Aku Vs Masa Lalu Suamiku

Aku Vs Masa Lalu Suamiku
extra part 1


__ADS_3

Genggaman tangan tak pernah lepas dari sepasang suami istri itu sejak turun dari pesawat. Perasaan lega dan bahagia membuat Edgar enggan melepas genggaman tangan nya di tangan sang istri. Dewi yang duduk di samping Edgar terlihat masih mengantuk, sampai ia merasakan ada dua tangan kekar merengkuh tubuhnya nya dan membawanya kedalam pelukan.


Bersandar di pundak nyaman sang suami, Dewi mencium aroma parfum mahal suaminya yang bercampur dengan aroma tubuh Edgar. Aroma yang sudah lama di rindukan nya kini bisa ia nikmati setiap hari.


"Tidurlah sayang, kamu masih mengantuk kan." Ucap Edgar seraya merebahkan kepala istri nya di pundak nya. Ia usap lembut rambut sang istri sambil mencium ubun-ubun nya berulang kali.


"Hemm.." hanya gumaman yang terdengar, merasa nyaman di pelukan sang suami membuat ibu hamil 8 bulan itu terlelap dengan mudah nya.


Edgar tersenyum saat mendengar hembusan nafas teratur dari istri nya. Ia kecup kepala istri nya berulang.


Perasaan nya sekarang lega memastikan istri nya berada di sisi nya. Merasa beruntung mempunyai istri seperti Dewi yang sanggup memaafkan kesalahannya yang berulang.


"Seperti yang kamu bilang wi, mari kita jatuh cinta lagi dan melakukannya dengan benar kali ini. Aku janji." Ucap Edgar pelan, tak mau ucapan nya membangunkan sang istri yang tertidur lelap di pelukan nya.


Dava yang berada di kursi depan mengulum senyuman menyaksikan kemesraan yang sudah lama tak terlihat di antara majikan nya. Sebagai seorang sahabat, tentu Dava turut merasakan bahagia melihat Edgar yang berhasil mempertahankan rumah tangga nya.


Menghela nafas pelan, Dava teringat dengan ucapan mama nya yang akan menjodohkan nya lagi dengan anak teman nya. Jujur saja Dava lelah dengan sikap mama nya, istri? Dava merasa bisa mencari sendiri. Dijodohkan seperti ini membuat harga diri pria itu ternoda. Tapi menolak keinginan mama yang di cintai nya pun ia tak kuasa.


"Dav," panggilan Edgar menyadarkan Dava dari lamunan.


Dava menoleh ke arah kaca di atas nya, "ya gar."


"Kosongkan jadwalku untuk 3 hari kedepan. Aku ingin menikmati hari bersama istri ku dan tidak mau di ganggu." Titah Edgar.


"Baik." Jawab Dava, pria itu merogoh ponsel nya dan melihat jadwal bos nya untuk tiga hari ke depan.


Mengatur ulang semua jadwal, Dava menghubungi sang sekertaris. Melihat foto profil Lala terpampang jelas di ponsel nya, Dava mengulum senyuman.


"Kenapa aku baru sadar kalau kamu secantik ini la,?. Alana Maheswari ..." gumam Dava pelan.


"Kenapa? Baru sadar Lala cantik?. Mau ku comblangin dav?" Edgar terkekeh, dan langsung memelankan suaranya saat ada gerakan dari sang istri yang merasa terusik.

__ADS_1


"Sialan kau gar! Kau kira aku tidak bisa mendapatkan nya?" Dava berdecak kesal. "kenapa kau terus memanggilnya Lala, namanya Alana Maheswari gar."


"terlalu susah, Lala itu sudah pas dan mudah untuk di panggil." Edgar menoleh pada kaca, dan melihat Dava yang terlihat kesal.


"Pria gagal move-on seperti mu memang nya berani untuk membuka hati kembali?"


"tak sadar diri kalau kau lebih parah dariku!" umpat Dava dalam hati.


tapi perkataan itu sanggup membuat Dava terdiam. Ingatan nya menerawang ke masa lalu. ingatan pada sosok cinta pertama nya. Saat SMA, Dava merasakan getaran yang beda di dada nya saat melihat wanita cantik yang berdiri di depan pintu rumah nya.


Menggeleng kepalanya pelan, Dava mencoba melupakan ingatan itu. "Lupakan dav, dia itu sepupu mu." Batin Dava menolak untuk mengingat kenangan nya dulu.


Dava menfokuskan dirinya lagi pada sang sekretaris, mengirim pesan untuk bertemu sekalian mengajak makan siang.


