Aku Vs Masa Lalu Suamiku

Aku Vs Masa Lalu Suamiku
bab 63


__ADS_3

2 Minggu berlalu, Edgar memutuskan untuk membawa istri nya kembali ke ibu kota. Masalah di cabang Bandung sudah selesai, semua sudah kembali normal. Kinan yang masih tertinggal di kota Bandung itu di percaya Dewi untuk mengurus segala kebutuhan cafe.


Duduk di tepi ranjang, fikiran Dewi mengembara pada 3 hari yang lalu. Suaminya itu tidak membawanya ke rumah yang dulu ia tinggali. Edgar membawa istri nya ke rumah baru. Rumah yang di desain khusus oleh dia sendiri dan sesuai selera istri nya. Dewi tersenyum, mengingat perubahan Edgar beberapa Minggu ini.


Tapi hati nya seketika mencelos saat mengingat perceraian yang di janjikan Edgar kurang dari 3 bulan lagi. Masih dengan fikiran nya yang mengembara Dewi menoleh saat suara pintu kamar mandi terbuka dari dalam. Muncul pria tampan dengan handuk melilit pinggang dan rambut nya yang basah berjalan menghampiri nya.


Terlihat sangat segar dan tampan, sesaat Dewi terkesima melihat suami nya sampai tidak menyadari Edgar sudah berdiri di hadapan nya dengan senyum yang memabukkan itu.


"Ini Dede bayi nya yang pengen ngelihatin terus papa nya atau mama nya nih yang pengen ngelihatin?" Edgar tergelak, tangan nya mengelus perut buncit istri nya.


Dewi tersentak seketika sadar hal konyol yang tengah di lakukan nya. Pipi ibu hamil itu memerah malu.


"Selamat pagi anak papa, maaf ya papa hari ini berangkat pagi sekali. Ada meeting penting dengan klien. Tapi papa pastikan pulang cepat..." Ucap Edgar pada anak nya yang masih meringkuk di dalam rahim sang istri. Tangan nya mengelus perut istrinya dengan lembut.


"Mas jangan seperti itu, geli ..." Dewi tergelak merasakan geli di pusar nya yang sedang di mainkan Edgar dengan telunjuk nya.


"Cukup mas, ini pakai bajumu kasihan Dava sudah menunggu di depan."


"Baiklah," Edgar bangkit dari berlutu nya dan memakai pakaian yang sudah di siapkan Dewi. Tidak ada canggung lagi di antara mereka, Edgar dengan nyaman berpakaian walaupun di depan istri nya dan Dewi juga sudah terbiasa akan hal itu.


Rumah tangga mereka sudah bisa di bilang harmonis walaupun terbayangi dengan perceraian beberapa bulan lagi. Edgar dan Dewi melakukan semua nya Dengan sangat sempurna. Walaupun ada rasa mengganjal di hati Dewi yang ingin Dewi katakan pada Edgar.


"Aku pasangkan mas" dengan telaten Dewi memasangkan dasi di leher Edgar. Pria itu sedikit membungkuk agar istri nya tidak susah payah berjinjit.


"Apa aku sudah kelihatan tampan nyonya?" Tanya Edgar dengan senyum jahil di bibir nya.


"Sudah mas"


"Tapi seperti nya ada yang kurang" ucap Edgar membuat istrinya mengerutkan dahi mencari apa yang kurang dari penampilan suami nya.


Edgar menepuk-nepuk bibir nya dengan jari telunjuk, tatapan yang memohon menyempurnakan aksi nya.


Dengan cepat Dewi mencium bibir Edgar, cup,,


"Kalau hanya seperti itu tidak bisa membuat semangat sampai sore sayang, paling hanya sampai jam 10 pagi dan selanjutnya aku akan lemas dan tidak bertenaga karena tidak puas dengan ciuman mu." Protes Edgar dengan gelak tawa yang membuat istri nya malu.


"Baiklah kemari"


Dewi langsung mencium bibir Edgar agak lama. Tapi kesempatan itu tidak di sia siakan oleh Edgar. Di tekan nya tengkuk istri nya agar memperdalam ciuman. Digigit nya bibir istri nya yang tidak mau terbuka dan langsung menerobos masuk kala bibir istri nya terbuka. ******* nya dengan sangat lembut, sampai istri nya terbuai dan mengalungkan tangan nya di leher sang suami.


"Sudah mas" ucap Dewi setelah melepas ciuman nya. Ada tatapan kecewa dari wjaah tampan suami nya.


"Ayo turun, Dava pasti sudah lama menunggu."


"Dia pasti sedang enak-enakan ngopi wi, tidak perlu mencemaskan nya." Tutur Edgar, ia masih merasa belum puas dengan ciuman tadi.


