
Bu Sri dari dalam rumah membawa nampan berisi teh dan beberapa cemilan yang ia beli dipasar.
"Silahkan, Monggo di cicipi mas Edgar." Ucap Bu Sri dengan ramah nya.
"Terimakasih Bu"
Edgar menatap terus ke arah pintu rumah pak Suryo, mencari keberadaan istrinya. Bu Sri yang mengerti sikap Edgar pun berbicara.
"Dewi sedang mengambil kelengkeng di tetangga, tidak jauh dari sini. Sebentar lagi pasti pulang. Tunggu saja ya mas..." Ucap Bu Sri.
"Mengambil kelengkeng?" Tanya Edgar.
"Ya mas, tadi katanya kepengen sekali kelengkeng. Kebetulan tetangga ada yang punya pohon nya. Dan menawari tadi." Ucap Bu Sri.
Edgar mengangguk, ternyata istri nya sudah sangat nyaman disini. Edgar juga beruntung istrinya bertemu dengan keluarga baik hati. Tapi jujur saja hatinya sedikit mencelos saat ada orang lain yang menuruti keinginan Dewi bukan dirinya.
Tak lama, Bu Sri melihat anak nya dan Dewi sudah sampai.
"Itu mereka sudah pulang" ucap Bu Sri membuat Edgar secepat nya menoleh ke arah Dewi dan danan.
Edgar berdiri dari duduknya "Dewi,"
"mas Edgar!"
Dewi tersentak melihat suami nya, seikat buah kelengkeng yang berada di tangan nya jatuh berhamburan mengenai kaki dan berlarian di tanah. Tubuhnya seakan melemas, tak percaya jika suaminya mengetahui keberadaan. Hatinya merasa belum sanggup untuk bertemu suaminya.
Danan yang berada di samping Dewi dengan sigap memegangi tubuh Dewi yang lunglai, Edgar yang melihat istrinya ikut menghampiri.
"Biar saya saja" ucap Edgar yang di tujukan pada Danan. Tapi Danan tak bergeming.
"Bawa aku masuk kedalam mas Danan." Ucap Dewi, seketika membuat Edgar terkejut dan menjauhkan tangan nya dari tubuh sang istri.
-
Di ruang tamu, semua nya saling terdiam. Danan yang duduk di samping Dewi tidak mempedulikan Edgar yang sejak tadi menatap tajam ke arah nya. Pria itu menggertakan giginya menahan emosi, ia tidak mau Dewi menjadi takut.
Mengepalkan kedua tangan nya, edgar semakin frustasi saat melihat Danan memijit kepala sang istri dan Dewi tidak menolak.
Pak Suryo yang mengerti situasi lantas berbicara.
__ADS_1
"Ayo kita keluar dulu, biarkan mas Edgar dan Dewi berbicara. Baru bertemu pasti banyak yang harus di bicarakan kan." Pak Suryo berdiri, mengajak Bu Sri untuk keluar.
"Danan, ayo keluar biarkan Dewi berbicara dengan suaminya." Ucap Bu Sri melihat Danan yang tak bergeming.
"Danan disini saja menemani Dewi." Ucap Danan, membuat keadaan menjadi tambah canggung.
"Dananjaya sambara!" Panggil pak Suryo dingin.
Danan yang mengerti jika bapak nya sudah memanggil namanya dengan lengkap artinya bapak nya tidak ingin dibantah. Ia memandang Dewi yang juga menatap nya, Dewi mengangguk.
"Aku tidak apa-apa mas. Pergilah." Ucap Dewi.
Seketika Danan berdiri dari duduk nya dan keluar dari rumah menyusul Bu Sri dan pak Suryo. kejadian itu tak luput dari perhatian sorot mata Edgar. bertanya-tanya pada hatinya sendiri. Edgar bisa memastikan jika hubungan Dewi dan danan sudah dekat. apa sekarang ia harus merelakan istrinya?
Sekarang tinggal sepasang suami istri yang masih betah perang dingin. Dewi yang tetap saja memilih diam. Dan Edgar yang bingung mau berbicara dari mana.
Menghela nafas sebentar Edgar mendekati Dewi dan duduk bersimpuh di dekat kaki nya. Dewi tak bergeming, ibu hamil itu seakan tak peduli.
"Apa kalian baik-baik saja selama disini?" Tanya Edgar pada istri nya yang memandang ke arah lain tak mau melihat nya.
Tak ada jawaban dari Dewi, ibu hamil itu membisu.
Edgar tersenyum getir, "rasanya aku tidak pantas untuk hanya sekedar minta maaf padamu, atas semua kesalahan yang berulang kali ku buat pasti membuat mu muak dengan kata maaf dariku." Edgar menatap Dewi yang tetap saja diam. "Tapi walaupun kamu muak sekalipun, aku akan tetap minta maaf padamu. Aku hanya ingin minta maaf padamu"
"Aku sudah memaafkan mu, jadi pulanglah. dan urus semua perceraian kita. aku akan datang di persidangan." Ucap ibu hamil itu dan langsung berdiri dari duduknya.
"Masih ingat dengan permintaan mu?" Tanya Edgar. Membuat ibu hamil itu menoleh padanya, menatap nya bingung.
"Kamu ingin mendatangi kota ini lagi dengan atau tanpa ku kan. Sekarang apa kamu mau berkeliling kota ini lagi dengan ku?" Tawar Edgar.
