Aku Vs Masa Lalu Suamiku

Aku Vs Masa Lalu Suamiku
extra part 3


__ADS_3

Suasana rumah tampak kembali tenang saat orang tua Edgar dan Dewi sudah pulang. Akhirnya suami istri itu bisa bernafas lega.


"Aku tidak bisa membayangkan jika mba ayu benar-benar membawamu pulang dan memisahkan kita. Aku tidak sanggup sayang." Ucap Edgar yang sedang tiduran dan menjadikan paha istri nya sebagai bantal.


Dewi mengusap rambut Edgar lembut, Menundukkan pandangan nya menghadap sang suami.


"Bukankah kamu baik-baik saja selama ku tinggal mas?"


"Tidak!, Aku bisa menggila sayang. Untung saja pria tua itu memberi tahu keberadaan mu sebelum aku benar-benar menjadi gila!" Geram Edgar, sampai sekarang ia masih kesal dengan pak Hardi yang menghapus semua jejak istrinya.


"Pria tua?" Tanya Dewi bingung.


"Ya, pak Hardi. Ayah nya Risa, dia memberitahu keberadaan mu padaku tapi dengan imbalan." Edgar segera menutup mulut nya rapat saat merasa keceplosan.


"Imbalan?" Dewi memicingkan matanya, merasa ada yang tidak beres."Imbalan apa mas?" Dewi semakin penasaran.


Edgar bangkit dan duduk di samping Dewi, ia raih tangan istri nya dan menggenggam nya erat. Membuat Dewi merasa ada sesuatu.


"Aku akan bilang padamu tapi aku mohon kamu jangan marah." Pinta Edgar, tatapan nya tulus memohon.


Dewi melepaskan tangan nya dari genggaman Edgar, perasaan nya tiba-tiba tidak enak.


"Apa pak Hardi menyuruh mu menikahi Risa dan menjadikan nya maduku?" Tanya Dewi, ia memandang suami nya dengan sorot mata tajam.


Dewi mengernyit kan dahi saat suaminya itu malah tertawa.


"Kenapa tertawa mas? Tidak ada yang lucu!" Kesal Dewi, ia turun dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu.


"Sayang mau kemana?" Edgar mencegah pintu yang sudah sedikit terbuka. Ia cekal dengan tangan nya dan menutup nya kembali.


Dewi tak menjawab pertanyaan suaminya, ia masih kesal karena pertanyaan nya tak dadi anggap serius oleh Edgar.


"Kenapa marah?" Tanya Edgar lembut.


Dewi membuang pandangan ke samping, menghindari tatapan suaminya yang bisa saja meluluhkan amarah nya.


Edgar meraih ujung dagu istri nya agar menatap padanya. Dewi menurut, menatap sorot mata Edgar yang meneduhkan.


"Sampai kapanpun, istriku hanya satu. Yaitu kamu Diandra Dewi."


Tepat selesai mengatakan kalimat itu, Edgar mengecup bibir ranum istri nya yang sudah menjadi candu baginya, membuat dada Dewi berdebar kencang. Ibu hamil itu larut dalam perlakuan lembut suami nya. Yang tanpa sadar kini ia sudah duduk di ranjang. Dan Edgar mengungkung nya.


Melihat Edgar yang hendak membuka baju nya, Dewi segera mencegah. "Mandi dulu mas."


"Nanti saja sayang, setelah ini selesai baru kita mandi bersama." Edgar hendak melanjutkan aktivitas nya tapi Dewi kembali mencegah.


"Apa tidak lelah mas, kita baru saja melakukan perjalanan."


Deg~ "apa kamu lelah sayang? Maaf." Edgar segera merapikan kembali baju istri nya saat akal sehat nya kembali. Sesaat akal sehat nya tadi tertupi oleh hasrat nya yang minta di salurkan. Tapi untung saja istri nya menyadarkan nya. Edgar lupa kalau saat ini istrinya sedang hamil dan baru saja melakukan perjalanan jauh.


"Aku mandi dulu, kamu istirahat saja." Ucap Edgar yang langsung berjalan masuk ke kamar mandi dengan terburu-buru.


Dewi yang masih duduk di ranjang merasa bersalah. Ia tahu suami nya sedang ingin, terlihat dari balik celana nya junior nya sudah sesak merasa ingin keluar.


Tapi kondisi hamil seperti membuat ibu hamil itu tidak bisa egois, karena ada kehidupan lain juga di dalam rahim nya.

