pelukannya.
"Benar nih tidak mau lagi, aku pasti akan mengabulkan nya jika kamu yang meminta." Menggoda lagi.
"Mas.." kesal.
Melihat istri nya yang protes akhirnya Edgar mengalah.
"Baiklah ayo kita jalan jalan." Menarik tangan istri nya berjalan keluar dari ruang kerjanya menuju kamar nya.
Sekarang malah dia yang antusias seperti nya.
.
.
.
__ADS_1
.
Terimakasih