Aku Vs Masa Lalu Suamiku

Aku Vs Masa Lalu Suamiku
bab 81 END


__ADS_3

Hari masih gelap saat sepasang suami istri sudah terbangun dan masih bermalas-malasan di atas kasur. Tiduran miring sambil berhadapan keduanya tak mengeluarkan suara apapun. Hanya tatapan dan hembusan nafas mereka yang berbicara.


Saling memandang dalam diam, keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Sampai akhir nya tangan Edgar yang sejak tadi memegang perut besar istri nya merasakan gerakan. Dewi dan Edgar memandang pada titik yang sama. Lalu saling tatap dan tersenyum bersama. Buah hati dan cinta mereka seperti nya ikut merasakan apa yang sedang dialami kedua orang tuanya.


Edgar tersentak saat tiba-tiba Dewi memegang pipinya dan memberi usapan lembut. Terpaku sampai tak bisa bicara apa-apa, Edgar bisa melihat tatapan sendu istri nya.


"Kenapa sayang?" Edgar mengusap sudut mata istri nya yang tiba-tiba mengeluarkan air mata.


Dewi menggeleng, ia rengkuh tubuh suami nya erat. Dewi sedang bingung dengan perasaannya. Hatinya tidak rela jika harus berpisah dengan suaminya, laki-laki pertama yang sanggup membuat dadanya berdegup kencang saat pertama kali bertemu itu sebentar lagi sudah tidak menjadi suaminya. Sebentar lagi Ia tidak berhak lagi atas pria tampan yang sedang dipeluknya saat ini. Cinta pertama nya.


Rasa sakit yang kini dirasakan nya seakan tertutup pintu besar yang melarang nya untuk membuka kembali. Tapi Dewi tidak bisa berharap banyak. Bayangan suaminya bisa mengulangi kesalahannya kembali memenuhi kepala nya. Kepercayaan pada suaminya terluka oleh sikap Edgar sendiri.


***


Di teras rumah, pak Suryo,Bu Sri beserta Ajeng dan Danan mengantar Edgar yang sudah dijemput oleh Dava. Asisten sekaligus sahabat Edgar itu sudah sampai Yogya saat tengah malam.


Disaat Dava melihat Edgar yang sedang berbicara dengan pak Suryo. Dava melirik Dewi yang terpaku diam tanpa suara. Tapi Dava bisa melihat raut ketidakrelaan bersarang di wajah cantik wanita yang menjadi istri sahabat nya itu.


"Maaf Bu, apa bisa berbicara sebentar?"


Dewi tersadar dari lamunan nya saat Dava bertanya.


"Ya dav, ada apa?"


"Bukan maksud saya ikut campur, tapi apakah ini yakin Dengan keputusan ibu yang akan bercerai dari sahabat ku?" Tanya Dava,


"Ya dav, semua sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Mungkin ini jalan terbaik untuk kita berdua." Dewi menghela nafas menahan air mata yang hendak tumpah.


"Tapi bukankah sahabat bodohku itu bisa dapat kesempatan lagi, dia berusaha keras mencari keberadaan mu selama disini Dewi." Tak ada kata-kata formal lagi, Dava ingin berbicara dengan Dewi layak nya teman.


"Berusaha keras?" Dewi menatap datar Dava " aku hampir sebulan disini saat mas Edgar baru menemukan ku."


"Mas Edgar bukan dari kalangan biasa dav, pengusaha yang namanya cukup di perhitungkan di ibu kota itu bukan pria biasa yang membutuhkan banyak waktu untuk menemukan istri nya. Mas Edgar bisa saja membayar orang untuk mencari keberadaan ku kan. Aku yakin kalau mas Edgar melakukan itu tidak ada satu hari pasti aku sudah ditemukan." Cerocos Dewi.


Dava tersenyum tidak ada kekagetan sama sekali saat Dewi berusaha mengeluarkan isi hatinya. "Benar Dew, jika Edgar melakukan itu aku juga menjamin bahkan tidak ada sehari dia pasti sudah menemukan mu. Apa kamu tahu Edgar sudah melakukan semua itu?"


"Apa maksut mu?" Dewi masih berusaha merangkai kata-kata Dava.


