Aku Vs Masa Lalu Suamiku

Aku Vs Masa Lalu Suamiku
bab 70


__ADS_3

Edgar menahan tangan Risa saat wanita itu mau membuka bra yang di kenakan nya.


"Cukup sa, apa yang kamu lakukan. Kamu gila!" Bentak Edgar, tangan nya mencekal tangan Risa yang hendak membuka tali bra.


Risa yang seperti kesetanan menghempaskan tangan Edgar dan melanjutkan aksinya. Wanita itu membuka bra nya hingga payud*ranya terlihat.


Risa menatap Edgar dengan tatapan menggoda, tapi Edgar tidak bergeming. Dia malah melipat tangan nya di dada dan tersenyum mengejek.


"Ayo silahkan buka semua nya, aku tidak akan pernah tergoda sama sekali sa. Apa bedanya kamu dengan wanita diluar sana yang menjajakan tubuh nya?. Mereka menyerahkan tubuh untuk bayaran. Sedangkan kamu? Kamu menyerahkan tubuhmu secara gratis?"


Ucapan Edgar seketika membuat Risa menghentikan aksinya yang hendak membuka celana dal*m nya. Ia terdiam.


"Kamu tahu sa, ini yang membedakan diri mu Dengan Dewi. Jika kamu dengan enteng nya melakukan hal murahan seperti ini tetapi Dewi ku tidak akan menggunakan cara seperti ini. Dewi lebih memilih cara elegan dan terhormat." Edgar berjongkok menatap wanita yang dulu pernah berada di dalam hatinya dengan tatapan miris. Ia melepas jas nya lalu memakaikan nya pada tubuh Risa.


"Jangan bandingkan aku dengan Dewi. Kita tidak bisa di bandingkan. Ayolah gar, aku tahu kamu lama tidak mendapatkan hak mu dari wanita itu kan. Wanita itu sedang hamil pasti dia tidak lagi menarik kan. Aku akan memuaskan mu gar." Masih berusaha merayu,Risa menyentuh dada bidang Edgar, ia berjinjit hendak mencium Edgar tapi malah mendapat dorongan dan membuat nya terjatuh.


"Kenapa kamu berubah seperti ini sa? Memalukan! Murahan!" Umpat Edgar ia sengaja berkata pedas agar membuat Risa sadar dengan apa yang sedang di lakukan nya.


"Memalukan? Murahan? Hahaha" tiba tiba Risa tertawa dengan keras. "Aku melakukan semua ini karena rasa cintaku padamu. Tapi kamu menghianati ku!" Ucapan Risa terdengar putus asa.


"Apa kamu lupa, siapa yang memilih cara berpura-pura selingkuh dan meninggalkan ku?" Tanya Edgar ia ikut berlutut di depan Risa. "Padahal kamu bisa saja bicara padaku kalau kamu sedang sakit. Aku akan membawa mu berobat kemana pun agar kamu bisa sembuh. Tapi sekali lagi apa yang kamu lakukan sa? Kamu memilih memainkan drama bodoh itu dan meninggalkan ku. Bukan kah itu artinya kamu tidak mempercayai ku?" Tidak ada nada keras dalam suara Edgar. Ia memandang Risa dengan tatapan kasihan.


Risa terdiam dan menunduk, penampilan wanita itu sungguh berantakan. Edgar memandang meja yang penuh dengan minuman beralkohol dan obat-obatan. Apartemen mewah ini seperti tidak terurus. Bahkan meja di dapur pun berantakan.


"Sekarang sudah terlambat sa, aku sudah menikah dan aku mencintai istri ku."


Risa mendongak dan menggeleng dengan cepat. "Tidak, ini belum terlambat. Kita masih bisa menikah dan punya keluarga bahagia."


"Aku sudah mempunyai keluargaku sendiri sa, saat ini kami tengah menantikan anak kami. Buah cintaku dan Dewi." Terang Edgar, pria itu teringat dengan istrinya.


Mendengar itu hati Risa menjadi sakit, ia tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi pada hidup nya. Semakin ia kejar, Edgar semakin jauh dan sulit di gapai.


"Tapi aku mencintai mu gar, aku takut tidak ada yang bisa menerima keadaan ku yang seperti ini. Hanya kamu yang bisa menerima ku." Ungkap Risa, tidak ada kepura-puraan wanita itu menangis tersedu-sedu.


