
Terdengar Dering ponsel berbunyi memenuhi dalam mobil untuk kesekian kali nya. Edgar tertawa saat mendapati nama istri nya terpampang di layar depan hp nya. Baru setengah jam yang lalu istri nya menelepon tapi sekarang sudah menelepon lagi.
"Ya sayang,," mengangkat telfon dari istri nya Edgar tidak bisa menyembunyikan gelak tawa nya.
"Apa sudah sampai mas?" Jawaban dari sebrang menyahut dengan lembut nya.
"Sebentar lagi sayang, setelah sampai aku akan mengabari mu. Sekitar 15 menit lagi" Edgar melirik Dava di samping nya yang menahan rasa tawa nya.
"Baiklah mas, kabari aku kalau sudah sampai ya,,,"
Tut tutt telefon di matikan sepihak dari seberang sana membuat Edgar menggelengkan kepala.
"Ha,,ha,,ha.." akhir nya tawa Dava pecah juga setelah sambungan telepon itu terputus.
"Jangan meledek ku dav!" Edgar meninju lengan Dava tapi sepertinya sang asisten tidak merasa kesakitan sama sekali terbukti dari gelak tawa nya yang bertambah keras.
"Hampir setiap setengah jam istri mu itu selalu menelepon, sepertinya istri mu ingin selalu memastikan kalau kamu sedang tidak bersama wanita itu gar." Ucap Dava yang masih fokus pada jalanan di depan nya.
Edgar memijit kening nya yang tidak pusing "kepercayaan nya padaku sudah hilang dav, sekarang aku sedang berusaha mengembalikan nya. Istri ku itu tidak seperti dulu.."
Edgar menerawang jauh pada jalanan kota Banten itu. Ingatan nya kembali pada beberapa bulan silam. saat istri nya masih sangat percaya padanya. Bahkan saat Edgar berbohong pun Dewi masih dengan senyum manis nya memilih untuk percaya padanya. Tidak pernah sedikit pun Edgar mendapat keluh kesah dari istri nya. Istri nya akan dengan sigap selalu menyiapkan segala keperluan nya.
"Wajar saja gar kesalahan mu dulu itu sangat fatal sampai sampai aku juga ingin membunuh mu. Kalau aku jadi Dewi, aku akan meminta cerai dari mu..."
"Dia sudah melakukan nya dav," potong Edgar membuat pria disamping nya membelalakkan matanya.
Dava yang mendengar itu refleks meminggirkan mobil nya.
"Serius?" Tanya Dava pada Edgar yang mengumpat kesal padanya.
"Sialan! Bikin kaget saja kau!"
"Heh jawab dulu pertanyaan ku sialan!"
Edgar menghela nafas berat "ya saat aku kembali dari Singapura Dewi melayangkan surat cerai padaku. Setelah anak ini lahir kita akan bercerai."
"Apa!" Dava terkejut mendengar pernyataan Edgar "tapi sepertinya Dewi masih sangat mencintai mu gar. Aku masih melihat itu dari sikap cemburuan nya padamu. Dia juga masih sama perhatian nya dengan dulu. Hanya sekarang dia sedikit lebih posesif dan gampang meledak-ledak tanpa ragu di depan orang lain."
Edgar tersenyum getir "aku yang memintanya untuk berpura-pura menjadi istri yang mencintai suami nya. Menjadi pasangan suami istri yang bahagia. Semua itu hanya kepura-puraan saja dav.."
"Sudahlah cepat jalankan mobilnya.." imbuh Edgar.
Dava kembali mengemudikan mobil nya, melirik pria di samping nya Dengan tatapan penuh menelisik. Dava bisa melihat gurat kesedihan di wajah bos sekaligus sahabat nya itu.
"Tapi aku yakin, semua sikap yang di tunjukan Dewi padamu itu tulus gar. Tidak ada sama sekali kepura-puraan seperti yang kamu maksud."
Melanjutkan sisa perjalanan, mereka berdua saling terdiam.
Edgar memutuskan untuk istirahat di hotel terlebih dahulu sebelum mengecek proyek nya.
