Aku Vs Masa Lalu Suamiku

Aku Vs Masa Lalu Suamiku
bab 14 hancur


__ADS_3

Dewi kembali ke kedai nya setelah hari sudah berganti malam. Mia yang melihat Dewi sudah kembali langsung menghampiri Dewi. 


"Bagaiman wi.. sudah ketemu mas Erik?" 


Tanya Mia antusias. 


Dewi terdiam tidak menjawab pertanyaan Mia. Setelah itu terdengar Isak kecil dari bibirnya. Dewi menunduk sambil menangis. 


Hiks.. 


Hiks.. 


Mia refleks langsung memeluk Dewi. Menenangkan nya. Dewi semakin mengeras kan tangisan nya. 


"Ke..kedai nya ditutup saja mi. Aku mau pulang." Ucap Dewi sambil terisak. 


"Apa yang terjadi wi. Kenapa kamu seperti ini?" 


Walaupun begitu Mia akhirnya tetap menutup kedai Dewi dan mengajak Dewi pulang. 


Setelah sampai rumah Dewi langsung berlari ke atas masuk ke dalam kamarnya.  


Sedangkan Mia hanya menatap sedih teman nya itu, diperjalanan Dewi hanya diam tidak mau cerita. Lalu Mia berjalan ke arah dapur dan membuat kan secangkir teh untuk Dewi. 


Mia mendekati Dewi yang tengkurap di atas ranjang sambil menyembunyikan kepalanya diantara bantal. 


"Diminum dulu wi, biar tenang." Ucap Mia menepuk punggung Dewi dengan lembut. 


Dewi duduk bersandar pada sandaran tempat tidur. Meraih gelas dengan kedua tangan nya. Meniup sebentar lalu meminum nya. 


"Sudah tenang? Mau cerita?" Pancing mia. 


Ditanya seperti itu Dewi kembali menangis. 


Hiks.. hiks ... 

__ADS_1


"Kenapa mas Erik menyatakan perasaan nya padaku tadi? Padahal dia tahu aku sebentar lagi akan menikah." Ucapnya dengan terisak. 


Mia mengelus pundak Dewi dengan lembut. 


"Wi.. mungkin itu cara mas Erik agar nanti nya bisa melepas mu. Dengan begitu dia tidak akan terbebani lagi dengan rasa cinta yang selama ini dipendam nya." Ujar Mia memberi penjelasan. 


Dewi menatap Mia. Dia bahagia punya teman seperti Mia yang mau mendengarkan keluh kesah nya. 


"Sudah jangan menangis lagi. Kamu ini calon pengantin. Kalau kebanyakan menangis nanti dihari pernikahan wajah mu menjadi tidak cantik lagi bagaimana?" Goda Mia pada Dewi. 


"Nanti mas Edgar tidak bisa membedakan mana kamu, mana orang lain." 


"Sembarangan!" Dewi memukul pundak Mia. 


Mia terkekeh melihat wajah kesal Dewi. 


*** 


Dikediaman Gunawan. 


Erik pulang ke rumah nya dengan keadaan menyedihkan, kemeja yang dipakai nya berantakan dengan dua kancing atas terbuka tak beraturan. Dia dipapah oleh Dion sekertaris nya yang juga membawa jas Erik dipundak nya. 


"Apa yang terjadi dengannya Dion?" Tanya bu Asti dengan panik. melihat anak nya seperti ini membuat hatinya sakit.


"Tuan Erik mabuk di klub nyonya," jawab nya sambil terus memegangi Erik agar tidak terjatuh. 


"Ke.. kenapa kamu tidak mencintai ku.. kenapa?" Racau Erik tak karuan. Bau alkohol menyengat dari mulut nya. 


Dion di bantu oleh pelayan memapah Erik menaiki tangga ke kamar Erik. Dia merebahkan tubuh Erik di tempat tidur nya. Memandang tuan nya dengan tatapan kasian. Dia mengehela nafas kasar lalu keluar dari kamar. Membiarkan pelayan laki laki itu mengganti pakaian Erik. 


Saat sudah turun ke bawah Dion dipanggil oleh pak Salim, Dion yang mengerti maksud dari pak Salim langsung mendekat ke arah nya. Duduk di sofa yang berbeda dengan pak Salim. 


"Jelaskan!" Ucap pak Salim datar. 


"Tuan Erik..."  

__ADS_1


"Panggil dia kakak, kamu ini sepupu nya. Panggil dia secara formal jika sedang di kantor saja." Ucap pak Salim memotong perkataan Dion. 


"Baik paman.."  


Dion adalah keponakan pak Salim. Dia anak dari adik kandung Salim gunawan. 


"Kak Erik setelah selesai meeting bertemu seorang wanita yang tak lain adalah orang yang dicintai nya selama ini. Tetapi karena sang wanita sudah akan menikah kak Erik frustasi. Dan mengajak saya ke klub untuk menenangkan pikiran." Jelas Dion. 


"Jadi kakak mu itu patah hati begitu?" 


Tanya pak Salim dengan santai. 


"Benar paman. Dan.." ucapan Dion terhenti karena dia sebenarnya ragu ingin mengatakan pada paman nya itu. 


"Teruskan!" 


"Dan wanita yang di cintai kak Erik adalah calon istri dari tuan Edgar Permana putra. Putra tertua tuan Cakra Permana." 


"Apa!" Kali ini pak Salim terkejut sampai bangun dari duduk nya. 


"Saya minta maaf karena tidak bisa mencegah kak Erik untuk minum" Dion tertunduk dia sadar itu kesalahan nya yang malah menuruti keinginan Erik. 


Setelah menguasai diri pak Salim kembali duduk di sofa. Memijit pelipis nya. Menghela nafas pelan. 


"Apa masa lalu yang aku alami akan terulang kembali pada putra ku?. Sepertinya tuhan sedang menghukum ku."


Batin pak Salim dalam hati. 





__ADS_1



Terimakasih 


__ADS_2