Aku Vs Masa Lalu Suamiku

Aku Vs Masa Lalu Suamiku
bab 73


__ADS_3

Matahari sudah mulai menyingsing di ufuk timur tapi hawa udara masih terasa dingin di desa ini. Olahraga pagi berjalan kaki di temani Bu Sri, Dewi merasa hidup nya tak selalu merasa buruk. Mereka beberapa kali melihat warga desa yang lewat tampak bertanya-tanya siapa wanita yang berjalan di samping Bu Sri walaupun begitu warga desa ini tampak ramah dan menyapa Dewi juga.


"Mungkin ini baru awal makanya warga masih merasa asing sama Dewi, tapi nanti pasti juga terbiasa. Warga sini baik-baik kok nak." Bu Sri mencoba menenangkan Dewi yang tampak canggung saat menjadi pusat perhatian warga desa.


"Saya jadi tidak enak sama Bu Sri dan pak Suryo, saya merasa merepotkan disini. Apalagi saya disini sedang keadaan hamil. Pasti warga memikirkan yang tidak-tidak." Ungkap Dewi menunduk, menyesali keputusan nya yang mau dengan ajakan pak Suryo untuk tinggal dirumah nya sementara sampai bayi nya lahir.


Tidak mempunyai kerabat atau siapapun di kota Yogya menjadi alasan Dewi mau menerima saran dari pak Suryo daripada tinggal di hotel. Sendirian saat sedang hamil lebih beresiko. Dewi mempertimbangkan banyak hal.


"Jangan difikirkan, tadi malam kita kan sudah ke rumah pak RT buat laporan izin. Jadi Ndak usah khawatir nak. Ibu malah senang ada teman nya. Soal nya kalau Ajeng sekolah, ibu jadi sendirian di rumah. Apalagi Ajeng pulang nya sore karena ambil les juga setelah pulang sekolah. Dan si Danan, anak itu jarang pulang. Pulang waktu musim panen saja itupun hanya sampai panen selesai. Tidak sampai 3 hari sudah kembali ke ibu kota. Alasan nya warung nya Ndak bisa di tinggal lama." Ujar Bu Sri panjang lebar, ia mendengus saat menceritakan putra nya.


Begitulah orang tua, tidak mengharapkan uang dari anak nya. Yang di harapkan hanya kepulangan anak nya. Bertemu anak nya yang lama di perantauan adalah obat paling mujarab untuk mengatasi rasa rindunya.


"Mas Danan di Jakarta sejak kapan Bu?" Tanya Dewi, ia penasaran dengan pria yang baru bertemu dengan nya saja sudah percaya diri menebak akan bertemu lagi. Dan tebakan nya tepat sasaran, belum ada satu jam mereka ternyata bertemu kembali. Bahkan beberapa bulan kedepan Dewi akan tinggal dirumah nya.


"Sudah hampir dua tahunan kalau Ndak salah, sebelum nya Danan tidak buka warung di sana, awalnya ia manager di salah satu restoran. Tapi entah karena apa, Danan di keluarkan. Dan akhirnya memilih membuka usahanya sendiri." Terang Bu Sri memandang hamparan sawah di depan nya. Sejenak ia memejamkan mata dan menghela nafas.


Dewi memperhatikan wajah wanita di samping nya. Wanita yang wajah nya tenang dan sejuk, ramah, masih terlihat cantik di usia nya yang tak lagi muda. Dewi seperti melihat sosok ibu nya.


"Kok jadi malah bahas Danan ya nak." Bu Sri tersadar dari lamunan nya sesaat. Menatap Dewi yang kini tengah menatap nya.


"Ibu mirip sekali dengan ibu saya," ucap Dewi.


Bu Sri tersenyum dan mengusap rambut Dewi. "anggap ibu sebagai ibu mu disini. Saat pertama kali melihat nak Dewi, ibu juga merasa seperti melihat teman masa kecil ibu."


Dewi tersenyum,"mohon bantuan nya ya Bu," Dewi memeluk wanita di depan nya, ia rindu dengan ibu nya.


