
Lagi lagi pak sur yang berada dibelakang kemudi hanya menghela nafas pelan. Melirik sekilas pada kaca mobil Dia kasihan pada Dewi , tapi tidak berani ikut campur.
Dia tidak tahu masalah apa yang menimpa keduanya, karena yang dia lihat selama beberapa hari ini mereka terlihat bahagia dan mesra seperti pengantin baru pada umum nya.
orang yang selama tiga hari ini ia temani berkeliling kota ini untuk bulan madu adalah orang baik. Setiap mengantarnya dia selalu di traktir makanan. Di ajak mengobrol. Di anggap seperti saudara sendiri. Mendapat pelanggan seperti itu tentu saja membuatnya senang.
Mobil melaju dengan cepat kearah hotel.
Dewi terbangun saat sesorang menepuk pundak nya pelan.
Mengerjapkan mata perlahan dia bisa melihat pak sur yang sudah berdiri diluar didekat nya dengan pintu mobil yang sudah terbuka.
"Sudah sampai ya pak?" Tanya Dewi dia menoleh kesamping tapi suaminya sudah tidak ada.
"Iya Bu, pak Edgar menyuruh saya membangunkan ibu." Ucapnya sopan.
"Suamiku kemana pak?"
"Pak Edgar sudah masuk terlebih dahulu tadi."
Deg..
Dewi refleks memegang dadanya. Rasa sesak menjalar memenuhi hatinya. Menerima kenyataan sang suami meninggalkan nya dimobil dan malah menyuruh orang lain untuk membangunkannya.
Dewi turun dari mobil berjalan masuk ke dalam hotel, pak sur mengikutinya dari belakang dengan menenteng beberapa tas oleh oleh di tangan kiri dan kanannya.
"Sampai sini saja pak, ini untuk bapak." Ucap Dewi sambil memberi amplop dan 1 tas oleh oleh.
"Tapi pembayaran sudah diselesaikan di awal Bu." Bingung.
"Itu untuk bapak, dari saya. Terimakasih sudah menemani kami selama tiga hari ini ya pak." Ucap Dewi tersenyum. Karena bulan madu hanya terjadwal tiga hari saja, besok mereka sudah harus pulang karena pekerjaan Edgar yang tidak bisa ditinggal terlalu lama.
"Terimakasih banyak Bu. Saya juga senang bisa melayani ibu dan bapak selama disini." Raut wajah bahagia terlihat jelas di wajah laki laki tua itu.
__ADS_1
"Kalau suatu saat datang kesini lagi, jangan sungkan menghubungi saya Bu. Saya akan membawa ibu bertemu dengan istri saya. Didesa saya sangat asri sekali Bu."
Imbuhnya.
Dewi hanya tersenyum.
"Aku tidak tahu masih bisa kesini lagi bersama mas Edgar atau tidak. Tapi aku janji aku akan kesini lagi dengan atau tanpa mas Edgar."
"Kalau begitu saya permisi Bu, sampai ketemu besok." Pamitnya berlalu pergi.
***
Dewi menatap pintu kamar nya, membuka pelan. Menaruh semua oleh oleh di sofa ikut menghempaskan badan di samping nya.
Suara gemericik air terdengar dari dalam kamar mandi. Dan setelah beberapa menit pintu terbuka perlahan. Nampak Edgar yang keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah tapi sudah menggunakan pakaian lengkap.
Dia menoleh sekilas pada Dewi yang duduk di sofa, mengacuhkan nya lalu berjalan menuju tempat tidur.
Dewi hanya bisa menghela nafas berat saat Edgar tidak mempedulikannya, lalu ia bergegas berjalan masuk kedalam kamar mandi. Menyalakan shower duduk bersimpuh di bawahnya membiarkan air mengalir membasahi seluruh tubuhnya. Dia menangis , menumpahkan rasa sesak yang mengganjal sejak tadi. Berharap kesedihan nya ikut mengalir dengan air yang sedang mengguyurnya sekarang.
