
Duduk di dalam kereta Argo dwipangga luxury, ibu hamil itu menatap ke luar jendela. Kenangan bersama suaminya menari-nari di kepalanya.
Ia sempat was-was saat memutuskan pergi tanpa pamit. Hanya secarik surat dan hasil tes DNA yang ia tinggal di atas ranjang nya. Ia yakin Edgar pasti akan mencari nya.
"Maafkan mama, mama terpaksa melakukan ini. Mama tidak ingin kehilangan mu sayang. Hanya kamu kekuatan mama saat ini." Dewi berbicara dengan bayinya sambil mengelus perut nya. Gerakan yang aktif terlihat jelas di balik gaun hamil berwarna lavender itu.
Menikmati semua kenangan yang masih belum mau pergi di pikiran nya, Dewi memejamkan mata mengingat kenangan yang lebih banyak membuat hati nya sakit, ia memilih meninggalkan semuanya di kota ini tanpa ingin mengingat nya lagi. Berharap nanti nya di kota yang baru Dewi bisa mendapatkan kebahagiaan bersama bayi yang ada di kandungannya.
Tersadar dari lamunan nya saat ada seseorang duduk di sebelah nya, Dewi mengusap air mata di sudut mata nya yang hampir jatuh. Membalas sapaan pria disampingnya dengan senyuman.
Menikmati perjalanan yang kurang lebih menghabiskan waktu sekitar 7 jam, mengusir kebosanan Dewi merogoh ponsel di dalam tas kecil nya. Ada banyak panggilan tak terjawab dari sang suami dan kakak nya. Dewi lebih memilih mengabaikan dan memasukan kembali benda pipih itu ke dalam tas.
Ia belum sanggup membalas semua pesan itu, ia ingin sendiri. Mengobati sakit hati nya sendiri. Berharap nanti nya dia bisa berada di titik terkuat fersi dirinya.
Rasanya ia ingin berteriak melayangkan protes pada Tuhan, kenapa takdir seperti mempermainkan nya. Dulu saat di tinggal suaminya demi wanita lain, ia masih bisa berdiri tegar. Tampil seceria mentari pagi.
Sabar seperti saat menanti hujan di musim kemarau. Tapi saat ini rasanya seperti di jatuhkan dari atas jurang ke dasar jurang yang paling dalam hingga ia kesulitan untuk naik.
Dua bulir air mata lolos begitu saja saat Dewi membayangkan sakit hati nya.
"Mba, tidak apa-apa?" Tanya pria di samping Dewi membuyarkan semua lamunan ibu hamil itu.
Dewi menoleh menatap pria asing di samping nya.
"Ah maaf bukan maksud ku ikut campur, tapi melihat mba menangis saya pikir mba sedang ada masalah." Ujar pria itu tersenyum canggung.
"Saya baik-baik saja mas, mungkin karena angin yang masuk jadi membuat mata saya pedih." Jawab Dewi beralasan. Mengibas-ngibaskan tangan nya agar matanya berhenti mengeluarkan air mata.
Pria itu menarik sudut bibir nya, ia bukan pria bodoh yang percaya dengan alasan tak masuk akal seperti itu karena jendela di samping Dewi tidak ada celah untuk angin masuk.
"Saya danan, dananjaya sambara" ucap pria itu memperkenalkan diri, menyodorkan tangan nya.
Merasa tak dapat sambutan, Danan menarik tangan nya kembali. Pria itu tersenyum kecut.
"Ah sepertinya saya terlalu blak-blakan ya, maaf jika ..."
"Saya Dewi, Diandra Dewi." Jawab Dewi, memotong perkataan Danan.
Danan tersenyum, "ke Yogya juga mba?" Tanya nya membuka pembicaraan.
Dan di balas anggukan oleh Dewi.
"Asli Yogya atau mau berlibur?" Tanya Danan lagi.
__ADS_1
"Saya ,, saya berlibur." Jawab Dewi terbata, tidak mungkin ia bilang pada Danan kalau dia sedang kabur dari suaminya. Dewi belum tahu pria seperti apa di samping nya. Sendirian merantau di kota orang, ibu hamil itu harus extra hati hati.
Danan memperhatikan Dewi dengan seksama, ia tertegun sebentar saat melihat perut besar Dewi. Dari saat dia duduk pemuda itu tidak memperhatikan jika Dewi sedang mengandung.
Menegakkan duduk nya, Danan mencoba bersikap biasa saja.
"Kalau saya pulang kampung mba, di desa sudah waktunya panen. Jadi saya biasa pulang saat musim panen membantu ayah dan ibu saya." Jelas Danan, pria itu memang tipe blak-blakan seperti ini.
Dewi hanya mengangguk dan tersenyum tak tahu menjawab apa. Dan ia juga tidak mau terlalu akrab dengan orang asing yang tidak ia ketahui latar belakang nya.
"Kalau mba Dewi mau berlibur, saya bisa mengantar jadi driver. Bapak saya punya usaha pemandu pariwisata untuk orang-orang yang sedang berlibur. Berkeliling Yogya. Tidak perlu khawatir biaya nya terjangkau dan di Jamin tidak pernah mengomel selama melaksanakan tugas." Terang Danan, bakat marketing nya tiba-tiba muncul.