Berjalan beriringan menuruni tangga, pria itu dengan sigap memegang tangan istri nya membantu nya turun.


"Kapan jadwal periksa kandungan nya?" Tanya Edgar


"Seminggu lagi mas"


"Berarti hari Rabu ya, baiklah aku akan meluangkan waktu untuk hari itu."


***


Selama 6 jam di sibukkan dengan berkas memenuhi meja, edgar melirik jam ditangan nya sudah waktu nya makan siang. Baru saja hendak menggapai hp di samping laptop Edgar menoleh saat pintu ruangan nya di buka dari luar.


Muncul gadis cantik dengan rambut panjang nya yang di kuncir berjalan dengan anggun nya menuju meja kerja Edgar.


"Bisakah lain kali ketuk pintu dulu sebelum masuk sa, ini bukan kantor mu bersikap lah seperti karyawan lain. Bahkan istri ku saja mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke ruangan ku." Tegur Edgar pada Risa, merasa sedikit terganggu jika ada yang tiba tiba langsung masuk ke ruangan nya.


Risa hanya tersenyum malu menanggapi teguran Edgar, "maaf, lain kali aku akan mengetuk pintu dulu."


Edgar menghela nafas pelan "ada apa sa, kenapa masih ada disini?" Tanya Edgar. Meeting sudah selesai beberapa jam lalu tapi Risa masih saja betah di kantor nya


"Aku membawakan mu makan siang" Risa menunjukan kotak makanan di tangan nya.


"Lain kali tidak usah berlebihan sa, kita hanya partner kerja bersikaplah seperti senormal nya partner kerja. Aku tidak mau karyawan ku yang lain berfikiran yang tidak-tidak."


"Baiklah, jangan terlalu serius gar aku juga tidak setiap hari seperti ini kan. Apa aku salah bersikap baik dengan pria yang dulu pernah ada di hati ku." Ujar Risa santai.

__ADS_1


"Apa maksud mu?" Edgar menatap tajam Risa yang melangkah kan kaki mendekati nya. "Menjauh dari ku sa, atau aku usir kamu dari sini."


"Lakukan saja, akan aku tarik semua investasi yang aku tanam di perusahaan mu." Wanita itu tersenyum sinis saat melihat Edgar yang semakin kesal.


Memang perusahaan papa Risa yang paling banyak berinvestasi, tapi Risa memanfaatkan kekuasaan papa nya untuk mengikat Edgar agar selalu bisa berada di dekat nya.


Sedangkan Dewi yang baru saja sampai di depan kantor Edgar, ibu hamil itu turun dari mobil yang di kendarai Danu sang sopir. Dengan menenteng rantang makanan di tangan kanan nya. Ibu hamil itu tersenyum menyambut sapaan sang satpam yang membukakan pintu untuk dewi. Masuk ke dalam perusahaan sang suami, Dewi sudah terbiasa dengan suasana kantor Edgar. Terlihat Beberapa karyawan Menundukkan kepala saat berpas-pasan Dengan sang istri pemilik perusahaan.


Tapi sekilas Dewi melambatkan kaki nya ketika ada beberapa karyawan yang sednag berbincang dengan rekan kerja mereka.


"Apa kamu tahu, pak Edgar dan anak pemilik perusahaan HRD grup sampai sekarang masih terlihat dekat. Sering datang untuk makan siang bersama tak jarang juga Bu Risa membawakan makan siang untuk pak Edgar." Ucap karyawan 1 yang bernama Mona.


"Apa mungkin belum bisa move on beb, maklum cinta pertama kan susah di lupakan." Sahut karyawan 2 yang bernama mini.


"Iya bener itu. Apalagi mereka berdua itu pasangan yag serasi sekali. Cantik dan ganteng, sama-sama pintar dan keluarga Sultan semua Beb." Sahut Mona menyetujui.


"Tapi pak Edgar kan sudah punya istri, istri nya juga cantik dan masih muda cuma kalah di materi saja." Sahut Rubi yang tiba-tiba ikut nimbrung.


"Urusan seperti ini sudah biasa di kalangan sultan kali rub, istri untuk di rumah dan yang di kantor beda. Apalagi pak Edgar ganteng banget siapa sih yang bisa nolak." Mona sang tukang gosip semakin mengompori.


"Apa karena istri pak Edgar sedang hamil, makanya pak Edgar dekat lagi dengan Bu Risa. Secara laki laki normal seperti pak Edgar mana bisa tahan nggak HB. Dan lusa proyek di Banten perlu pengawasan langsung dari mereka berdua. Tambah Deket kan jadi nya." Sahut mini dengan segala perspektif nya sendiri.