"Setelah itu aku akan menuruti keinginan mu, aku akan pulang dan mengurus surat perceraian kita seperti yang kamu inginkan." Tutur Edgar, dadanya merasa sesak saat mengatakan kalimat itu. Melihat kedekatan antara Dewi dan danan tadi bisa ia pastikan hubungan keduanya sangat dekat. Dan ia berhasil menahan rasa cemburu yang membuncah di dadanya.
Deg--Mendengar pernyataan Edgar Dewi refleks menyentuh perut nya.
"Aku tidak akan merebut nya darimu, tapi biarkan aku memberinya nama dan sesekali izinkan aku bertemu dengan nya setelah dia lahir. Setidaknya walaupun tidak berada terus di dekat nya aku bisa melihat nya tumbuh dengan baik dan dia mengenalku."
"Jadi maukah kamu mengulang kembali bulan madu kita untuk yang terakhir kali nya sebelum kita benar-benar berpisah?"
***
__ADS_1
Akhirnya Dewi dan Edgar merealisasikan apa yang menjadi keinginan nya. Edgar memilih menyetir mobil sendiri menggunakan mobil pak Suryo. Sebenarnya Edgar ingin sekali bertanya pada laki-laki yang dekat dengan istrinya. Siapa namanya? Ya dananjaya sambara. Tapi pria itu sepertinya tak ikut pulang dengan orang tua nya dan juga Ajeng.
Menikmati jalanan senggang kota Yogya, Dewi menatap pria yang sebentar lagi tidak menjadi suami nya itu. Entah kenapa hatinya ada yang merasa tidak terima. Tapi perceraian itu keinginan nya sendiri. Hatinya bimbang.
"Ehem" Edgar berdehem pelan, saat mengetahui istrinya yang sejak tadi menatap nya.
Dewi yang ketahuan memandang nya diam-diam merasa salah tingkah. Wajah ibu hamil itu seperti udang rebus.
"Berapa lama tidak mencukur brewok mu mas?" Tanya Dewi tiba-tiba. Menelisik penampilan pria disamping nya yang tidak seperti biasnya. Edgar yang biasa tampil rapi dan bersih sekarang berbeda. Bahkan pria itu tidak mencukur brewok nya yang sudah tumbuh, biasanya ia akan mencukurnya sampai bersih.
"Sejak kamu pergi meninggalkan ku" jawab Edgar.
Dewi mengangguk berarti teritung 3 mingguan sejak ia pergi dari rumah.
"Aku tidak punya waktu untuk memperhatikan diriku sendiri wi, aku sibuk mencari keberadaan mu." Imbuh Edgar ia menoleh ke arah Dewi.
"Kamu itu kan bos besar mas, untuk mencari keberadaan ku saja butuh waktu selama ini?. Itu namanya kamu tidak niat mas." Ketus Dewi.
Edgar menarik ujung bibir nya, ia menepikan mobil. "Jadi kalau aku cepat menemukan mu, kamu mau pulang dengan ku dan membatalkan perceraian kita?" Ucap Edgar mendekatkan tubuhnya ke arah Dewi.
Dewi terdiam ia tidak tahu akan menjawab apa. "Tidak" akhirnya ia tetap pada pendiriannya.
Seketika jawaban Dewi membuat hati Edgar sakit. Mengetahui sifat keras kepala istri nya Edgar tidak bisa berharap banyak.
Kembali melajukan mobil nya menuju seribu candi, Edgar kembali fokus menatap jalanan.
35 menit akhirnya mereka berdua sampai di tempat mereka menikmati bulan madu dulu. Suasana masih sama, tapi keadaan sudah berubah.
Masih di parkiran, edgar menoleh pada Dewi di samping nya. Ditatapnya lekat wanita yang sangat dirindukan nya hampir sebulan ini. Wanita yang dari pertama bertemu belum sempat ia peluk ini menatap nya juga dengan kening mengkerut.
Edgar memberanikan diri mendekatkan tubuhnya. "Apa aku boleh memeluk mu sebentar saja?" Pinta Edgar memohon. Kilat kerinduan yang selama ini memenuhi hatinya rasanya sudah tak sanggup ia pendam lagi.
"Aku merindukan mu, sangat merindukan mu." Dipeluk nya erat tubuh wanita yang sebentar lagi akan menjadi mantan istri nya.
Dewi bisa merasakan air mata Edgar yang menetes di pundak nya, ia uraikan pelukan nya. Ditatap nya laki-laki yang sebenarnya juga ia sangat rindukan. Mata mereka bertemu, saling memandang dalam diam hingga akhir nya Edgar memberanikan diri mencium dewi. Dari wajah, hidung, dan berakhir di bibir. Ia rasai bibir istrinya dengan perasaan campur aduk. *******-******* penuh cinta dan penyesalan. Hatinya bahagia saat Dewi juga membalas ciuman nya, ia rengkuh tengkuk Dewi untuk memperdalam ciuman nya. 5 menit saling mengadu lumayan di bibir dengan penuh cinta dan kerinduan Edgar mengakhiri ciuman itu dan mengecup kening Dewi.
Dewi tersenyum, ibu hamil itu meraub oksigen banyak-banyak. Ciuman Edgar berbeda lebih menuntut dan meminta lebih, membuat nafas nya tersengal.
Turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk istri nya, Edgar tersenyum memperlihatkan deretan gigi nya yang putih.
__ADS_1
"Mari nyonya, jadikan kenangan ini sebagai kenangan terindah untuk kita." Ucap Edgar mengulurkan tangan nya. Saat Edgar mengucapkan kalimat itu ada sedikit rasa perih di hati nya. Ia masih ragu dengan keputusan nya.