
Edgar memutuskan untuk pulang cepat karena rasa pusing nya tidak kunjung hilang. Sampai di depan rumah ia dibantu Danu untuk masuk ke kamar nya. Pria itu langsung berbaring di tempat tidur nya.
"Dan tolong minta Bu asih untuk membuatkan ku air jahe." Titah Edgar dengan suara tertahan. Kepala nya pusing sekali dan tiba tiba badan nya menjadi lemas.
"Baik pak." Danu bergegas ke rumah Dewi menemui Bu asih. Ia merasa kasihan dengan majikan nya.
Danu sekilas melihat Dewi dan Edgar saling memandang dari jendela kamar mereka masing masing tadi malam. Melihat pemandangan seperti itu, ia seperti bisa merasakan juga apa yang di rasakan Edgar saat ini. Sopir Edgar itu teringat dengan ana yang menolak cinta nya.
Danu terbiasa tidur larut malam, saat mengambil air minum di dapur tadi tengah malam. Ia melihat lampu kamar Edgar masih menyala. Dan saat hendak kembali ke kamar nya ia berpas-pasan dengan Edgar yang keluar dari kamar. Ia bisa memastikan jika bos nya itu pasti tidak bisa tidur. Karena tidak biasanya Edgar belum tidur sampai larut malam seperti ini.
Dengan tergesa-gesa ia menerobos masuk rumah Dewi tanpa mengetuk pintu. Ia sedikit berlari, saat melewati kamar Dewi ,ia berpas-pasan dengan istri majikan nya itu. Danu Menundukkan kepala hormat lalu berjalan cepat ke arah dapur. Dewi yang melihat tingkah Danu hanyaengernyit bingung.
"Bu, tolong buatkan jahe hangat." Pinta Danu dengan nafas ngos-ngosan.
"Tumben minta jahe dan, biasanya kopi."
"Bukan buat saya Bu, tapi buat pak Edgar." Terang Danu.
Dewi yang hendak mengambil air dingin di kulkas pun menoleh pada Danu.
"Apa pak Edgar sakit?. Biasanya dia minta jahe jika sedang tidak enak badan." Tebak Bu asih, wanita paruh baya itu bergegas membuatkan jahe anget. Tangan nya cekatan mengupas jahe di tangan nya.
Dewi terkejut mendengar penuturan Bu asih, ia mendekat pada Danu.
"Apa yang terjadi dan?" Tanya Dewi, gurat kekhawatiran tercetak jelas di wajah segar nya yang baru selesai mandi.
"Bapak tidak enak badan Bu, tadi pagi mengeluh sakit kepala dan minta pulang cepat. Badan nya lemas, harus saya papah dulu Sampai ke kamar. Katanya tidak kuat Bu." Ucap Danu menunduk hormat.
"Astaga,,"
Dengan tergesa-gesa Dewi mengambil kotak obat di dalam kamar nya. Ia kembali ke dapur mengambil air jahe yang sudah di buatkan Bu asih. Ibu hamil itu khawatir sekali. Tapi saat baru hendak melangkah ibu hamil itu tiba-tiba berhenti. Ia taruh nampan itu di atas meja makan. Lalu beranjak ke dapur membuat bubur.
Bu asih yang melihat tingkah Dewi menyunggingkan senyuman. Ia tahu Dewi sebenarnya masih cinta dan peduli dengan suaminya. Hanya saja gara gara wanita itu hubungan kedua nya menjadi buruk dan serba salah paham.
Sesaat setelah selesai membuat bubur, Dewi berjalan dengan cepat, antara tidak sabar dan rasa khawatir yang membuncah ibu hamil itu seakan lupa kalau sekarang ia sedang mengandung.
"Pelan pelan jalan nya non," ucap Bu asih memperingati. Dewi berhenti lalu menoleh ke arah Bu asih, mengangguk dan segera berlalu ke rumah sebelah.