Tak terasa air mata kembali membanjiri pipinya, dia menggigit bibir agar tangisnya tidak mengeluarkan suara.
Dia bukan aktor yang pintar berakting. Bisa bersikap kuat dibalik senyumnya. Dan seketika bisa menangis jika sang sutradara menyuruhnya menangis.
Tapi kali ini sikap suaminya benar benar membuat nya terluka.
Dewi mengusap air mata nya. Lalu menatap sang suami. Menyentuh lengan nya pelan.
"Mas apa kamu sudah tidur?" Tanya Dewi dia harap harap cemas.
Tidak ada jawaban dari Edgar, suami nya itu masih betah diam.
"Mas apa kita perlu bicara? Mas bisa mengatakan dan bercerita padaku. Tentang apapun itu. Aku akan mendengarkan semua yang sedang dirasakan mas Edgar. Termasuk tentang Risa." Tawar Dewi, ia berharap dengan begini Edgar mau bicara padanya. Kenapa dia bersikap seperti tadi di mobil.
__ADS_1
"Tidak perlu!" Jawab sang suami dengan acuh.
"Aku tidak suka dengan sikap mas Edgar seperti tadi, mas boleh marah padaku, boleh membentak ku tapi jangan di depan orang lain seperti tadi." Dewi berbicara dengan suara yang mulai bergetar.
"Aku tidak mau orang lain menilai buruk terhadap mu mas. Bukan kah Masalah rumah tangga itu hanya kita berdua yang boleh tahu. Aku hanya menjaga nama baik mu mas, maka dari itu jangan merusak nama baik mu sendiri. Sama saja dengan seperti itu kamu merusak semua usaha ku." Dewi menggigit bibir, menahan Isak nya yang mulai tidak bisa ia tahan.
Degh ...
Edgar tertegun mendengar semua ucapan istri nya. Bagaimana bisa ia mendapat seorang istri yang sangat baik seperti ini. Tapi ke egoisan mengalahkan rasa bersalah nya.
Suasana menjadi hening kembali. Keduanya sudah terlelap dalam mimpi masing masing.
Saat tengah malam, Edgar terbangun ia memiringkan tubuhnya menatap snag istri. Di usap nya lembut pipi istrinya.
"Maafkan aku, kamu tidak salah sama sekali. Aku yang bodoh. Kenapa aku tidak bisa mengontrol diriku." Gumam nya pelan.
Edgar mencium lama kening istri nya. Istrinya sudah terlelap dengan nyenyak nya.
***
Sepanjang perjalanan dari Hotel ke bandara mereka saling terdiam tidak ada yang bersuara sama sekali.
"Selamat jalan pak Bu, ini tugas terakhir saya mengantar bapak dan ibu. Terimakasih atas kebaikannya selama berada disini." Ucap pak sur pada Edgar dan Dewi, menyerahkan dua koper besar pada sepasang suami istri di depannya.
"Sama sama pak, terimakasih juga selama kami disini bapak melayani kami dengan baik." Ucap Dewi membalas rasa terimakasih pak sur. Sedangkan Edgar hanya mengangguk.
"Kami pergi dulu pak." Ucap Edgar dingin. Dia berjalan masuk ke bandara meninggalkan Dewi dibelakang nya yang kesusahan menyeret koper besar. Karena Edgar hanya menyeret koper nya sendiri.
Tapi sesaat Edgar menghentikan langkahnya. Berbalik menatap sang istri dibelakang nya. Lalu meraih koper yang dipegang Dewi.
Dewi tersenyum menatap suami nya, dia merasa suaminya masih peduli dengan nya.
Pak sur yang melihat itu hanya bisa menghela nafas.
__ADS_1
"Semoga Tuhan selalu melindungi rumah tangga kalian," gumam nya pelan memandang punggung mereka yang sudah tidak terlihat lagi.