
Mobil Edgar berhenti di depan rumah nya saat hari sudah tengah malam. Ia menekan klakson mobil nya, tak lama pak Rudi berlari dari dalam pos dengan menyincing sarung yang membelit tubuh nya dari angin malam, buru buru membukakan gerbang untuk Edgar. Pak rudi tidak sempat bertanya, pria paruh baya itu menutup kembali gerbang saat mobil hitam Edgar sudah masuk ke dalam pekarangan rumah.
Dengan kasar Edgar menutup pintu mobil nya dan masuk kedalam rumah, terlihat ana yang berjalan terburu-buru dari dapur saat melihat sang majikan pulang.
"Dimana istri ku?" Tanya Edgar, pria itu berusaha menyembunyikan emosi nya.
"Dikamar pak, baru saja naik." Ana meraih koper yang di berikan Edgar.
"Belum tidur?"
"Belum pak, ibu tadi menonton tv bersama saya. Katanya tidak bisa tidur."
Tanpa berbasa basi lagi Edgar naik menuju kamar nya. Pria itu ingin melampiaskan semua rasa sakit dan kecewa nya.
Dewi sedang mencuci muka di dalam kamar mandi.
"WI ..." samar samar dewi mendengar seseorang menyerukan namanya.
Tak lama keluar dari kamar mandi, Dewi tersentak saat pintu di buka dengan kasar. Muncul wajah marah Edgar dari balik pintu. Suami yang baru saja berangkat tadi pagi dan bilang besok baru pulang sekarang sudah muncul dengan wajah penuh amarah.
"Mas kamu sudah pulang, bukan nya besok baru pulang?" Tanya Dewi, ia berjalan ke arah meja rias tapi suara Edgar menghentikan langkah nya. Dewi menoleh pada Edgar dengan kebingungan.
"Jelaskan padaku apa maksud semua ini wi!" Edgar melempar ponsel nya ke atas tempat tidur dengan kasar.
"Ada apa mas?" Dewi bertanya dengan tenang. Ia berjalan menuju sisi tempat tidur dimana Edgar melempar ponsel nya.
Wajah sederhana dan tenang istri nya yang biasanya membuat nya tergila-gila kini sanggup memancing emosi Edgar.
"Kamu lihat sendiri, apa isi di dalam video itu. Setelah itu jelaskan padaku apa yang sebenarnya. Apa yang kamu sembunyikan dari ku ? Apa yang kamu rencanakan?. CEPAT! aku tidak bisa menunggu. Selama ini aku sudah sangat percaya padamu wi! Dan kali ini apa yang kamu sembunyikan dariku?" Titah Edgar dengan wajah memerah, kedua tangan nya mengepal menjuntai di kiri dan kanan tubuhnya.
Dewi meraih ponsel Edgar dan mencari tahu apa penyebab meledak nya sang suami. Dewi sudah terbiasa dengan amarah Edgar tapi amarah yang seperti ini baru di lihat nya kali ini saja.
Dengan lincah tangan Dewi berselancar di ponsel Edgar walaupun dengan gemetar.
Seketika ponsel itu berubah terang. Dewi mengusap layar itu ke atas, ia membeku saat ponsel Edgar ternyata tidak terkunci.
Muncul foto pernikahan nya dulu dengan Edgar, Dewi tersenyum Ia bisa leluasa mengakses semua aplikasi di ponsel milik sang suami.
"Buka video paling atas, dan jelaskan padaku apa yang sebenarnya!" Titah Edgar saat melihat istri nya kebingungan harus membuka aplikasi yang mana.
Dengan lincah, kuku tanpa polesan kutek itu membuka video yang di maksud Edgar.
Dewi gemetar saat mengetahui apa yang menjadi penyebab kemarahan Edgar. Cukup melihat video nya saat Erik berlutut dan mengelus perut nya, Dewi sudah tahu apa yang membuat Edgar murka dan menggila padanya.
"Mas maafkan aku ..." Dewi buru buru meraih kedua tangan Edgar.