__ADS_1
Di depan kamar Edgar, Dewi mengatur nafas nya sebentar lalu mengetuk pintu kamar suaminya. Sungguh lucu pasangan ini.
Dewi berjalan mendekati Edgar yang tengah meringkuk di atas tempat tidur dengan memeluk selimut. Menaruh nampan di atas meja samping tempat tidur, lalu Dewi duduk di samping Edgar. Ia sentuh kening suami nya. Panas .
Dengan lembut Dewi membangunkan suaminya.
"Mas, mas ,,," panggil nya sambil mengusap bahu suaminya.
Ia tersenyum saat Edgar membuka mata. Setelah membantu Edgar duduk Ibu hamil itu meraih semangkuk bubur yang sempat ia buat tadi.
"Makan dulu mas, setelah itu minum obat." Tawar ibu hamil itu, menyendokan sesendok bubur lalu menyodorkan nya di depan bibir Edgar.
Edgar membuka mulut nya, melahap bubur yang di buat istri nya dengan pikiran yang menyimpan banyak pertanyaan. Hatinya seketika merasa bahagia, istri nya masih sama seperti dulu. Walau sedang marah tapi tetap peduli padanya.
Semangkuk bubur itu telah tandas, masuk ke dalam perut Edgar. Dewi memberikan minum dan obat pada Edgar.
"Terimakasih" ucap Edgar saat selesai meminum obat nya.
"Kenapa bisa demam? Apa terlalu banyak pekerjaan?" Tanya ibu hamil itu.
Edgar mengangguk "pembangunan proyek di Banten mulai di kerjakan Minggu depan. Jadi aku harus menyelesaikan semua nya secepatnya."
" Baiklah, mas Edgar bisa istirahat sekarang." Ujar ibu hamil itu, ia berdiri dari duduk nya tapi tangan nya di cegah Edgar.
"Apa malam ini bisa menemaniku disini?. Aku tidak bisa tidur kalau tidak ada kamu wi." Pinta pria itu dengan tatapan memelas seperti anak kecil yang meminta permen pada ibunya.
"Jadi yang di bilang Danu benar ya." Gumam Dewi pelan. Ada senyum samar yang muncul bersamaan dengan gumaman nya.
"Kamu bilang apa?" Tanya Edgar yang samar mendengar ucapan Dewi.
"Ah tidak apa-apa, aku akan tidur disini. Tapi bukan berarti aku sudah tidak marah. Ini ku lakukan hanya karena kamu sedang sakit." Ibu hamil itu naik ke atas tidur dan merebahkan tubuhnya di samping suaminya.
Edgar menghela nafas berat, tidak mudah membujuk Dewi sekarang. Istrinya itu menjadi keras kepala dan tetap kekeh pada pendiriannya.
Hampir tengah malam kantuk tak kunjung datang, Menatap langit langit kamar keduanya sama-sama belum bisa memejamkan mata. Hanya Deru nafas yang terdengar di dalam kesunyian kamar itu.
Edgar menghela nafas berat, dilipatkan kedua tangan nya di atas kepala sebagai bantal.
__ADS_1
"Kamu sungguh ingin bercerai dari ku wi?" Tanya pria itu memecah kesunyian yang tercipta. tanpa menoleh ke arah istri nya yang sekarang tengah menatap nya Edgar masih menatap langit langit kamar, pikiran nya menerawang jauh.
Dewi terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Sejujurnya hati nya masih ingin bersama suaminya. Tapi sakit hati nya memilih menyudahi.
Tak kunjung mendapat jawaban dari istri nya, Edgar memiringkan tubuh nya menghadap ibu hamil itu yang masih menatap nya. Kedua nya saling memandang dalam diam.
"Harus dengan cara apalagi aku meyakinkan mu?. Cinta dan hati ku hanya untuk mu wi. Tidak ada wanita lain bahkan Risa sekalipun. Hati ku hanya ada nama Diandra Dewi tidak ada yang lain. Kamu bisa melihat nya langsung." Ucap Edgar dengan suara bergetar dan putus asa.
