
"mas apa kamu mencintaiku?"
Deg..
Edgar menundukkan wajahnya menatap lekat wajah sang istri yang penuh harap.
"Tentu saja sayang, kenapa bertanya seperti itu?" Suaranya terdengar gusar. Memandang dalam pada netra istrinya.
"Apa aku boleh meminta kamu mengucapkan nya setiap bangun tidur dan sebelum tidur untuk ku?"
Deg..
Edgar tersentak permintaan istri nya seperti tamparan keras untuk nya, dia tersadar selama pernikahan mereka Edgar jarang mengucapkan kata cinta pada istrinya. walau sebenarnya lebih penting tindakan yang nyata, tapi begitulah wanita selalu ingin mendengar langsung dari laki laki yang di cintai nya. bukan apa apa hanya memastikan, satu kata ucapa cinta sudah membuat nya seperti di hujani bunga.
"Bo.. boleh sayang. Tentu saja boleh." Jawabnya tergagap. Sampai sekarang dia masih bingung dengan perasaannya. Dia mencintai istrinya tapi juga belum bisa melupakan mantan kekasihnya. jauh di lubuk hati nya yah paling dalam, Edgar sebenarnya juga ingin melupakan mantan kekasih nya. tapi entah mengapa ia merasa ada sesuatu hal yang belum ia selesaikan.
Tidak ada istri yang sanggup berbagi hati pada orang lain. Salah satunya harus keluar.
bukan kah sudah menjadi kewajiban suami hanya boleh mencintai istrinya.
Tapi tidak dengan Dewi, Dewi harus berusaha merebut cinta suami nya. Dia harus bersaing dengan mantan kekasih suaminya yang dia sendiripun tidak pernah bertemu dengan nya. Hanya mendengar kisah nya saja itupun dari mama mertuanya.
Ya hanya itu.
"Terimakasih mas" ucapnya.
"Ini salah satu caraku agar kamu bisa terus fokus padaku. Tapi jika nanti aku sudah lelah. Aku akan merelakan mu memilih antara aku atau dia mas."
***
Ini adalah hari ketiga bulan madu mereka. Rencana nya nanti malam mereka akan kepusat oleh oleh dikota ini.
Terdengar suara dering ponsel dari atas meja. Edgar meraih nya tertulis didepan layar panggilan video dari mamanya.
"Ya hallo ma" sapa nya. Terlihat wajah mama nya yang tersenyum memenuhi layar ponsel nya.
__ADS_1
"Gar, kalian ada dimana?" Raut yang semula bahagia terlihat redup berganti dengan kesal. menatap tajam pada putra pertama nya itu.
"Kami di kota Jogja ma, ada apa kenapa mama terlihat kesal?" tanya Edgar, sengaja memancing kemarahan mamanya. dia tahu persis penyebab mama nya kesal.
"Anak ini! Kenapa pergi bulan madu tidak bilang pada mama." Teriak Bu Novi memekik terdengar nyaring ditelinga.
"Ini mendadak ma. Kalau aku memberitahu Mama, mama pasti akan ngeyel meminta ikut. Mama pasti mengacaukan acara bulan maduku. Bagaimana aku bisa membuat Edgar junior kalau seperti itu?" Tergelak keras saat sang mama semakin mengerucutkan bibirnya. Wanita yang sudah masuk usia senja itu masih saja suka berjalan' jalan atau sekedar nongkrong dengan teman teman nya.
"Berikan ponsel mu pada Dewi." Perintah Bu Novi.
Dewi yang mendengar itu segera memberi kode lewat tangan nya.
"Istriku sedang tidak pakai baju ma, dia malu bertatap muka dengan mu." Goda Edgar.
"Mas!" Panggil Dewi pelan. Dia malu Edgar secara terang-terangan mengatakan kalau dia sedang tidak pakai baju karena baru selesai mandi. hanya sepotong handuk yang melilit tubuhnya.
Edgar menoleh pada Dewi menaruh telunjuk nya di depan bibir, menyuruh istrinya untuk diam.
