
Dewi terbangun dari lelap nya saat merasa haus. Ia meraih gelas yang berisi air di atas nakas dan meneguk nya sampai habis. Ibu hamil itu heran saat melihat ke samping nya suaminya tidak ada ditempat. Samar ia mendengar Edgar sedang berbincang dengan seseorang.
Turun dari ranjang dan meraih pakaian nya yang berserakan di lantai lalu memakai nya, ibu hamil itu berjalan pelan pelan menuju pintu. suara dari luar menjadi lebih jelas saat Dewi semakin mendekat. Ia terdiam ditempat nya berdiri dengan tangan masih memegang handle pintu. ia bertanya tanya saat mengenali suara siapa yang sedang berbincang dengan suami nya. Sepagi ini. Untuk apa?.
Dengan perlahan Dewi membuka pintu kamar nya. Ia terhenyak saat melihat Edgar memegang pinggang Risa dari belakang. Ia sebenarnya tahu suaminya hanya memegangi Risa saat tubuh perempuan itu hampir terjatuh. Tapi pikiran positif itu semua tersisihkan dengan sendirinya. Efek hamil pikiran Dewi jadi lebih sensitif. Yang di lihat orang lain biasa, lain dengan yang dilihat nya.
"Mas..." Kilat amarah di wajah nya tidak bisa ia sembunyikan. Tangan nya mengepal di sisi kanan dan kiri tubuhnya. dengan cepat ia menghampiri Edgar yang refleks langsung melepaskan pegangan tangan nya pada pinggang Risa saat sang istri berjalan menghampirinya.
Deg deg
Jantung Edgar berdegup kencang saat merasai hawa panas yang tiba tiba datang sepagi ini. Ia bisa melihat kilat amarah di wajah bantal istri nya. Siap menerima semua kemarahan dan kecemburuan istri nya, Edgar hanya bisa pasrah. Ia Hela nafas panjang-panjang.
"Apa ini, apa akan terjadi perang dunia ke tiga?"
Edgar terhenyak! Alih alih mengamuk istrinya malah bergelayut manja di lengan nya. Semua bayangan kemurkaan istri nya lenyap begitu saja. Padahal ia melihat sendiri seperti apa ekpresi mengerikan yang ditunjukan ibu hamil 6 bulan itu. Dan lihat sekarang ekpresi apa ini?. Dewi begitu menggemaskan saat mengusap-usapkan wajah nya pada dada Edgar. Istrinya itu sudah memeluk tubuhnya dan bergelayut manja. Dada Edgar semakin bergemuruh saat istri nya mengulurkan tangan nya pada Risa. Bisa ia lihat ekpresi ketidak sukaan di wajah Risa saat melihat istrinya bergelayut manja seperti ini.
"Ada hal apa sampai datang kerumah sepasang suami istri bahagia sepagi ini?" Tanya Dewi, pertanyaan ibu hamil itu lebih seperti sindiran. Menekan kata bahagia agar lebih dramatis.
Terbukti tatapan sebal Risa saat Dewi mengucapkan kalimat itu. Tapi secepat kilat Risa merubah ekpresi nya. Ia tersenyum menyambut uluran tangan sang tuan rumah.
"Aku datang karena ada pekerjaan penting Dengan Edgar. Dan sekalian aku bawakan mangga muda untuk mu. Ah.. biasanya ibu hamil suka mangga muda kan." Ucap Risa menunjukan bungkusan paper bag di atas meja lewat sorot matanya.
Dewi mengikuti arah mata Risa, ia mengangguk. "Terimakasih ya, walaupun aku tidak suka mangga muda tapi aku dengan sopan menerima nya. Tidak enak kan kalau kamu sampai meluangkan waktu mu sepagi ini hanya untuk memberiku mangga muda. Itu yang di ajarkan suami ku saat seseorang memberi sesuatu. Tetap menerima nya walaupun tidak suka. Iya kan sayang?" Dewi tersenyum mendongak menatap wajah Edgar.
Edgar menelan salifa nya dengan susah payah. Istri kecil nya bisa ekting seperti ini, padahal ia tahu kalau Dewi suka mangga muda. Ia bicara seperti itu hanya untuk menyindir Risa.