"Saat kamu menawarkan diri untuk menemani ku berobat. Saat itu aku tahu kamu masih mencintai ku. pernikahan mu tidak di dasari cinta. sikap Dewi yang sama seperti ku dulu saat kita masih bersama lah alasan mu menikah dengan dewi. Dari secercah harapan itu aku bangkit dan yakin untuk bisa sembuh." Imbuh Risa, wanita itu berusaha mengeluarkan unek-unek nya.


Edgar terhenyak, ia tidak menyangka jika perlakuan nya lah yang membuat Risa seperti ini. Jika hal ini membuat Risa salah paham, apalagi untuk istrinya.


"Maafkan aku sa, tapi semua yang ku lakukan dulu hanya menebus rasa bersalah ku karena aku tidak peka dengan keadaan mu. Aku sadar aku mencintai istri ku." Terang Edgar, ia merasa bersalah pada Risa. Jika Edgar tidak melakukan nya dulu. Pasti Risa tidak berharap padanya dan rumah tangga nya tidak akan seperti ini.


"Jadi kamu tidak mencintai ku?" Tanya Risa.


"Tidak ada sedikit pun cinta yang tersisa dihatiku untuk mu sa. Semua cintaku sudah dimiliki istri ku." Terang Edgar, ia berdiri dan memperhatikan sekeliling.


"Hiduplah dengan baik setelah ini sa. Buang nama Ku dari dalam hati mu." Edgar beranjak menuju pintu keluar.


Baru memegang handle pintu, Edgar berhenti dan menoleh pada Risa yang memanggil nya.


"Katakan sekali lagi, jika kamu sudah tidak mencintaiku" ucap Risa gadis itu memandang Edgar dari tempatnya duduk.


"Aku tidak mencintai mu lagi Risa permadana."


Setelah mengatakan itu Edgar keluar dari apartemen Risa. Masih ia dengar suara teriakan Risa yang memanggil namanya.


"Ini tidak mungkin, ini tidak mungkin." Risa mengusap-usap rambut nya dengan kasar hingga membuat rambut nya berantakan.


"INI TIDAK MUNGKIN!"


Risa masih saja terus berteriak dan menyebut nama Edgar. Wanita itu terguncang mendapati kenyataan jika Edgar tak mencintai nya lagi.


Dia membanting dan melempar semua botol minuman beralkohol itu pada dinding. Masuk ke dalam kamar nya Risa menarik Seprai dan melempar nya ke sembarang arah, bantal dan guling berhamburan ke lantai.


Tak cukup sampai di situ Risa berjalan menuju meja rias nya dan melempar semua make up nya hingga berceceran di lantai. Nafas wanita itu terengah-engah. Ia menatap pantulan dirinya pada cermin.


Berantakan, wanita itu berteriak dan menangis. Ia meraih vas bunga di dekat nya dan melempar nya pada kaca.


Prang ..


Kaca itu pecah berhambur sampai di dekat kaki nya.


Risa terduduk di lantai, "bodoh, bodoh ,bodoh" Risa memukul-mukul kepala nya sendiri dengan kedua tangan nya.

__ADS_1


"Seharus nya dulu aku tidak pergi meninggalkan mu. Huhuhu"


"Aku menyesali keputusan ku dulu."


Risa masih saja menangis di dalam kamar nya.


***


Langit temaran di ibu kota menghiasi laju mobil Edgar. Pria itu menancap gas cepat, ingin segera bertemu istri nya dan meminta maaf.


Memutuskan untuk berbaikan kembali merupakan solusi yang dipikirkan Edgar. Sebenarnya ia juga lelah seperti ini. Menjalani pernikahan seperti ini juga bukan keinginan nya. Menghembuskan keegoisan mungkin solusi yang tepat.


Lagi lagi ia menyakiti hati istri nya. Menuduh istrinya berselingkuh dan tidak mempercayai Dewi merupakan kebodoha terbesar Edgar. Laki laki itu merutuki dirinya sendiri.


Memarkirkan mobil nya sembarangan di depan rumah nya, Edgar masuk ke dalam rumah dan langsung mencari keberadaan istrinya.


"Apa istriku ada di rumah Bu?" Tanya Edgar pada Bu asih.


"Ada di dalam kamar pak"


Edgar berjalan cepat ke kamar istrinya, terdiam sebentar di depan pintu. Pria itu mengetuk pelan.


"Wi, apa kamu di dalam? Aku masuk ya."


Tanpa menunggu jawaban dari dalam Edgar menerobos masuk ke dalam kamar istrinya.


