Aku Vs Masa Lalu Suamiku

Aku Vs Masa Lalu Suamiku
bab 38


__ADS_3

Setelah menyelesaikan semua pekerjaan nya Edgar buru buru berlari ke arah ruangan nya. Mengambil kunci mobil yang ditaruh nya dimeja tadi. Saat berjalan ke arah pintu, pintu dibuka dari luar oleh Dava. 


"Mau kemana gar?"  


"Pulang,"jawabnya singkat. 


"Meeting nanti malam bagaimana?"  


"Kamu saja yang menangani" jawab Edgar santai. 


Dava menghela nafas kasar, menatap punggung Edgar yang hilang tertelan pintu. 


"Sial! Aku kan mau bertanya soal Dewi tadi. Kenapa bisa lupa?. Aku samar mendengar suara Risa dari telefon tadi. Apa yang sedang dilakukan orang bodoh itu?"  


___ 


Saat memasuki rumah nya, Edgar hendak ke dapur mengambil air dingin. Dia melihat punggung wanita yang sedang memasak disamping ana. 


"Wi.." panggil Edgar, ia tidak yakin kalau itu istrinya karena penampilan wanita di depan nya ini berbeda. Lebih tepat nya kembali pada penampilan nya dulu sebelum menikah. 


Wanita itu meloleh kebelakang masih memegang pisau ditangannya. 


Edgar tersentak, tubuh nya mundur kebelakang. Bergidik ngeri melihat Dewi memegang pisau seperti itu. 


"Ya mas, sudah pulang. Aku sudah menyiapkan baju ganti mu di atas." Jawab Dewi tersenyum lalu meneruskan aktivitas nya lagi.  


"Ikut aku ke atas ya" pinta Edgar lembut. 


"Aku belum selesai mas, mandilah dulu dan turun untuk makan malam." Ujar Dewi tanpa menoleh pada suaminya. 


"Kalau sedang berbicara tatap mata lawan bicara mu wi" pinta Edgar dengan sedikit tegas. Biasanya istri nya ini akan langsung patuh jika diminta apapun oleh nya. Tapi kali ini berbicara saja tidak menatap nya. Edgar menjadi sedikit kesal. 


Dewi melirik ana disamping nya, gadis itu memilih bungkam dan masih melakukan aktifitas nya. Walaupun mendengar kan pembicaraan kedua majikannya. 


Dewi melepas celemek yang menempel ditubuhnya. Berjalan ke arah suami nya. 


"Ayo ke atas mas." Ucap Dewi berjalan mendahului Edgar. Ia tidak mau pembicaraan nya di dengar oleh orang lain. 


Edgar yang melihat sikap acuh istrinya pun mengerti kalau istrinya pasti sedang marah karena ia terlalu lama menemui Risa tadi. 


"Aku siapkan air nya dulu." Melangkah kan kaki ke arah kamar mandi setelah masuk kedalam kamar, tapi tangan nya di cegah Edgar. 


"Kamu marah?" Tanya Edgar lembut. 


"Iya."  


"Maaf," ucap Edgar tulus memeluk istrinya dari belakang tapi ditolak Dewi. 


"Aku siapkan air nya mas, lalu mandilah" 


Masuk ke kamar mandi meninggalkan suaminya yang mematung diluar.  


Sesudah makan malam Edgar dan Dewi memilih berada didalam kamar. Tidak ada percakapan apapun di meja makan tadi. Hanya suara dentingan sendok dan piring yang saling beradu. Dan sekarang istrinya pun tidak banyak bicara. Edgar melirik istri nya yang bersandar di sandaran tempat tidur sambil memainkan ponsel ditangan nya. 

__ADS_1


Edgar mendekatkan dirinya, ikut menyandarkan tubuhnya disamping Dewi.  


"Apa masih lama main hp nya?" Tanya Edgar menatap istrinya. 


"Iya" jawabnya singkat. 


"Sedang berbalas pesan dengan siapa sih?" Tanya Edgar penasaran matanya melirik pada ponsel di tangan istri nya. 


"Anak anak di kedai." Menjawab singkat lagi. 


"Bisa tidak jangan main hp kalau sedang bersama suami mu." Kesal Edgar yang sudah muak di acuhkan istrinya dari tadi. 


Dewi mengehela nafas lalu menaruh hp nya di atas nakas dan menarik selimut sampai menutupi pundak nya. 


"Kamu mau tidur?" 


"Iya" 


"Kamu sudah ngantuk?" 


"Iya" 


"Baru jam segini masa sudah ngantuk?" 


"Iya" 


"Bisa tidak kalau menjawab jangan iya terus?" Kesal Edgar. 


Dewi tetap bergeming. 


Dewi Bangun dari tidur nya duduk menatap tajam Edgar. 


"Lalu aku harus apa mas?" Membalas dengan berteriak. mengalahkan suara Edgar. 


Edgar tersentak saat mendengar suara istrinya. Dewi yang dikenalnya lembut itu sekarang seperti bukan dirinya saja. 


"Kamu marah aku terlalu lama menemui Risa tadi?"  


"Tidak." 


"Lalu kenapa kamu seperti ini?"  


