
Mentari pagi bersinar dengan terangnya, seakan memberikan senyuman. Embun yang masih terasa seakan memberi kesejukan merasuk ke dalam jiwa anak manusia.
Seperti hal nya di kediaman sederhana sepasang suami istri ini. Bagaimana tidak sederhana, rumah yang ditempati Dewi dan Edgar tidak ada apa-apa nya di banding kediaman mereka di ibu kota. Tapi kemewahan tak selamanya memberi kebahagiaan. Nyatanya di rumah sederhana ini, hubungan suami istri itu tampak jauh lebih baik dari sebelum nya.
"Aku berangkat dulu ya, kamu cukup istirahat saja dirumah. Tidak usah ke cafe. Bu asih akan menemani mu disini." Selesai berpamitan dengan istri nya, Edgar menghampiri Bu asih yang sedang membereskan meja makan.
"Bu, tolong masak makanan yang bergizi untuk istri ku. Pastikan Dewi tidak beraktivitas apapun. Dia sedang hamil sekarang dan jagoan ku butuh makanan yang bergizi agar kuat dan sehat." Tutur Edgar.
Bu asih mengangguk, wanita paruh baya itu mengulum senyuman. Dewi yang mendengar perhatian Edgar untuk nya pun tersenyum. Merasa bahagia sekarang pria yang berstatus suami nya itu selalu memprioritaskan nya.
Saat Edgar hendak keluar dari rumah, Dewi menahan tangan nya.
"Tunggu mas, kamu melupakan sesuatu."
Edgar menoleh ke belakang memandang istri nya Dengan bingung. Ia mengecek kantong jas nya, hp nya ada di tempat. Memeriksa seluruh pakaian nya. Semua sudah lengkap.
"Aku tidak melupakan apapun sayang." Ujar Edgar yang di balas wajah cemberut istri nya.
Ibu hamil itu maju mendekati Edgar, kaki nya berjinjit dan, cup.
Satu kecupan di pipi terlabuh di wajah tampan suami nya.
Edgar terkejut sekaligus bahagia, dulu selalu Edgar yang bergerak lebih dulu mencium istri nya jika hendak berangkat kerja. Dan sekarang istri nya berani ambil sikap terlebih dahulu. Dengan gemas edgar membalas ciuman istri nya.
Cup.
Begitulah drama di pagi hari tuan dan nyonya Permana putra.
Bu asih yang dari tadi masih memperhatikan kedua suami istri itu mengulum senyuman. Wanita paruh baya itu merasa bahagia atas apa yang di lihat nya hari ini. Kedua majikan nya kembali seperti dulu. Bahkan lebih baik dari hubungan nya dulu.
***
Saat tengah disibukan dengan pekerjaan nya, pekerjaan yang ingin ia selesaikan sendiri. Imbas dari korupsi yang dilakukan Malik sangat besar. Terdengar ketukan pintu dari luar.
"Masuk!" Tukas Edgar yang masih fokus pada berkas di atas meja.
__ADS_1
Muncul Galuh yang di ikuti seorang wanita cantik dengan rambut gelombang yang di gerai nya.
"Maaf pak, ada nona Risa ingin menemui anda."
Edgar mendongakkan kepala nya, menatap Risa sekilas lalu melanjutkan pekerjaan nya.
Merasa di cuek kan Edgar, Risa melangkah kan kaki nya mendekat.
"Aku membawakan salad buah kesukaan mu gar." Tutur nya Dengan suara mendayu-dayu. Meletakan kotak makanan di atas meja Edgar. Berbagi tempat dengan berkas-berkas yang terletak disana.
"Terimakasih, kamu boleh keluar sekarang sa." Ujar Edgar melirik kotak makanan itu sekilas.
Risa memutar otak, memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa mengobrol dengan Edgar. Dia berniat pelan pelan membangkitkan cinta Edgar untuk nya yang sekarang hilang. Sejak pertemuan pertama nya dengan Dewi dulu di mall. Mulai saat itu ia berniat merebut Edgar kembali. Sekarang ia sudah sehat, dan dia akan melakukan apapun agar Edgar mau kembali padanya. Entah apa yang di pikirkan Risa.
"Aku ingin berbicara dengan mu. Bolehkah?" Tanya Risa, dia harap-harap cemas.
"Tentang apa? Aku sedang sibuk sekarang." Jawab Edgar. Ia sudah berniat tidak akan berhubungan dengan Risa lagi karena tidak mau menyakiti hati istri nya. Apalagi istrinya tengah mengandung anak nya sekarang.
"Tentang penyakit ku."
Tanpa di duga Edgar mengentikan aktifitas tangan nya. Dia menoleh pada Galuh.
