
"nah itu ada yang jual asinan Bu," ujar Danu menunjuk para penjual jajanan yang berjejer di pinggir jalan."di sebelah sana di samping kiri penjual cilok."
Mata Dewi berbinar cerah kala menemukan penjual asinan, mangga yang di beri kuah asam pedas itu terlihat menggiurkan. Ibu hamil itu tak sabar ingin menikmati nya.
"Ayo berhenti dan, aku sudah tidak sabar." Ucap Dewi penuh binar antusias dan tidak sabaran. Ia menatap penjual asinan itu dari balik kaca mobil.
"Sebentar Bu, kita cari parkiran dulu."
"Aku turun disini saja dan, kamu kesana cari parkiran. Itu di depan ruko itu, parkir disana saja." Titah Dewi menunjuk deretan ruko di depan sana.
"Baik, ibu jangan kemana-mana tapi ya. Tunggu sebentar disini." Danu memberi peringatan seperti ibu pada anak nya.
Bukan apa-apa semenjak kejadian Dewi pergi tanpa pengawasan diri nya. Danu menjadi takut dan berjaga-jaga agar sang nyonya tetap dalam pengawasan nya. Wajah garang Edgar saat marah masih teringat jelas di otak nya.
Dewi tidak menjawab perkataan Danu, ibu hamil itu turun dari mobil dengan hati hati. Perut besar nya sudah tidak memungkinkan untuk ia bergerak dengan leluasa seperti saat sebelum hamil.
Ikut mengantri dengan pembeli lain nya, Dewi tersenyum saat salah satu dari pembeli adalah sepasang suami istri. Terlihat istri pria itu juga sedang mengandung walaupun perut nya tidak sebesar perut Dewi.
"Andai mas Edgar bersama ku, pasti aku juga sangat bahagia seperti wanita itu" batin Dewi dalam hati, tapi segera ia tepis rasa cemburu nya.
"Mas Edgar kan ada pekerjaan penting, kalau mas Edgar berada di rumah pasti dia dengan senang hati juga akan membelikan semua keinginan ku kan. Ya pasti." Ibu hamil itu menyemangati dirinya sendiri.
Saat Dewi masih fokus mengamati sepasang suami istri itu, samar ia mendengar seseorang memanggil namanya. Dalam sedetik orang itu sudah berada di samping Dewi.
"Mas Erik"
"Hai wi, ternyata beneran kamu ya" sapa Erik dengan senyuman yang menghiasi wajah tampan nya. Saling pandang beberapa detik, suara penjual memutus pandangan mereka.
"Mau berapa bungkus Bu?" Tanya sang penjual.
"Satu saja pak," ucap Dewi memberikan uang dua puluh ribuan. Karena di gerobak penjual nya sudah tertera harga asinan 15 ribu. "Kembalian nya buat bapak saja." Imbuh ibu hamil itu tersenyum.
"Terimakasih Bu"
***
Danu duduk di kursi tak jauh dari tempat majikan nya duduk. Hanya berbeda meja, sopir merangkap asisten itu ketar ketir menatap majikan nya mengobrol dengan seseorang, apalagi orang itu laki-laki.
__ADS_1
"Sepertinya kekayaan nya melebihi pak Edgar." Batin Danu, matanya menelisik penampilan pria yang sedang bercerita dengan sang majikan.
"Kebaikan apa yang sudah di lakukan Bu Dewi sampai dua pria tampan dan kaya memperebutkan dirinya." Danu masih saja berceloteh di dalam hati, bukan nya ia tidak paham. Melihat cara Erik memandang Dewi sudah bisa ia pastikan jika pria itu punya perasaan lebih dari hanya sekedar teman lama.
Danu tersentak dari lamunannya dan ikut berdiri dari duduk nya saat sang majikan berdiri. Ia bisa melihat Erik tiba tiba berlutut dan mengelus perut besar majikan nya.
"Mas, jangan seperti ini. Banyak yang melihat mas." Ujar Dewi, mata ibu hamil itu memperhatikan sekeliling nya.
"Maafkan aku wi, aku hanya rindu padanya. Sudah lama aku tidak melihat gerakan nya kan." Ujar Erik tersenyum canggung.
