
Pukul 07:30 Edgar kembali dari kantor nya, mobil yang di kendarai Danu melaju cepat ke arah perumahan menengah ke bawah milik Dewi. Pria yang hampir kepala tiga itu memutuskan untuk kembali kerumah istrinya walaupun sudah diberi peringatan keras oleh sang istri tadi pagi.
Ia tahu saat hamil seperti ini mood istrinya gampang berubah. Terkadang bisa bersikap sangat manja tapi tak jarang juga tiba tiba bisa menjadi macan betina yang kelaparan. Dengan hati yang was was edgar Berharap kemarahan istrinya mereda jika ia terus membujuk dan memberi pengertian. Pria itu tersenyum menatap bunga mawar merah dipangkuan nya. Tak lupa sebungkus rujak buah di dalam kantong plastik hitam yang di belinya tadi tergeletak di samping nya.
Tadi pagi Edgar sempat bertanya pada Bu asih apa yang terjadi pada Dewi hingga membuatnya marah seperti itu. Padahal Edgar sudah berhasil menjelaskan pada Risa tentang perasaan nya yang sudah tidak mencintai nya. Hanya ada nama sang istri di dalam hatinya. Seharus nya Dewi bahagia kan? Sekarang suaminya hanya mencintai nya.
Tapi untung tak dapat diraih , malang tak dapat di tolak. Ternyata istrinya hanya melihat cuplikan terakhir saat Risa meminta pelukan untuk terakhir kali.
Sesampainya di rumah, Edgar langsung masuk ke kamar setelah sebelum nya meminta Bu asih untuk pulang ke rumah sebelah. Pria itu segera membersihkan diri setelah seharian lelah dihadapkan pekerjaan yang tidak ada habis nya. Selang beberapa menit, Edgar sudah keluar dari kamar mandi. Wajahnya tampak segar dengan aroma semerbak ditubuhnya. Edgar menatap bunga yang di taruh nya tadi di atas ranjang. Ia tersenyum tidak sabar ingin bertemu istrinya.
Sampai jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam, belum ada tanda-tanda kemunculan istri nya. Perasaan yang tadinya bahagia berubah menjadi khawatir seketika. Edgar berjalan mondar mandir di ruang tamu. Calon ayah itu berulang kali menatap jam dinding dengan perasaan cemas.
Saat pukul 22:15 akhir nya terdengar sebuah mobil berhenti di depan rumah mereka.
Dewi dan Kinan masuk ke dalam rumah tanpa menyadari jika ada seseorang yang tengah duduk di sofa, matanya terus saja mengamati pergerakan mereka.
"Kenapa pulang larut sekali?"
Seketika Dewi dan Kinan menoleh ke arah asal suara. Kinan terpaku di tempatnya berdiri, gadis muda itu menciut saat melihat tatapan tajam mata Edgar beriringan dengan aura mencekam. Dilirik nya Dewi di sebelah nya. Tidak ada raut ketakutan di wajah ibu hamil itu, melainkan ekpresi kesal yang malah menghiasi wajah lelah nya.
"Dari mana saja?, Bukan kah aku sudah melarang mu untuk pulang malam bahkan selarut ini!" Edgar berjalan menghampiri istri nya yang masih menatap kesal ke arah nya.
"Kamu tidak tahu, aku sangat mencemaskan mu di rumah! Dari mana?" Tanya Edgar lagi saat pertanyaan nya dari tadi tidak ada satupun yang di jawab oleh istri nya.
Bukan nya takut, Dewi malah semakin menantang. Menatap kesal pada suami nya, ibu hamil itu mengumpat di dalam hati.
"Bukan kah aku sudah bilang, untuk pergi dari sini? Apa kamu tidak mendengarkan perkataan ku tadi pagi!" Jawab nya tak mau kalah.
__ADS_1
"Kamu mengusir suami mu wi?"
Kinan yang tidak tahu menahu atas apa yang terjadi hanya bisa menatap bingung atas pertengkaran suami istri di depan nya.
Merasa tidak enak hati berada di tengah situasi pertengkaran sepasang suami istri. Kinan menarik ujung baju yang di pakai Dewi.
"Mba, aku masuk ke kamar dulu ya. Kalau membutuhkan sesuatu panggil saja ya mba." Ucap gadis itu.
Dewi terhenyak, ia lupa jika masih ada Kinan di antara mereka. Edgar yang melihat itu menghela nafas kasar.
"Kinan, malam ini kamu bisa tidur di rumah sebelah dulu. Ada urusan yang harus aku selesaikan dengan istri ku malam ini." Titah Edgar, tanpa melihat ke arah lawan bicara nya. Tatapan nya masih menatap dalam wanita hamil di hadapan nya.