Sebelum memutuskan untuk pergi kesini, Dewi sempat berfikir untuk pergi kerumah ibu nya tapi Dewi tidak mau jika nanti Edgar menemukan nya. Memutuskan untuk menjauh dari suaminya sementara adalah keputusan yang tepat.


Selain untuk menenangkan diri, Dewi juga memberi waktu untuk suami nya berfikir atas semua kesalahan nya. Pentingkah dia di hidup edgar? Dewi saja ragu tentang hal itu. Bayang bayang Perceraian yang di janjikan Edgar memenuhi kepala nya.


,,,


"Wah enak banget rasa nya mba, Thai tea di depan sekolah ku kalah jauh sama Thai tea buatan mba Dewi." Seperti mendapat harta Karun terpendam, gadis remaja itu senang sekali hingga meneguk habis Thai tea di dalam gelas nya.


"Bilang enak karena gratis kan jeng, dasar." Danan yang baru datang ikut duduk di karpet.


"Ihh beneran enak kok mas, coba aja kalau ndka percaya!" Sungut Ajeng yang tidak terima rambut nya di berantakan sang kakak.

__ADS_1


Baru mau menuangkan Thai tea untuk Danan, berbarengan dengan Danan yang mau menuangkan Thai tea. Tangan mereka yang bersentuhan tak terhindarkan.


Dewi dan danan saling pandang beberapa saat sampai Dewi tersadar dan menarik tangan nya.


"Saya tuangkan saja mas" ucap Dewi, Danan buru-buru menarik tangan nya dari teko.


"Terimakasih" ucap Danan menerima gelas dari Dewi.


"Mba Dewi sering buat Thai tea ya?" Tanya Ajeng membuyarkan rasa canggung di antara Dewi dan danan.


"Sering, aku punya beberapa cabang di Jakarta dan Bandung." Jawab Dewi membuat Ajeng terkejut sekaligus takjup.


Begitupula Danan, dari cerita bapak nya. Dewi ini istri pengusaha kaya. Tidak ia duga ternyata Dewi adalah gadis dari kalangan sederhana. Ia mengira Dewi ini juga tak jauh berbeda dari suaminya yang berasal dari keluarga terpandang.


"Wah hebat banget mba Dewi, perempuan, mandiri dan hebat. Ajeng juga mau seperti mba Dewi. Punya usaha sendiri dan punya banyak karyawan" ungkap gadis itu. Ajeng yang bercita-cita menjadi pengusaha disaat semua teman nya bercita-cita menjadi tentara, polisi, dokter, bahkan presiden. Tapi gadis itu malah memilih ingin menjadi pengusaha dan menjadi bos dari banyak karyawan.


Disaat Ajeng dan Dewi asik bercerita, tak henti-hentinya Danan merasa kagum tentang sisi lain dari wanita di depan nya ini. Beberapa kali mencuri pandang pada Dewi. Ia tak sadar jika sedari tadi ada seseorang yang memperhatikan nya.


***


Di perjalanan menuju kantor pusat taxi, Edgar mencari tahu siapa sopir yang mengendarai taxi yang ditumpangi Dewi. Karena dari sana, ia akan lebih mudah untuk mencari tahu keberadaan istri nya.


"Apa! Bagaimana bisa?" Edgar meremas rambut nya, sedetik merasakan angin segar, sekarang ia harus menelan kekecewaan kembali.


"Tenang dulu gar," ucap Dava " bisa beritahu kami dimana tempat tinggal sopir tersebut dan siapa nama nya?"


"Sebentar ya pak," resepsionis wanita itu dengan cekatan mengecek di laptop nya.


Di dalam mobil Edgar tak henti-hentinya mengumpat, Dava yang di sebelah nya hanya bisa menghela nafas kasar. Menghadapi kemarahan majikan nya tidak akan ada habis nya. Ia memilih untuk fokus pada jalanan di depan.


"Siapkan tiket untuk ku ke Palembang, aku akan ke sana saat ini juga." Titah Edgar pada Dava.


"Apa tidak sebaiknya menunggu sampai anak buah paman mendapat informasi gar. Lagi pula paman juga mengerahkan anak buah nya ke Bandung. Sabar dan tunggu info dari mereka. Kalau Dewi tidak ada di Bandung baru kita terbang ke Palembang." Dava mencoba berfikir tenang.


