
Sedangkan Edgar sekarang masih ada diperjalan. Dia mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi. Memecah kepadatan pengemudi lainya. Tak jarang dia mendapat umpatan dari pengendara lain.
Yang ada dipikirannya saat ini adalah cepat cepat bertemu dengan Dava. Mengeluarkan semua yang mengganjal dihatinya.
Setelah setengah jam lamanya mobil Edgar sudah berada di depan apartemen Dava. Melenggang masuk tanpa membalas sapaan penjaga pintu.
Dia memasuki lift, dia terus saja protes dan mengumpat saat merasa lift berjalan dengan lambat.
Saat hendak mengetuk pintu apartemen Dava, bersamaan dengan pintu dibuka dari dalam.
"Edgar!. Masuk gar. Kebetulan sekali aku akan kerumah mu tadi." Dava berbasa basi.
"Ada apa?" Tanya Dafa yang melihat raut wajah Edgar yang memerah menahan amarahnya.
"Kenapa dia menyembunyikan hal ini dariku?" Ucapnya ketus. Menatap tajam ke depan. Raut wajahnya menakutkan saat ini. Seperti singa yang hendak melahap buronannya.
"Apa maksud mu?" Dava masih tidak mengerti.
"Aku sudah sebulan mencari keberadaan nya tapi tidak ketemu. Risa menyembunyikan alasan nya meninggalkanku!"
"Apa!" Dava terkejut " jadi kamu sudah tahu. Aku baru saja akan memberitahu mu tadi. Tunggu! Darimana kamu tahu?" Dava memicingkan matanya menatap Edgar. Yang tahu soal Risa hanya dia dan kedua orang tua Edgar.
"Tidak mungkin bibi atau paman memberitahu ini pada Edgar kan?"
"Dari dewi!" Jawab Edgar lirih.
"Apa! Jadi Dewi tahu tentang Risa?" Kali ini lebih terkejut lagi atas ucapan Edgar.
"Ya, dan selama ini dia menyembunyikan nya dariku. Aku sempat marah padanya. Dan mendiamkan nya sebulan ini" menunduk dia tahu dia salah harusnya dia tidak menyalahkan Dewi atas hal ini. Tapi ego nya mengalahkan semua itu.
__ADS_1
"Kamu gila ya! Atas dasar apa kamu marah padanya? Dia tidak bersalah sama sekali dengan hal ini gar!" tangan Dava terkepal Rasanya dia ingin meninju wajah laki laki dihadapannya ini.
"Jadi selama sebulan ini kamu jarang masuk kerja karena mencari Risa!" Dava menggeleng gelengkan kepalanya, semakin tidak percaya dengan kebodohan sahabat nya itu.
Edgar hanya terdiam Menundukkan wajahnya dalam merenungkan kesalahan nya pada istrinya.
"Gar! Kalau Dewi sudah tahu tentang Risa berarti dia juga tahu alasan mu marah hanya karena dia ingin mengganti bunga itu!" Berkata lagi saat melihat Edgar hanya terdiam.
Deg..
Edgar terkejut. Dia melupakan hal itu.
"Aku bingung dav, disatu sisi aku mencintai istriku. Tapi disisi lain aku masih sering mengingat Risa di pikiran ku."
" Apalagi sekarang aku tahu alasan nya meninggalkan ku karena penyakitnya. Aku semakin menjadi merasa bersalah sekarang." Mendesah frustasi.
"Kamu hanya merasa bersalah padanya gar. Kamu tahu? bukan kamu saja yang merasa tersakiti gar. Tapi Dewi lebih sakit pastinya. Desain rumah mu itu impian mu dan Risa dulu, bunga aster yang tumbuh mengelilingi rumah mu itu kesukaan Risa juga. Baju yang kamu pilihkan untuk Dewi itu juga tipe baju yang sering digunakan Risa."
Edgar tertunduk lagi dia semakin merasa bersalah dengan istrinya sekarang. Tersadar akan kata kata Dava barusan.
Dengan segera Edgar berdiri dari duduk nya. Dia ingin cepat pulang meminta pengampunan istrinya. Baru saja melangkah pergi tapi Dava menarik tangan nya.
Bugh...
Dava memukul wajah Edgar, dia sudah geram dengan nya dari tadi. Edgar yang terkejut sampai tersungkur di sudut sofa.
"Kamu gila ya!" Teriak nya marah sambil memegang sudut bibir nya yang mengeluarkan darah.
"Ya aku gila. Berharap dengan pukulan ku ini kamu segera tersadar atas kebodohan mu menyia-nyiakan istrimu. Dasar bre'ngsek!!." Berteriak seketika tersenyum mengejek.
__ADS_1
"Kamu benar, aku memang bre'ngsek. Aku baru sadar saat ini. Aku sudah sangat menyakiti hati istriku dav." Pasrah dan tidak membantah atas ucapan sang asisten. Edgar Melangkah kan kaki nya ke arah pintu tapi Dava menahan nya lagi.
"Lepaskan aku bre'ngsek!"
"Kamu mau kemana?" Tanya Dava.
"Aku mau pulang. Aku ingin menemui istriku!" Berteriak marah lagi.
"Ah baiklah. Pulang lah gar. Berdoa saja istrimu masih memaafkan mu. Jangan sampai kamu menyesal setelah kehilangan nya nanti."
***
Setelah beberapa menit kepergian Edgar, Dava dikejutkan dengan panggilan telfon dari Dewi. Dengan segera dia mengangkat nya.
"Halo nona, ada apa ? Tumben menelepon ku?" Bertanya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Aku sudah hampir sampai di apartemen mu. Kamu bisa tunggu diluar apartemen mu.? Aku ingin meminta tolong." Ucap Dewi. Terdengar suara berisik yang bersahut sahutan dari kendaraan lain.
"Baik nona. Nona naik apa kemari?" Penasaran karena bunyi berisik yang menghiasi suara nona nya itu.
"Aku naik ojek online. Sudah ya aku sudah hampir sampai."
Tut Tut..
Dava segera berlari ke arah lift. Turun kelantai bawah. Dia celingak celinguk saat sudah berada di depan apartemen. Menatap jalanan terlihat sebuah sepeda motor berhenti di seberang jalan. Dan turun wanita cantik menyerahkan helm pada tukang ojek itu.
"Nona tunggu disana, aku akan kesana." Teriak Dava , tapi sepertinya Dewi tidak mendengarnya.
Dewi memutuskan untuk meminta bantuan Dava mencari keberadaan Risa. Dia memutuskan untuk merelakan suami nya.
__ADS_1
Dewi melangkahkan kaki untuk menyeberang jalan baru sampai di tengah perjalanan ada sebuah motor yang dengan cepat melaju ke arah nya.
Brakk.....