"Iya sayang." Jawab Edgar sambil mengusap lembut kepala istri nya. Yang dipikiran nya saat ini hanya berusaha untuk tidak membuat istri nya marah. Karena emosi tidak baik untuk ibu hamil. Itu yang di sampaikan dokter saat mengantar Dewi periksa kemarin.
Risa semakin jengkel saat melihat Dewi sengaja bermanja-manja pada Edgar.
"Aku kesini menjemput Edgar, kita ada proyek bersama di Banten. Iya kan gar?"
"Menjemput?, Kerja sama?" Dewi menoleh ke arah Edgar meminta jawaban.
Ditatap istri nya seperti itu Edgar seperti kehabisan oksigen. Tatapan itu, tatapan kecemburuan yang ditunjukan istri nya.
Risa yang sebentar lagi akan mendapat pertunjukan menarik di depan nya tersenyum puas.
" Ah iya sayang, aku ada kerja sama dengan HPD GRUP yang dipimpin papah nya Risa. Tapi aku tidak tahu menahu kalau Risa yang menangani langsung proyek ini menggantikan pak Hardi." Edgar menjawab dengan jujur, ia memang bekerja sama dengan perusahaan ayah nya Risa dan tidak tahu menahu soal Risa yang menggantikan penanganan proyek ini.
Dewi menatap suaminya dengan intens, mencari kejujuran dan ia menemukan itu di sorot mata suami nya.
"Ah begitu, lalu soal menjemput? Kalian mau berangkat bersama? Bukan kah kamu bilang Danu yang akan mengantar mu nanti mas? Kenapa Risa disini kalian janjian?"
Deg..
Berhasil keluar dari satu jurang sekarang Edgar masuk jurang satunya lagi. Pertanyaan istri nya seperti jebakan.
"Tidak! Tidak sayang kami tidak ada janji apapun. Aku juga kaget saat Risa datang kesini tadi. Benar kan sa?" Edgar menatap tajam pada Risa. Meminta Risa menjelaskan yang sebenarnya terjadi lewat sorot matanya.
Risa tersenyum sinis tidak dia pedulikan tatapan tajam Edgar padanya.
"Kami memang sudah janji kemarin."
Deg ..
__ADS_1
Hati Dewi seketika mencelos, ditatap nya suami nya dengan wajah kecewa. Dewi sekuat tenaga menahan air matanya. Ibu hamil itu berlalu begitu saja masuk kedalam kamar meninggalkan dua orang yang pernah terikat di masa lalu itu.
"Sa! Apa mau mu sebenarnya?" Tanya Edgar dengan suara dingin nya yang menusuk sampai ketulang.
Risa bergidik selama ini ia tidak pernah mendapat tatapan Edgar yang mengerikan seperti ini. Tapi saat mengingat misinya membuat kesalahpahaman antara suami istri itu berhasil Dengan Berani ia menatap balik Edgar dengan sombong nya. Ia tersenyum sinis.
"Ternyata posisi ku sudah diambil alih oleh Dewi ya gar." Ada nada kecewa dibalik ucapan Risa saat ini.
Bukan nya ia tidak ingat. Bahkan sampai saat ini ia masih ingat semua perlakuan Edgar yang dulu selalu menjadikan nya ratu. Apapun yang di inginkan nya selalu Edgar penuhi. Bahkan pernah Edgar dulu sampai memutus kontrak kerja sama dengan orang yang mempunyai ketertarikan pada Risa. Ia melakukan itu dengan enteng nya tanpa melihat berapa kerugian yang di alami perusaahan nya
Tapi itu dulu. Sekarang posisinya sudah tergantikan oleh orang lain.
"Apa kelebihan nya? Dibanding diriku Dewi tidak ada apa-apa nya. Tidak ada dari dirinya yang bisa di tandingkan dengan ku." Ucap Risa dengan percaya dirinya.
"Tapi Dewi mempunyai hati yang tidak kamu miliki sa. Dewi itu wanita luar biasa, kesabaran nya mengahadapi sifat ku sangat luar biasa. Yang pasti aku mencintai nya." Tegas Edgar yang membuat hati Risa seketika tersentak.
