
"Danu! Pak Rudi!" Teriak Edgar, suaranya terdengar sangat kesal.
"Iya tuan" ucap pak Rudi dan Danu bersamaan. Mereka menunduk saat tatapan Edgar tajam menusuk kearah mereka.
"Habislah aku, mana belum sempat pdkt sama ana. Masak aku harus sudah dipecat pula.. cintaku layu sebelum berkembang"
Danu gemetar tidak berani menatap pada Edgar. Di pikiran nya malah sibuk dengan penyesalan gagal pdkt dengan ana sang asistent majikanya.
"Kalian tahu apa kesalahan kalian!" Bentak Edgar.
"Maaf tuan" ujar pak Rudi.
Danu hanya mengangguk, pikiran nya entah kemana sekarang. Dia melirik ke arah rumah mencari sosok sang pujaan hati agar bisa menjadi bahan semangat nya sedikit saja.
"Huh! Sebenarnya aku masih kesal dengan kalian."
Danu malah bernafas lega karena bukan dirinya saja yang terkena amukan Edgar. Setidak nya dia punya teman untuk meratapi nasib nya setelah ini.
"Terutama kamu Danu!"
Deg..
Danu refleks mendongak menatap wajah majikan nya. Saat mendapat tatapan maut dari Edgar, Danu Menundukkan kepala lagi.
"Pak Rudi, kalau melihat istriku keluar rumah sendirian. Tolong Langsung laporkan padaku. Pak Rudi sudah lama bekerja dengan orag tua ku kan. Bapak sudah ku anggap seperti keluarga ku sendiri."
Tegas Edgar. Pak Rudi mendongak menatap Edgar, dia tahu dia juga salah dalam hal ini. Atas sikap kurang tegas nya membuat istri dari majikannya mengalami kecelakaan.
Dari dia kecil sampai sekarang pak Rudi lah yang menjaga nya, mengantar kemanapun Edgar pergi.
Bahkan pak Rudi lah yang mengajari nya mengayuh sepeda untuk pertama kali.
Hubungan dua orang itu sudah seperti keluarga. Pak Cakra dan Bu Novi sangat sibuk sekali dengan pekerjaan nya.
Saat Bu Novi menawarkan siapa yang mau bekerja dirumah Edgar, pak Rudi dan Bu asih lah yang mengajukan diri pertama kali.
"Pak Rudi boleh kembali ke pos sekarang." Ucap Edgar kali ini tidak ada kesal atau pun marah dalam nada suaranya.
__ADS_1
Danu yang hendak mengikuti pak Rudi pun menghentikan langkahnya saat Edgar kembali memanggil nya.
"Kamu mau kemana Danu! Aku belum selesai dengan mu!"
"Ana.. sepertinya Abang sudah tidak punya harapan lagi. Tunggulah 2 tahun lagi ya tunggu Abang melunasi rumah abang. Abang akan meminang mu.. pasti..."
"Cih, kamu anak baru kan? Aku tidak pernah melihatmu. Sudah berapa lama kerja dengan orang tua ku?"
"Baru jalan tiga bulan tuan. Saya bertugas mengantar nyonya Novi menggantikan pak Tri yang mengundurkan diri." Ucap Danu
masih menunduk.
"Apa kamu selalu disamping mama ku saat dia pergi keluar?" Edgar menelisik laki laki didepan nya ini. Edgar menahan tawa saat melihat celana Danu.
"Iya tuan."
"Kalau begitu Pastikan kamu terus berada disamping istri ku, eh tidak! dibelakang nya saja dan jangan terlalu dekat dengannya. Pastikan dia selalu aman. Kalau ada sesuatu sedikit saja terjadi pada istriku. Kau akan berhadapan dengan ku!"
"Baik tuan. Jadi saya tidak jadi di pecat tuan?" Kali ini berani mendongak menatap Edgar.
"Emm,," Edgar tampak menimbang nimbang keputusan nya, dia melihat Danu yang gemetar.senyum licik disudut bibirnya tersungging. Dia tengah menikmati raut wajah Danu yang tampak panik.
"Baik tuan. Saya akan berhati hati dan tidak melakukan kesalahan lagi." Danu bernafas lega.
"Baiklah aku pegang kata kata mu ya. Aku masuk dulu." Edgar menepuk pundak Danu pelan.
Saat baru beberapa langkah berjalan Edgar kembali menoleh pada Danu yang masih terdiam di tempatnya.
"Dan satu lagi tutup resleting celana mu itu! Hahaha"
Tawa Edgar pecah sekarang. Melihat Danu dengan wajah bodoh nya. Dia masih tertawa saat sudah masuk kedalam rumah.
"Astaga.. pantas saja dari tadi aku merasa semriwing angin masuk kesini." Berbicara sendiri menatap kebawah perut nya.
"Ini aset berharga ku. Cuma neng ana yang boleh melihat nya."
***
__ADS_1
"Bu asih masih disini?" Tanya Edgar saat masuk kedalam kamarnya dan melihat Bu asih yang memijit kaki istrinya.
"Iya tuan,"
"Bu asih boleh kembali bekerja sekarang."
Sudah mendekati istrinya dan duduk disebelah nya.
"Baik, permisi tuan nona." Pamit Bu asih.
"Terimakasih ya Bu."
Bu asih mengangguk dan berlalu pergi, dia sempat sekilas melihat Edgar mencium Dewi saat menoleh tadi. tidak mau mengganggu kemesraan kedua majikan nya yang selama sebulan ini sudah tidak terlihat Bu asih berjalan cepat dan menutup pintu.
"Sayang apa masih ada yang sakit?" Tanya Edgar pada istrinya.
"Tidak mas, sudah lebih baik sekarang"
"Baiklah, kemari" Edgar merentangkan tangan.
Dewi yang mengerti langsung menghambur memeluk tubuh suaminya. Menghirup aroma tubuh suami yang di cintai nya. Selama sebulan ini dia sudah cukup kuat bertahan menghadapi Edgar.
Hari ini semua terbalaskan.
Cup..
Tiba tiba Dewi mencium bibir suami nya. Edgar tersenyum, menatap lekat mata hitam milik istri nya.
"Wah, sekarang kamu mulai berani ya. Seperti nya luka dikepalamu ini ber efek pada keberanianmu menggodaku." Edgar terkekeh melihat bibir istrinya yang maju beberapa centi.
Edgar memeluk erat tubuh Dewi, mencium kepala istrinya. Mengambil nafas sebentar.
"Hatimu terbuat dari apa sih wi?" Dewi mendongak pada suaminya.
"Kebaikan apa yang sudah ku lakukan sampai punya istri sebaik dirimu?" Cairan bening terlihat mengembun disudut matanya.
"Mas.." mengusap air mata yang sudah jatuh membasahi pipi suaminya.
__ADS_1
"Sejak aku bersedia menjadi istri mu, sejak itu pula aku sudah berjanji akan menerima semua kelebihan dan kekurangan mu." Mengusap dada bidang suami nya dengan lembut menyalurkan rasa sayang tulus nya.
"Terimakasih sudah bertahan sampai saat ini. Aku mencintai mu sayang."