***
Sampai di pelataran hotel Dava melihat mobil Risa di depan mobil nya. Pria itu sedang berfikir bagaimana cara membuat Edgar dan Dewi tidak berpisah nanti. Dava mengumpat di dalam hati saat Risa turun dari mobil nya dan berjalan menghampiri Edgar.
__ADS_1
"Sampai kapan kamu terus seperti ini sa?"
Tak lama terdengar bunyi ketukan di kaca mobil. Edgar membuka kaca mobil nya dan melihat Risa yang sedang tersenyum.
"Ada apa sa?" Tanya Edgar, yang ikut keluar dari dalam mobil dan Dava meninggalkan mereka berdua ke parkiran.
"Nanti makan siang dengan bersama, aku sudah memesan meja untuk makan siang gar." Jawab wanita itu.
"Maaf aku tidak bisa sa, aku akan makan siang di dalam kamar saja." Tolak Edgar, ia menoleh pada Dava yang sedang menurunkan koper dari dalam bagasi dan berjalan menghampirinya.
"Kamu bisa makan dengan Dava kalau mau, dia pasti dengan senang hati menemanimu." Telunjuk Edgar menunjuk Dava yang baru saja mendekat di depan mereka. "Iya kan dav?"
Dengan dahi mengkerut Dava tidak mengerti arti ucapan Edgar. Iya apa? Kenapa menunjuk ku? Pria lajang itu bingung.
"Baiklah sa, aku mau istirahat dulu. Sampai ketemu nanti setelah makan siang." Pamit Edgar yang langsung menarik Dava yang masih bingung. Risa yang merasa di abaikan mengepalkan tangan kesal.
Di lain tempat, Dewi yang sedang fokus menonton tv di temani Bu asih dan ana. Mulut nya yang tidak berhenti mengunyah, tangan nya yang terus memasukan potongan buah ke dalam mulut nya dengan garpu. Ibu hamil itu tertawa saat layar tv menampilkan acara lawakan.
Sedangkan dua asisten rumah tangga nya saling pandang dan melempar senyuman saat tawa terdengar lagi dari bibir majikan nya. Hal seperti ini sudah seperti rutinitas, jika menjelang siang Dewi akan meminta Bu asih dan ana menemani nya menonton tv. Bahkan pekerjaan mereka berdua belum sepenuh nya selesai.
"Lihat Bu, mba lucu sekali dia. Pakaian apa itu yang di pakai nya."
Gelak Tawa terdengar lagi dari bibir ibu hamil itu saat layar tv menampilkan salah satu host berganti kostum seperti anak kecil dengan dot di tangan nya.
Bu asih dan ana ikut tertawa saat melihat nya.
Sedangkan Edgar yang sudah berada di dalam kamar hotel merebahkan tubuh nya di atas kasur. Ia merogoh hp di saku celana nya. Saat akan menghubungi Dewi, Edgar tergoda untuk melihat cctv rumah yang terhubung di hp nya. Tangan nya berselancar penasaran dengan apa yang sedang di lakukan istri nya saat tidak ada dirinya.
Puas melihat tingkah istri nya Edgar memutuskan untuk menelepon istri nya.
Dalam dering ketiga panggilan di jawab dari seberang sana. Masih terdengar gelak tawa yang menghiasi suara lembut sang istri.
"Ha halo mas, apa sudah sampai?"
"Sudah sayang, sekarang aku sedang istirahat." Jawab Edgar, beberapa detik istri nya belum menjawab. Masih jelas ia dengar gelak tawa istri nya beserta asisten rumah.
"Sayang,, kamu sedang apa?" Imbuh Edgar ketika istrinya tak kunjung menjawab.
Edgar menghela nafas berat saat istri nya melupakan nya dan masih saja asik seru menonton tv. Ada sedikit rasa kesal di hati Edgar akhirnya ia memutuskan sambungan telepon nya.
Tut Tut ...
Dewi tersentak saat mendengar panggilan dinputuskan Edgar. Dengan segera ibu hamil itu berjalan menuju kamar nya.
Ia menghubungi suami nya kembali tapi tak kunjung di angkat. Ia mencoba lagi tapi lagi lagi tak ada jawaban.
