
"kalau kamu tidak mau melihat ku, aku yang akan membuat mu menatap ku lagi!"
Dewi terduduk di tanah, menatap kepergian suami nya dengan tangisan yang memilukan.
"Semua nya sudah selesai" ucapnya lirih.
Sedang kan Edgar yang berada di dalam mobil tampak gusar, ia memukul setir beberapa kali dengan keras.
"Aku tidak bisa begini. Mau tidak mau kamu harus ikut dengan ku wi walau kamu berontak sekalipun kamu harus ikut dengan ku."
Edgar menghentikan laju mobil nya dan memutar arah ke tempat mereka tadi. Saat sampai di taman itu Edgar tidak menemukan istri nya. Ia berjalan kesana kemari mengelilingi taman itu.
"Dimana kamu Dewi?"
Edgar merogoh hp di saku nya guna menghubungi istrinya. Tapi sial nya nomer hp Dewi tidak aktif. Dengan kesal Edgar kembali ke mobil nya.
***
Empat bulan kemudian.
Matahari pagi belum mau menampakan diri di ufuk timur, tetapi Ada yang sudah terbangun dari tidur dengan pagi yang tak lagi sama. Dimana rasanya lebih sejuk dari biasanya. Para kabut berlomba memeluk kota.
Embun jatuh di jendela kamar mengabarkan rindu.
Seorang wanita dengan perut yang sudah terlihat lumayan besar terlihat menggeliat pelan. Duduk bersandar disandaran tempat tidur dengan mulut yang masih menguap tapi mata nya sudah berusaha mulai mengerjap dan terbuka.
"Selamat pagi anak mama" Dewi tersenyum tangan nya mengelus perut nya yang terlihat sudah lumayan besar itu dikehamilan nya yang masuk enam bulan.
__ADS_1
Saat keluar dari kamar menuju dapur, sudah ada Kinan yang sedang bergelut dengan wajan di depan nya.
"Pagi Kinan" sapa Dewi saat sudah di dapur.
Kinan menoleh ke arah suara yang memanggil nya. "Pagi mba, hari ini aku bikin nasi goreng nih mba. Mba sarapan dulu ya sebelum ke rumah sakit."
Kinan adalah pegawai di kedai yang sudah berubah menjadi cafe yang di dirikan Dewi di Bandung. Gadis 19 tahun itu memutuskan untuk tidak melanjut kan pendidikan nya karena alasan ekonomi. Dan sudah beberapa bulan bekerja ditempat Dewi. Dewi sangat bersyukur mempunyai pegawai seperti Kinan. Walaupun usianya terbilang masih sangat muda tapi ia sudah bisa masak dan rajin mengerjakan pekerjaan rumah.
Dewi mengajak Kinan tinggal di rumah nya karena kasihan terhadap Kinan yang tidak punya tempat tinggal. Ya Dewi membeli rumah kecil di lingkungan padat penduduk. Walaupun kecil rumah itu sagat nyaman dan bersih.
Sejak suaminya memutuskan ke Singapura dan meninggalkan dirinya seorang diri, Dewi menganggap hubungan nya dengan Edgar sudah selesai dan akan merawat anak nya seorang diri. Dewi memberitahu semua pada ibu nya. Dan ibu nya mengizinkan Dewi tinggal di Bandung. Bu Dian tidak terlalu khawatir karena rumah yang di beli Dewi dekat dengan rumah Bu Rumi teman lama nya. Setidak nya ada yang mengawasi Dewi.
Saat Dewi dan Kinan tengah menikmati sarapan nya, terdengar pintu di ketuk dari luar.
"Siapa ya mba?" Tanya Kinan pada Dewi, dan dijawab Dewi dengan mengedikan bahunya pertanda tidak tahu.
"Ibu, mari ikut sarapan bu." Tawar Dewi pada tamu nya yang ternyata Bu Rumi. Dewi memang memanggil Bu Rumi dengan sebutan ibu, karena itu permintaan Bu Rumi sendiri yang sudah menganggap Dewi seperti putrinya sendiri. Dan memanggil suami Bu Rumi dengan sebutan ayah juga.
"Ah tidak usah wi, ibu buru buru mau nganterin pesanan ke kampung sebelah. Ini ibu kesini mau nganterin pesenan kamu, syukurlah ayah mu mendapatkan nya waktu perjalanan pulang dari luar kota." Ucap Bu Rumi memberikan sekantong plastik yang berisi mangga muda yang segar.
Mata Dewi membelalak kala melihat mangga muda itu, rasanya menggiurkan sekali.
"Jangan dimakan pagi-pagi, nanti siang saja." Cegah Bu Rumi saat menyadari tatapan Dewi yang penuh damba pada mangga itu.
"Hehe iya Bu, nanti siang dibikin rujak di cafe saja. Terimakasih ya Bu, sampaikan ke ayah juga." Dewi tersenyum ceria setelah beberapa hari tidak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan mangga itu akhirnya pagi ini ia mendapatkan nya.
Bu Rumi tampak memperhatikan meja makan, "kamu tidak meminum susu mu wi?" Tanya nya setelah tidak mendapati susu di meja makan.
__ADS_1
"Susunya kemarin baru habis Bu, nanti sepulang periksa kita akan mampir ke swalayan sekalian belanja bulanan." Jawab Dewi.
"Ya sudah, ibu pergi dulu ya, ayah mu sudah nunggu di depan." Pamit Bu Rumi, sebelum keluar dari rumah ia menyempatkan mengelus perut Dewi sebentar.
Matahari sudah semakin naik, Dewi dan Kinan masih menunggu duduk di depan poli kandungan. MengAntre dengan beberapa ibu hamil lain nya. Saat para ibu hamil lain nya ditemani oleh suami mereka masing masing tapi tidak dengan Dewi, ibu hamil itu hanya ditemani oleh pegawainya.
"Ibu Diandra Dewi" panggil perawat yang muncul dari balik pintu.
Dewi segera berdiri dari duduknya dan masuk kedalam ruangan di ikuti Kinan. Selama beberapa bulan ini hanya Kinan yang menemani nya periksa kandungan.
Seorang dokter wanita tampak memutar alat diperut Dewi mencari dan memeriksa bayi didalam rahim Dewi.
"Wah selamat ya Bu, bayi nya laki laki." Ucap dokter itu menunjuk layar monitor.
Dewi tersenyum bahagia, tapi di sisi lain hati nya merasa sedih saat kenyataan menghantamnya. Suami nya tidak berada disini. Secepat kilat ia mengusir perasaan sedih itu. Ia tidak mau Bayi nya ikut sedih dan mengganggu perkembangan nya.
Setelah dari rumah sakit, Dewi dan Kinan mampir ke swalayan guna membeli keperluan rumah dan dirinya.
Tampak Kinan yang cekatan mengambil beberapa sabun untuk persediaan satu bulan kedepan.
Sedangkan Dewi berada di rak yang berisi beberapa merk susu hamil di negara ini.
Dewi tampak kesusahan saat hendak mengambil susu dengan merk yang biasa ia beli. Dia melirik kiri kanan tapi tidak melihat pegawai pelayan disana. Dewi masih berusah mengambil nya dengan berjinjit. Dia terkejut saat ada tangan lain yang membantu nya mengambilkan susu itu.
Dewi menoleh kepada pemilik tangan.
"Mas ..."
__ADS_1