Dewi menoleh ke arah pintu yang terbuka. Tidak ada sambutan atau senyuman, ibu hamil itu mengalihkan pandangan nya.


Edgar berjalan menghampirinya setelah menutup pintu kembali.


"Kita perlu bicara wi" ujar Edgar, ia menarik kursi dan duduk di sebelah ranjang istrinya.


"Kamu baik baik saja?" Tanya Edgar saat melihat mata merah istri nya dan wajah nya yang sembab seperti habis menangis.


"Ya mas"


Edgar mengamati kamar yang di tempati istri nya, karena saat membeli rumah ini Edgar tidak melihat semua detail ruangan yang ada disini.


Dewi tersentak, suaminya tiba tiba melunak.


"Apa ini sakit?" Edgar bertanya sambil memijit kaki Dewi.


Dewi menggeleng, ada rasa bahagia melihat Edgar melunak seperti ini. Tapi mengingat berita tadi siang, seketika rasa bahagia itu terpatahkan.


Membiarkan Edgar memijit kaki nya, ibu hamil itu sibuk dengan ponsel di tangan nya. Sekejap berita skandal Edgar lenyap tanpa tersisa. Mencari lagi, jari nya berselancar. Nihil!. Semua lenyap begitu saja. Baru beberapa jam lalu berita itu menjadi perbincangan hangat sekarang sudah tidak ada satupun yang nampak.


"Ada yang ingin kamu tanyakan ?" Edgar bertanya saat Dewi menaruh ponsel nya di atas meja.


"Tidak ada mas." Dewi menggeleng.


"Tanyakan saja padaku jika kamu ingin tahu." Edgar memegang kedua tangan Dewi.


"Tidak ada mas"


Edgar menghela nafas berat istrinya selalu seperti ini. Selalu memendam semua nya sendirian.


"Soal video mu dengan Erik, aku sudah tahu semua kebenaran nya." Edgar memandang lekat mata istrinya.


"Aku minta maaf wi, tolong maaafkan aku." Pria itu memeluk perut istri nya.


Dewi tidak menjawab ia hanya diam. Hanya tangan nya yang mengelus pucuk kepala suaminya.


"Dan soal berita itu ..."


"Sudah mas, tidak perlu di bahas" potong Dewi, ibu hamil itu melepaskan belitan tangan Edgar di perut nya.


"Aku mengantuk sekali, aku mau tidur mas." Ucap Dewi sambil merebahkan tubuhnya.


"Kamu marah ? Maafkan aku wi."


Dewi tidak mempedulikan permintaan maaf suaminya. Ibu hamil itu memilih memejamkan matanya. Dia lelah, lelah dengan semua yang terjadi pada hidup nya.

__ADS_1


Malam semakin naik, samar Dewi masih mendengar suaminya mengucapkan maaf berulang kali sebelum akhirnya beneran tertidur.


Sedangkan Edgar yang melihat istrinya terlelap hanya bisa menghembuskan nafas. Dia akan memberi waktu untuk istri nya.


Ikut berbaring disamping istri nya, Edgar mengecup kening Dewi lama.


"Maaf"


***


Sekitar pukul 08.00 pagi, ana yang sedang mengelap meja menoleh saat pintu kamar sang nyonya di buka dari dalam. Heran, tidak biasanya Dewi berpakaian rapi dan berdandan. Tambah heran lagi saat sang nyonya keluar dengan membawa tas besar.


Dewi hanya membalas kebingungan ana dengan senyuman. Ibu hamil itu berjalan menuju pintu.


"Ibu mau kemana?" Akhirnya ana memilih bertanya. Ia yakin ada yang sedang tidak beres. Gadis itu pun sempat melihat berita sang majikan yang tengah viral kemarin.


"Aku akan pulang kerumah ibuku. Kamu tidak perlu khawatir." Seperti tahu sikap ana. Ibu hamil itu memeberi alasan yang lebih masuk akal. Ia tahu pasti nanti nya ana yang akan di tanyai Edgar tentang dirinya.


Ana mengangguk, ia tidak mau bertanya lebih. Sudah tahu tujuan Dewi itu sudah cukup untuk menjawab pertanyaan Edgar nanti nya.


Saat sedang di sibukkan dengan beberapa berkas di meja nya, pria pemimpin perusahaan ED.PERMA itu menoleh saat ponsel nya berdering.


Mengerutkan dahi bingung karena nama yang muncul di layar depan ponsel nya,


"Halo ada apa ana?" Tanya Edgar dengan tenang jemari nya masih sibuk mencoret berkas di depan nya.


