
Terbangun lagi di antara sepi hanya pikiran yang ramai berlarian memenuhi kepala. Sudah seminggu waktu berlalu dari kepergian istri nya. Setiap bangun tidur selalu di sambut keheningan kamar yang hanya terdengar ketukan jam dinding berulang menjadi pertanda waktu yang terus berjalan. Sampai sesak di dada tak mampu di utarakan lewat kata.
Semua tampak tak hidup, sepi menyusup relung jiwa, kecewa merobek harapan kala mendapati informasi kegagalan anak buah nya mencari keberadaan sang istri.
Mengorbankan segala waktu nya untuk mencari dan terus mencari tapi tak ada setitik cahaya harapan pun yang terlihat.
Seminggu sebelum nya, ia mendapat kekecewaan pertama nya saat sang sopir taxi yang di tumpangi istri nya ternyata hanya mengantar sampai di minimarket. Tak ada informasi apapun setelah nya, semua seperti tertutupi awan hitam yang menutupi titik terang. Dan Kekecewaan itu berlanjut sampai sekarang.
Setiap saat mengecek ponsel nya, berharap ada pesan balasan dari Dewi. Walaupun ia tahu tidak akan ada balasan apapun dari istri nya, ia melakukan itu agar semata-mata untuk menyemangati diri dan terus berusaha.
Matahari sudah menampakan semburat cahaya kehidupan, tapi Edgar seperti tak kebagian mendapat semburat kehidupan itu. Bagi nya semua terasa abu abu tanpa kehadiran sang istri. Menatap langit-langit kamar nya Edgar berulang kali menghembuskan nafas berat nya sambil menutup mata.
Menyemangati diri nya sendiri, Edgar berharap pertemuan nya dengan Erik hari ini bisa menjadi jalan untuk nya menemukan Dewi.
***
Erik, pria tampan dan tinggi itu mengerutkan kening menatap Edgar dengan tampilan tak biasanya. Gelar pengusaha yang namanya cukup di perhitungkan di ibukota seperti tidak ada yang melekat dalam dirinya. Tampilan yang berantakan, hanya mengenakan kaos panjang dan celana panjang. Wajah yang nampak lelah dan putus asa menyempurnakan kalau saat ini pria itu sedang tidak baik-baik saja.
"Kopi gar" Erik meletakan secangkir kopi di depan Edgar.
"Terimakasih" menyeruput sedikit kopi hitam buatan sang tuan rumah. Edgar menatap keluar jendela kaca yang langsung menampilkan penampakan danau di depan nya.
"Rumah mu bagus." Ucap Edgar memuji.
Erik menyunggingkan senyuman tipis "terimakasih"
Hampir lima menit tidak ada pembicaraan, Erik masih menunggu Edgar mengutarakan kedatangan nya.
"Pasti kamu tahu kalau istri ku pergi dari rumah dan meninggalkan ku" Edgar memulai pembicaraan.
Erik mengangguk.
__ADS_1
"ini kali kedua Dewi pergi meninggalkan ku." Edgar membuang pandangan ke arah luar. Matanya memanas setiap kali mengingat kepergian istrinya.
"Sebelum dewi pergi, dia meninggalkan hasil tes DNA untuk ku. Dan sepucuk surat yang menjelaskan bahwa kalian tidak ada hubungan apapun. aku percaya itu. Sejak kepergian nya, satu cara pun yang aku lakukan tidak membuahkan hasil sama sekali. Seperti ada yang sengaja menutup jalan ku untuk menemukan keberadaan Dewi." Edgar memberi jeda sebentar.
Erik tersenyum tipis "kau menduga aku yang membantu semua rencana kabur istri mu. Benar kan?"
Edgar menatap lekat pria di depan nya.
Erik menggeleng "sayang nya, aku tidak terlibat apapun dengan hal itu. Aku menghargai keputusan Dewi, tapi aku tidak bisa ikut campur jika Dewi tidak meminta tolong padaku." Jawab Erik dengan santai "berbeda saat kabur nya yang pertama dulu, aku mengakui jika aku terlibat dalam kejadian itu karena Dewi sendiri yang meminta tolong padaku. Tapi Tuhan ternyata baik padamu, berbagai cara aku menyembunyikan Dewi agar jauh dari jangkauan mu, nyatanya tanpa sengaja kamu malah bertemu dengan nya. Aku memutuskan untuk menyerah dan membiarkan mu berusaha menebus kesalahan mu. Tapi lagi-lagi kau bertindak bodoh, dengan mempercayai video yang sengaja dipotong untuk membuatmu salah paham."
