
Setelah pertengkaran seminggu yang lalu, hubungan Edgar dan Dewi semakin membaik. Tidak ada perdebatan atau pertengkaran lain nya.
Seperti sekarang, keduanya menghabiskan weekend dengan berkebun di belakang rumah. Terlihat Edgar sedang mengisi pot bunga dengan tanah yang sudah dibeli nya kemarin. Ia mengisi pot itu dengan tanah dan menanam bunga mawar kesukaan istrinya didalam nya.
Sedangkan Dewi terlihat sedang memotong daun bunga yang tidak bagus.. ia menata beberapa kuntum bunga itu dalam vas bunga. Bunga yang ia panen sendiri dari hasil berkebun nya.
"Sudah selesai sayang?" Tanya Edgar, ia melepas sarung tangan yang melekat di tangan nya. Lalu mencuci tangan nya di keran.
"Sudah mas, cantik tidak?" Tanya Dewi menunjukan vas bunga itu.
"Cantik tapi lebih cantik istri ku" Edgar mencubit hidung Dewi dengan gemas.
"Bisa aja kamu mas."
Edgar duduk di depan Dewi menikmati secangkir teh dihadapan nya.
Saat baru menaruh gelas itu pada meja, terdengar dering telfon dari saku nya.
Dilihat nya layar depan hp nya, muncul nama Tante sari. Edgar segera menjauh dari istri nya. Dewi hanya menatap suaminya dengan tatapan penuh tanya.
Setelah beberapa saat Edgar dengan tergesa gesa menghampiri istrinya. Dewi berdiri dari duduknya. Melihat suaminya seperti Tenga khawatir ia merasa ikut khawatir juga.
"Sayang ada masalah mendadak di kantor. Aku harus pergi sekarang." Ucap nya pada sang istri dengan panik Edgar langsung berlari kedalam rumah.
Dewi pun mengikuti suami nya dengan membawa vas bunga ditangan nya.
Sesampai nya diruang tamu ia melihat Edgar yang turun dari atas tangga dengan terburu-buru sambil memakai jaket nya.
"Mas, ada masalah apa?" Tanya Dewi berjalan cepat menghampiri suaminya.
"Nanti setelah urusan selesai aku ceritakan ya. Aku harus pergi sekarang sayang." Pamit Edgar kaki nya melangkah cepat ke arah pintu.
__ADS_1
Merasa tidak puas dengan jawaban dari suaminya, Dewi berlari mengejar suami nya, tanpa sengaja ia tersandung dan vas bunga ditangan nya jatuh dilantai.
Prank ...
Edgar tersentak, dia berbalik menatap kebelakang menatap istri nya yang bersimpuh mengambil pecahan vas bunga itu. Buru buru menghampiri istrinya, ia melihat Darah segar menetes dari tangan sang istri.
"Bu asih! Ana!" Teriak Edgar memanggil para asisten rumah tangganya.
Dengan buru buru ana dan Bu asih berlari kedalam rumah saat mendengar teriakan majikan nya. Mereka berdua sedang membersihkan sisa berkebun Edgar tadi.
"Astaga. Apa yang terjadi dengan nona?" Pekik Bu asih melihat darah segar menetes ditangan nona nya.
Dewi meringis menahan sakit dan perih ditangan nya.
"Tolong obati istri ku, aku ada urusan penting sekarang." Perintah nya pada Bu asih. "Sayang biar Bu asih yang mengobati luka mu. Aku pergi dulu" ia mengecup kening istrinya lalu berlari keluar rumah. Meninggalkan istri nya yang duduk dilantai dengan memegangi tangan nya yang berdarah.
Rasa perih itu semakin bertambah saat suaminya lebih memilih pergi mengurus urusan nya yang entah itu apa daripada mengobati nya. Suaminya itu mengabaikan nya.
"Ssshh," desah Dewi kala Bu asih membersihkan luka nya.
"Tahan sebentar nona,"
Bu asih dengan telaten mengobati luka ditangan Dewi, luka nya agak dalam, ia meneteskan obat merah lalu membalut nya dengan kain kasa.
"Apa tidak kerumah sakit saja nona, atau mau saya panggilkan dokter. Lukanya agak dalam." Tawar Bu asih ia mengkhawatirkan nona nya yang sejak tadi terdiam.
Ana yang juga berada di sana menatap kasihan pada nona nya. Ia juga wanita pasti ia juga akan sedih jika melihat suami nya memilih pekerjaan nya dibanding istri nya yang sedang terluka.
"Tidak usah Bu, aku tidak apa-apa. Aku akan istirahat sebentar." Dewi beranjak dari duduknya. Menaiki anak tangga dengan pikiran kalut, kecewa atas sikap acuh suami nya.
***
__ADS_1
Sudah hampir tengah malam Edgar tidak kunjung pulang juga, Dewi masih menunggu nya di ruang tamu di temani Bu asih dan ana. Terlihat dua asisten itu sudah beberapa kali menguap. Lelah dengan pekerjaan nya dan sekarang masih harus menemani nona nya.
"Bu asih , ana kalau sudah mengantuk kalian bisa kembali ke rumah belakang sekarang. Aku akan menunggu suami ku." Titah Dewi, ia tidak tega menatap kedua wanita itu yang sudah terlihat lelah.
"Kami akan menemani nona disini." Jawab Bu asih. Ia tidak tega melihat Dewi sendirian.
"Tidak apa apa Bu, pergilah. Sebentar lagi suami ku pasti pulang." Ujar Dewi.
Bu asih dan ana mengangguk. "Baiklah, selamat istirahat nona. Kami permisi dulu." Pamit dua orang itu beranjak pergi meninggalkan nona nya sendiri.
Dewi menatap jam yang terpasang di dinding. Sudah hampir jam satu malam tapi suaminya tidak kunjung pulang. Matanya sudah sayup-sayup dan mulutnya sudah beberapa kali menguap. Ia merebahkan tubuhnya dikursi panjang itu. Tanpa sadar ia sudah tertidur disana.
Sekitar setengah jam, pintu utama dibuka dari luar. Edgar melangkah kan kaki nya masuk kedalam rumah, lampu masih menyala. Ia heran kenapa Bu asih belum mematikan lampu jam segini. Edgar hendak mematikan lampu tapi netra nya tidak sengaja menatap seorang wanita yang tertidur di sofa.
Dihampirinya wanita itu, diusapnya pelan pipi istri nya. Ia melihat tangan istrinya yang di perban. Seketika perasaan bersalah menghampiri dirinya. Bayangan kejadian tadi pagi melintas didepan nya saat Ia tadi lebih memilih pergi mengurus urusan nya dan meninggalkan istrinya yang sedang terluka.
Edgar membopong tubuh istrinya membawa nya masuk ke dalam kamar.
di rebahkan nya tubuh mungil istrinya di atas kasur dengan pelan, terlihat pergerakan kecil dari istrinya tapi sesaat tenang kembali.
Dicium nya kening istrinya dalam. Diusapnya pipi mulus itu.
"Maafkan aku sayang," lirih nya.
Edgar beranjak masuk kedalam ruang pakaian, mengganti bajunya dengan baju tidur. Lalu ikut merebahkan diri disamping istrinya.
Di peluk nya tubuh istrinya itu dengan erat. Dikecupnya beberapa kali sampai akhirnya ikut terlelap juga.
.
.
__ADS_1
hai hallo, jangan lupa like, dan komen agar author tambah semangat ya ...