"Maaf pak, ibu pulang ke rumah orang tua nya tadi pagi setelah bapak berangkat ke kantor.." Takut-takut ana melapor pada Edgar.


"Apa Dewi rindu pada ibunya? Ah iyha benar, sudah lama aku tidak membawanya ke rumah ibunya." Batin Edgar masih berfikiran positif.


"Tidak apa-apa ana, nanti aku akan menjemput nya. Mungkin dia sedang rindu pada ibunya." Ujar Edgar, memberitahu Sanga asisten rumah tangga.


"Tapi pak, ibu membawa tas besar. Dan pas saya membersihkan kamar nya. Baju ibu tidak ada satupun di dalam lemari." Terang ana,


"Apa!" Edgar terkejut mendengar penuturan dari ana. Ia mematikan telfon sepihak dan segera keluar dari ruangan nya.


Berlari menuju mobil pikiran Edgar berlarian, bayangan buruk saat istri nya meninggal kan nya beberapa bulan lalu berterbangan kembali di kepala nya. Takut, cemas menggerogoti hati pria tampan itu. Seperti Dejavu, Edgar berharap semua itu tidak terulang lagi. Berharap istrinya hanya pulang kerumah ibunya karena rindu. Bukan karena ingin meninggalnya.


Tidak bisa di bayangkan Edgar jika Dewi pergi meninggalkan nya lagi. Satu kali mungkin Edgar masih bisa kuat tapi jika terjadi lagi. Edgar tidak yakin dirinya masih bisa kuat menghadapi kehidupan tanpa istrinya. Dan lagi lagi ini semua karena kesalahan nya.


"Sial! Aku saja bahkan tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Apalagi Dewi!"


Sampai di depan rumah sang mertua, perasaan Edgar menjadi tidak enak. Rumah mertua nya terlihat sepi tidak ada pergerakan apapun dari seseorang di dalam rumah.


Mengetuk pintu beberapa kali, Edgar menelan kecewa saat tak kunjung melihat pintu di buka.


Sejak perjalanan dari kantor nya, Edgar terus menghubungi Dewi dan tak ada satupun jawaban dari istri nya. Itu semua membuatnya tambah gusar.


Setelah hampir setengah jam menunggu di depan rumah sederhana itu. Edgar bangun dari duduk nya saat melihat taxi berhenti di depan rumah sang mertua.


Muncul Bu Dian dan juga ayu beserta lili. Mereka terkejut melihat Edgar berada di depan rumah nya.


Ayu yang emosi karena sempat melihat berita skandal perselingkuhan Edgar segera berlari dan menampar Edgar dengan sekuat tenaga. Edgar yang mendapat tamparan dari sang kakak ipar terkejut dan hanya diam memandang bingung.


"Akhirnya kau memilih untuk memulangkan Dewi kesini. Laki laki brengs*k! Berulang kali menyakiti hati adiku dan sekarang kamu akan menceraikan nya!" Umpat ayu, ibu satu anak tersulut emosi saat melihat adik ipar nya.


"Apa maksud mba ayu? Aku tidak akan menceraikan Dewi mba." Terang Edgar ia masih bingung dengan maksud kakak iparnya.


"Kamu datang kesini untuk memulangkan adiku kan? Sekarang dimana dia? Aku akan dengan senang hati menyambut perceraian kalian. Cukup sudah adiku menderita selama ini!" Nafas ayu terengah-engah mengeluarkan semua emosi nya. Sedangkan Bu dian yang menggendong lili, menepuk pundak anak sulung nya pelan.


"Sabar yu, biarkan Edgar menjelaskan apa yang terjadi." Ujar Bu Dian, wanita paruh baya itu sama bingung nya. Sakit hati? Tentu saja. Ibu mana yang tidak sakit hati saat putri nya di selingkuhi oleh suaminya. tapi di situasi seperti ini. keadaan memaksanya untuk sabar.


Ayu yang mendengar nasihat ibunya hanya menelan nafas kasar dan langsung membuka pintu menyuruh Edgar masuk.


Di ruang keluarga rumah dua lantai itu Edgar sangat terkejut saat mengetahui istrinya ternyata tidak pulang ke rumah ibu nya.


"Lalu Dewi pergi kemana?, Mba ayu, ibu. Tolong jangan sembunyikan Dewi dariku. Aku tidak sanggup jika tidak bersama Dewi di dekat ku"


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2