
"ahh, shh ..." Pekik Dewi saat merasakan rasa perih di tangan nya yang mengeluarkan darah segar.
"Sudah aku bilang kan, biar aku saja yang membereskan nya." Ucap Edgar, ia panik saat melihat darah menetes dari tangan istri nya.
Menyambar kasar tissue di atas meja, Edgar meraih tangan itu tapi dengan cepat Dewi menepis kasar tangan Edgar.
"Biar aku obati ya ,,," pinta Edgar lembut.
"Silahkan pergi."
"Ayo pergi! Aku bisa sendiri!" Sentak Dewi saat melihat Edgar tidak kunjung pergi dari hadapan nya.
"Aku tidak akan pergi sebelum mengobati luka mu." Edgar mencoba meraih tangan istri nya lagi tapi kembali di tepis oleh Dewi.
"Kalau kamu tidak mau pergi, aku yang akan pergi dari sini!" Ancam Dewi, ia berdiri dan mundur beberapa langkah.
"Kamu mengancamku?" Suara Edgar menjadi dingin. Ia kesal saat berulang kali menerima penolakan dari istri nya. Ikut berdiri tanpa melepas tatapan matanya dari Dewi.
Dewi terdiam, wajah ibu hamil itu sudah basah terkena air mata yang keluar dari matanya.
"Katakan apa kesalahan ku. Aku akan meminta maaf pada mu dan berjanji tidak akan mengulangi nya." Tutur Edgar, pria itu mengamati wajah istri nya.
"Kenapa kamu tiba-tiba datang menemui ku lagi setelah beberapa bulan meninggalkan ku?. Tiba-tiba bersikap manis dan memperlakukan ku dengan baik. Pasti ada alasan nya kan. Apa kamu mau merebut hak asuh anak ini setelah dia lahir?" Tanya Dewi, ia selama ini bertanya-tanya dengan segala pemikiran yang ada di otak nya.
"Apa?" Edgar masih tidak habis pikir dengan pemikiran istri nya.
"Pasti sebelum menemui ku kamu sudah tahu kalau aku sedang hamil kan. Dan kamu datang kesini, memperlakukan ku dengan sangat baik. Nanti setelah aku kembali padamu lagi, kamu akan mengambil hak asuh nya. Iya kan? Lalu kamu membuangku lagi dan menikah dengan Risa." Dewi menyentuh dadanya yang tiba tiba merasa sesak saat mengucapkan itu, rasa sakit hatinya lebih besar dibanding luka ditangan nya.
"Aku tidak pernah punya niat seperti itu, aku sudah bilang kan ucapan ku dulu hanya kata spontan yang keluar dari mulut ku. Kamu tahu pasti itu! Dan aku tidak akan menikah dengan Risa."
"Bohong! Aku melihat sendiri tadi pagi kamu memeluk nya dengan hangat. Kamu masih mencintai nya kan?." Dewi mengusap kasar pipinya saat lelehan cairan bening itu meluncur tanpa aba-aba.
"Kamu cemburu?"
"kamu kan suamiku wajar saja kalau aku cemburu, kalian yang tidak punya perasaan! Berani-beraninya berpelukan di dalam rumah ku!"
Ada senyum samar di wajah tampan Edgar saat mendengar pengakuan istrinya.
"Kamu salah paham wi, aku Tidak memeluk Risa. Risa yang memeluk ku. Dia bilang itu untuk yang terakhir kalinya. Karena aku sudah menegaskan tentang perasaan ku. Dan aku memilih mu istri ku." Edgar tersenyum, ia maju mendekatkan diri pada Dewi yang masih tertegun.
Dewi yang hendak percaya pada Edgar mendadak berubah pikiran saat teringat kerja sama antara Edgar dan Risa yang mengharuskan mereka bertemu setiap hari nya. Pasti ini hanya rayuan Edgar. Begitulah yang dipikirkan Dewi. Ia tidak bisa percaya begitu saja pada Edgar.
__ADS_1
Dewi memundurkan langkah nya saat Edgar semakin mendekat.
"Kamu bilang akan menuruti keinginan ku kan?" Todong Dewi dan di angguki oleh Edgar.
"Sekarang aku mau kamu pergi dari sini!" Imbuh nya.
"Apa?" Edgar mengerjapkan matanya tidak percaya dengan permintaan istrinya.
"Pergi dari sini!" Kesal Dewi.
"Tunggu, kamu tenang dulu. Kita bicarakan hal ini baik-baik, sejak tadi kamu sudah marah-marah. Kasihan dia wi." Rayu Edgar, matanya menatap perut buncit istri nya.
"Aku Akan tenang kalau kamu pergi dari sini. Jangan mengganggu kehidupan ku lagi, aku tidak mau sakit hati untuk kedua kalinya pada orang yang sama. Sudah cukup sekarang, aku bisa menghidupi anak ku sendiri." Ucap Dewi, tangan nya mengelus perut besar nya tempat anaknya berkembang di dalam sana.
Hati Edgar seketika mencelos, istri nya tidak mudah di bujuk sekarang. "Kamu tega dia tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah?, Pikirkan itu juga wi!" Kesal nya.
"Aku akan memberikan kasih sayang yang berlimpah untuk nya. Aku tidak mau nanti dia melihat ayah nya punya dua istri." Ucap Dewi dengan polos nya. Ia mengira Edgar akan menikahi Risa. Karena siang tadi Risa menemui nya di cafe dan menjelaskan jika Edgar akan menikahi nya juga.