__ADS_1


***


Candra jingga sudah berada di atas langit berdampingan dengan bintang yang bertaburan menghiasi malam anak manusia yang sedang gugup menunggu seseorang yang hendak di kenalkan oleh mama nya.


"Kok belum Dateng juga sih ma?" Tanya Alana pada mama nya. Tampak gadis itu sudah tidak nyaman dan ingin segera pergi dari tempat ini.


"Sabar la, sebentar lagi juga datang. Dia itu orang nya sibuk." Jawab Bu Rina, wanita yang tampak masih cantik di usia menuju 50 tahun itu Dengan lincah mengetik di hp berlogo apel tergigit nya.


"Baru mau kenalan aja sudah terlambat, pasti dia tidak serius nih ma. Pulang saja yuk. Lagian Alana masih 24 tahun ma, masih muda masih banyak yang mau kok. Jadi tidak perlu dijodohkan seperti ini." rengek Alana menarik ujung baju mamanya dengan mulut yang terus mengoceh seperti anak kecil.


"Diam la! Mama itu satu tahun lagi sudah umur 50 tahun. Teman-teman mama sudah pada gendong cucu saat arisan. Cuma mama dan Tante Diana saja yag belum. Jadi kami sepakat menjodohkan kalian." Terang Bu Rina, mengabaikan ocehan putri bungsu nya.


"Tapi Abang saja belum menikah ma. Kenapa harus Alana dulu?. Alana ini masih kecil ma."


Bu Rina yang gemas, menyentil kening putri nya hingga anak nya mengaduh.


"Awww, kenapa di sentil sih ma" pekik Alana sambil mengusap-usap dahinya yang terasa panas akibat sentilan sang mama.


"Kamu itu sudah 24 tahun la, bukan anak kecil lagi!. Sudah diam saja dan menurut. Mama yakin kalian ini berjodoh." Bu Rina yang optimis dengan acara perjodohan nya tersenyum senang saat orang yang di tunggu sudah muncul badan hidung nya.


"Rin, maaf terlambat. Ini biasa ada huru hara dulu di rumah " Bu Diana menyapa sahabat karib nya dan mencium pipi kiri dan kanan.


Alana terpaku di tempat nya berdiri saat melihat sosok jangkung di samping Bu Diana. Sosok yang sangat di kenali nya, yang juga terpaku di tempat nya berdiri.


"La, Salim dulu sama Tante Diana." Ujar Bu Rina.


"Eh,, iya selamat malam Tante. Saya Alana." Ucap Alana memperkenalkan diri.


"Wah cantik nya," ucap Bu Diana, mengusap pipi Alana dengan lembut.


"Terimakasih Tante." Alana tersenyum.


Alana menyambut uluran tangan Dava dan tersenyum canggung. "Alana" ucap gadis itu.


Saat kedua ibu-ibu itu sedang sibuk berbincang, Alana melirik Dava yang duduk di samping Bu Diana.


Deg-- dada Alana bergemuruh saat mencuri pandang pada Dava yag kini juga tengah menatap nya. Saking gugup nya Alana meraih segelas jus jeruk dan meminum nya sampai tandas, Sampai suara es batu nyaring terdengar di telinga.


"Kamu haus la?" Tanya Bu Rina menatap putri nya yang masih memegang gelas kosong di tangan.


Dava yang melihat tingkah Alana hanya tersenyum, "kebiasaan" batin Dava, seraya menggeleng-gelengkan kepala nya tanpa mengalihkan pandangan nya pada gadis yang menunduk malu atas kekonyolan yang baru saja di buat nya sendiri.


"Dava Bekerja dimana?" Tanya Bu Rina, ia menatap kagum pada sosok Dava. Sejak pertama melihat foto nya. Bu Rina yakin Dava akan menjadi menantu nya.


"Di perusahaan permana gruph sebagai asisten pribadi CEO." Jawab Dava, ia tersenyum menatap kemiripan antara ibu dan anak di depan nya ini.


"Oh permana gruph" ujar Bu Rina, saat otak nya mengingat sesuatu Bu Rina lantas menoleh pada putri nya."itukan perusahaan tempatmu bekerja juga la."


Alana hendak menjawab tapi sudah keduluan Dava. "benar Tante, saya sudah mengenal dekat Alana. Ruangan saya berada satu lantai dengan Alana."


