
Beberapa saat kehilangan jejak mobil yang ditumpangi Dewi, Edgar bernafas lega saat sudah menemukan nya. Dengan hati yang bahagia dia mengikuti mobil itu dari belakang.
Senyum seakan tak pernah lepas dari wajah tampan laki laki itu. Walaupun istri nya tidak mau bertemu dengan nya. Tapi laki laki itu tetap merasa bahagia mendapati istrinya dengan keadaan baik-baik saja. Apalagi saat ini istrinya tengah mengandung yang jelas anak mereka.
Lima belas menit bertarung pada jalanan akhirnya ia sampai di depan rumah sederhana milik wanita yang sangat dicintai nya. Edgar memandangi rumah itu dengan seksama. Rasa sesal di dirinya semakin membuncah sesak memenuhi rongga dada nya.
Edgar turun dari mobil tak lupa membawa susu hamil yang di bawanya tadi.
Dengan mengatur nafas sebentar menyiapkan diri menerima semua sikap yang akan ditunjukan oleh wanita yang masih ber status istri nya itu walaupun gugatan cerai sudah ia layang kan padanya.
Tok tok
akhirnya Edgar mengetuk pintu rumah itu.
Tampak gadis muda muncul dari dalam rumah. Masih memakai pakaian yang sama saat di swalayan tadi.
"Iya cari siapa?" Tanya Kinan pada Edgar, ia mengamati laki laki di depan nya ini saat di swalayan tadi ia tidak terlalu mengamati wajah nya.
"Dewi, saya suami nya." Jawab Edgar,
Kinan tampak bingung ini kali pertama nya melihat suami Dewi dari dekat, karena ia hanya tahu lewat foto yang berada di hp Dewi.
"Apa saya boleh masuk?" Tanya Edgar saat melihat gadis di depan nya hanya diam menatap nya.
"Ah iya silahkan masuk, saya panggilkan mba Dewi sebentar. Silahkan duduk mas." Kinan mempersilahkan Edgar duduk dan ia berjalan menuju kamar Dewi.
Di ruang tamu, Edgar memperhatikan setiap sudut rumah itu. Rumah sederhana hanya ada dua kamar.
Saat masih memperhatikan rumah itu, muncul Dewi dari dalam rumah.
"Darimana kamu tahu rumah ku?" Tanya Dewi ketus. Ia duduk di sofa lain di depan Edgar. Ibu hamil yang sudah berganti memakai daster biru itu tampak tidak nyaman.
"Aku mengikuti mu tadi," jawab Edgar, ia merasa sedih saat melihat Dewi yang enggan menatap nya saat bicara.
"Ini susu mu, kamu tidak jadi mengambil nya kan tadi." Edgar menunjuk susu yang ia taruh di atas meja.
"Terimakasih" ucap Dewi singkat. Ia menerima susu itu tak lebih hanya karena menghargai Edgar.
"Sudah berapa bulan?" Tanya Edgar memandang penuh cinta ke arah perut Dewi.
__ADS_1
Refleks Dewi mengikuti arah mata Edgar yang menatap ke perut nya, tangan nya mengusap lembut perut buncit nya.
"Kenapa tiba tiba peduli, ?" Sinis Dewi pada Edgar, rasa kecewa nya belum berkurang sama sekali.
"Maaf kan kesalahan ku wi, aku menyesal. Pulang lah." Pinta Edgar tulus.
"Haha, setelah 4 bulan kamu meninggalkan ku dan sekarang kamu dengan gampang nya meminta ku kembali?. Aku tidak mau. Silahkan kalau mas Edgar mau merawat Risa atau menikah dengan nya sekalian . Aku tidak peduli." Sejujur nya Dewi merasa sesak saat mengatakan ini. Tapi dia sudah terlanjur kecewa pada laki laki dihadapan nya ini.
"Bukan kah bagus dengan kepergian diri ku kamu bisa lebih leluasa merawat Risa tanpa merasa terbeban kan oleh ku?"
Edgar mendekat ke arah Dewi ia duduk disamping istri nya Dewi mundur kebelakang sampai di ujung sofa. Dnegan berani Edgar memegang tangan Dewi.
"Kamu boleh marah padaku, atau menghukum ku. Aku akan menunggu sampai kamu mau memaafkan ku. Tapi aku mohon biarkan aku dekat dengan anak ku wi. Biarkan aku ikut merawat nya dan menemani mu semasa kehamilan mu ini" Pinta Edgar lembut, saat ini istri nya hanya perlu dibujuk dengan lembut bukan dengan bentakan atau kasar.
"Aku yang merawat nya selama enam bulan ini, kenapa mas Edgar datang langsung mengaku ngaku. Aku bisa merawat nya sendiri. Anaku tidka butuh ayah seperti mu yang lebih memilih memprioritaskan orang lain di banding mama nya." Ketus Dewi sepertinya dia masih belum bisa dibujuk. Bibir nya mengerucut membuat Edgar ingin sekali memeluk nya tapi ia urungkan karena pasti istrinya itu menolak nya.
"Hei aku tahu itu anak ku, tidak salah kan aku mengakui nya, jangan lupa aku juga ikut andil membuat nya wi. Jadi aku juga berhak mendapatkan bagian nya. Kamu tidak bisa mengklaim dia hanya anak mu." Goda Edgar yang semakin ingin tertawa melihat wajah kesal istrinya.