"Aku tidak bisa bersabar dav, bagaimana kalau Dewi dan bayiku kenapa-napa. Aku tidak bisa membayangkan jika itu terjadi. Aku bisa gila dav!"


"Fikirkan kemungkinan yang lain juga gar, mungkin Dewi butuh waktu untuk menenangkan diri. Belum tentu saat kamu menemukan nya dia mau kembali pulang padamu. Bahkan aku saja tidak yakin jika Dewi memaafkan mu. Kesalahan mu itu sangat fatal gar. Sadar itu!"ucap Dava dengan kesal, berualng kali ia sudah mengingatkan Edgar tentang niat licik nya Risa, tapi Edgar tidak percaya.

__ADS_1


"Aku tidak peduli Dewi memaafkan ku atau tidak. Yang penting aku bisa melihat nya baik baik saja. Aku hanya ingin memastikan nya baik baik saja."


Dava menajamkan penglihatan nya, "gar kamu nangis?" Saking tidak percaya nya Dava menghentikan mobil nya.


"Bagaimana ini dav, aku tahu kesalahan ku tidak bisa di maafkan. Tapi aku mencintai Dewi dav. Tulus. Aku sangat menginginkan nya disisi ku."


Dava bisa melihat jelas dari balik punggung bergetar pria itu. Menepuk pelan punggung Edgar Dava bisa melihat jika Edgar benar-benar menyesal.


Buru-buru mengangkat telfon saat ponsel nya berdering. Edgar menghapus air matanya dengan kasar.


"Apa kalian sudah menemukan istri ku?" Tanya Edgar tidak sabaran.


Tapi dari raut wajah nya, sepertinya Dewi tidak ada di Bandung. Edgar mematikan ponsel nya sepihak dan menunduk kembali.


"Kita ke Palembang sekarang gar, aku sudah memesan tiket." Ujar Dava. "Kau harus semangat gar, demi Dewi dan bayimu. Kau harus buktikan pada Dewi kalau kamu benar-benar menyesal. Tunjukan cinta mu dengan cara ini." Dava menyemangati. Ia juga tidak tega melihat keadaan Edgar yang seperti ini. Selama kenal Edgar. Ia tidak pernah melihat sahabat nya sebegitu putus asa nya.


***


Sampai di kota yang terkenal dengan mpek-mpek nya itu. Edgar dan Dava memutuskan untuk langsung mencari alamat yang diberikan resepsionis tadi.


Mobil melaju sesuai alamat, berhenti di depan salah satu rumah sederhana. Kedatangan Edgar dan Dava mengejutkan pemilik rumah yang sedang mencuci motor di halaman.


"Permisi pak, apa benar ini rumah pak Hasan?" Tanya Dava, ia mengamati laki-laki di hadapan nya.


Laki-laki yang tingginya di bawah nya sedang mencuci motor. Menatap ke arah nya dengan tatapan bingung.


Belum menjawab pertanyaan Dava, laki laki itu menoleh ke belakang saat anak kecil sekitar usia 7 tahun memanggil dan menghampirinya.


"Ayah, sudah selesai cuci mo..tor nya?" Anak kecil itu bersembunyi di balik tubuh ayah nya saat melihat Dava dan Edgar.


"Vian masuk dulu ya, ayah lagi ada tamu." Ucap sang ayah pada anak nya yang langsung mengangguk dan masuk ke dalam rumah.


"Benar saya Hasan, ada apa ya pak?" Tanya pak Hasan.


"Apa bapak bekerja sebagai sopir taxi xx di daerah Jakarta?" Tanya Dava lagi ia ingin memastikan tidak salah orang


"Benar pak" jawab pak Hasan jujur, ia merasa tidak asing saat melihat edgar di hadapan nya ini. Saat mengingat-ingat ia sadar ia pernah melihat foto Edgar di tv dan internet. Tapi ia bingung, ada urusan apa seorang pengusaha menemui nya yang hanya sopir taxi.

__ADS_1


"Bisa kita berbincang sebentar pak?" Tanya Dava, ia mulai merasa panas berdiri di luar pagar.


"Bisa pak, mari masuk." Pak Hasan mempersilahkan.


__ADS_2