Edgar tersentak saat tiba tiba Risa menghambur memeluk nya.
"Tapi aku mencintai mu, cintaku lebih besar dari cinta yang Dewi berikan untuk mu." Risa terisak di dada Edgar. Pegangan tangan nya ditubuh Edgar ia eratkan sampai sang empu kesusahan melepaskan nya.
Edgar berontak, ia sekuat tenaga melepaskan diri dari Risa. Saat pelukan itu berhasil terlepas ia tertegun melihat Risa yang menangis sesenggukan seperti ini.
"Pulang lah sa, aku tidak mau Dewi semakin salah paham." Pinta Edgar
"Aku tidak mau! Harus nya aku yang berada disini. Bukan dia!" Teriak Risa menunjuk dada Edgar dengan telunjuk nya.
"Tapi aku mencintai istri ku sa! Dewi sedang mengandung anaku sekarang! Dan aku tidak mau terjadi apapun pada mereka. Pulanglah!" Usir Edgar tidak kalah keras nya. ia melangkah kan kaki nya hendak meninggalkan Risa dan menyusul istrinya.
Edgar seketika terhenti saat tangan nya dicegah oleh Risa. Edgar menoleh menatap Risa yang berurai air mata.
Di raih nya pelan pundak Risa Dengan kedua tangan nya. Ia tahu saat ini tidak bisa memberi tindakan yang kasar pada Risa. Wanita di depan nya ini butuh di beri penjelasan dengan pelan pelan.
"Pulanglah, aku yakin suatu saat kamu menemukan pria yang mencintai mu. Jangan mengharapkan apapun lagi padaku sa, walaupun itu hanya setitik. Aku tidak akan meninggalkan istri ku apapun yang terjadi. Aku mencintai nya. Sangat mencintai nya. Aku tidak mau membuat kesalahan lagi padanya. Cukup sudah selama ini kebodohan ku membuat nya menderita." Tegas Edgar tidak ada amarah apapun di dalam ucapan nya. Ia berharap setelah ini Risa mau mengerti.
Risa mendongakkan kepala nya, "bolehkah aku memeluk mu untuk yang terakhir?" Pinta nya.
Edgar terlihat ragu, tapi sebelum ia menolak Risa sudah lebih dulu memeluk nya. Tanpa sengaja tangan nya pun mengusap punggung Risa.
***
Edgar sudah bisa bernafas lega saat Risa mau pergi dari rumah nya. Dengan semangat menggebu-gebu Edgar melangkahkan kaki menuju kamar nya.
Tapi baru saja beberapa langkah ia melangkahkan kaki nya, edgar seketika terkejut saat melihat istri nya berdiri didepan pintu kamar nya dengan tatapan yang sulit di artikan.
sejak kapan istrinya berdiri disana? itu pertanyaan pertama yang dipikirkan Edgar.
Dengan segera ia menghampiri istri nya, saat hendak menyentuh istri nya tapi Dewi menolak nya. Dewi berjalan menuju meja makan meneguk susu yang di buat kan Bu asih lalu ia meraih sepotong roti yang sudah di isi selai coklat di atas piring.
"Bu, aku berangkat dulu. Siang nanti Bu asih tidak perlu memasak karena aku akan pulang malam." Ujar Dewi. Bu asih yang masih berdiri di tempat nya hanya bisa menganggukkan kepala.
Edgar terhenyak mendengar penuturan istri nya. Ia sampai tidak menyadari istri nya sudah memakai pakaian rapi.
"Mau kemana sayang?" Tanya Edgar.
Tapi Dewi tidak menjawab ia berlalu mengabaikan pertanyaan suaminya. Saat sudah memegang handle pintu langkah Dewi terhenti saat Edgar menarik tangan nya.
__ADS_1
"Mau kemana wi?"
" Ke cafe." Jawab Dewi singkat sambil menghempaskan tangan suaminya dengan kasar.