Ketiga karyawan wanita itu masih saja bergosip tanpa menyadari tak jah dari mereka ada sang istri pimpinan mereka. Ketiga karyawan itu terkejut saat ada berkas yang di lempar dengan keras di depan meja.


Brakk!


"Kalian disini mau kerja atau bergosip?, Urusi urusan kalian sendiri!" Ucap Dava tegas.


Dava menoleh pada Dewi yang berdiri mematung. Sontak ketiga karyawan itu ikut menoleh mengikuti pergerakan Dava.


Ketiga nya tersentak saat menyadari kebodohan masing masing. Wajah mereka berubah pias, saat melihat tatapan sendu dari istri bos mereka. Ketiga nya menunduk saat mendapat tatapan maut dari Dava.


"Jangan berbicara sembarangan kalau tidak tahu dengan apa yang terjadi sebenarnya. Jaga mulut kalian! kali ini aku maafkan. Berani berbicara yang tidak-tidak lagi jangan harap masih bisa bekerja disini!" Tegas Dava.


"Kembali bekerja!" Titah Dava pada ketiga perempuan itu.


Setelah mnegurus ketiga karyawan nya, Dava menghampiri Dewi yag maaih mematung di tempat nya.


Dewi menurut mengikuti langkah kaki Dava menuju lift.


Di dalam lift, Dewi dan Dava saling terdiam. Ibu hamil itu sedang berperang dengan hati nya. Pembicaraan ketiga karyawan wanita tadi masih mengganggu pikiran nya.


Dava yang menyadari sikap Dewi pun berkata "tidak usah di fikirkan non, mereka hanya bergosip. Cukup percaya pada pak Edgar. Saya yakin pak Edgar tidak pernah macam-macam dengan siapapun termasuk nona Risa. Bukan kah lebih baik berfikir positif agar bayi Anda sehat"


Dewi menoleh pada Dava, ingin menanyakan sesuatu tapi ia ragu.


"Tanyakan saja jika ada yang mengganjal di hati anda." Ucap Dava.


"Apa suamiku lusa ke Banten dengan Risa juga?" Tanya Dewi.


"Iya, ada urusan sedikit disana kira-kira dua hari baru bisa menyelesaikan." Dava memperhatikan Dewi yang menghela nafas.


"Apa anda mau saya terus mengawasi pak Edgar agar dia tidak berbuat macam-macam selama disana?" Dava menyembunyikan rasa ingin tertawa nya saat melihat ekpresi Dewi.


Tidak ada kata iya yang keluar dari bibir ibu hamil itu, tapi Dava bisa menilai dari gerak gerik Dewi.


Perbincangan mereka terhenti saat pintu lift terbuka.


"Silahkan langsung masuk saja non, pak Edgar ada di dalam" ucap Dava mempersilahkan Dewi masuk.


Tapi Dava terkejut saat mendapati Edgar yang tidak hanya sendiri. Ia menatap tajam pada gadi di sebelah Edgar yang sedang menggantung sendok di tangan nya di depan bibir Edgar.


"Sialan Edgar! susah payah aku mencoba meyakinkan istri nya agar percaya padanya, dan sekarang lihat, pria bodoh ini malah berduaan dengan Risa!"


Tak jauh berbeda dengan Dewi, ibu hamil itu memandang suaminya dengan tatapan kecewa.


"Sayang, kamu kesini" Edgar beranjak dari duduk nya dan berjalan mendekati istri nya. Megabaikan Risa yang berdiri mematung di tempat nya dengan tatapan kesal.


Langkah kaki Edgar terhenti saat istrinya bersuara.


"Dava ini buat kamu saja, ternyata suamiku sudah makan siang. Kalau kamu tidak mau di buang saja." Ucap Dewi menyodorkan rantang makanan nya di depan Dava.

__ADS_1


Dava menelan Saliva nya dengan susah saat mendapat tatapan tajam dari Edgar. Memandang rantang makanan yang sudah berada di tangan nya, Dava mengumpat di dalam hati.


"Sayang itu kan bekal makan siang ku, berikan padaku aku akan memakan nya." Edgar merebut rantang dari tangan Dava.


Dengan kesal Dewi merebut rantang makanan dari tangan suami nya.


"Ini buat kamu saja dav!" Dewi menyodorkan kembali rantang makanan itu pada Dava " ayo ambil!" Ucap Dewi saat Dava malah diam saja.


Dava lagi lagi menoleh pada Edgar, dia menciut saat Edgar menatap nya dengan tatapan tajam siap membunuh nya jika menerima rantang makanan itu.


