
Dewi terbangun dari tidur nya, ia menggeliat pelan. Ditatapnya sekeliling dia berada didalam kamar nya. Ia menoleh pada kasur samping nya.
"Mas Edgar pulang jam berapa semalam?" Gumam nya.
Dewi turun dari tempat tidur menuju ruang pakaian. Terdengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi, pertanda didalam pasti suaminya.
Setelah beberapa menit terlihat Edgar keluar dari dalam kamar mandi dnegan rambut basah nya.
Dewi meraih handuk kecil di samping nya.
"Aku keringkan rambut nya mas." Ujar Dewi. Edgar pun mendekat kearah istri nya lalu duduk di kursi. Membiarkan istrinya melakukan tugasnya.
"Tadi malam pulang jam berapa mas?" Tanya Dewi tangan nya dengan telaten mengeringkan rambut suaminya. Ia melakukan nya dengan satu tangan karena tangan kirinya masih terluka.
"Jam satu." Jawab Edgar, ia memejamkan mata menikmati pijitan yang diberikan istrinya.
"Masalah nya serius ya mas?" Dewi pun sebenarnya khawatir ia mengesampingkan egonya. Menyimpan rasa sedih nya di dalam hati.
"Ada beberapa masalah pada cabang yang baru dibangun di luar kota sayang, tidak terlalu serius kok." Jawab Edgar ia berdiri dari duduk nya. Meraih kemeja nya lalu memakainya.
"Mas mau kemana?" Tanya Dewi, dia mengira suaminya akan berangkat agak siang karena tadi malam pulang terlalu malam.
"Aku harus ke kantor sayang," jawab Edgar sambil memakai celana kerja nya. Lalu memasang dasi dan menyisir rambut nya dengan rapi.
"Sepagi ini mas? Apa tidak lelah?" Tanya Dewi khawatir.
"Tidak sayang. Ini sangat penting, aku harus berangkat sekarang." Edgar meraih kemeja nya keluar dari ruang pakaian. Dewi mengekor dibelakang suaminya.
"Mas tidak sarapan dulu" tanya Dewi saat melihat suaminya berjalan ke arah pintu utama.
"Aku sarapan dikantor sayang, aku berangkat dulu ya." Edgar berjalan ke arah mobil nya.
"Mas kenapa Dava tidak menjemput mu?" Tanya Dewi lagi, ia heran. Biasanya Dava akan siap siaga menjemput Edgar berangkat ke kantor.
"Dava sibuk sayang, aku berangkat."
Dewi menatap sendu mobil suaminya yang kian menjauh keluar dari gerbang.
__ADS_1
"Apa seburu-buru itu sampai lupa tidak mencium kening ku seperti biasa" gumam nya .
***
Sudah seminggu lebih Edgar selalu berangkat pagi-pagi sekali dan pulang larut malam.
Hari ini Dewi memasak makan siang untuk suami nya, ia akan mengantarkan nya ke kantor.
Dia menatap puas Dengan makanan didepannya.
Setelah hampir setengah jam dewi sudah berada di lobby kantor Edgar, ia berjalan ke arah lift khusus presdir.
"La apa suami ku di dalam?" Tanya Dewi pada sekretaris suaminya itu. Ia sudah berada di depan ruangan suaminya.
Lala menatap bingung nona nya, "bukankah tuan edgar berada diluar kota nona" jawab wanita itu. Memang Edgar sebelum nya sudah bilang padanya kalau ia akan keluar kota. Dan sekarang dia di buat bingung dengan kedatangan nona nya dikantor, apa iya Dewi tidak tahu.
"Sejak kapan?" Tanya Dewi penasaran, wajah nya berubah sendu sekarang.
"Lima hari ini nona"
Deg ...
Bagaimana bisa ia tidak tahu, dan parah nya Edgar tidak bilang padanya.
Dewi menyerah kan rantang makanan itu pada Lala. Lalu dia keluar dari kantor suaminya dengan penuh tanda tanya dipikiran nya.
Dewi menyuruh Danu melajukan mobil nya ke arah taman. Dewi berhasil menyuruh Danu untuk pulang Dengan susah payah, karena sopirnya itu bersikeras tetap menunggu nona nya. Dengan berbagai cara akhirnya Danu mengalah saat Dewi menyuruhnya menjemputnya lagi kalau sudah selesai. Danu pergi meninggalkan Dewi sendirian ditaman itu.
Dewi duduk di rerumputan yang hijau taman itu, memandang sendu pada danau buatan di depan nya.
"Sebenarnya kamu kemana mas ?" Lirih nya. "Kenapa tidak bilang padaku? Apa aku ini tidak kamu anggap sebagai istri mu. Kita ini suami istri kan? Kenapa malah memilih bermain kucing kucingan seperti ini."
Dewi menangis terisak, mengeluarkan rasa sedih nya.
Lelah menangis, ia berdiri dari duduknya. Kepala nya tiba-tiba berdenyut, pandangan nya kabur sesaat semua nya menghitam.
Dewi tersadar, ia mengerjapkan matanya. Menatap sekeliling tempat itu.
__ADS_1
"Aku dimana?" Lirih nya menatap gelas berisi air putih di atas meja. "Aku haus"
"Wi, kamu sudah bangun. Kamu membutuhkan sesuatu?" Tanya Erik mencondongkan tubuhnya ke arah Dewi yang masih terkulai lemas.
Dewi terkejut menatap Erik di depan nya, terpaksa dia meminta laki laki yang dulu dekat dengan nya ini. dia tidak bisa apa apa. Ia membutuhkan nya sekarang. Hatinya terasa teriris saat melihat bukan suaminya yang berada di samping nya.
"Haus mas" ucap Dewi lirih, tapi Erik bisa mendengar nya.
Diraih nya gelas itu dan membantu Dewi meminum nya. Dengan telaten Erik merawat Dewi.
"Kenapa aku di sini mas?" Tanya Dewi menatap Erik disamping nya.
"Kamu tadi pingsan di taman, Edgar kemana? Kenapa kamu sendirian?" Tanya Erik khawatir. Ia juga kesal kenapa Edgar membiarkan Dewi pergi sendirian. Dia sudah berada ditaman sebelum Dewi datang. Dan dia mendengar semua keluh kesah Dewi ditaman tadi.
Dewi menggeleng, raut wajah nya berubah sedih.
Erik mengepalkan kedua tangan nya, melihat wanita yang di cintai nya sedih seperti ini menyulut kan emosi di dadanya.
"Tidak apa-apa aku akan menjaga mu disini. Apa aku kabari ibu saja ?" Tawar Erik dan di tolak oleh Dewi. Ia tidak mau ibunya mengetahui masalah yang menimpanya.
"Jangan mas tidka usah, jangan beri tahu ibu." Pintanya pada Erik dan langsung di angguki.
Ditengah-tengah pembicaraan mereka pintu ruangan dibuka dengan pelan, tampak dokter wanita tersenyum menatap ke arah mereka.
"Bagaiman keadaan nya Bu? Apa yang dirasakan?" Tanya dokter itu saat sudah di samping Dewi.
"Pusing, mual, pinggang sakit dok." Jawab Dewi.
"Itu hal yang wajar di masa kehamilan seperti ini, selamat ya pak istri anda kemungkinan sedang mengandung. Untuk lebih jelas nya kita bisa melakukan USG nanti ya." Terang dokter itu, memberi selamat pada Erik dan Dewi.
.
.
.
..
__ADS_1
Terimakasih