"Kalau hanya ke cafe tidak perlu sampai malam, masih ada Kinan dan karyawan mu yang lain yang bisa menjaga cafe. ingat kamu sednag hamil sekarang pikirkan juga kesehatan nya." Tutur Edgar lembut.
Dewi hanya terdiam tidak menjawab penuturan suami nya, ia menggerakkan tangan nya untuk membuka pintu mengabaikan suaminya.
Saat pintu sudah terbuka dengan cepat Edgar menutup nya kembali membuat istri nya tidak bisa keluar.
"Minggir!" Ujar Dewi, ia bahkan tidak menatap suaminya saat bicara. Seperti nya kecemburuan mengalahkan segala akal sehat nya.
"Lihat mata lawan bicara mu kalau sedang bicara wi!" Tutur Edgar, ia menahan rasa kesal nya saat di abaikan istri nya.
Dewi menghela nafas pelan," minggir " kali ini suaranya terdengar biasa tapi Edgar masih saja bersikeras menghadang istri nya.
"Kamu marah?" Tanya Edgar , ia hendak menyentuh bahu Dewi tapi istri nya menolak dan memundurkan tubuhnya.
Edgar menghela nafas pelan, mengatur nafas dan emosi nya. Ia tidak mau jika sampai melakukan tindakan yang kasar.
"Aku minta maaf, aku sama sekali tidak tahu jika Risa datang ke sini. Aku tidak ada janji apapun padanya. Dia yang tiba- "
Ucapan Edgar terhenti saat istrinya menyela.
"Cukup!" Bentak Dewi, nafas ibu hamil itu naik turun. "Kamu bisa kembali padanya sekarang. Tinggalkan aku disini, dan kamu bebas menikahi nya. Kenapa kamu harus berpura-pura bersikap baik pada ku akhir akhir ini hah!? Aaa aku tahu, pasti agar kamu mendapat kan anak ku kan?"
Edgar terhenyak, jujur ia melakukan semua nya karena mencintai istri nya. Agar istrinya mau kembali padanya tapi sepertinya sekarang yang dipikirkan ibu hamil itu berbeda.
"Aku akan mempertahankan anak ini sekuat tenaga. Aku tidak akan membiarkan mu merebut nya dari ku. Silahkan pergi aku tidak akan menuntut apapun dari mu. Tapi aku mohon jangan rebut dia dariku. Kamu bisa menikahi Risa kapanpun kamu mau. Kau bisa kembali pada cinta pertama mu." Nafas Dewi terengah-engah. Sebenarnya ada rasa sakit saat mengucapkan itu. Ia melihat nya tadi. Melihat suaminya dengan hangat nya saat memeluk Risa. Dia bisa menyimpulkan jika suaminya masih mencintai wanita itu.
Edgar terlalu terkejut dengan penuturan istri nya sampai ia tidak bisa menjawab sepatah kata pun. Saat kesadaran kembali ia maju hendak memeluk istri nya. Ia tahu istrinya sedang emosi sekarang.
Dewi berontak saat Edgar berhasil memeluk nya. Sekuat tenaga ia ingin melepaskan lilitan tangan Edgar di pinggang nya. "Lepaskan aku!"
"Ssttt, tenang kan dirimu sayang." Edgar tidak melepaskan pelukannya. Ia beri usapan lembut pada punggung istri nya berharap istrinya bisa tenang. ia bisa bernafas lega saat Dewi berhenti berontak.
Sebentar Dewi merasa terhanyut dengan usapan lembut suami nya. Tapi saat otak nya teringat Edgar tadi juga melakukan hal sama pada Risa, seketika itu ia hempaskan dengan kasar tangan Edgar.
"LEPASKAN AKU!"
Edgar yang mulai ikut terhanyut tanpa perlawanan apapun tangan nya dengan begitu mudah bisa dihempaskan istri nya.
"Silahkan pergi dari rumah ku, aku tidak mau melihat mu saat aku pulang nanti."
Ucap Dewi sebelum ia berlalu keluar dari rumah nya menghampiri ojek online yang tadi di pesan nya.
_
_
_
_
Hai hello aku kembali, mohon like, fote dan komentar nya agar author tambah semangat updet ya❤️
__ADS_1