"Sudah ya ma, mama mengganggu kesenangan ku. Aku tutup ya"
"Tunggu! Baiklah katakan pada Dewi agar dia membelikan mama bakpia khas kota itu ya. Dan satu lagi, bawakan kabar gembira setelah dari sana."
"Mas kenapa kamu terang terangan seperti itu? Aku malu pada mama, apa yang dipikirkan mama nanti!" Cemberut menambah keimutan di wajah nya.
"Kalau tidak begitu mama pasti akan terus berbicara sayang. Mengganggu acara kita. mama juga pernah muda, pasti dia lebih paham apa yang sekarang kita lakukan kan."
Edgar sudah berjalan mendekati istri nya yang masih menggunakan handuk ditubuhnya, wangi dari sampo yang dipakainya menyeruak. Menciumi bahu polos istrinya wangi sabun aromaterapi membangkitkan sesuatu dibawah sana.
melihat gelagat mencurigakan suaminya, Dewi mendengus kesal. dia memundurkan tubuhnya sampai ke tembok. Edgar mengungkung nya.
Dan acara berakhir dengan pergulatan panas diantara mereka.
_____________
Hari sudah gelap, tapi ditempat itu masih tampak ramai pengunjung. cahaya lampu jalanan menyinari setiap sudut tempat itu. Edgar sudah menenteng beberapa tas ditangan nya.
__ADS_1
Hasil dari berkeliling istrinya yang mencari oleh oleh pesananan sang mama.
Brug-..
Dewi menabrak punggung Edgar yang tiba tiba berhenti didepan nya. Dia mengintip apa gerangan yang sedang dilihat suaminya sampai berhenti mendadak seperti ini.
Ternyata di depan nya ada musisi jalanan yang sedang bernyanyi lengkap dengan alat musik.
Dewi menatap Edgar, menatap suami nya yang berdiri mematung memandang musisi wanita itu.
"Risa senang sekali menyanyi."
Deg..
Tiba tiba ucapan mama mertuanya teringat di otaknya. Dewi membiarkan Edgar menikmati alunan lagu yang dinyanyikan sang vokalis. membiarkan suami nya bernostalgia. Setelah beberapa menit Dewi menarik tangan Edgar mengajak nya ke arah parkiran mobil nya.
Didalam mobil Edgar tidak bersuara sama sekali. diam seribu bahasa.
"Mas .. mau ini?" Tunjuknya pada makanan yang kenyal khas kota itu. Edgar tidak menjawab. Dia malah memalingkan wajah nya ke arah jendela. ntah apa yang dipikirkannya sekarang.
Dewi tidak putus asa , dia masih berusaha mengalihkan perhatian sang suami.
"Atau mau yang ini mas? Rasanya enak manis mas. Emm kalau tidak mau yang manis bisa coba yang ini..."
"Kamu bisa diam tidak!" Bentak nya serta menatap tajam kearah istrinya.
Dewi tersentak, sampai menjatuhkan makanan itu berceceran didekat kakinya. Dengan perlahan dia mengambilnya. Menaruhnya kembali pada tempatnya.
Dewi menggeser tubuhnya sampai mepet pada jendela mobil. Menatap jalanan kota itu dengan sendu.
tatapan tajam sang suami sungguh mengerikan. kenapa seperti ini? kenapa harus lagi? gumam nya pelan.
sepanjang perjalanan menuju hotel, sepasang kekasih itu saling diam. pak sur yang mengemudikan mobil hanya berani melirik lewat kaca spion, tidak berani bertanya langsung.
dia menghela nafas pelan melihat suami istri itu duduk berjauhan, pandangan mereka mengarah ke luar jendela masing masing. padahal biasanya mereka berdua selalu tidak ingin berjauhan. ntah kenapa malam ini berbeda.
__ADS_1
sunyi, sepi. biasanya mereka berdua bersendau gurau sekarang malah saling melempar tatapan dingin dan acuh.
bulan madu yang bahagia sesaat menjadi kacau hanya karena masa lalu. hanya karena hati yang belum menyadari arah cinta nya.