
Deg ...
Dewi refleks mengelus perut nya yang masih rata, dia bahagia sekali akhirnya yang dinanti nantikan nya hadir juga.
Lain hal nya dengan Erik, dia tidak bisa mengekspresikan perasaan nya. Mendengar keluh kesah Dewi tadi ia memutuskan untuk merebut Dewi dari Edgar. Tapi sekarang, mendengar Dewi sedang hamil Erik bingung harus melakukan apa.
Sekarang, Dewi dan Erik berada di ruangan untuk melakukan USG. Layar hitam putih di monitor itu menunjukan kantung kecil.
"Sudah di pastikan ibu hamil ya, usianya sekitar tujuh Minggu." Ujar dokter menghapus gel diperut Dewi dengan tissue.
"Dijaga asupan makan nya ya Bu, jangan terlalu lelah , istirahat yang cukup. Semoga semua nya dilancarkan ya.." ucap dokter Riri .
Dewi mengangguk " Terimakasih dokter."
Ia masih tidak percaya ada kehidupan didalam perut nya.
"Walaupun papa tidak disini, mama bahagia sekali sayang. Sehat sehat di dalam sana ya" gumam Dewi dalam hati.
Setelah mendengar penjelasan dokter Riri, dan dia sudah diperbolehkan untuk pulang.
Erik menebuskan obat dan vitamin untuk Dewi.
"Ini obat nya wi, selamat atas kehamilan mu ya" ujar Erik menyerahkan plastik putih itu pada Dewi.
Dewi tersenyum, "terimakasih mas, mas Erik sudah bantu Dewi."
Erik mengangguk, ia mengajak Dewi untuk pulang. Saat baru sampai di taman rumah sakit, Dewi tidak sengaja melihat Edgar sedang bersama Risa yang duduk dikursi roda.
Dia terpaku .Hatinya merasa sakit, melihat pemandangan itu. Suami nya dengan telaten menyuapi wanita lain. Sedangkan dirinya ditemani orang lain saat dirumah sakit.
Dewi meremas ujung baju nya, air mata nya lolos tak terbendung. Erik yang melihat Dewi menatap lurus ke arah taman pun ikut memandang ke arah sana.
__ADS_1
Dia mengepalkan tangan melihat Edgar berduaan dengan wanita lain, saat hendak menghampiri Edgar , Dewi menahan nya.
"Lepaskan aku wi, biarkan aku menghajar laki laki sialan itu. Laki laki macam apa itu, asik berduaan dengan wanita lain sedangkan istri nya sedang membutuhkan nya!" Erik bersuara dengan suara yang menahan emosi.
"Tidak usah mas, biarkan saja. Ayo kita pulang mas. Aku tidak apa-apa." Dewi menenangkan erik. Lalu menarik nya ke arah mobil.
Di dalam mobil Erik masih saja kesal ingin sekali ia menghajar Edgar saat itu juga.
"Apa laki laki macam itu yang kamu pilih untuk kamu jadikan suami wi? Apa tidak ada yang lebih baik dari dia?" Kesal Erik tangan nya mencengkram kuat kemudi.
Dewi menunduk "tapi Dewi cinta sama mas Edgar mas ..."
Deg ...
Mendengar jawaban Dewi, dadanya seperti dihantam batu besar yang tepat mengarah kesadaran. Wajah Erik merah padam ia semakin kesal. Kenapa Dewi menjadi bodoh seperti ini. Tidak! Edgar yang yang brengs*k memanfaat kan kepolosan dan kebaikan hati Dewi. Begitulah yang dipikirkan Erik.
"Pergilah bersama ku, aku akan merawat mu dan bayi di dalam kandungan mu"
Erik yang berada di dalam kamar nya meremas rambut nya kuat-kuat. Di banting nya barang-barang dimeja kerja nya hingga berhamburan dilantai.
"Kenapa kamu selalu menolak ku bahkan saat laki laki yang kamu cintai itu melukai mu? Kenapa?" Erik menatap bingkai foto yang pecah dilantai. Menatap nanar foto wanita yang sedang tersenyum dengan ceria nya.
"Apa kekurangan ku? Apa yang di dalam diriku tidak ada di dalam diri laki laki baj*Ngan itu!"
"Aku tidak bisa mas, maafkan aku. Aku akan bertahan pada rumah tangga ku demi anak ku."
Ucapan Dewi terngiang-ngiang di kepala Erik. Ia keluar dari ruang kerja nya, dibanting nya pintu itu dengan keras.
Erik melajukan mobil nya ke klub untuk meluapkan semua amarah nya.
Sedangkan Dewi yang berada di dalam kamar nya sudah tidak sabar ingin memberitahu Edgar tentang kehamilan nya. Di tatap nya foto USG itu dengan tersenyum .
__ADS_1
Dewi tidak akan membahas soal kejadian tadi siang di rumah sakit. Ia akan mengesampingkan itu. Yang ia inginkan saat ini hanyalah kepulangan Edgar agar dia bisa cepat memberitahu suaminya.
Sampai larut malam Dewi masih setia menunggu kepulangan suami nya. Terdengar pintu kamar terbuka, Dewi menoleh melihat suami nya.
Dengan segera ia turun dari kasur mengahampiri suami nya.
"Mas, aku ingin memberi tahu sesuatu." Ujar Dewi dengan raut wajah bahagia nya.
"Besok saja ya wi, aku lelah sekali" Edgar masuk kedalam ruang ganti tidak mempedulikan istri nya.
Dewi tidak putus asa, ia menyusul suami nya masuk ke ruang pakaian.
"Mas aku mau memberi tahu sesuatu," Dewi mengikuti pergerakan suami nya. " mas tahu nggak ..."
"Aku lelah wi, kamu bisa diam tidak!" Bentak Edgar.
Dewi tersentak, melihat raut wajah menyeramkan suami nya yang kini menatap nya tajam. Edgar keluar dari ruang pakaian, sekilas ia melihat raut wajah istri nya yang hendak menangis. tapi karena lelah, ego mengalahkan nYa dan membuat nya tidak mempedulikan istri nya.
Dewi masih terdiam mematung diruangan itu, tangan nya masih memegang foto hasil USG. Di usap nya kasar pipi nya yang basah. Lalu keluar dari ruangan itu.
Melihat Edgar yang sudah tertidur, Dewi ikut merebahkan diri disamping suami nya yang membelakangi nya. Disimpan nya foto itu dibawah bantal nya.
Dewi menangis dalam diam, bayangan suami nya akan bahagia mendengar kehamilan nya berterbangan lenyap tak tersisa. Dia bukan nya mendapat pelukan selamat, tapi malah mendapat bentakan dari suami nya.
-
-
-
-
__ADS_1