Aku Vs Masa Lalu Suamiku

Aku Vs Masa Lalu Suamiku
bab 25


__ADS_3

Saat tengah malam Edgar terbangun dari tidur nya tapi dia merasa aneh, diusapnya kasur disamping nya. Kosong. Dia tersentak lalu duduk, matanya sudah terbuka sempurna. 


"Sayang" tidak ada sahutan. "Dewi kamu di dalam?" Membuka pintu kamar mandi tapi tidak ada orang. 


Edgar panik dan langsung berlari keluar kamar. saat di tangga terakhir terdengar suara dari arah dapur. Dia berjalan kearah suara itu. 


Terlihat Dewi yang sedang duduk menikmati semangkuk mie di depan nya. Edgar tersenyum merasa lega. Pelan pelan ia berjalan menghampiri istrinya. 


"Sayang kamu disini?" Dewi tersentak, dia refleks berdiri menendang kursi kebelakang, sendok dan garpu di tangannya jatuh membentur lantai hingga berbunyi nyaring ditelinga karena saking terkejut nya. 


"Sayang kamu tidak apa-apa? Maaf aku membuat mu kaget ya." Edgar buru buru Menghampiri istrinya, mengambil sendok yang terjatuh tadi. 


"Mas.." lirih Dewi. 


"Ya." 


"Kamu kenapa bangun?." 


"Bagaimana lagi, istri ku meninggalkan ku saat aku tidur. Jadi aku terbangun." Edgar Mendudukan diri dikursi samping istrinya. Menatap semangkuk mie yang menggiurkan, dengan asap yang terlihat masih mengepul dari mie itu. 


"Eh, aku lapar tadi. Jadi aku turun kebawah untuk membuat mie mas." Dewi tersenyum canggung. Dia masih menyesuaikan diri setelah kekagetan nya tadi. 


"Kamu tidak membuatkan nya untuk ku?" Edgar Menunjukan wajah kecewa.


"Mas mau, aku buatkan sebentar ya." 


Edgar menahan tangan Dewi yang hendak berdiri.  


"Ini kan masih banyak, kita bagi berdua saja. Sini aku suapi." Edgar Meraih sendok yang baru diatas meja. 


Edgar mengulurkan sesendok mie ke depan mulut Dewi. Dewi menurut membuka mulut nya. 


Sebenarnya ia merasa canggung saat ini, tadi pagi Edgar bersikap dingin padanya tapi sekarang mulai mesra lagi. Tapi dia tidak peduli. Dia lebih bahagia seperti ini. Bisa bermanja pada suaminya. 

__ADS_1


Pertengkaran dalam satu rumah apalagi satu kamar rasanya tidak akan nyaman.  


*** 


Hari hari berlalu begitu cepat, sudah menginjak tiga Minggu usia pernikahan Dewi dan Edgar.  


Mereka berdua sudah siap dengan dua koper disamping nya. Danu sang sopir memasukan koper kedalam bagasi. Dia bertugas mengantarkan kedua majikan nya ke bandara. 


Edgar dan Dewi sudah berada didalam pesawat. 


Melihat istrinya yang sepertinya merasa takut. Edgar pun memegang erat tangan Dewi, menyandarkan kepalanya di pundaknya. 


"Kamu bisa tidur dulu wi, nanti kalau sampai ku bangunkan." Ucap Edgar lembut. 


Perjalanan berjalan lancar tanpa kendala, hampir satu setengah jam akhirnya pesawat lepas landas di kota yang terkenal dengan nama kota pelajar itu.


Dibandara mereka dijemput oleh pak Suryo. Pak Suryo lah yang akan bertugas mengantarkan mereka kemanapun mereka mau.  


" Selamat pagi saya Suryo biasanya dipanggil pak sur. saya yang nantinya bertugas untuk mengantarkan bapak dan ibu kemanapun. Ini nomer hp saya ya pak Bu." Ucap pak Suryo dengan logat jawanya yang khas, tersenyum ramah memperkenalkan diri pada Edgar dan Dewi. 


melihat itu Pak Suryo tersenyum, lalu mempersilahkan keduanya masuk kedalam mobil. Sekitar 1 jam mobil sudah sampai dipelataran hotel. 


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Edgar setelah sudah berada didalam kamar hotel.  melihat istrinya yang sedari tadi mengernyit seperti menahan rasa sakit.


"Kepala ku pusing mas " Dewi memijat pelipisnya. 


"Istirahatlah, besok kita baru jalan jalan. Kamu terkena jetlag sayang." Mengusap kepala istrinya lembut menyalurkan ketenangan. berharap sentuhan lembut itu bisa menghilangkan pusing yang sedang melanda istri nya.


"Aku pesankan air jahe untuk mu ya."  tawar nya.


"Ya mas."  


Akhirnya dewi hanya tiduran saja, kepala nya sangat pusing, ini pertama kali nya ia naik pesawat terbang.

__ADS_1


Tak lama Edgar sudah membawa air jahe untuknya, yang dibawakan petugas hotel tadi. 


"Diminum dulu sayang"  


"Terimakasih mas" 


"Mas aku mau ke candi besok ya. Terus malam nya mau ke pusat oleh oleh. Terus.."  


"Wah sepertinya kamu sudah menyiapkan rencana dengan matang ya. Lalu kapan kita akan membuat Adek bayi nya kalau kita jalan jalan terus." Edgar Mencubit hidung istrinya dengan gemas. 


Blush.. kedua pipi Dewi merah padam. Tapi dia bahagia suaminya menginginkan anak darinya. 


Refleks Dewi memandang perutnya yang rata.  


"Cepatlah hadir di perut bunda ya sayang"


malam semakin larut, angin malam yang dingin terasa menembus kulit. kedua pasangan suami istri masih betah menonton tv. lampu sudah di matikan, hanya cahaya dari tv yang mereka tonton yang masih menyala.


saat sedang fokus menonton tv, adegan di film itu menunjukan adegan romantis dimana sang laki laki mencium bibir sang perempuan.


Dewi tertegun, ia menoleh ke arah suami nya.


deg ... deg ...


ternyata Edgar juga tengah memandang ke arah Dewi, beberapa detik tatapan mereka terkunci. Edgar mendekatkan diri ke arah istri nya, mencium bibir nya lembut. tangan nya beralih pada belakang tengkuk sang istri, menarik nya. ciuman itu menjadi semakin dalam dan menuntut.


dengan satu gerakan Edgar berhasil menggendong tubuh mungil istri nya, membawanya ke arah tempat tidur tanpa melepas ciuman yang masih bertaut itu.


berada di atas tubuh istri nya, Edgar bisa melihat jelas wajah istri nya. tatapan sayu dari istri nya menambah gairah yang semakin membuncah itu. ia mencium kening istrinya lama, lalu melanjutkan apa yang perlu dilanjutkan. meraih surga dunia yang menjadi hak milik mereka berdua.


aktivitas panas yang mereka lakukan beriringan dengan hawa dingin yang kian mendera. saling berbagi belaian, kehangatan dan usapan lembut. dihiasi cahaya dari tv yang masih menyala.


bukan kah sepantasnya begitu, bulan madu di hiasi dengan kemesraan pada sepasang kekasih yang menjalani nya. berharap sepulang dari sana ada kehidupan baru yang akan semakin menambah kekuatan hubungan itu.

__ADS_1


semoga.


__ADS_2