"Baik pak, permisi" Galuh membungkukan badan dan keluar dari ruangan Edgar.
"Silahkan duduk di sofa sa." Titah Edgar
Risa tersenyum penuh kemenangan. Prediksi nya tidak salah. Jika menyangkut penyakit yang pernah menggerogoti nya. Edgar pasti tidak akan menolak.
"Ada apa?" Tanya Edgar saat sudah menghempaskan bokong nya ke atas sofa.
"Aku merasa kepala ku masih terasa pusing dan tubuhku merasa sakit. Apa kamu bisa mengantarku cek up di rumah sakit. Aku ingin memeriksa nya." Gadis itu melancarkan usaha pertama nya. Dengan Edgar mau mengantarnya ia bisa dekat dengan Edgar. Dan ia akan berusaha mengembalikan cinta nya.
Edgar tampak berfikir sebentar, "aku tidak bisa sa. Pekerjaan ku banyak sekali. Aku bisa meminta Galuh untuk mengantarmu."
Pupus sudah harapan Risa ingin dekat dengan Edgar. Tapi ia tidak putus asa.
"Aku mohon temani aku kerumah sakit gar. Lagipula sebelum nya kamu yang mengurus semua nya untuk ku saat aku masih sakit. Jadi kamu mengerti jika dokter menjelaskan nanti. Papa mam ku sedang di luar kota sekarang. Tidak ada yang bisa mengantarku." Begitulah rayuan yang di lontarkan Risa Dengan di tambahi bumbu air mata.
"Baiklah, aku akan mengantarmu saat waktu makan siang."
__ADS_1
Risa tersenyum bahagia, dia mendekat ke arah Edgar ingin memeluk nya tapi Edgar menahan nya.
"Tidak perlu berlebihan sa, ini di kantor. Aku tidak mau jika ada yang melihat kita berpelukan saat kita hanya berdua di ruangan ku." Edgar bangkit dari duduk nya menuju kursi kebesaran nya, melanjutkan pekerjaan nya yang tertunda.
***
Saat waktu makan siang, Edgar menepati janji nya menemani Risa di rumah sakit
Disini lah Edgar sekarang, duduk menunggu Risa yang sedang di periksa dokter.
"Gar," panggil Risa saat sudah selesai pemeriksaan. Ia duduk di sebelah Edgar. Di depan nya seorang dokter wanita sedang membaca hasil pemeriksaan.
"Nona Risa tidak apa-apa, pusing yang dirasakan nona Risa saat ini karena tekanan darah Anda sedang rendah. Saya akan meresepkan vitamin dan penambah darah." Tutur sang dokter wanita.
Setelah selesai, Edgar dan Risa keluar dari rumah sakit.
"Gar kita makan siang dulu ya, aku lapar. Kita pergi ke restoran xx . Sudah lama kita tidak kesana." Ajak Risa. Restoran itu tempat favoritnya dulu saat masih berpacaran dengan Edgar. Dia berharap dengan sedikit-sedikit mengingatkan Edgar tentang hubungan nya dulu akan membuat Edgar menoleh kembali padanya.
"Baiklah." Edgar melajukan mobil nya ke restoran yang di minta Risa. Edgar menyetujuinya karena lagi pula restoran itu dekat dengan kantor nya. Hanya itu yang dipikirkannya. Tidak ada yang lain yang seperti dipikirkan Risa saat ini.
Saat sedang menunggu makanan datang, hp Edgar berbunyi. Muncul nama Galuh di layar depan nya.
"Ya halo, ada apa Luh?"
"Maaf pak, di kantor ada nona Dewi ingin bertemu anda. Sekarang nona Dewi sedang menunggu diruangan anda."
Deg...
Dada Edgar bergemuruh seketika, ia mematikan teleponnya.
"Maaf sa, aku harus kembali ke kantor. Istriku sedang menunggu ku. Kamu bisa makan sendiri kan." Edgar meraih dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang lalu meletakkan di atas meja.
"Kamu bisa membayarnya dengan ini. Aku pergi dulu." Edgar beranjak dari duduk nya denga. Sigap Risa menarik tangan Edgar.
"Gar, apa tidak bisa temani aku makan sebentar saja." Pinta Risa dengan tatapan memelas.
"Maaf sa aku tidak bisa." Edgar melepaskan tangan Risa yang masih menggenggam tangan nya. Ia langsung berlari menuju mobil nya.
Tidak melihat bagaimana raut kesal di wajah cantik Risa. Dengan tangan mengepal Risa memandang kepergian Edgar.
__ADS_1
"Tunggu saja, aku pasti bisa merebut mu kembali!"