Aku Vs Masa Lalu Suamiku

Aku Vs Masa Lalu Suamiku
bab 45


__ADS_3

Edgar menoleh ke arah istri nya, tidak terlihat pergerakan apapun pertanda istri nya sudah tidur. 


 "selamat tidur sayang. Maafkan aku ya, aku tidak bermaksud membohongimu. Maaf telah membentak mu waktu itu. Apa yang mau kamu katakan waktu itu ya? Aku terus kepikiran selama seminggu ini." Edgar mengusap rambut Dewi dengan lembut. 


Dewi yang sebenarnya belum tidur, mendengar jelas permintaan maaf suami nya tanpa sadar ia sudah meneteskan air mata. Merasa nyaman dengan usapan lembut tangan suami nya Dewi akhirnya pun benar benar terlelap. 


Tengah malam saat sudah memastikan istri nya benar-benar tidur. Perlahan Edgar merengkuh tubuh Dewi membawanya kedalam pelukannya. 


"Nyaman nya..."


Dikecupnya kening istri nya lembut. Edgar memandang istri nya dalam, menyembunyikan rambut yang menutupi wajah istri nya kebelakang telinga. 


"Aku merindukan mu, sangat merindukan mu. Bersabar sedikit lagi ya sayang ku pastikan setelah itu aku akan hanya fokus padamu." 


_______ 


Pagi hari, Edgar terbangun saat mendengar bunyi hairdryer. Dia mengerjapkan mata sembari duduk menyandarkan punggung nya pada sandaran tempat tidur. 


Melihat istrinya yang sudah berpakaian rapi, membuat rasa penasaran muncul di pikiran nya. 


"Kamu mau kemana?" Tanya Edgar dengan suara serak nya khas bangun tidur. 


Dewi mematikan hairdryer nya, menatap pantulan dirinya di cermin. Lalu mengoleskan pelembab dibibir nya. 


"Mau ke luar kota," jawab dewi singkat. 


Edgar terkejut lalu meloncat turun dari kasur menghampiri istrinya.  


"Kemana? Sama siapa?" Tanya Edgar penasaran. 


"Sendiri," lagi lagi menjawab singkat. 


"Mau ngapain, ada urusan apa?"  


"Aku mau buka cabang usaha ku." Jawabnya lalu berdiri, keluar dari kamar nya. Sesaat ia kembali membawa pakaian Edgar yang semalam ia cuci. 


"Ini pakaian mu mas, sudah di setrika ibu . Aku tidak sempat." Menyerahkan pakaian Edgar. 


"Aku akan mengantar mu, tunggu aku." Edgar meraih pakaian nya dan masuk ke dalam kamar mandi. 


Secepat kilat laki laki itu sudah siap tapi penampilan nya lain dari biasanya. Dewi menatap suami nya itu dengan mulut terbuka. 


Penampilan suami nya yang biasanya rapi kali ini tidak. Kemeja yang dimasukan asal-asalan, rambut yang masih basah belum tersisir rapi dan apa itu ...  


"Ya ampun mas ... Tidak perlu terburu buru, lihat itu celana mu. Cepat tutup! Nanti dia bisa terbang mengelilingi komplek ini!" Omel Dewi ia tertawa melihat penampilan konyol suami nya apalagi melihat resleting celana suaminya yang masih terbuka. Dia tidak bisa membayangkan jika tadi tidak menyadari nya.  

__ADS_1


Edgar menoleh pada celana nya, dengan segera ia menarik resleting celana nya memastikan yang di dalam tidak bisa kabur kemana pun. 


Edgar membukakan pintu mobil untuk istri nya sekaligus memasang kan sabuk pengaman, sebelum keluar Edgar menyempatkan mencuri ciuman dari bibir mungil istrinya. 


"Mas..." Dewi memukul bahu Edgar pelan. Pipinya bersemu merah kala mendapati Mia tengah memandang mereka dari teras rumah. "Ada Mia mas, kamu ini tidak tahu tempat" omel Dewi. 


Edgar hanya terkekeh, "kalau aku meminta langsung pasti kamu akan menolak dengan berbagai alasan. Jadi ku curi saja" Edgar tergelak melihat Dewi yang memberengut kesal. 


"Jangan pasang wajah seperti itu atau aku akan menggigit mu disini" ancam Edgar tersenyum usil. 


Sedangkan Dewi hanya bisa menahan rasa kesal nya. 


 Di dalam mobil keduanya tidak ada yang berbicara. Hening. 


Edgar melirik istri nya dia mengetuk-ketukan jemari nya di stang mobil. Seperti sedang berfikir. 


"Kita mau kemana?" Tanya Edgar akhir nya memecah keheningan. 


"Kerumah teman lama ibu" Dewi mengambil hp nya di dalam tas. 


"Teman ibu kamu yang akan menjalankan usaha mu?" Tanya Edgar lagi. 


"Bukan, teman anak nya yang mau menjalankan nya. Kenapa?" Dewi menatap Edgar ia merasa seperti nya itu hanya basa basi suami nya. 


"Sebenarnya apa mau mu?"  


"Aku hanya mau istri ku kembali kerumah itu saja."  