__ADS_1
"Mas jangan marah, aku juga kaget saat mas Erik tiba tiba berlutut dan mengelus perut ku..." Dewi berusaha menjelaskan tapi dia bingung. Ia akui yang di lakukan nya salah tapi dia juga terkejut atas perlakuan Erik padanya.
"Mas jangan marah, kalau aku salah aku minta maaf..." Melihat Edgar membeku dan tidak bereaksi, dewi segera memeluk erat pinggang Edgar. Ia rebahkan kepala nya pada dada bidang suaminya. Berharap perlakuan manis nya bisa meluluhkan dan melunakkan amarah Edgar.
Edgar diam dan tidak bereaksi. Edgar membeku dan tidak membalas pelukan Dewi. Beberapa menit dalam posisi seperti ini Edgar akhirnya membuka suara.
"Bayi siapa itu?" Tanya Edgar tiba-tiba. Pertanyaan singkat tapi sanggup membuat Dewi terpukul.
"Mas ..." Dewi menguraikan pelukan nya saat dirasa percuma bersikap manis. Emosi dan amarah Edgar terlanjur menguasai suaminya.
"BAYI SIAPA ITU?" Edgar bertanya dengan keras, memandang perut besar istri nya.
Dewi tersentak dan diam. Sejenak pertanyaan suaminya sanggup menusuk jantung nya.
"Siapa ayah bayimu? Kamu tidur dengan siapa saja selama aku di Singapura?" Tanya Edgar dengan wajah datar, tidak ada kelembutan di dalam suaranya.
"Aku tidak tidur dengan siapa-siapa selain dengan mu mas." Dewi menjawab dengan suara bergetar. Pertanyaan suaminya melukai hatinya.
"Apa itu bayiku? Atau bayi Erik?. Aku tidak tahu apa saja yang kamu lakukan dengan nya saat aku tidak ada." Edgar tersenyum licik.
"Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan mas Erik. Dia hanya membantuku mencarikan rumah dan beberapa kali mengantarku periksa bulanan saat di Bandung."
"Tapi kamu mencintai nya kan wi, aku bisa melihat dari matamu saat dia keluar dari cafe dan tiba tiba berlari memeluk mu lalu mengutarakan perasaan cinta nya yang masih sama seperti dulu. Dan kamu juga bialng kalau kamu menyayangi nya." Edgar mengeraskan wajahnya, hatinya teriris-iris saat melihat istri nya di peluk oleh laki laki lain dan tidak menolak.
"Kamu berhianat dari ku saat masih terikat pernikahan dengan ku wi. Apa ini alasan mu ngotot meminta cerai dariku. Apa tidak bisa menunggu sebentar lagi kalau kamu ingin bermesraan dengan nya?" Dua bulir air mata jatuh membasahi pipi pria itu.
"Katakan bayi siapa itu, wi?" Tegas Edgar.
"Aku pastikan ini bayi mu mas, aku hanya tidur dengan mu. Kalau mas tidak percaya kita bisa tes DNA. Kalau ini bukan bayi mu, kamu boleh menceraikan ku. Aku tidak akan menuntut harta mu mas." Dewi berkata pelan, kedua tangan nya masih memeluk erat pinggang suaminya.
"Sebegitu tidak sabar nya kamu ingin bercerai dariku, wi?" Edgar tersenyum kecut. " Tidak menuntut harta ku karena kamu sudah mendapatkan laki laki yang sama kaya nya seperti ku kan..." Edgar sengaja melontarkan kata-kata menyakitkan untuk melampiaskan rasa sakit hati nya.
"Aku tidak ingin bercerai darimu mas" ucap Dewi di tengah nafas memburu suaminya.
"Apa ini termasuk drama yang kamu mainkan?"
"Tidak mas, aku sungguh tidak ingin bercerai dari mu. Aku menganggap mas Erik seperti kakak ku sendiri. Tidak lebih" ucap Dewi di sela pelukan nya.
Edgar diam, tidak menjawab perkataan istri nya. Dewi pun sama ia menikmati nafas memburu suaminya yang di selimuti rasa sakit hatinya. Edgar tidak bisa berpikir jernih rasa sakit hati itu memeluk nya erat Sampai ia kesulitan bernafas.