"Ah tidak perlu mas, saya sudah punya pemandu sendiri. Dulu saat saya bulan madu bersama suami saya disini..." Dewi terdiam tidak meneruskan perkataannya. Ia tidak mau mengingat apapun tentang suaminya.
"Ah maaf saya jadi teringat dulu ..." Ucap Dewi, tersenyum canggung dan menegakkan duduk nya.
"Tidak apa-apa mba, semoga kita bisa jadi teman baik ya" ucap Danan tersenyum, pria tampan berparas Jawa itu mempunyai lesung pipi yang membuat nya semakin manis.
Dalam sisa perjalanan, kedua orang itu terlibat percakapan beberapa kali sampai akhirnya terhenti saat ibu hamil itu tertidur.
***
Edgar yang masih dalam perjalanan pulang dari rumah sang mertua, mengumpat beberapa kali saat jalanan tiba-tiba tersendat. Pria itu menekan klakson mobil berulang kali. Merasa tidak bisa bergerak sama sekali Edgar memukul setir mobil dengan keras lalu menelungkup kan kepala nya disana.
"Sial! Brengs*k! Kau brengs*k Edgar!. Suami macam apa kau ini!" Edgar merutuki dirinya sendiri.
Menangis terisak di tengah-tengah kemacetan ibu kota. Edgar menoleh saat ponsel nya berdering. Dengan segera ia mengangkat telefon itu tanpa melihat nama yang tertera.
"Halo Dewi, kamu di mana sayang?" Tanya Edgar saat pertama menerima panggilan itu.
"Ini Tante Sari gar bukan Dewi." Jawab seseorang di seberang sana.
Edgar menelan kecewa saat ternyata bukan istrinya yang menelepon.
"Ya ada apa Tante?" Tanya Edgar menyembunyikan rasa kesal nya.
"Risa di rumah sakit. Apa kamu bisa meluangkan waktu sebentar menjenguk nyam dia memanggil nama mu terus menerus."
"Maaf saya tidak bisa Tante, saya ada urusan penting. Saya tidak mau terlibat lagi Dengan anak Tante." Tegas Edgar menolak permintaan Tante Sari ibu nya Risa.
"Tante mohon gar, demi Risa. Demi hubungan kalian dulu."
"Saya bilang saya tidak bisa Tante! Apa Tante tahu, istri saya pergi dari rumah gara-gara Risa!. Saya tidak peduli dengan Risa yang saya pedulikan hanya istri saya!" Ujar Edgar dengan suara keras.
__ADS_1
"Apa maksud mu gar?"
Edgar tidak menjawab pertanyaan Bu sari dan langsung mematikan panggilan sepihak. Pria itu mengumpat beberapa kali.
Edgar melajukan mobil nya kembali saat jalanan sudah mulai lancar, tujuan nya saat ini adalah rumah orang tua nya. Ia akan meminta bantuan anak buah papanya agar bisa membantunya mencari Dewi.
***
Langit sudah temaran saat Dewi menenteng tas besar berisi perlengkapan nya turun dari kereta yang ia Naiki.
Ibu hamil itu berdiri menikmati udara kota Yogyakarta. Memupuk harapan besar nya disini. Dewi berharap agar kali ini Tuhan mau berbaik hati mewujudkan semua sesuai keinginan nya.
Kembali berjalan, ibu hamil itu mencari bangku untuk nya duduk saat menunggu pak Suryo yang sedang dalam perjalanan menjemput nya.
"Mba Dewi, biar saya bawakan tas nya. Kita duduk di kursi ujung sana saja." Tawar Danan yang tiba-tiba muncul di samping nya.
Danan meraih tas Dewi tanpa menunggu jawaban. Dewi mau menolak tapi Pria itu sudah berjalan menuju bangku. Akhirnya Dewi hanya mengikuti Danan.
"Masih lama jemputan nya mba?" Tanya Danan, menyerahkan air mineral pada Dewi dan langsung duduk di sebelahnya.
"Sebentar lagi," jawab Dewi, ia menatap Danan di samping nya.
Di lihat dari wajah nya Danan seperti nya lebih tua dari nya, pria yang ramah dan blak-blakan itu mempunyai wajah yang tampan, apalagi senyuman yang di hiasi lesung pipi itu.
"Mba, hp nya bunyi" ujar Danan membuyarkan pikiran Dewi. Dengan segera ibu hamil itu mengangkat telefon yang ternyata dari pak Suryo.
"Oh baiklah, saya yang keluar saja pak." Ucap Dewi memutuskan panggilan.
Dewi berdiri dari duduknya dan menoleh pada Danan, "mas Danan terimakasih sudah menemani saya selama perjalan ke sini. Saya permisi dulu, jemputan saya sudah menunggu di depan. Selamat tinggal."
Danan berdiri dari duduk nya, mereka berdua sekarang berhadapan.
" Kenapa selamat tinggal?,saya yakin kita berdua pasti bertemu kembali." Ucap Danan.
Mengulurkan tangan tangan ke arah Dewi, Danan berucap " sampai jumpa kembali, Diandra Dewi."
Entah kenapa Dewi membalas uluran tangan Danan, "sampai jumpa kembali dananjaya sambara."
..
..
..
__ADS_1