"Astaga, kamu tidak percaya padaku wi?" Edgar menggelengkan kepala nya tidak percaya atas pemikiran konyol istri nya. Tidak pernah terbesit di pikiran Edgar untuk memiliki dua orang istri.
"Iyha!" Jawab Dewi.
Sedangkan Dewi hanya diam saja, masih sesenggukan dengan linangan air mata di pipi gembul nya.
Melihat Dewi yang terus saja menangis, Edgar menjadi tidak tega. Ingin sekali ia memeluk wanita yang di cintai nya tapi Edgar takut jika nanti Dewi menolak dan emosi kembali. Itu tidak baik untuk bayi di dalam kandungan nya.
"Aku akui selama ini aku telah bodoh menyakiti mu. Meninggalkan mu sendiri dan malah memilih merawat Risa demi rasa bersalah ku. Dan parah nya aku tidak tahu jika istri ku sedang hamil, padahal kamu sudah mulai menunjukan gejala nya waktu itu." Tutur Edgar, ia tatap dalam-dalam mata hitam istrinya.
Dewi mendongak membalas tatapan Edgar dengan wajah sendu.
"Tapi aku benar-benar tidak punya niat sedikitpun untuk merebut bayi kita dari tangan mu. Kamu tahu wi?, Di Singapura selama aku merawat Risa, saat itu pula aku juga memastikan hatiku. Disana aku selalu tidak fokus, bayangan wajah tenang mu selalu menghiasi isi pikiran ku. Senyum ceria mu selalu menari-nari di kepala ku. Hatiku merasa hampa dan merasa kehilangan saat jauh darimu. Sampai akhirnya aku putuskan untuk kembali ke sini dan meninggalkan Risa yang saat itu waktunya untuk operasi." Bola mata Edgar memanas, mengingat semua kesalahan nya pada istri nya.
Dewi masih terdiam di tempat nya berdiri.
"Selama beberapa bulan aku mencari mu, tapi ibu mu masih tidak mau memberitahu keberadaan mu dan malah melemparkan surat gugatan di depan ku."
Deg ...
Dewi teringat akan surat itu, surat gugatan yang ia siapkan untuk Edgar sebelum ke Bandung.
Edgar tersenyum tipis, ia melangkah kan kaki mendekati istrinya. "Aku tahu semarah apa kamu saat itu sampai Berani melayangkan surat gugatan untuk ku." Edgar menghela nafas sebentar.
__ADS_1
Di pegang nya pundak Dewi, lalu ia merosot berlutut di depan istri nya. Memeluk kaki dewi. Dewi tertegun, ia tidak bisa melakukan sesuatu.
"Sekarang boleh kah aku memohon untuk kesempatan kedua," Edgar mendongak menatap manik manik mata istri nya.
"Aku akan berusaha memperbaiki hubungan kita, aku akan melakukan apapun asal kamu mau kembali padaku. Aku mencintai mu Dewi."
Dewi tertegun, refleks tangan nya terulur mengusap lembut punggung Edgar yang bergetar. Pria itu menangis, Dewi baru melihat Edgar serapuh ini. Di bantu nya. Pria itu untuk berdiri.
"Bangun lah mas,"
Sekarang suami istri itu saliNg berhadapan. "Aku akan memaafkan mu asal kamu melakukan apa yang aku mau." Ujar Dewi.
"Apa sayang?" Tanya Edgar.
***
Setelah mengobati tangan Dewi yang terluka, akhirnya Edgar tidur di rumah sebelah yang ditempati Danu dan Bu asih.
Ia menuruti keinginan Dewi.
Dikamar yang tidak luas itu, Edgar merebahkan diri di atas tempat tidur. Tangan nya ia kaitkan di belakang kepala. Menatap langit-langit kamar nya.
Gelisah, pria itu beberapa kali merubah posisi. Mencari posisi ternyaman agar ia bisa tidur. Tapi matanya tidak juga mau terpejam. Ia merasa ada sesuatu yang kurang.
"Sepi sekali tidak ada kamu wi, aku ingin tidur di sebelah mu." Gumam Edgar menatap jendela kamar nya yang mengarah langsung pada rumah yang di tempati Dewi.
Sedangkan Dewi di dalam kamar menatap bunga mawar yang tergeletak di lantai. Dibacanya kertas yang tertempel di bunga itu.
"Maafkan aku"
Hati Dewi tersentuh, ia menoleh pada jendela kamar nya yang terhubung langsung dengan rumah yang di tempati Edgar. Ia beranjak dari tempat nya duduk menuju jendela. Ia buka tirai jendela itu, ia melihat lampu kamar yang di tempati Edgar masih menyala pertanda sang penghuni belum tidur.
Saat masih memandangi jendela kamar Edgar, Dewi terkejut saat Edgar juga membuka tirai jendela kamar nya.
Mereka berdua saling menatap, Dewi terpaku di tempat nya berdiri. Edgar tersenyum padanya dan melambaikan tangan. Refleks ia juga membalas senyuman Edgar.
Dan apa itu, Edgar menaruh dua tangan nya di pipi kirinya, memberi tahu Dewi untuk segera tidur. Dewi mengangguk dan menutup gorden lalu merebahkan diri di tempat tidur.
-
-
__ADS_1