Dewi bisa melihat itu, melihat ketulusan dalam ucapan Edgar. Tapi ibu hamil itu mencoba tetap tenang dan tidak terhanyut.
"Mas, gelas yang sudah pecah jika di satukan kembali pasti bentuk nya sudah tidak lagi sama. Sama dengan hubungan kita mas, pasti rasanya tidak lagi sama. Bisa jadi yang dulu nya aku sangat percaya padamu, sekarang bisa saja aku tidak lagi percaya. Bisa saja aku menjadi lebih posesif dan cemburuan. Itu karena kepercayaan ku sudah kamu rusak sebelum nya mas." Terang Dewi, ibu hamil itu menghapus cairan bening yang mengalir pada pipi suaminya.
"Apa tidak bisa tetap bersama ku, mulai dari nol kembali? bahkan Demi anak kita" Binar mata Edgar yang memandang istri nya membuat sang istri yang di tatap nya menjadi salah tingkah.
"Bisa saja, tapi aku tidak menjamin Dewi mu yang dulu masih seperti dulu. Dewi yang sekarang tak lagi sama mas, semua sudah berubah" jeda sejenak sebelum Dewi melanjutkan perkataan nya "sejak kamu meninggalkan ku demi menjaga perempuan lain. Hati ku masih sakit saat mengingat itu."
Ucapan itu lolos bersamaan dengan suara bergetar, Dewi bangkit dari tidur nya. Duduk di tepi ranjang. Edgar mengamati setiap pergerakan istri nya.
"Aku akan kembali ke kamar ku, kamu istirahat saja mas."
"Wi,,," Edgar meraih tangan Dewi saat ibu hamil itu sudah berdiri dari duduk nya.
"Aku akan menuruti keinginan mu untuk bercerai dari ku."
Deg ...
Dewi menoleh pada suaminya dengan dada bergemuruh.
"Setelah anak ini lahir, kamu akan bebas. kamu tidak akan tersakiti lagi atas keberadaan ku. Tapi sebelum waktu itu tiba, tetap berada di samping ku. Agar aku bisa memastikan kalian tetap baik baik saja. Tetap lakukan tugas mu sebagai istri ku, aku pun akan melakukan hal yang sama. Bertahan lah sebentar lagi, berpura-pura lah sebagai sepasang suami istri yang bahagia. emm ,,, Anggap itu sebagai upah ku karena sudah menuruti permintaan mu bagaimana?" Edgar tersenyum menatap istri nya.
Butuh kekuatan besar untuk mengatakan itu semua. Sesungguhnya pria itu tidak ingin bercerai, tapi ia tidak tega melihat istri nya merasa terus tersakiti di dekat nya. Dengan berat hati Edgar menyetujui permintaan istri nya. Saat ini hati nya belum siap, sampai waktunya tiba pria itu hanya akan berusaha mengembalikan kepercayaan istri nya. Ia tidak peduli dengan hasil akhir nya.
Dewi yang masih terpaku di tempat nya berdiri tidak bisa berfikir apa-apa. Ini keinginan nya yang ingin berpisah dari Edgar. Berulang kali ia meminta cerai dari suami nya tapi selalu di tolak. Tapi kenapa saat Edgar sekarang mau menuruti permintaan nya hatinya merasa sakit.
"Kemari, kita bisa memulai nya malam ini. Tidur bersama ku, aku akan mengelus kepala mu sampai kamu tertidur. Sama seperti dulu." Ucap Edgar tersenyum tangan nya terulur meminta istri nya untuk mengisi ruang kosong di sebelah nya.
Tiduran sambil memeluk tubuh istri nya, Edgar dengan lembut mengelus kepala Dewi. di cium nya kening istri nya lama.
__ADS_1
"Aku mencintai mu wi, percayalah padaku."