"Sudah berapa bulan?" Tanya Edgar lagi, menatap perut Dewi.
"Enam bulan.''
" Bagaimana keadaan nya? Apa dia menyusahkan mu?" Edgar menatap lekat Dewi di depan nya.
Dewi menggeleng, di lubuk hatinya yang paling dalam ia bahagia melihat Edgar peduli padanya dan bayi nya. Tapi rasa kecewa di hatinya lebih mendominasi.
"Apa Risa sudah sembuh?" Tanya Dewi entah kenapa hatinya merasa tergelitik untuk bertanya pada Edgar.
" Jangan menjebak ku dengan pertanyaan itu wi Aku tidak akan menjawab nya, yang bisa saja jawaban ku akan membuat mu marah."
"Kata kan saja, aku tidak akan marah."
Edgar menghela nafas berat,
"Sebulan yang lalu dia sudah dinyatakan sembuh setelah operasi dan perawatan lain nya. Mungkin itu mukjizat dari Tuhan. Aku awalnya juga tidak menyangka dia bisa sembuh. Tapi sekarang aku bahagia dia sudah sembuh." Edgar seketika menutup mulut nya saat sekilas menangkap raut wajah cemburu istri nya Edgar segera mengalihkan pembicaraan.
"Di umur segini bukankah sudah bisa melihat gender nya?" Edgar ingin sekali memegang perut Dewi, dia menatap Dewi meminta izin dan di angguki oleh Dewi.
"Perempuan atau laki laki?"
__ADS_1
Dengan hati hati Edgar meletak kan tangan nya di atas perut Dewi, di usap nya lembut perut istri nya. Edgar merasa bahagia dan terharu. Hatinya tersentuh sampai dia terkejut saat merasakan pergerakan kecil di perut istrinya.
Edgar mendongak bertanya pada Dewi lewat sorot matanya.
"Dia bergerak wi," raut bahagia menghiasi wajah tampan calon ayah itu. Ia tersenyum senang.
Melihat raut wajah bahagia suami nya yang tidak di buat buat, rasanya Dewi ingin menangis. Sekuat tenaga ia menahan nya.
"Kata dokter dia laki laki." Ucap Dewi seketika membuat Edgar semakin bahagia.
Sampai refleks memeluk erat Dewi.
"Terimakasih sayang, sebenarnya walaupun dia perempuan aku tidak masalah. Yang penting dia sehat. Pasti secantik kamu kalau dia perempuan.." Edgar tersadar ia sedang memeluk istrinya, karena tidak ada penolakan dari istri nya Edgar mengeratkan pelukan nya. Dia sudah tidak tahan dari tadi saat di swalayan. Ingin sekali ia memeluk istrinya tapi belum dia memeluk istrinya malah pergi.
Setelah melepaskan pelukan nya Edgar menyempatkan mengecup kening Dewi.
"Anggap itu pelukan terakhir kita, mulai sekarang aku minta jangan mengganggu kehidupan ku lagi. Bukan kah sebelum kesini mas Edgar pasti sudah kerumah ibu kan. Dan ibu pasti sudah menyerah kan surat gugatan ku untuk mu."
Deg ...
Bagai di sambar petir di siang bolong, di dalam hati Edgar terasa seperti ada yang menyetrum. Menyayat nyayat hati nya.
Dia mengira Dewi sudah mau berdamai dengan nya karena tidak menolak pelukan nya tapi apa ini? Tiba tiba istri nya mengeluarkan kata kata yang dengan keras menghantam tepat di jantung nya.
Entah pikiran dari mana, Dewi merasa kalau ini hanya penyesalan sekilas Edgar. Karena dia merasa nanti nya pasti Edgar kembali pada Risa. Apalagi Risa sekarang sudah sembuh dari sakit nya. Sekilas Ia tadi menangkap sorot mata Edgar yang bahagia saat menceritakan kesembuhan Risa membuat hati Dewi sesak. Melihat itu ia semakin menguat kan hatinya agar tetap pada pendiriannya.
"Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan mu. Kalau kamu tidak mau kembali padaku, aku juga tidak akan membiarkan mu bersama laki laki lain. Aku tidak mau anaku dirawat oleh laki laki lain. Aku ayah nya, aku berhak atas dirinya dan aku akan melakukan apa saja agar mendapatkan hak asuh nya. Ingat itu!" Edgar tidak bisa mengontrol emosi nya saat mendengar gugatan dari mulut istri nya sendiri. Dia tidak menyangka Dewi ternyata benar benar ingin meninggalkan nya. Padahal Edgar masih melihat cinta di dalam hati Dewi untuk nya. Dia mengira dengan hadir nya anak ditengah-tengah mereka bisa membuat hubungan mereka membaik.
Entah apa yang membuat istri nya dengan gigih menggugat nya. Apa cinta nya sudah tidak ada lagi?
Tepat setelah menyelesaikan kalimat nya, hp Edgar berbunyi. Ia keluar dari rumah dewi meninggalkan istrinya yang masih terdiam di sofa.
Di dalam mobil Edgar memanggil kembali orag yang menelepon nya tadi.
"Ya bagaiamana Luh?" Tanya Edgar pada Galuh di seberang telepon.
"Pak Malik sudah ketemu pak, sekarang kami bawa di gudang penyimpanan barang." Terang Galuh.
"Baik, awasi dia jangan sampai kabur. Aku kesana sekarang!"
__ADS_1