"Tanpa kamu tahu, edgar sudah melakukan semua yang kamu katakan tadi. Bahkan Edgar meninggalkan semua pekerjaan demi mencari mu, semua tempat sudah di datangi Edgar tapi kamu tak ada di semua tempat itu. Bukan hal sulit bagi Edgar untuk mencari keberadaan mu. Tapi ini menjadi sulit saat ada orang lain yang menutupi semua akses jalan untuk menemukan keberadaan mu Dew." Terang dava panjang lebar.


"Apa?" Dewi masih mencerna semua ucapan Dava.


"Kamu ingat saat kepergian mu ke Bandung, kenapa Edgar lama sekali menemukan mu?" Tanya Dava, pria itu merangkai semua ingatan pada saat ia dibuat kesusahan mengurus banyak hal demi mencari keberadaan istri bos nya.


Bahkan pria itu hanya punya waktu 4 jam setiap harinya untuk tidur.


Dewi masih diam, menunggu kalimat Dava selanjut nya.


"Saat itu Edgar sudah mencari mu tapi Erik Gunawan menutupi keberadaan mu. Menutup semua akses sekecil apapun dan membuat Edgar seperti orang gila."


Deg_ Dewi tidak mengetahui kenyataan ini. Yang ia tahu ia hanya dibantu Erik mencari tempat tinggal dan memperbesar usaha nya. Ia tidak menyangka jika Erik menyembunyikan nya dari jangkauan suaminya.


"Dan yang sekarang ada juga yang diam-diam membantu mu dari belakang. Menyembunyikan kan mu dari jangkauan Edgar juga."


Dewi menatap dalam Dava, "apa mas Erik juga yang melakukan itu?" Tanya Dewi.


Dava menggeleng,"bukan, itu semua kerjaan Hardi permadana. Ayah Risa."


Dewi bingung, ia tidak pernah punya hubungan apapun dengan keluarga Risa. Tapi kenapa ayah Risa membantu nya.


"Soal alasan kenapa Hardi membantu mu, itu bukan hak ku. Hardi sendiri yang akan menjelaskan semua nya. Kenapa dia membantu mu dan menjagamu selama jauh dari Edgar." Dava menoleh pada pak Suryo yang masih mengobrol dengan Edgar. Dewi mengikuti arah mata Dava.


"Kamu tahu siapa pak Suryo?" Tanya Dava.


"Dia supir yang memandu bulan maduku dulu bersama mas Edgar. Dan aku sendiri yang meminta tolong padanya." Jawab Dewi apa adanya memang hanya itu yang ia ketahui.


"Dia sahabat lama Hardi permadana, dia diminta untuk menjemput mu dan menjagamu selama disini."


Deg_ Dewi melirik pak Suryo, ingatan nya tertuju saat ia di bujuk pak Suryo agar mau tinggal dirumah nya.


"Hanya itu yang bisa aku jelaskan Dew, aku hanya ingin membantu sahabat ku mempertahankan rumah tangga nya. Tapi semua keputusan kembali padamu, semoga keputusan mu ini tepat." Dava melirik ke arah perut besar wanita di depan nya.

__ADS_1


"Kamu punya waktu satu bulan dari Sekarang sebelum putra mu lahir."


***


"Ayo gar" ajak Dava sambil melihat pergelangan tangan nya.


Edgar menoleh pada Dava, "sebentar dav."


Berjalan mendekati istri nya yang diam menunduk sambil meremas jemari nya. Edgar menyentuh wajah istri nya, membuat wanita hamil itu mendongak.


"Aku akan pulang, bolehkah aku memeluk mu untuk terakhir kali nya?" Edgar menggigit bibir, dadanya sesak saat dihadapkan perpisahan di depan matanya saat ini.


Tak ada jawaban dari istri nya, tapi Dewi langsung menghambur memeluk suami nya. Perkataan Dava berputar memenuhi kepalanya. Dia tidak tahu apa-apa tentang perjuangan suaminya. Baru tahu itupun dari orang lain. Entah perasaan bersalah tiba-tiba menelusup di dalam hatinya.


"Jangan menangis sayang" Edgar mengusap rambut Dewi, ia bisa merasakan basah dibajunya karena airmata dari istri nya.


Edgar mengurai pelukan nya, ia tangkup pipi gembul Dewi dengan kedua tangan nya. "Baik-baik disini ya, tolong jaga dia untuk ku." Edgar mengusap perut besar Dewi.