***


Mobil melaju pesat melewati jalanan ramai ibu kota. Matahari sudah di atas kepala saat mobil sedan hitam milik Edgar yang di kendarai Danu memasuki gerbang dan berhenti tepat di depan pintu.


"Hemm apa sudah sampai mas?" Dewi menegakkan duduk nya sambil mengucek mata. Mengedarkan pandangan ke luar jendela. Ia melihat taman di depan rumah yang sudah lama ia tinggal.


Turun dari mobil lewat pintu yang sudah di bukakan Edgar, mata Dewi membulat sempurna saat melihat ibu kakak sekaligus kedua mertua nya berdiri di depan pintu rumah. kantuk yang menderanya lenyap sudah berganti kebingungan.


"Mas kenapa semua berkumpul disini?" Bisik Dewi pada suaminya.


Edgar menggeleng, ia juga terkejut dengan pemandangan ini. Tapi sebisa mungkin ia bersikap biasa.


Setelah menyuruh Danu mengantar Dava pulang, ragu-ragu Edgar berjalan mendekati orang tua beserta mertua dan kakak ipar nya. Menerawang dari raut wajah, Edgar bisa melihat semua ini pasti tidak baik-baik saja. Apalagi melihat ayu yang berdiri Dnegan kedua tangan melipat di dada jangan lupakan tatapan tajam nya yang tertuju pada Edgar siap menerkam.


"Kenapa semua berdiri di luar, ayo masuk." Edgar mencium tangan orang tua dan mertua nya, di ikuti Dewi juga.


Entah kenapa Edgar merasa hawa panas seperti menerpa ruang tamu nya padahal AC sudah menyala.

__ADS_1


Dewi yang duduk di samping suaminya juga terlihat bingung apalagi melihat sorot mata tajam kakak nya yang tak pernah lepas dari suaminya.


"Apa kamu baik-baik saja wi?" Bu Dian memulai pembicaraan setelah sekian menit tak ada yang bersuara.


"Dewi baik-baik saja Bu, maaf Dewi pergi tidak bilang saat itu." Ucap Dewi tertunduk merasa bersalah sudah membuat khawatir sang ibu.


"Tidak apa-apa yang penting semua baik-baik saja sekarang." Bu Dian menoleh pada menantu nya.


Edgar yang di tatap mertua nya menjadi salah tingkah. Ia melirik ke arah kakak ipar nya yang masih saja memandang nya dengan sorot mata tak bersahabat.


"Kalau boleh tahu, kenapa semua berkumpul disini?" Tanya Edgar pada semua orang di ruang tamu.


Bu Dian yang hendak menjawab mengurungkan niat nya saat anak sulung nya menyela.


"Kami mau membawa Dewi pulang!" Ucap ayu dengan tegas. Melupakan kesopanan nya dihadapan mertua adiknya.


"Hah!" Edgar dan Dewi terkejut bersamaan.


"Tidak boleh!" Ucap Bu Novi menolak tegas. Memandang tajam ayu yang juga memandang nya tajam.


"Hah!" Edgar dan Dewi saling berpandangan, masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


"Jangan ikut campur dengan urusan mereka yu, biarkan Edgar dan Dewi yang memutuskan." Ucap Bu Novi.


"Tidak bisa nyonya, jika adiku terus disini. putra kesayangan mu itu akan terus menyakiti adiku!" Gerutu ayu berdiri dari duduknya. Sebagai kakak ia tidak terima jika adiknya diberlakukan semena-mena.


Bu dian menenangkan putri sulung nya, dan menyuruh nya duduk kembali.


"Tapi kamu bisa lihat sendiri, mereka berdua baik-baik saja sekarang. Jadi kita tidak perlu ikut campur lagi yu. Lagipula Edgar sudah meminta maaf dan mengakui kesalahannya." Ketus Bu Novi. Wanita menuju setengah abad itu mendengus kesal.


"Tetap saja. Ada kemungkinan jika Edgar nantinya menyakiti Dewi lagi. Kesalahan putramu ini tidak hanya sekali nyonya. Coba posisi kan diri anda sebagai saya, pasti juga tidak rela membiarkan adiknya di sakiti orang lain apalagi suaminya sendiri." Cerocos ayu, nafas ibu satu anak itu naik turun. Emosi nya tersulut saat Bu Novi terus membela anak nya sejak tadi.

__ADS_1


Pak Cakra mencegah istri nya yang hendak berdiri dari duduk nya. Menenangkan sang istri yang sedang dikuasai emosi. Sedangkan Edgar dan Dewi sudah mulai bisa meraba arah perdebatan ini.


__ADS_2