"Wahh ini tanda-tanda Din, anak kita berjodoh" teriak Bu Rina sumringah tak kalah dibalas antusias oleh Bu Diana juga.


"Benar Rin, bagaimana kalau langsung kita nikah kan saja"


"Hah!" ~dava

__ADS_1


"Hah!" ~alana


Dava dan Alana terkejut bersamaan mendengar penuturan Bu Diana. Mereka berdua saling pandang dengan tatapan bingung.


***


Edgar yang berada di ruang kerjanya dikejutkan dengan suara pintu di ketuk.


Muncul istri nya yang berjalan menghampiri.


"Mas sudah larut malam, apa belum selesai pekerjaan mu?" Tanya Dewi menghampiri Edgar.


"Aku akan cuti untuk 3 hari kedepan sayang. Jadi ada beberapa pekerjaan yang harus aku kerjakan. Ini sudah selesai kok. Kamu belum mengantuk?" Edgar memandang jam dinding, waktu sudah menunjukan pukul 22:30


"Aku tidak bisa tidur mas," ucap Dewi, suaranya manja mendayu. Membuat dada Edgar bergemuruh.


"Baiklah ayo kita tidur." Edgar mengajak istri nya masuk kedalam kamar mereka.


Di dalam kamar, Edgar yang sedang duduk di tepi ranjang dikejutkan dengan sikap istri nya yang tanpa malu-malu membuka outer yang menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan baju tidur tipis tanpa lengan.


"Apa badan ku tidak bagus lagi mas?" Dewi berdiri di depan Edgar sambil memutar badan nya ke kiri kanan.


Glek_ Edgar menelan Saliva dengan susah. Melihat istrinya dengan busana seperti ini sanggup membuat nya junior nya berdiri.


"Bagus kok, masih tetap cantik dan mempesona." Edgar berulang kali mengatur nafas nya saat istri nya dengan polos nya berlenggak-lenggok memperhatikan tubuh nya.


"Kamu bohong ya, badan ku membengkak seperti ini masa di bilang mempesona" komplen ibu hamil itu, merasa ucapan suaminya itu hanya bohong semata.


"Benar sayang aku tidak bohong." Edgar tersentak saat tiba-tiba istrinya mendekat ke arah nya. Tatapan menggoda sang istri membuat nya semakin belingsatan.


"Kamu sengaja menggoda ku wi?" Edgar sudah tidak kuasa menahan gejolak nya saat tangan lentik sang istri mengusap dada nya.


"Kan kamu tadi yang menginginkan nya." Bisik ibu hamil itu di telinga sang suami membuat bulu kuduk Edgar berdiri.


Melihat Edgar yang tidak bereaksi, Dewi menjauhkan diri dari Edgar dan meraih outer nya. " Yasudah kalau tidak mau."


Baru saja hendak memakai outer nya kembali, Edgar sudah mencekal tangan nya.


"Siapa bilang tidak mau?, Aku sudah menhan nya sejak sore."


Tanpa basa basi Edgar ******* bibir istri nya, tangan nya tak tinggal diam. Mengusap punggung polos istri nya dengan lembut.


Dituntun nya sang istri ke arah tempat tidur.


Dewi yang sudah terhanyut dengan sikap lembut suaminya hanya pasrah menerima semua kenikmatan yang diberikan Edgar


Hamil membuat semua bagian tubuhnya menjadi lebih sensitif saat di sentuh.


Edgar memandang tubuh polos istri nya, ia merasa semenjak hamil istri nya ini tampak lebih mempesona dan menggoda.


Ia kecup bibir istri nya dengan lembut, sampai tiba-tiba istri nya melepas pangutan itu dan naik ke atas tubuh nya.


Dengan malu-malu Dewi menatap suaminya, "aku yang pimpin kali ini mas"


Edgar terhenyak sebentar, ia masih mencerna apa yang dilihat nya saat ini. Istri nya menjadi lebih agresif dan mau memimpin percintaan mereka.

__ADS_1


"Dengan senang hati, aku akan menikmati." Ucap Edgar.


Dan percintaan pun dimulai dengan Dewi yang memimpin. Erang*an dan Des*Han menggema di dalam kamar utama. Menyalurkan hasrat yang lama terpendam. Saling berbagi sentuhan dan kehangatan, keduanya mengakhiri percintaan panas mereka dengan saling berpelukan.


__ADS_2