Menoleh pada pak Suryo dan Bu Sri. Edgar menganggukkan kepala dan tersenyum. Lalu Edgar menghampiri Danan.


"Titip istri ku, tolong jaga dia." Suara Edgar terdengar berat.


Dewi menatap suami nya yang masuk kedalam mobil. Air mata nya semakin deras saat mobil melaju meninggalkan halaman rumah pak suryo. Ia menggigit bibir kuat agar tidak mengeluarkan suara.


Dewi merasakan badan nya lemas tak bertenaga ia hampir jatuh saat tangan Danan sigap menangkap nya.


"Kamu baik-baik saja Dew?" Tanya Danan. Ia membantu Dewi berdiri dan duduk di kursi.


Tak ada jawaban dari Dewi, ibu hamil itu menangis tersedu-sedu.


"Ambilkan minum Bu" titah pak Suryo pada istri nya.


Bu Sri gelagapan mendengar perintah suaminya, menghapus kasar air matanya. Bu Sri tidak bisa menahan rasa sedih nya saat melihat Dewi dan Edgar yang memutuskan berpisah.


Secepat kilat Bu Sri membawa air minum untuk Dewi, ia serahkan pada putra nya.


"Minum dulu Dew" Danan membantu Dewi minum.


***


Duduk menunggu di kursi. Dava bisa melihat raut kesedihan yang coba disembunyikan Edgar. Duduk di samping Edgar, Dava menepuk pundak sahabat nya.


"Pasti berat ya gar." Ucap Dava, tatapan nya lurus kedepan menerawang jauh.


"Ingat satu hal gar, yang menjadi milikmu akan tetap menjadi milikmu. Jadi jika Dewi jodohmu dia akan kembali padamu bagaimanapun cara nya. Tuhan itu bisa melakukan apa yang tidak bisa kita lakukan gar. Serahkan saja semua pada Nya. Kamu tinggal berdoa dan melakukan yang terbaik. Biarkan tangan Tuhan yang mengatasi semua nya."


Edgar menoleh pada Dava, "sejak kapan kau jadi orang religius seperti ini?"


Dava menoleh pada Edgar dengan senyum tengil nya. " Kau saja yang tidak tahu sisi lain dari seorang Dava." Dava terkekeh.


Edgar mengangguk, "mungkin ini yang terbaik untuk kami. Atau saat ini Tuhan sedang menghukum ku atas semua dosa yang aku lakukan pada istriku dulu." Edgar tersenyum kecut.


***


"Kalau masih cinta pertahankan Dew, tidak ada guna nya menangis seperti ini. Sudah setengah jam dari kepergian Edgar kamu belum berhenti menangis." Ujar Danan menatap Dewi.


"Ganti bajumu, ku agar ke bandara. Pesawat yang di tumpangi Edgar bernagkat 1 jam lagi. Masih ada waktu."


"Mas ..." Dewi mendongak pada Danan.


"Jangan pikirkan aku, cepat ganti baju atau aku berubah pikiran lagi dan menahan mu disini." Ucap Danan serius.


Dewi menghambur memeluk danan "maafkan aku mas, aku tidak bisa membohongi hatiku. Aku maiah mencintai suamiku." Dewi terisak di pelukan Danan.


"Jangan menangis Dewi, hiduplah dengan baik setelah ini. Aku tidak bisa memaksa orang untuk tetap bersamaku jika hatinya masih mencintai suaminya." Danan menggigit bibir, ia merasa sesak mengatakan ini.


"saat ini aku yakin, dia yang bisa meluluhkan hatimu adalah dia yang jauh lebih hebat dariku. aku hanya memohon satu hal sekarang. jangan pernah goyahkan aku lagi. sebab melihat kamu di setiap hariku saja masih terasa sulit dan menyakitkan. jika nanti lukaku sudah pulih dan terbiasa tanpa kamu. aku mohon jangan kembali lagi." ujar Danan dengan suara bergetar.


"maka dari itu, berbahagia lah Dew."


***

__ADS_1


Di dalam mobil menuju bandara, Danan fokus pada jalanan walaupun di dalam hatinya sesak bergemuruh.


