Aku Vs Masa Lalu Suamiku

Aku Vs Masa Lalu Suamiku
bab 37


__ADS_3

Pak Hardi yang keluar dari ruangan rawat putrinya dikejutkan Dengan sosok wanita muda yang duduk di kursi ruang tunggu. 


Dewi tersenyum menatap pak Hardi dibals senyuman juga oleh nya. 


"Kamu siapa nak?" Tanya pak Hardi pada Dewi saat dia sudah mendudukan dirinya di kursi samping Dewi. 


"Saya Dewi om," jawab Dewi memperkenalkan diri. 


"Teman nya Risa? Tapi om tidak pernah melihat mu. Risa juga tidak pernah mengenalkan teman nya." 


"Saya istri nya mas Edgar Om" sahut Dewi menjawab rasa bingung pak Hardi. 


Degh.. 


"Jadi Edgar sudah mempunyai istri?" Tanya pak Hardi yang terkejut, menatap dengan lekat gadis di depan nya ini. 


"Pernikahan kami sudah jalan beberapa bulan om. Dan acaranya di laksanakan dengan sangat privasi." Tukas Dewi. 


Bukan itu sebenarnya yang membuat pak Hardi heran. Tapi kenapa gadis di depannya ini mengizinkan suami nya bertemu mantan kekasih nya. 


"Lalu kenapa kamu mengizinkan Edgar menemui putri ku? Apa kamu tidak mencintai nya. Atau pernikahan mu dijodohkan oleh Cakra?" Tanya pak Hardi penasaran. 


"Saya sangat mencintai suami saya, dan pernikahan kami tidak dijodohkan. Saya mengizinkan mas Edgar bertemu dengan Risa karena ada sesuatu di masa lalu mereka yang belum selesai. Dan saya meminta nya segera menyelesaikan masa lalu nya. Agar kedepan nya hanya ada saya, mas Edgar, dan anak anak kami saja didalam rumah tangga kami." 


Pak Hardi tersenyum mendengar jawaban Dewi. dia memang sudah tahu dibalik sesuatu itu. 


"Apa kamu tidak khawatir jika Edgar tergoyah hati nya suatu saat?" 


Deg-- 


Pertanyaan laki laki di depan nya ini sukses membuat hati Dewi seperti tertusuk panah, itu juga yang ia khawatirkan sebenarnya. Dia tidak berani berharap lebih takut nantinya kekecewaan yang malah di dapat nya. 


Dewi terdiam, mulut nya seperti terkunci tidak bisa membuka atau mengeluarkan sepatah kata pun. Saat keheningan mulai menerpa ia dikejutkan dengan dering ponsel di hp suami nya. 


Tertulis nama Dava dilayar hp itu. Dengan segera Dewi berdiri dari duduk nya. 

__ADS_1


"Maaf om, saya permisi mengangkat telfon sebentar." Ucap nya sopan dan diangguki oleh pak Hardi. 


"Ya dav, bagaimana?" 


"Nona, dimana tuan Edgar? Apa saya bisa berbicara dengan beliau. Ada hal yang sangat penting yang mau saya sampaikan." Jelas Dava diseberang telfon. 


"Mas Edgar masih di dalam ruangan, aku akan memberikan pada nya. Sebentar ya jangan dimatikan" 


"Baik nona." 


Dewi membuka pintu ruangan itu perlahan agar tidak mengejutkan yang di dalam. Saat hendak mendekat, Dewi seketika menghentikan langkahnya kala mendengar ucapan Risa. 


" "Apa sekarang aku boleh egois?" Tanya Risa menatap lekat pada Edgar. " Apa aku sekarang bisa memintamu untuk terus berada disisi ku? Aku tahu kamu selama ini masih mencintai ku dan tidak mencintai istri mu kan?"   


"Apa maksud mu sa?"  


"Lihat lah, baju yang dipakai Dewi itu baju kesukaan ku. Tas dan sepatu yang dipakainya itu juga termasuk. Kamu hanya menganggap Dewi sebagai pengganti ku karena dia mempunyai kesamaan dengan ku kan gar?"  


Dewi menutup mulut nya tidak percaya. Lalu memandang baju yang sedang melekat ditubuh nya sekarang. Embun bening yang berada disudut matanya menetes membasahi baju nya. Ia meremas pakaian nya sendiri. Menatapnya dengan tatapan nanar. 


Dewi keluar dari ruangan itu, menatap pada pak Hardi yang kini juga menatap nya.  


"Om saya ada keperluan mendadak, bisa minta tolong berikan ini pada mas Edgar?"  


Tanya nya. 


Pak Hardi meraih hp itu " baiklah," laki laki tua itu tidak mau bertanya lebih. Melihat raut wajah sedih gadis dihadapannya saja ia sudah bisa menebak apa yang terjadi. 


"Terimakasih om, saya permisi dulu." Pamit Dewi yang langsung berlari menjauh dari ruangan itu. Air matanya terus mengalir seiring dengan langkah kaki nya. 


Pak Hardi yang melihat itu pun mengehela nafas dengan berat. 


"Maafkan putri ku. Aku tidak akan membiarkan kamu kehilangan suami mu. Kamu sangat pantas mendapatkan hak bahagia mu." Lirih pak Hardi menatap punggung Dewi yang kian menjauh. 


Setelah memastikan Risa tertidur, Edgar baru bisa meninggalkan nya. Keluar dari ruangan Risa. 

__ADS_1


Deg.. 


"Dewi .." lirih nya. 


Istrinya tidak ada dikursi ruang tunggu. Buru buru Mengecek pergelangan tangan. 


"Sudah hampir tiga jam" batin nya 


 "Om Dewi kemana?" Tanya Edgar khawatir. 


"Dewi sudah pamit lebih dulu tadi. Ada keperluan mendadak katanya." Jawab pak Hardi seraya menyerahkan hp kepada Edgar. 


"Saya permisi pulang om," pamit Edgar setelah menerima hp dari tangan pak Hardi. 


"Gar," panggil pak Hardi saat Edgar sudah beberapa langkah menjauh darinya. 


Edgar berhenti dan menoleh kebelakang "Apa kamu mencintai istri mu?" 


Edgar mengangguk dan langsung berlari ke arah lift. 


Edgar terus mengirim pesan dan menelfon Dewi saat sudah di mobil, tapi tidak ada satupun pesan atau panggilan yang dijawab. 


"Kamu kemana wi?" Gumam nya, cemas. 


Saat tengah dilanda kepanikan terdengar dering ponsel dengan segera Edgar mengangkat nya. 


"Halo sayang kamu dimana?"  


"Aku bukan sayang, aku Dava!. Ke kantor sekarang! Klien sudah menunggu dari tadi gar!"  


"Tidak! Aku mau pulang mencari istri ku. Kamu urus saja dulu semua pekerjaan ku." Titah Edgar yang kesal. 


"Kesini sekarang sialan! Ini tidak bisa diwakilkan sama sekali! Bukanya kamu sudah tahu!" Teriak yang berada di seberang sana. 


"Argh.." Edgar mengeram kesal. Ia dengan terpaksa melajukan mobil nya ke kantor nya. 

__ADS_1




__ADS_2