Aku Vs Masa Lalu Suamiku

Aku Vs Masa Lalu Suamiku
bab 9 erik gunawan


__ADS_3

"hai wi .. sudah lama ya " ucap laki laki itu.


Dewi menatap laki laki itu, seketika tersadar..


"Mas Erik!" Teriak dewi yang langsung memeluk Erik. Dewi segera melepaskan pelukan nya saat tersadar sebentar lagi dirinya akan menikah dengan Edgar.


Dewi mundur dua langkah. Rasa bersalah tiba tiba menjalar ditubuhnya. Rasa bersalah pada Edgar yang tanpa izin memeluk laki laki lain.


"Apa kabar?" Tanya Erik menatap lekat wajah Dewi. Semburat bahagia terlihat diwajah tampan nya.


"Ba..baik mas. Mas Erik sendiri apa kabar?" Tergagap menjawab pertanyaan Erik. Sebenarnya ia juga rindu pada sosok laki laki didepan nya ini. Ia sudah menganggap nya seperti kakak sendiri.


Tapi tetap saja dia harus menjaga jarak dan sikap mengingat sebentar lagi akan menikah.


"Bagaimana kalau aku bilang sedang tidak baik baik saja?" 


"Maksud nya?" Tanya Dewi tidak mengerti.


" Aku selama ini sangat merindukan mu wi. Setiap hari Rasanya aku ingin cepat cepat pulang ke Indonesia bertemu kamu." Ucap Erik.


Degh.....


Perkataan Erik seketika terasa menghujam hati Dewi. Bagaimana bisa laki laki di depan nya ini mengutarakan rasa rindunya terang terangan seperti ini. Seperti mengutarakan pada kekasih nya.


Tapi pikiran itu dengan cepat di buang nya jauh jauh. Dewi tidak sabar menyampaikan pernikahan nya pada Erik. Tapi terlihat Dia meremas jari jari tangan nya, gugup.


"Mas.. sebentar lagi aku akan menikah."


Degh...


Berganti Erik yang terasa ditusuk oleh pisau tajam langsung menembus jantung nya akibat perkataan Dewi. Luka tak berdarah.


"Apa!" 


"Eh ,, maksudku selamat ya wi. Semoga bahagia." Ucap Erik, badan nya terasa lemas seketika. Tangan nya berpegangan pada meja disamping nya mencegah agar dirinya tidak terjatuh.


"Mas Erik tidak apa-apa?" Tanya Dewi melihat Erik yang tangan nya bergetar menyentuh meja.


Erik hanya terdiam duduk di kursi menyandarkan tubuhnya dengan kasar. Dia sudah tidak sabar menemui Dewi hendak mengutarakan perasaan yang selama ini di pendam nya tetapi seketika harapan nya langsung dipatahkan oleh perkataan wanita yang selama ini di cintai nya. Layu sebelum berkembang mungkin itu kata yang tepat saat ini untuk menggambarkan suasana hati nya.


Setelah bisa menguasai diri. Erik menatap Dewi. Dia menggigit bibir mencegah agar air mata nya tidak keluar.


"Dewi ambilkan minum dulu ya mas." Bergegas ke dalam mengambil air mineral secepat kilat kembali menghampiri Erik lalu menyerahkan air itu.

__ADS_1


Erik meraih gelas itu lalu meminum nya. Tangan nya masih tampak bergetar.


"Kapan pernikahan mu?" Pertanyaan yang membuat sakit hati nya sendiri akhir nya lolos juga dari bibir nya.


"3 Minggu lagi mas. Mas Erik datang kan?" Ucap Dewi dengan tersenyum.


"Pasti datang. Mana mungkin mas melewatkan hari bahagia mu wi." Ucap nya tanpa sadar mengusap rambut Dewi dengan lembut. Setelah tersadar dia menarik tangan nya kembali.


"Maaf"


"Mas Erik Sampai Indonesia kapan?"


Tanya Dewi yang sudah mendudukan dirinya di kursi depan Erik.


" Tadi malam." Ujar nya singkat raut kesedihan tidak dapat di tutupinya.


"Kenapa mas Erik kelihatan sedih?" Tanya Dewi. Khawatir ada yang terjadi dengan Erik.


"Aku mencintai seseorang, tapi orang itu menolakku. Padahal aku pulang ingin mengutarakan perasaan ku padanya." Ucap Erik Tersenyum getir.