Dewi memutar bola matanya dengan malas. "Aku akan pulang kalau kamu hanya memprioritaskan aku saja!" 


"Ayolah wi, Risa itu hanya punya waktu sebentar. Aku melakukan ini hanya karena rasa kemanusiaan tidak lebih. Aku jamin tidak ada perasaan apapun terhadap nya." jawab Edgar meyakinkan istrinya. 


"Cih, itu hanya alasan mu saja kan. Aku tidak mau membahas nya." 


Edgar menghela nafas kasar, ia mengalah kali ini. Tidak mau berdebat dengan istri nya yang entah sejak kapan menjadi susah di atur. 


Sekitar dua jam, mobil Edgar sudah masuk ke dalam kota yang dijuluki kota kembang itu. Bermodal maps yang ada di hp istri nya akhir nya Edgar bisa lega saat memasuki komplek perumahan. 


"Sayang bangun, kita sudah sampai .." Edgar mengusap pelan pipi istri nya, istri nya bukan tipe orang yang susah dibangunkan terbukti wanita itu sudah mengerjapkan mata perlahan dan menguap. 


"Ah, sudah sampai ya." Dewi menatap sekeliling tampak rumah berjejer dengan rapi. 


"Masih maju sedikit lagi mas, rumah nya paling ujung sana." Titah Dewi memberitahu Edgar. 


Edgar dan Dewi turun dari mobil, menatap halaman yang lumayan luas di depan nya. Rumah sederhana tapi terlihat asri. Tak lama muncul seseorang dari dalam rumah menghampiri Dewi dan membukakan pagar. 

__ADS_1


"Dewi... Apa kabar?" Ibu Rumi memeluk erat Dewi. Ia tidak menyangka putri bungsu teman nya ini sudah tumbuh menjadi wanita yang cantik. 


Bu Rumi menatap laki laki di samping Dewi, ia menelisik dari atas sampai bawah. 


"Baik Bu, ah iya ini kenalin mas edgar suami Dewi."  


"Saya Edgar Bu, suami Dewi" ucapnya memperkenalkan diri. 


"Ayo masuk, di luar panas." Ajak Bu Rumi. 


Langit ke emasan sudah menampilkan pesona nya. Pertanda sore sudah menjemput. Dewi dan Edgar sudah berada diperjalanan pulang setelah menyelesaikan urusan nya. 


Mobil Edgar sudah memasuki ibu kota saat hari sudah gelap, sekarang mereka sedang berada di taman. 


"Kalau malam suasana nya lebih hangat ya mas, lihat mereka terlihat bahagia sekali ya." Tunjuk Dewi pada satu keluarga yang sedang bermain dengan putra putri mereka. 


Edgar ikut menatap nya, seketika hatinya terasa seperti ada yang menelusup. Ia memandang Dewi disamping nya. Sang istri sedang tersenyum dengan manis nya. Selama beberapa hari tidak bertemu istri nya Edgar merasa ada perubahan dalam tubuh istri nya. Pipi yang terlihat lebih cabi dan badan Dewi yang terlihat sedikit berisi. 


"Kenapa ngelihatin aku kayak gitu?" Tanya Dewi memicingkan mata menatap tajam suami nya. 


"Tidak apa, kamu seperti nya tambah berisi ya wi." Ceplos Edgar. 


"Hei, bilang saja kalau aku ini jadi gemuk. Tidak usah di balut dengan kata sehalus itu." Dewi mengerucutkan bibir nya menatap kesal sang suami. 


"Sayang kenapa omongan ku selalu saja salah di matamu. Aku tidak bermaksud bilang kalau kamu itu gemuk. Hanya sedikit ber ..." Belum sempat melanjutkan kalimat nya, Dewi sudah melotot tajam pada arah suami nya. 


"Baiklah, aku akan diam." Putus Edgar mengalah. Entah kenapa ia merasa sifat istrinya semakin berubah, lebih keras kepala dan susah di atur. 


Dewi terus saja memandangi keluarga bahagia yang tak jauh dari tempat nya duduk. Refleks dia mengusap perut nya. 


Edgar yang melihat Dewi mengusap perut nya lantas memicingkan mata, perasaan tadi mereka sudah makan apa iya istri nya lapar lagi begitulah kira kira yang ada di pikiran Edgar. 


"Kamu lapar Atau sakit perut? Kenapa memegangi perut mu seperti itu?" Tanya Edgar menatap heran pada istri nya. 


"Aku ... Aku tidak apa apa." Dewi menatap lekat suaminya dengan hangat. 


"Kamu tahu mas, hari ini aku bahagia sekali bisa bersamamu." Imbuh Dewi. 


"Kamu bahagia, aku jauh lebih bahagia karena bisa melihat senyum mu kembali. Kamu itu sangat cantik saat tersenyum wi." Edgar tersenyum tangan nya membelai rambut istrinya dengan lembut. 


"Aku ingin kamu selalu ada untuk ku dan ..."  Dewi menatap Edgar dengan intens, ia ragu akan memberitahu kan kehamilan nya pada suaminya. 


"Dan apa wi?" Tanya edgar kening nya mengkerut. 


"Ah tidak apa," Dewi memalingkan wajah nya ... 

__ADS_1


__ADS_2