Aku Vs Masa Lalu Suamiku

Aku Vs Masa Lalu Suamiku
bab 8 sekilas tentang mia


__ADS_3

Semburat cahaya sudah mulai menampakan cahaya kehidupan nya di ufuk timur. 


Mia yang sudah berada di dapur membantu ibu Dian membuat sarapan. Ia tengah disibukan dengan memotong sayuran lalu mencucinya. Sebelum nya dia sudah menyapu, dan mencuci piring.


Bersikeras membantu semua pekerjaan rumah walaupun sang tuan rumah sudah melarang nya.


Mia merasa tidak enak sudah di beri tumpangan apa iya dia malah tidak melakukan apapun. Dia masih tahu diri dan tidak akan melewati batasan nya.


"Biar ibu yang teruskan mi, kamu siap siap saja untuk keperluan kedai. Dan tolong bangunkan Dewi ya seperti nya dia kelelahan sampai bangun sesiang ini." Pinta Bu Dian, Mia menggangguk dan berjalan menuju kamar Dewi.


Waktu memasuki kamar Mia terpaku melihat Dewi yang tertidur pulas. Ditatap nya wajah teman nya itu. Ada semburat kasih sayang terpancar di matanya.


"Terimakasih ya wi, cuma itu yang bisa aku ucapin. Kamu baik hati sekali. Tanpa berfikir panjang mau menolong ku. Semoga kebahagiaan selalu meliputi mu." 


Gumam nya dalam hati.


Saat masih terpaku menatap Dewi, Mia terkejut melihat Dewi yang tiba tiba mengerjapkan mata nya lalu duduk.


" Sudah jam berapa mi?" Gumam gumam masih merasa ngantuk dan ingin tidur lagi.


"Jam setengah tujuh wi." 


"Aku kesiangan ya?" Bertanya lagi lalu kembali menguap. Turun dari tempat tidur.


"Mandi dulu wi. Lalu sarapan." Ucap Mia, bergegas keluar kamar.


Mereka ber'empat sudah duduk di meja makan. Didepan nya sudah ada piring masing masing. Mengisinya dengan nasi dan lauk pauk.


"Lily belum bangun mba?" Tanya Dewi sambil menyendokan nasi kedalam mulut.


"Belum, paling sebentar lagi. Tadi tengah malam sempat terbangun dan rewel" ucap ayu menghela nafas kasar.


Wajah kelelahan dan kurang tidur itu tampak beberapa kali menguap.


"Resiko jadi seorang ibu ya begini. Kalau tidak kelelahan ya kurang tidur." Menyendokan nasi kemulut nya dengan tidak semangat.


"Jadi kamu harus siap siap wi, sebentar lagi mau menikah dan punya anak." Ucap nya lagi.


"Apa sih mba, nikah juga belum sudah ngasih nasihat soal anak." Dewi menunduk menyembunyikan rasa malu nya. Dia belum membicarakan soal anak dengan Edgar. Mau langsung program atau menunda dulu dia tidak tahu.


"Tidak baik menunda wi. Anak itu anugerah yang terindah dari Tuhan." Ucap Bu Dian memberi nasihat pada putri nya.


Seakan tahu apa yang sedang di pikirkan oleh putri nya.

__ADS_1


Mia sedari tadi hanya fokus dengan makanan di depan nya, menyimak. tidak mau ikut campur terlalu jauh soal kehidupan teman nya itu.


***


Dewi dan Mia sudah berada di kedai. Merapikan bahan bahan dan mengisi satu persatu toples tempat toping dengan yang baru.


Dewi membuka kedai nya dengan tersenyum. Berharap hari ini ramai pembeli yang datang. Tampak mobil box berhenti didepan kedai nya. Sang sopir turun dari dalam mobil berjalan ke arah belakang mobil nya. 


Mengeluarkam dan mengangkat satu cooler box lalu berjalan kearah Dewi.


" Langsung ditaruh di frizer saja ya pak seperti biasa." Ucap Dewi mempersilahkan pak Amir masuk kedalam kedai nya.


Dewi sudah langganan beli es batu di tempat pak Amir. Karena selain harga nya murah daripada yang lain pak Amir juga siap mengantar langsung sampai ditempat. Jadi dia tidak perlu bersusah payah untuk mengambil ditempat sang penjual.


"Sudah mba Dewi." Ucap pak Amir.


Lalu bintang menyerahkan uang padanya.


"Dengar dengar mba Dewi mau menikah ya?"


"Ya pak, minta doa nya ya pak." Ucap nya tersenyum.


"Semoga dilancarkan segala urusan nya. Kalau begitu saya pamit dulu mba."


Hari semakin siang, sang Surya sudah berada diatas kepala. Menyemburkan cahaya dan hawa panas nya.


Dewi sedikit kuwalahan saat ramainya pembeli yang datang.


Dari anak kecil, remaja sampai dewasa pun duduk mengantri sambil mengobrol dengan rekan nya.


Mobil Alphard warna putih berhenti didepan kedai nya. Sang pemilik turun dari mobil sambil membuka kaca mata hitam yang melekat dimatanya.


Tampak seorang wanita yang masih terlihat cantik walau di usia nya yang tak lagi muda.


"Wi.. Dewi. Ada yang datang itu siapa?" Mia mencolek lengan Dewi yang sedang fokus membuat pesanan meminta nya  menoleh sebentar ke arah depan.


"Palingan juga pembeli kan mi." Ucap Dewi yang masih fokus dengan gelas plastik didepan nya.


"Tidak wi ini beda seperti nya orang kaya."


Mau tidak mau Dewi menoleh kedepan karena Mia yang selalu saja mencolek lengan nya.


Mata Dewi membulat kala melihat sang calon mertua datang dengan sopir yang menenteng paper bag ditangan kanan dan kirinya.

__ADS_1


"Ma.." Dewi langsung menghampiri calon mertua nya itu dan mempersilahkan duduk di kursi yang masih kosong.


"Mama ada hal apa sampai datang ke kedai Dewi?" Tanya nya gugup.


"Memang nya mama tidak boleh datang kesini?" Tanya Bu  Novi menampilkan wajah yang terlihat sedih.


"Eh bukan begitu maksut nya ma. Boleh kok ma. Dewi hanya terkejut tadi." Ucap nya gelagapan.


Bu Novi tersenyum lalu menyuruh sopir nya yang bernama pak Ihsan menyerahkan paper bag yang dibawanya kepada Dewi. 


"Apa ini ma?" Tanya Dewi setelah menerima paper bag itu.


"Itu baju untuk ibu , Kakak mu dan teman mu."


"Terimakasih sebelumnya ma. Apa ini tidak merepotkan mama? Dewi sebenarnya masih bisa membeli sendiri." Tanya nya dengan hati hati takut mertua nya akan tersinggung.


"Ini perintah nak jangan ditolak ya."


Ucap Bu Novi. " Oh iya lusa mama dan papa akan datang kerumah mu. Memastikan tanggal untuk kalian menikah." 


"Baik ma." Ucap Dewi tersenyum.


"Ya sudah mama pamit ya. Ada urusan sebentar hari ini." Pamit Bu Novi pada Dewi.


Dewi mencium tangan Bu Novi. Bu Novi mengusap lembut rambut dewi dan tersenyum.


Setelah mobil mertua nya terlihat sudah menjauh Dewi beranjak masuk ke dalam kedai. Langkah nya terhenti saat terdengar seseorang memanggil nya.


Berbalik badan lalu melihat seseorang yang datang menghampirinya.


"Hai wi.. sudah lama ya"


.


.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2