Aku Vs Masa Lalu Suamiku

Aku Vs Masa Lalu Suamiku
bab 50


__ADS_3

Hampir dua puluh menit melewati jalanan kota Bandung, akhirnya Edgar sampai di gudang milik nya.  


Disana ia sudah di sambut Galuh dan beberapa anak buah nya.  


Di tengah-tengah ruangan tampak laki laki yang di ikat dikursi dan di jaga ketat di samping kiri dan kanan nya.  


Edgar mengepalkan tangan hendak memukul Malik tapi ia urungkan.  


"Kalau saja saat ini istri ku tidak sedang hamil, habis kau!" Ujar Edgar dingin menatap tajam pada Malik.  


"Maaf ... Maaf kan aku gar, aku terpaksa melakukan ini." Ujar Malik.  


"Terpaksa? Terpaksa untuk apa? Untuk selingkuhan mu? Kalau untuk istri dan anak mu aku masih bisa memaklumi. Tapi ini? Tega-teganya kamu selingkuh saat istri mu dengan setia nya selalu menunggu mu dirumah, merawat anak anak mu hah!" Teriak Edgar .  


Malik terkejut, bagaimana Edgar tahu semua nya.  


"Galuh! Serahkan dia ke polisi! Aku tidak mau mengotori tangan ku untuk teman yang sudah berani mengkhianati ku!"  


Di dalam kamar terlihat Dewi gusar, bergerak miring kekiri kanan mencari posisi tidur yang nyaman untuk nya. Perut buncit nya menjadi alasan nya. 


Dewi menatap jam yang terpasang di dinding, jam sudah menunjukan tengah malam tapi dia masih kepikiran omongan Edgar tadi yang akan merebut anak nya. 


"Bagaimana ini? Bagaimana kalau papa mu merebut mu dari mama nak.. mama tidak mau kehilangan kamu." Gumam nya lirih. 


Sedangkan Edgar di dalam kamar nya pun sedang merenung, memikirkan bagaimana cara membujuk Dewi agar mau kembali padanya. 


Saat masih melamun Edgar di kejutkan dengan dering ponsel nya. Ia meraih hp itu dengan malas. Di baca nya pesan itu yang ternyata dari Risa. 


"Gar, aku sudah berada di Indonesia. Apa kita bisa bertemu besok?" _risa 


"Aku sedang di Bandung, ada masalah di swalayan. Maaf aku tidak bisa bertemu dengan mu." _edgar 


Bukan tidak bisa menemui Risa. Tapi Edgar memutuskan untuk menjaga jarak karena ia merasa sudah menebus rasa bersalah nya selama ini. Menemani Risa melawan penyakit nya sampai sembuh sampai dia lupa memprioritaskan istri nya sendiri. Ia mau menebus semua kesalahannya. 

__ADS_1


Edgar juga tidak mau nantinya membuat Dewi semakin sakit hati dan berimbas pada penolakan Dewi untuk kembali padanya. 


*** 


Bangun dari tidur kepala Dewi terasa sakit, itu mungkin efek dirinya yang tidak bisa tidur semalaman. Menjelang pagi ia baru bisa terlelap. 


Omongan Edgar terus terngiang ngiang di pikiran nya. Dengan memegangi kepala nya menahan sakit kepala yang menyerang Dewi tertatih berjalan ke arah kamar mandi. Kehamilan nya yang mulai membesar membuat nya sering ingin buang air kecil. 


Deg ... 


Dewi tersentak saat melihat bercak darah di ****** ***** nya. Bukan nya ia tidak tahu, saat awal kehamilan nya ia pernah mengalami nya. Walau begitu ia tetap merasa takut dan khawatir. Dengan tangan gemetar Dewi mengganti ****** ***** nya. Lalu keluar kamar memanggil Kinan. 


"Kinan ..." 


"Kinan ..." 


Terlihat gadis muda dengan wajah bantal nya membuka pintu, ini adalah hari libur nya jadi dia biasa bangun agak siang dan Dewi tidak mempermasalahkan itu. 


"Ya mba ada apa. Mba Dewi mau keluar?" Tanya Kinan tangan nya beberapa kali menutup mulut nya yang menguap. Tapi ia masih bisa melihat Dewi yang sudah berpakaian rapi. 


Mata Kinan melotot kesadaran nya kembali penuh seketika. Dengan cepat Kinan masuk kedalam kamar menyambar jaket dan tas nya.  