Edgar lagi-lagi merasa tertampar, tidak bisa di pungkiri kalau semua ini akibat kesalahan nya sendiri.
"Tapi sebelum Dewi pergi, dia datang padaku."
Edgar tersentak ia menatap tajam Erik, tapi yang di tatap hanya tersenyum tipis dan bersikap tenang.
"Dia mengembalikan sertifikat rumah yang aku belikan di Bandung. Ya, rumah yang di tempati Dewi itu aku yang membelikan nya. Dan kalimat yang terakhir dia bilang akan meninggalkan ibu kota dan mencari ketenangan nya sendiri. Itu saja, dia tidak bilang kemana dia akan pergi. Hanya berkata jika tempat yang menjadi tujuan nya adalah tempat yang terbaik dari segala pilihan."
Edgar mengangguk, tidak ada kebohongan dalam mata Erik. Pria itu serius dengan ucapan nya.
Edgar tersenyum getir "Dewi meninggalkan ponsel nya di dalam laci kamar. Dia hanya membawa memori card nya saja."
***
Sudah seminggu Dewi menghirup udara di salah satu sudut kota Yogya. Setiap hari memupuk rasa yakin bisa melupakan semua nya tapi hati tak dapat di bohongi. Hati nya berhianat dari nya dan memilih untuk tetap setia mencintai suaminya.
Menatap satu keluarga yang saling bergotong royong memanen padi. Dewi bersyukur bertemu dengan orang-orang seperti mereka. Hari-hari nya setidak nya terlewati dengan rasa bahagia berada di tengah-tengah keluarga sederhana ini.
Ingin sekali membantu, tapi kondisi nya kini tak memungkinkan untuk nya ikut merasakan memanen padi.
Ia hanya duduk dan menonton saja. Tersenyum saat anak laki-laki pak Suryo menatap padanya.
Ia merasa seperti punya teman, Danan yang selama ini menjadi pendengar yang baik sedikit mengobati rasa mengganjal di hati. Ajeng yang ceria dan blak-blakan menjadi pelengkap keramaian yang membuat suasana hati menjadi bahagia.
__ADS_1
Danan dan Ajeng memutuskan untuk berteduh di gubuk saat pak Suryo dan Bu Sri mengurus hasil panen yang akan di angkut oleh pembeli. Tampak beberapa laki-laki mengangkat hasil panen dan memasukan nya ke dalam truk pengangkut yang terparkir di pinggir jalan.
"Mas Danan, panas-panas gini enak nih minum kelapa muda. Ambilin dong mas." Pinta Ajeng kepada sang kakak. Kepala nya mendongak ke atas menatap penuh damba pada buah kelapa muda yang bergelantungan di atas sana.
"Nggak mau ah, cape' aku itu pohon nya sudah tinggi banget." Tolak Danan, yang seketika membuat adiknya mengerucutkan bibir.
"Ayolah mas, nanti malam Ajeng pijitin deh." Masih mencoba merayu sang kakak.
"Nggak mau, pasti nanti minta imbalan juga kalau habis mijit."
"Ajeng janji kali ini nggak minta upah."
"Nggak mau"
Danan menoleh pada Dewi, seketika hatinya tersentuh saat ibu hamil itu tengah menatap kelapa muda dengan penuh damba.
"Kamu mau Dew?" Tanya Danan, panggilan mba sekarang sudah tidak ia pakai lagi saat mengetahui ternyata Dewi lebih muda 3 tahun dari nya.
"Mau mas, tapi kalau mas Danan cape' kita beli saja gimana?" Dewi menatap Ajeng meminta persetujuan.
"Kan kita punya pohon nya sendiri mba Dew, kenapa beli. Suruh saja mas Danan manjat. Ayo dong mas laki-laki itu harus rajin!" Ajeng menggoyangkan lengan kakak nya.
Sekali lagi Danan menatap Dewi, dengan semangat 45 ia berdiri dan memandnag kelapa muda di atas sana.
"Oke tak ambilin, mau berapa Dew?"
"Giliran mba Dew yang minta langsung semangat. Dasar mas Danan tak cubit ginjal mu baru tahu rasa" batin Ajeng, bibir nya mencebik menatap kakak nya yang sudah mulai memanjat.
"Ayo terus mas," ucap Dewi menyangati, dan Ajeng terus saja bersorak ikut menyemangati yang di atas sana sedang berjuang demi mendapatkan kelapa muda penggoda di saat dahaga.
-
-
__ADS_1
minta like dan semangat nya ya. Komentar dan mau tanya" sama author juga boleh loh. Terimakasih semua❤️