"I...iya mas, mba. Kinan ke rumah sebelah dulu ya. Kalau ada apa-apa bisa telfon Kinan. Permisi " gadis itu berjalan cepat keluar dari rumah menuju rumah sebelah yang di tempati Bu asih dan Danu. Ia tidak mau terlibat dalam masalah rumah tangga orang lain. Gadis jomblo seperti dirinya lebih memilih fokus pada masa depan nya.
***
"Baiklah, lupakan yang tadi. Aku membelikan rujak buah kesukaan mu sayang, yang banyak mangga nya kan. Kemari tadi aku menyimpannya di kulkas agar tetap segar saat di makan." Edgar menarik tangan istri nya menuju ruang makan yang terhubung langsung dengan dapur. Beruntung nya tidak ada penolakan dari istri nya.
Setelah memastikan istrinya duduk di kursi Edgar mengambil rujak di dalam kulkas. Memindahkan nya ke dalam piring lalu menaruh nya di depan istri nya.
Edgar menusukan buah itu dengan garpu lalu ke sambal gula merah yang terlihat pedas itu, ia sodorkan di depan bibir istri nya.
"Ayo coba sayang, kata penjual nya mangga ini dipetik langsung dari belakang rumah nya. Jadi rasanya pasti segar."
Edgar Tersenyum pada istrinya yang masih saja membungkam mulut nya.
"Aaa..." Ucap nya lagi saat istrinya masih saja tidak mau membuka mulut.
__ADS_1
Yang ada di perasaan Dewi saat melihat mangga muda segar di depan nya membuat nya teringat kejadian tadi pagi, saat Risa datang kerumah nya dan memeluk suaminya.
Seketika amarah nya tersulut dan tanpa sadar ia mendorong kasar piring yang penuh berisi potongan buah itu. Membuat piring jatuh ke lantai dan pecah serta potongan buah berceceran di sekitar nya.
Edgar tersentak, netra nya menatap piring pecah itu Dengan nafas naik turun. semangkuk sambal itu pun ikut tumpah sampai mengenai kaos nya.
"JANGAN KETERLALUAN DIANDRA DEWI!" Sentak Edgar. Ia merasa tidak sabar sekarang saat istrinya melakukan hal tidak sopan di depan nya.
Dewi tersentak ia terkejut sampai berdiri dari duduknya saat mendengar bentakan Edgar. Nyali nya menciut, jemari nya saling meremas ujung baju nya.
"Pergi. Kamu boleh pergi dari sini." Ucap Dewi, ibu hamil itu berlutut di lantai mengumpulkan pecahan piring dan potongan buah yang berserakan. Bola matanya memanas, ia tidak sadar dengan apa yang di lakukan nya tadi. Dia tidak sengaja, entah mengapa emosinya tersulut saat melihat mangga muda itu.
Edgar tertegun memperhatikan pergerakan istri nya yang mengumpulkan pecahan piring. Bisa tertangkap netra nya saat tangan gemetar itu mengumpulkan Satu persatu pecahan piring yang berserakan.
"Masuk ke kamar, biar aku saja yang membereskan ini." Titah Edgar, Ikut berlutut di samping istri nya, pria itu dengan cekatan mengumpulkan potongan buah yang berserakan.
"Biar aku saja!" Dewi merebut potongan buah yang ada di tangan Edgar dengan kasar.
"Biarkan aku saja wi, masuk ke kamar dan bersihkan tubuh mu. Aku akan menyusul saat sudah selesai membersihkan ini." Seperti anak kecil yang berebut permen, Edgar dan Dewi berebut potongan buah itu.
"Aku bilang biar aku saja!" Bentak Dewi saat Edgar berhasil merebut kembali potongan buah itu dari tangan nya.
"Kamu kenapa sih? Kamu tidak suka rujak nya?, Tinggal bilang!. Aku akan menuruti semua keinginan mu. Tapi jangan keras kepala seperti ini. Menurut lah kali ini wi" suara Edgar melembut.
Tapi entah kenapa hati Dewi masih saja merasa kesal. "Silahkan pergi dari sini. Apa kamu tidak mendengar semua ucapan ku tadi pagi hah!" Bentak Dewi, nafas ibu hamil itu naik turun bersamaan dengan gemuruh di dada nya.
"Kalau kamu menuruti ucapan ku tadi pagi, ini semua tidak akan terjadi!" Teriak ibu hamil itu lagi. Ia dengan kasar mengumpulkan pecahan piring yang tersisa sampai salah satu pecahan itu melukai tangan nya.
__ADS_1
"Ahh,, shhh"