"Keluar!" Edgar menghempaskan tangan Dewi yang membelit pinggang nya.
"Hah?" Dewi bingung.
"Keluar dari kamarku!" Usir Edgar menyeret istrinya. Membuka pintu kamar dan mendorong Dewi dengan kasar.
__ADS_1
"Mas maafkan aku mas" Dewi tersentak tepat di depan pintu yang dibanting dengan keras. Edgar mengunci diri di dalam kamar.
"Mas ..."
"Mas buka pintu nya! jangan seperti ini" Dewi masih berusaha mengetuk pintu dan mengajak Edgar berbicara.
"Mas tolong buka pintu nya. Ayo kita selesaikan dulu semuanya mas..."
"Mas ..."
Dewi mengepalkan tangan di udara, hendak mengetuk pintu kamar saat daun pintu kembali terbuka lebar.
"Mas.." Dewi tersenyum saat melihat Edgar berdiri di depan pintu. Sesaat senyuman itu lenyap beriringan dengan baju baju nya yang di lempar keluar memenuhi lantai.
"Mulai detik ini jangan pernah menginjakan kaki mu di kamar ku lagi!" Tegas Edgar, dengan telunjuk mengarah tepat di depan wajah Dewi. Tidak ada senyuman, aura dingin dan kemarahan memenuhi wajah tampan Edgar.
"Silahkan menempati kamar kosong di rumah ini, tapi jangan di kamar lantai atas ini! Dan jangan pernah masuk ke kamarku, wi!" Tegas Edgar masih belum puas.
"Selama menunggu sampai bayi itu lahir, kamu bebas melakukan apa saja. Tidak perlu melakukan kewajiban mu sebagai istriku, wi. Setelah bayi itu lahir ku pastikan akan memberikan surat cerai sesuai permintaan mu. Kalau bayi itu milik orang lain, kamu boleh membawanya. Tapi Kalau bayi itu milik ku, pergi dari sini dan jangan pernah membawanya! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!"
"Tapi aku tidak ingin bercerai dari mu mas" dua bulir air mata turun membasahi pipi gembul ibu hamil itu. Menunduk ke lantai ia memandang sedih semua pakaian nya yang tadi di lempar Edgar.
"Cukup wi! Aku tidak mau mendengar semua sandiwara mu lagi!" Tegas Edgar lalu menutup pintu dengan keras.
Dari tangga ana yang membawa air putih serta vitamin Dewi, terdiam membeku. Ia menatap sedih pakaian yang berserakan di dekat kaki majikan nya. Ia sudah berdiri di sana sejak tadi , sejak Edgar menyeret istri nya keluar dari kamar nya.
Dewi berlutut memunguti semua pakaian nya. Saat berjalan menuju tangga ia terdiam saat melihat ana berdiri di sana.
"Bawa ke kamar bawah saja mba ana." Titah Dewi.
Ana menurut, ia berjalan di belakang Dewi dengan tatapan sendu. Merasa kasihan pada sang majikan tapi ia tidak mau ikut campur. Cukup tahu diri posisi nya di rumah ini.
***
Di tempat yang lain, terlihat seorang wanita yang menyerahkan amplop coklat pada seoarng pria dengan pakaian serba hitam.
"Ini bonus sesuai janji ku. Pekerjaan mu kali ini Bagus sekali. Aku puas dengan hasil nya." Ucap wanita itu yang memegang segelas wine di tangan nya.
"Terimakasih nyonya risa, apa selanjut nya masih perlu pengawasan lagi pada Bu Dewi?" Tanya pria ber topi hitam itu.
"Sudah cukup, aku yakin setelah ini akan berjalan sesuai keinginan ku. Kamu boleh pergi sekarang." Titah Risa dengan senyum licik di bibir nya.
"Baik, permisi nyonya. Senang bekerja sama dengan anda."
Setelah kepergian pria itu, Risa menatap kembali foto-foto Dewi dan Erik yang di ambil orang suruhan nya.
__ADS_1
"Ternyata kamu tidak sepolos wajah mu ya wi"