"Siapa yang berani menolak mas Erik yang ketampanan nya di atas rata rata ini. Punya hati baik yang seluas samudera.Apa dia tidak salah melihat! Bodoh sekali." Ucap Dewi menggebu gebu mencoba menghibur Erik.


Erik tertawa melihat tingkah Dewi. Tapi seketika tawa itu berubah menjadi senyum getir yang menyiratkan kesedihan mendalam.


"Andai kamu tau orang itu adalah kamu wi. Apa kamu juga tetap akan mengatai dirimu bodoh karena tidak mencintai ku?" 


Mereka terus mengobrol, bercerita kesana kemari. Terlihat Dewi antusias mendengarkan cerita Erik selama di luar negri.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang mengawasi mereka sedari tadi.


***


Didalam mobil pandangan Edgar menatap lurus pada Dewi yang sedang tertawa mengobrol dengan seorang laki laki.


Dia mengepalkan tangan nya. Lalu saat melihat laki laki itu mengusap rambut Dewi, ia mencengkram kemudi erat. Wajahnya terlihat emosi. Tanpa bisa menunggu lagi Edgar keluar dari mobil. Menyeberang jalan dengan raut wajah yang masih terlihat marah. Untung saja jalanan sedang lenggang hari ini.


Dewi terkejut saat merasakan tangan yang melingkar di pundak nya. Menoleh menatap sang pemilik tangan.


"Mas.. mas Edgar" ucap Dewi lirih. Wajah nya panik saat ini apalagi melihat tatapan Edgar yang menatap tajam ke arah Erik.


"Dia siapa!?" Tanya Edgar dingin. Matanya beralih menatap Dewi. Mencium pipi kanan nya. Menunjukan kepemilikan atas wanita ini begitu artinya kira kira.


"Ke .. kenalkan ini mas Erik mas. Dia teman Dewi dari lama. Rumah nya satu perumahan juga sama Dewi." Jelas Dewi berharap penjelasan nya tidak menimbulkan kesalahpahaman.

__ADS_1


"Kamu seperti nya dekat sekali dengan dia!" 


Deg...


Ternyata penjelasan nya malah berbalik menjadi belati menusuk dadanya. Dewi mengira Edgar akan mengerti tapi sepertinya tidak. melihat raut wajah tidak suka nya menatap Erik.


Melihat Dewi yang tidak bisa menjawab pertanyaan Edgar. Akhirnya Erik mengambil alih.


"Hallo, saya Erik teman dekat Dewi."


"Diam! Saya tidak bertanya pada anda!" Berteriak Marah.


"Jangan pernah dekati calon istri ku!" Menatap kesal "untuk alasan apapun!"


Edgar menoleh pada dewi menarik tangan nya, mengajak nya menyeberang jalan masuk ke dalam mobil.


Erik yang tidak mau menambah masalah Dewi hanya bisa terdiam. Tatapan nya beralih pada Mia yang juga tengah menatap nya dengan tatapan kasian.


"Kamu tahu apa kesalahan kamu?" Tanya Edgar dingin setelah masuk kedalam mobil duduk di kursi tengah.


"Maaf" lirih Dewi, dia takut menatap Edgar dengan keadaan seperti ini.


"Apa kamu lupa kalau sebentar lagi akan menikah dengan ku?" Tanya nya lagi masih menunjukkan raut tidak bersahabat.


"Tidak! Aku ingat mas. Maafkan aku, aku hanya mengobrol sebentar tadi."


"Sebentar? Kalau aku tidak datang pasti kamu akan terus mengobrol dengan nya! Ya kan ?" Berteriak suaranya memenuhi dalam mobil.


Bintang yang terkejut dan kaget refleks mundur kebelakang sampai mepet ujung kursi. Edgar yang melihat Dewi ketakutan langsung menggeser duduknya mendekati Dewi lalu memeluk nya erat.


"Maaf, aku tidak bermaksud membuat mu takut. Aku hanya kesal saja tadi. Aku cemburu melihat mu mengobrol dengan laki laki lain." Ucapan nya lembut sekarang tidak berteriak atau sedingin tadi.


Edgar mengendurkan pelukan nya, menangkup wajah Dewi dengan kedua tangan nya.


"Aku mohon setelah ini jangan dekat dekat dengan laki laki lain lagi ya.."


Dewi hanya mengangguk matanya tidak pernah lepas dari mata Edgar.


.


.


.

__ADS_1


.


Terimakasih


__ADS_2