Dirumah sakit Kinan terus memenangkan Dewi yang terlihat khawatir. Bukan sekali ini ia menemani Dewi, bahkan gadis itu yang setiap saat menemani Dewi periksa kehamilan nya. 


"Bayi nya baik baik saja, tapi ibu disarankan untuk bedrest beberapa hari agar memastikan semua nya baik baik saja. Ini demi ibu dan bayi nya." 


Terang dokter yang menangani Dewi. 


"Apa bisa dirumah saja dok?" Tanya Dewi,.  


"Saya sarankan lebih baik menginap saja agar kami bisa selalu memantau perkembangan nya Bu."  


Akhir nya Dewi memutuskan untuk menginap, ia tidak mau terjadi apa apa pada bayi nya. Dewi meminta ditempatkan di ruangan ekonomi, bukan karena ia tidak bisa membayar ruangan yang lebih bagus. Tapi ia hanya berjaga-jaga kalau ada yang ia perlukan atau terjadi sesuatu padanya bisa langsung meminta tolong pada keluarga pasien lain. Dewi tidak bisa terus-terusan meminta Kinan menemani nya karena cafe tidak ada yang mengurus. 

__ADS_1


"Pulang lah Kinan, pasti anak anak di cafe memerlukan bantuan mu. Aku tidak apa apa disini. Ada banyak orang, aku bisa meminta pertolongan mereka jika terjadi sesuatu." Terang Dewi. 


Dengan berat hati Kinan pun menurut dan pulang, ingin sekali ia memberitahu Bu Rumi tapi Dewi melarang nya. Ia tidak mau membuat Bu Rumi tambah khawatir karena Bu Rumi juga sedang merawat suaminya yang sakit. 


*** 


Setelah dari pengadilan mengurus masalah yang sedang dihadapi nya. Edgar memutuskan untuk kerumah Dewi. 


Entah kenapa perasaan nya tidak enak memikirkan istri dan calon anak nya. Dengan buru buru dia melakukan mobil nya memecah keramaian jalanan kota Bandung itu. 


Mobil Edgar berhenti tepat di depan rumah Dewi saat hari sudah mulai gelap. 


Kinan yang baru saja pulang baru mau membuka handle pintu berhenti ketika sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah. Dia diam menunggu sampai sang pemilik mobil yang sudah di kenal nya keluar.  


"Kinan, ya nama mu Kinan kan?" Tanya Edgar saat sudah berada di hadapan gadis itu. 


"Benar, ada apa ya mas ..." Kinan menggantung bicaranya saat ia tidak tahu harus memanggil siapa orang di depan nya ini. 


"Edgar, panggil aku mas Edgar saja. Aku tahu kamu lebih muda jauh dariku " 


"Iya." 


"Dewi ada dirumah kan? Aku mau bertemu dengan nya." Tanya Edgar. 


"Emm ... Mba Dewi sedang di rumah sakit. Tadi pagi mba keluar flek. Dan disuruh menginap di rumah sakit." Akhirnya Kinan memberitahu Edgar, karena dia berfikir suami nya Dewi berhak mengetahui keadaan nya. 


Deg... 


"Apa!" Tanpa bertanya pada Kinan lagi Edgar bergegas masuk mobil nya menuju rumah sakit. Ia hanya bermodal alamat rumah sakit yang disebutkan Kinan. 


Edgar melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota kembang itu yang masih ramai lalu lalang kendaraan. Edgar hampir kehilangan akal kala memikirkan kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi pada Dewi dan bayi nya. Sudah enam bulan dia melewatkan masa kehamilan istri nya, mengabaikan bayi nya. Dan sekarang saat ia sedang mau menebus semua dosa nya ia tidak mau kehilangan bayi nya. 


Setelah hampir setengah jam menghabiskan waktu dijalanan Edgar bisa bernafas lega saat mobil nya sudah memasuki parkiran rumah sakit. Dengan berlari dia memasuki area lobi dan menanyakan ruangan istri nya dirawat pada bagian informasi. 

__ADS_1


"Ibu Diandra Dewi di ruangan anggrek no 2 di lantai 3 pak. Dari lift ke kiri kamarnya berada di deretan sana." Wanita dengan seragam nya itu menjelaskan pada Edgar. 


"Terimakasih." Edgar bergegas memasuki lift. 


__ADS_2