"Sebentar lagi jadwal mu periksa kan, apa sudah dapat dokter yang cocok." Imbuh Erik, bukan nya ia tidak tahu jadwal kontrol Dewi. Karena selama di Bandung, ia lah yang menemani Dewi ke dokter dan terkadang juga dengan Kinan.
Semenjak Edgar kembali, rutinitas nya itu di ambil alih oleh Edgar. Erik tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak punya hak apapun atas Dewi.
"Sudah mas, mas Edgar sudah mencarikan dokter untuk ku."
Erik tersenyum kecut sambil menganggukkan kepala.
"Baiklah, aku pergi sekarang ya. Jangan terlalu banyak makan asinan tidak baik untuk lambung mu."
Dewi mengangguk menatap kepergian Erik dengan sendu.
Setelah nya Dewi memanggil Danu dan mengajak nya untuk pulang.
****
Edgar melempar hp nya di atas kasur dengan kasar. Mengepalkan kedua tangan nya pria itu terlihat sangat mengerikan. Wajah memerah, rahang mengeras serta urat nya yang menonjol menunjukan kalau dia sedang sangat marah.
"SIALAN KAU ERIK GUNAWAN!!!"
umpat nya dengan keras, hanya itu yang bisa ia lampiaskan atas kemarahan nya saat ini. Andai dia dekat dengan istri nya ia bisa langsung menanyakan.
Meraih hp nya kembali Edgar menghubungi Dava.
Sedangkan Dava yang baru saja akan tidur segera berlari ke kamar Edgar tanpa mempedulikan penampilan nya.
Dari suara Edgar saja ia bisa memastikan kalau sahabat sekaligus bos nya itu sedang sangat marah. Membuka pintu dengan kasar Dava tersentak saat melihat kamar Edgar berantakan. Bahkan kaca di dalam hotel itu pun sudah pecah berkeping-keping.
__ADS_1
"Apa yang terjadi gar? Kenapa kamu seperti ini?" Tanya Dava ia menghampiri Edgar yang dengan asal memasukan baju baju nya kedalam koper.
"Aku akan pulang malam ini juga, kamu urus segala nya disini!" Titah Edgar tanpa menoleh pada Dava yang kebingungan.
Pria yang hanya mengenakan celana kolor saja itu semakin bingung.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada Dewi?"
"Ya! Ada masalah padanya" jawab Edgar dingin.
"Apa dia mau melahirkan? Bukankah masih dua bulan lagi." Dava yang tidak tahu menahu masalah apa yang menimpa pada Edgar hanya bisa bertanya.
Setelah memasukkan baju nya Edgar menyeret koper nya menghampiri Dava,
"Mana kunci mobil ku?" Todong Edgar, tanpa basa basi.
"Apa sebaiknya aku antar saja gar, aku hanya khawatir kamu ngebut di jalan. Pasti ini bukan masalah Dewi melahirkan kan." Tebakan Dava kali ini memang benar karena Edgar langsung terdiam.
"Aku akan menyetir sendiri, kau urus saja masalah disini!"
"Tenangkan dirimu gar." Ucap Dava sambil berjalan mengikuti Edgar menuju kamar nya.
Menyerahkan kunci mobil pada Edgar, Dava tetap berusaha membujuk pria itu agar mau di antar.
Dava menghembuskan nafas lega saat Edgar menghentikan langkah nya dan menoleh padanya.
"Urus juga kamar yang aku sewa. Ganti kerugian barang yang sudah aku rusak."
Glek..
Pupus sudah harapan Dava, Edgar tidak bisa di bujuk dan akhir nya dia mengalah dan membiarkan Edgar menyetir sendiri.
Dava hanya mengantar Edgar sampai parkiran. Pria bertelanjang dada itu masih bertanya-tanya apa hal yang membuat Edgar Semarah itu dan langsung memutuskan untuk pulang padahal hari sudah gelap.
Saat akan masuk lift, samar samar Dava melihat sekilas bayangan Risa. Tapi ia tidak mempedulikan nya.
-
__ADS_1
-
hallo, aku arahsenja. terimakasih sudah mampir di karya ku. aku cuma mau ngasih tahu kalau aku updet nggak terjadwal. kadang bisa 3 hari baru updet tergantung mood ku untuk menulis bagus atau tidak. jika tidak sabar menunggu, bisa tunggu sampai cerita ini tamat ya.. i love you allš„°