
Menghabiskan 3 hari dirumah sakit Dewi bisa bernafas lega saat sudah diperbolehkan pulang. Tidak ditemukan lagi flek yang membuat nya panik dan khawatir, Edgar dan Dewi sudah bisa sedikit tenang.
"Mas pakaian d*alam ku ada di dalam laci."
"Ya sebentar sayang" Edgar sedang sibuk memasukan pakaian Dewi kedalam tas. Tidak ada siapa siapa di ruangan ini. Edgar melakukan semua nya sendiri, sempat Dewi menawarkan agar Kinan ikut membantu tapi ditolak mentah mentah oleh calon ayah itu. Dia merasa sudah melewatkan banyak waktu di masa kehamilan istri nya, dan sekarang ia tidak mau ada sedikit pun momen yang dilewatkan nya. Ia mau mengurus istri dan anak nya sendiri tanpa bantuan orang lain.
Dewi tersenyum, menikmati semua pergerakan suami nya yang tengah menata pakaian nya. Merasa dipedulikan dan di perhatikan membuat mood ibu hamil itu semakin baik. Ya selama beberapa bulan ini dia sendirian melewati masa kehamilan nya. Dari mual muntah sampai tubuh lemas kehabisan tenaga dia berjuang sendiri.
Tapi ada hikmah dari kejadian ini, seperti pertanda jika bayi di dalam kandungan ibu hamil itu ingin menyatukan kedua orang tua nya. Terbukti selama dirumah sakit hubungan keduanya semakin membaik, rasa canggung juga sudah mulai menghilang. Jika orang lain melihat mereka mungkin saja berfikir kedua orang itu pasangan suami istri yang sempurna.
"Aku membawa Bu asih untuk bekerja dirumah mu. Jadi kamu tidak perlu mengerjakan pekerjaan rumah apapun. Cukup istirahat dan fokus pada dirimu dan anak kita." Edgar menjelaskan sembari memasukan pakaian d*alam istrinya ke dalam tas.
"Tapi di rumah hanya ada dua kamar mas, kamar satunya ditempati Kinan. Bu asih mau tidur di mana?" Tanya Dewi bingung ia tidak tega jika harus membiarkan Bu asih tidur di sofa atau berbagi kamar dengan Kinan.
"Aku sudah menyewa rumah di samping rumah mu sampai kamu melahirkan. Bu asih bisa tidur disana. Jangan khawatirkan apapun. Aku akan mengurus semuanya untuk mu" Edgar tersenyum menatap istri nya yang masih duduk di atas ranjang.
Dewi mengangguk, selama dirumah sakit suaminya itu merawatnya dengan telaten. bahkan Edgar meninggalkan pekerjaan dan tidak pergi ke kantor sama sekali.
"Sudah siap semuanya sayang" Edgar tersenyum puas saat ia berhasil melakukan semua tugas nya.
Edgar berjalan menghampiri Dewi yang sudah memakai gaun hamil berwarna coklat susu itu. Ibu hamil itu terlihat jauh lebih segar dengan polesan tipis lipstik menyembunyikan bibir pucat nya.
"Sudah mas."
Cup, di saat istri nya lengah Edgar mencuri kesempatan mencium bibir istri nya. Dewi yang terkejut sekaligus malu mendapati ciuman tiba tiba suaminya hanya bisa tersenyum canggung, pipi nya merona merah.
Sejak kesepakan bersama, suami istri itu sudah tidak malu malu lagi memperlihatkan kemesraan. Mereka berdua berjalan bergandengan menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumah sakit.
Danu berdiri di samping mobil tersenyum melihat kemesraan kedua majikan nya. Suami istri yang sebelum nya terpisah itu tampak bahagia berjalan menghampiri nya. dengan sigap Danu membuka pintu mobil untuk kedua majikan nya.
__ADS_1
"Silahkan tuan, non." Ucap nya ramah.
Mobil yang dikendarai Danu melesat, memecah keramaian kota kembang. Matahari sudah menampakan sinar temaran nya, hari sudah sore. Menambah kehangatan sepasang manusia yang masih saling terdiam di dalam mobil.
Edgar yang tampak kelelahan memilih untuk bersandar pada kursi mobil dan memejamkan matanya. Dewi di sebelah kirinya tersenyum menatap wajah sang suami.
"Ehemm..." Edgar berdehem mengejutkan Dewi di samping nya. Senyum laki laki itu merekah mendapati istrinya dari tadi tengah memandang nya.
"Apa kamu sedang mengagumi suami mu wi," Edgar membuka mata sambil tergelak.
"Tidak mas," buru buru Dewi menyembunyikan rona malu di wajah nya.
"Kalau iya pun tidak masalah, kamu ini istri ku bukankah sepatut nya kamu berhak memandangi ku." Edgar tergelak lagi melihat ekspresi istri nya yang menahan malu.
"Ini memalukan mas"
"Tidak perlu malu sayang, jangankan memandang, kamu bahkan berhak melakukan lebih dari ini." Edgar tersenyum jari telunjuk nya menepuk bibir nya.
"Jangan pedulikan siapapun sayang, anggap dunia ini milik kita berdua." Edgar tergelak kembali dengan ucapan nya.
Jari nya menepuk lagi bibir nya, sudah tidak sabar menunggu ciuman dari istri nya.
Dengan tidak tahu malu Dewi memajukan kepalanya lalu mencium bibir Edgar dan buru buru memundurkan wajah nya.
Terlambat. Sebelum wanita itu memundurkan wajah nya tangan Edgar sudah menahan tengkuk nya.
"Cium dengan benar sayang" kata Edgar sebelum menekan kepala istri nya Melu*mat bibir merah muda itu dengan dalam dan lama.
Danu yang berada di depan hanya bisa menghela nafas berat. Merasa tidak di anggap keberadaan nya. Kata kata Edgar benar dibuktikan nya. Suami istri itu tetap berciuman tanpa peduli ada seorang jomblo yang baper di depan.
__ADS_1
"Nasib jomblo lihat suami istri bermesraan, malang nya hidup mu Danu, ditolak pujaan hatimu dan dipindah tugaskan mengawal sepasang suami istri yang mulai di mabuk cinta lagi."
Begitulah Danu mengasihi diri nya sendiri, jomblo harap bersabar haha.
EDGAR PERMANA PUTRA
DIANDRA DEWI
ERIK GUNAWAN
RISA PERMADANA
hari ini aku up hanya sedikit, karena badan lemes akibat mual muntah di masa kehamilan ku ini. sebagai gantinya aku kasih bonus visual Edgar dan Dewi ya ..
semoga kalian semua selalu di Liputi kebahagiaan dari segala penjuru .
__ADS_1