"Situasi macam apa ini! Tadi tidak usah mengantar sampai sini jika terjadi pertengkaran seperti ini. Aku sendiri yang susah. Dasar suami istri nggak jelas, gara gara wanita itu semua nya jadi kacau!"


Dava menoleh pada Risa dengan tatapan sebal. Tapi wanita itu sepertinya malah menikmati pertengkaran di depan nya.


"Kalau kamu tidak mau, biar aku kasih Lala saja!" Putus Dewi, ibu hamil itu henda keluar ruangan tapi tangan nya di cegah Edgar.


"Wi, jangan seperti ini."


"Lepasin! Aku mau pulang!" Dewi berusaha melepaskan tangan nya dari genggaman Edgar.


Melihat kilat amarah di wajah istri nya, Edgar langsung menarik Dewi ke dalam pelukan nya. Dewi terus saja memberontak ingin melepaskan diri.


"Bawa perempuan itu pergi!" Edgar memerintah Dava tanpa bersuara.


Dava yang mengerti langsung menghampiri Risa dan menarik tangan wanita itu keluar dari ruangan.


Setelah memastikan Dava dan Risa keluar Edgar baru melepaskan pelukan nya.


"Jangan marah sayang, kamu lagi hamil. Ya, aku minta maaf. Aku sama sekali belum makan apapun makanan dari Risa. Risa yang memaksa menyuapi ku. Dan untung nya kamu datang." Jelas Edgar berharap istri nya mau percaya padanya.


"Belum? Kalau aku belum datang pasti kamu mau kan dia suapi sama dia!"


Edgar menelan Saliva nya, istri nya salah paham.


"Bukan begitu sayang." Edgar bingung sendiri menghadapi sikap istri nya.


"Kamu masak apa? Ayo makan Wah aku lapar sekali sayang." Akhirnya Edgar mencoba mengalihkan pembicaraan.


Entah kenapa ditanya seperti itu membuat mood ibu hamil itu tiba tiba berubah, ia tersenyum menunjukan rantang makanan di tangan nya. "Aku masak ayam kecap dan sayur brokoli. Ada sambal juga mas tapi yang bikin sambal Bu asih. Aku tidak bisa ngulek." Ucap ibu hamil itu dengan polos nya melupakan apa penyebab kemarahan nya tadi.


Edgar bernafas lega saat upaya nya mengalihkan pembicaraan berhasil.


Dewi berlutut di samping meja karena perut nya yang sudah besar membuat ibu hamil itu kesusahan membungkuk, tangan nya dengan cekatan Membuka satu persatu rantang makanan dan menatanya di atas meja.


Dewi kesusahan Saat hendak bangkit , ia melirik Edgar yang sedang menatap makanan di atas meja dengan tatapan takjup.


"Mas," panggil Dewi dan seketika Edgar menoleh.


Edgar mengerutkan kening bingung dengan istri nya yang masih berlutut.


"Bantuin,,, susah bangun nya mas." Ucap Dewi dengan manja nya.


Seketika Edgar tergelak melihat tingkah istrinya. "Uhh kasihan, perut nya sudah besar. Susah bangun sendiri ya sayang."


Setelah membantu Dewi bangun mereka berdua duduk berdampingan di sofa ruang kerja Edgar.


Edgar mengelus perut besar istri nya yang sudah jalan 7 bulan.


Edgar terkesiap saat perut istri nya terlihat tonjolan. Senyum pria itu mengembang. Disentuhnya tonjolan itu dengan lembut.


"Adek bayi nya menendang wi,,," tanya Edgar mendongak pada istrinya.


"Iya papa, Adek nendang karena lapar dari tadi nungguin papa." Jawab Dewi dengan suara di buat seperti anak kecil.


Edgar terkejut, tangan nya langsung meraih rantang makanan itu.


Menyodorkan sesendok nasi dengan sayur brokoli di atas nya di depan bibir istrinya. Dan dengan cepat Dewi membuka mulut dan langsung melahap makanan itu.


"Makan yang banyak wi, biar adek bayi nya tambah besar dan sehat." Edgar menyendokan lagi nasi di bibir istri nya.


"Kamu juga makan mas, aku suapi." Dewi mengambil sendok dari tangan Edgar. Ibu hamil itu dengan telaten menyuapi suami nya.

__ADS_1


Menikmati acara makan siang bersama yang sedikit terlambat, nasi dan lauk itu akhir nya tandas. Berpindah ke dalam perut mereka. Menyempatkan mengobrol dengan istri nya Edgar bahagia sekali saat melihat langsung anak nya menendang dari dalam perut istri nya. Mereka berdua tertawa bersama menikmati momen itu tanpa mereka sadari ada seseorang yang menatap iri pada mereka berdua.


__ADS_2