"Kenapa? Apa aku tidak boleh marah jika ternyata selama ini suami ku menganggap ku sebagai mantan kekasih nya." Sungut Dewi menatap tajam Edgar. Tatapan yang baru pertama kali Edgar lihat selama mengenal Dewi sampai sampai dia tidak bisa membuka mulut nya. 


"Kenapa diam saja? Benarkan? Baju, tas sepatu, bahkan rumah ini pun semua nya kamu sesuaikan dengan kesukaan Risa!" Dewi mencengkram seprai. Merasa sakit hati  dengan kalimat nya sendiri. 


"Kamu ini sebenarnya benar-benar mencintai ku atau tidak mas?" Kemarahan dan merasa tidak berdaya ada dalam suara Dewi. 


Edgar tetap bergeming, menatap istrinya yang menunduk. 


"Apa yang kamu mau sebenarnya mas? Bukankah kamu sendiri yang memintaku untuk menjadi istri mu?. Aku kira kamu benar-benar mencintai ku tapi ternyata tidak ya." Dewi mengangkat pandangan nya menatap Edgar. 


"Wi,"  

__ADS_1


"Tunggu! Aku belum selesai bicara." Cegah Dewi. 


"Sudah, sudah cukup marah marah nya. Kemari." Ucap Edgar mengulurkan tangannya pada Dewi tapi Dewi tidak menggubris nya. 


"Tidak mau!" 


"Wi .."  


"Apa ... Apa sebaik nya kita berpisah saja." Berbicara dengan suara tertahan. Matanya sudah mulai berkaca kaca siap meluncurkan cairan bening yang sudah mengembun itu. 


Deg ... 


"Sampai kapan pun aku tidak akan melepaskan mu wi. Jangan berbicara yang tidak tidak. Kemari!" Bentak Edgar, ia tidak menyangka istri nya bisa mengajukan permintaan sekonyol itu.  


Dewi tidak bergeming. Dia menunduk, menumpahkan tangis nya yang ia tahan sejak tadi.  


"Kemari sayang, akan aku jelaskan semua nya. Tanyakan apa saja padaku. Tapi jangan dengan emosi seperti ini. Kepala mu bisa pusing nanti." Edgar langsung menarik istrinya kedalam pelukan nya. 


Dewi sempat memberontak tapi dengan sigap ditahan dengan Edgar. Tangis istri nya pecah. Mengeluarkan rasa sesak yang mengganggu pikiran nya. Edgar mengusap lembut punggung istri nya yang bergetar. Dibiarkan nya istri nya menumpahkan semua keluh kesah nya. 


Setelah Dewi tenang Edgar baru mulai berbicara. 


"Siapa bilang aku tidak mencintai mu?" Edgar memeluk erat istrinya. "Waktu kamu kecelakaan, kalau aku tidak mencintai mu aku tidak akan sepanik itu. Menangis di hadapan mayat yang aku kira itu istri ku." Tergelak sebentar kala mengingat kelakuan nya waktu itu. Menangkup wajah istri nya dengan kedua tangan. Dikecup nya mata istri nya yang masih basah. 


"Mungkin dulu aku memang bingung dengan perasaan ku. Tapi semenjak kejadian itu aku sudah tahu sebenarnya cinta ku ini untuk siapa." Lalu Mencium kepala istri nya. 


"Aku hanya mencintai istri ku. Kamu bisa melihat nya langsung didalam hati ku kalau kamu mau."  


"Bohong! Aku mendengar pembicaraan mu dengan Risa di rumah sakit." Sungut Dewi, dia melihat dan mendengar sendiri dari Risa sewaktu di rumah sakit. 


"Yang bagian mana?" 


"Semua yang kamu beri untuk ku itu kesukaan Risa!" Kesal berteriak lagi. Dengan segera Edgar mengeratkan pelukan nya. 


"Sst, apa kamu mendengar nya sampai selesai?" 


"Tidak!" 


Edgar tersenyum " kamu salah paham, mau tahu apa yang aku katakan pada Risa setelah itu?" 


Dewi mengangguk, "aku bilang kalau pakaian atau apapun itu tidak bisa menentukan kadar cinta ku. Aku mencintai istri ku. Walaupun kamu tidak memakai barang yang ada didalam sana pun aku tetap mencintai istri ku. Kamu boleh membuangnya jika kamu tidak nyaman. Gantilah yang sesuai dengan kesukaan mu." 


"Pakai kartu yang aku berikan untuk mu. Aku tahu kamu jarang menggunakan nya."  


Dewi memutar badan nya menatap sang suami. Mencari ketulusan lewat sorot mata suami nya. 


"Benar mas?" Tanya nya "yang kamu katakan semua tidak bohong kan?" 


Edgar menggeleng, Dewi langsung memeluk suami nya. 


"Maafkan aku wi, aku tidak bilang padamu kalau Risa meminta ku menemani nya di sisa umur nya. Aku tidak mau kamu terluka karena itu. Umur Risa diperkirakan tidak lama lagi. Hanya sekitar 2 bulan lagi. Aku harap kamu mau mengerti atas keputusan ku ini nanti nya. Aku hanya ingin membalas rasa bersalah ku padanya selama ini karena tidak ada di samping nya di saat dia berjuang melawan sakit nya." 


__ADS_1



.


__ADS_2