"Apa mas Edgar marah, maafkan aku mas"
Akhir nya Dewi mengirimkan pesan maaf pada Edgar karena telah mengabaikan nya.
Tiba tiba ibu hamil itu ingin sekali makan asinan, sebenarnya ia sudah meminta Bu aish untuk mencarikan kemarin. Tapi ia harus menelan kecewa saat Bu asih pulang dengan tangan kosong. Saking pengen nya Dewi memutuskan untuk mencari nya sendiri.
Sedangkan edgar yang baru saja selesai mandi berjalan menuju pintu kamar yang dari tadi di ketuk dari luar.
__ADS_1
Muncul Dava yang membawakan pesanan Edgar,
"Makan siang mu gar," ucap Dava, yang masih memegang kentang goreng di tangan nya. Pria lajang itu menyerahkan nampan yang berisi makan siang Edgar.
Menerima nampan dari Dava, Edgar menutup pintu dan langsung masuk kedalam kamar nya, mengabaikan Dava yang berdiri mematung di depan pintu.
"Sialan Edgar, aku mau menanyakan kejadian di depan tadi. Kenapa Edgar menunjuk ya .. dan kenapa wajah wanita itu terlihat sangat kesal."
Dava berjalan menuju kamar nya dengan perasaan yang penuh tanda tanya. Ia sejak tadi memikirkan hal itu tapi tak kunjung mendapat jawaban.
***
Setelah makan siang, Edgar berangkat ke tempat proyek nya yang masih tahap pembangunan. Meninjau segala sesuatu nya Edgar baru kembali ke hotel saat hari sudah gelap.
Di dalam mobil, terdengar bunyi ponsel berdering. Edgar merogoh sakunya tapi hp tak ada. Ia baru sadar ternyata hp nya tertinggal di hotel.
"Halo, ya Bu Dewi ada apa?" ucap Dava mengangkat telepon. Ternyata hp Dava yang berbunyi.
Edgar melirik Dava, sudah ia pastikan Dewi yang menelepon Dava itu Dewi istri nya.
"Kami sedang dalam perjalanan ke hotel Bu, pak Edgar bersama saya."
Edgar membisikan sesuatu pada Dava. Saat Dava mendapat pertanyaan dari Dewi kenapa Edgar tak menjawab telepon nya.
"Hp pak Edgar tertinggal di hotel Bu."
Sesaat setelah itu panggilan di selesaikan. Dava menoleh pada Edgar yang memijit pelipis nya.
"Dewi khawatir pada mu gar, istri lagi hamil besar seperti itu seharusnya kamu jangan pernah meninggalkan hp mu. Kalau dia ada apa-apa bagaimana?"
Bugh ...
Bukan mendapat jawaban Dava malah mendapat tonjokan di lengan kiri nya.
"Sialan! Sakit gar" pekik Dava saat merasakan lengan nya berdenyut. Edgar menonjok nya dengan keras tadi.
"Jangan berbicara seperti itu dav, aku tidak mau terjadi apa-apa pada Dewi dan bayiku." Seru edgar sambil menatap tajam Dava.
"Aku kan hanya mengingatkan gar. Oh iya, bayi Mu laki laki apa perempuan?"
"Laki laki. Sudah cepat jalankan mobil nya. Dewi pasti khawatir sekali." Titah Edgar yang dinangguki oleh Dava.
calon ayah itu sudah tidak sabar ingin segera menelpon istri nya.
20 menit kemudian Edgar sudah sampai di hotel. Masuk ke dalam kamar nya sendiri pria itu langsung mencari keberadaan ponsel nya.
Dengan cepat ia melihat ponsel nya, ada beberapa panggilan tak terjawab dan beberapa pesan yang masuk.
Tapi Edgar terkecoh dengan pesan tanpa nama itu. Karena penasaran ia membuka isi pesan tersebut yang ternyata berisi beberapa foto, sekitar 8 foto.
Edgar mengepalkan tangan nya saat melihat foto itu. Rahang nya mengeras, dadanya bergemuruh. Ia melempar ponsel nya di atas kasur dengan kasar.
"SIALAN KAU ERIK GUNAWAN!!!!"
__ADS_1