Ini keputusan yang ia pilih, mengantarkan Dewi pada suaminya. Selama Edgar disini ia bisa melihat Dewi yang tersenyum bahagia tanpa beban. Dari situ ia menilai sepasang suami istri masih saling mencintai hanya saja mungkin ini ujian untuk keduanya.


Sampai di bandara, Danan dan Dewi mencari keberadaan Edgar.


Sedangkan Edgar berdiri saat suara panggilan untuk nya berkumandang. Menatap sekeliling bandara, Edgar berharap istri nya tiba-tiba muncul dan menahan nya untuk pergi sendiri. Tapi ia hanya bisa menelan kecewa saat tak melihat istrinya.


"Ayo gar." Ajak Dava.


Dengan langkah berat Edgar berjalan mengikuti Dava di depan nya. Saat hendak menyerahkan tiket pada petugas, Edgar menoleh saat mendengar suara feminim Yang sangat di kenali nya memanggilenyeeukan namanya.


"Mas Edgar."


Edgar diam terpaku saat melihat istrinya berdiri tak jauh dari tempat nya, Edgar masih berperang dengan batin nya. Ini hanya sekedar ilusi atau kenyataan.


Tapi Edgar menyadari jika itu nyata saat ada Danan di sebelah istri nya. Berjalan cepat menghampiri istri nya, Edgar menatap istri nya dengan hangat.


"Ada apa sayang? Kenapa sampai menyusul ku kemari. Apa ada yang aku tinggalkan?" Tanya Edgar ia memeriksa tas dan semua barang penting nya sudah di dalam semua.


"Kamu meninggalkan istri mu mas." Ucap Dewi cemberut.


Edgar tersentak ia masih merangkai kata-kata istri nya.


"Kamu mau pulang sendiri tanpa mengajak ku?" Tanya Dewi lagi membuat Edgar membulatkan matanya.


"Bukankah ka..kamu .." edgra tak bisa melanjutkan ucapan nya saat istri nya menghambur memeluk nya.


"Aku tidak mau bercerai mas,"


Ucapan Dewi membuat Edgar seperti berhenti bernafas, ia mengurai pelukan istri nya dan memandang Dewi dengan penuh tanda tanya.


"Kamu serius sayang?" Tanya Edgar tak percaya.


"Ya mas, mari kita jatuh cinta lagi dan melakukannya dengan benar kali ini."


Tepat setelah Dewi menyelesaikan kalimat nya, Edgar memeluk Dewi erat. "Terimakasih sayang, terimakasih. Aku janji tidak akan mengecewakan mu terimakasih." Saking tak percaya nya Edgar sampai menangis. Tuhan berbaik hati padanya sekali lagi.



Edgar menatap Danan dengan tatapan hangat,


"Terimakasih" ucap Edgar.


"Jangan sakiti Dewi lagi, jika kamu melkaukan nya aku pastikan akan merebut nya darimu." Ucap Danan.


Edgar tersenyum, dan memeluk pria di depan nya saat ini.


"Sekali lagi terimakasih, kalau kamu membutuhkan bantuan ku. Hubungi aku, aku akan membantu mu walau sedang sibuk sekali pun."


"Oke, setidak nya itu bisa menjadi bayaran atas rasa sedihku ini. Berbahagialah kalian berdua." Danan menyatukan tangan Edgar dan Dewi.


Selesai mengurus tiket dadakan untuk Dewi. Di dalam pesawat Edgar terus saja memegang erat tangan istri nya. Ia cium berulang kali.


"Terimakasih sayang, aku mencintai mu." Ucap Edgar mengusap wajah istri nya lembut.


Dewi tersenyum, " aku juga mencintai mu mas."


Tiba-tiba suasana menjadi hangat, hanya tatapan penuh cinta yang mewakili perasaan kedua nya.


Dava yang melihat Edgar dan Dewi berciuman tidak tahu tempat hanya menggelengkan kepala nya.


"Jomblo seperti ku bisa apa, author tolong berikan aku jodoh. Aku lelah melihat kemesraan mereka berdua."


_____________________TAMAT___________________________


Terimakasih sudah mengikuti cerita ku sampai saat ini, ini ending dari kisah Edgar dan Dewi.



salam cinta dari mereka. i love you all.

__ADS_1


__ADS_2