Aku Vs Masa Lalu Suamiku

Aku Vs Masa Lalu Suamiku
bab 20


__ADS_3

"aku berangkat dulu ya" mengusap kepala istrinya lalu mencium kening, dia agak berlama lama diposisi itu.


"Hati hati mas"


Dava membukakan pintu mobil untuk Edgar setelah memastikan Edgar masuk kedalam mobil, dia menatap Dewi lalu membungkukan badan. Masuk kedalam mobil duduk dibelakang kemudi lalu melajukan mobil nya menjauh dari tempat Dewi berdiri.


Dewi menatap mobil suaminya sampai keluar gerbang. Terdiam sebentar lalu pandangan nya teralihkan pada sekumpulan bunga aster yang berjejer rapi disamping rumahnya.


"Sepertinya itu kesukaan mas Edgar" gumam gumam.


Sedangkan dirinya? Dia sendiri lebih menyukai bunga mawar.


Tapi dia tidak pernah protes atas apa yang sudah disiapkan Edgar untuknya. Dia tidak mau membuat Edgar kecewa.


Dewi masih enggan beranjak dari tempat nya berdiri. netra nya masih menatap bunga itu dengan tatapan yang sulit di artikan.


Didalam mobil Dava melirik Edgar sekilas pada kaca. Dilihat nya Edgar yang sudah berkutat pada laptop dipangkuannya. Mengerjakan pekerjaan nya yang sudah tertunda beberapa hari.


"Pengantin baru bukan nya bulan madu malah sibuk dengan pekerjaan nya. Istrinya di anggurin."


Mencoba menggoda majikan nya.


"Kamu mau ku pukul!" Kesal. Tapi tangan nya bergerak menutup laptop lalu menggeser nya kesamping.


Dava menahan tawa saat melihat tatapan tajam Edgar lewat kaca.


"Fokus saja pada jalanan didepan mu. Aku tidak mau mati muda!" Mulai meninggikan suaranya.


"Saya juga tidak mau mati muda tuan, apalagi saya belum menikah. Belum merasakan rasanya tidur ada yang menemani." seloroh Dava, ber akting sesedih mungkin.


"Dav!" Kali ini benar-benar marah dan berteriak.


"Baik tuan" Dava menciut saat mendengar teriakan Edgar. Ia kembali fokus pada jalanan daripada gaji nya dipotong nanti.

__ADS_1


Edgar terdiam, memikirkan perkataan Dava yang ada benarnya juga. 


Setelah sudah sampai didepan ruang kerja nya, Dava membukakan pintu untuk Edgar. Edgar melangkah masuk tetapi sesaat menghentikan langkah nya dan memutar badan menoleh pada Dava.


"Siapkan rencana bulan madu ku." Perintah Edgar.


Dava menyunggingkan senyum diujung bibir nya. Dengan segera menghampiri Edgar setelah menutup pintu.


"Mau tema yang seperti apa gar? Dewi suka tempat yang bagaimana? Diluar negri atau dalam negri?" Cerocos Dava memberondong Edgar dengan berbagai pertanyaan.


"Dalam negri saja. Pastikan tempat nya aman dan nyaman." Sudah duduk dikursi kerjanya.


"Bertema Pantai atau mau yang bertema pemandangan gar?" Antusias, tapi dibalik itu dia ingin mengetes Edgar.


"Pantai!" Jawab Edgar tegas.


Dava terlihat sedikit berpikir.


"Aku kan suami nya. Aku tahu apa yang disukai istri ku!" berucap dengan percaya dirinya.


"Kamu yakin?" Dava tampak ragu atas jawaban Edgar, dia sedikit banyak tahu tentang Dewi sebelum nya.


Edgar mendongak menatap Dava didepan nya.


"Ya.." jawabnya singkat, tapi ada sedikit keraguan yang tersirat diwajah tampan nya.


"Bukan kah pantai itu kesukaan Risa.?" Tanya Dava mencari kepastian lewat sorot mata laki laki didepan nya ini. Dulu saat Edgar masih bersama Risa. Dia lah yang mengurusi semua yang di inginkan Risa.  Jadi sedikit banyak nya dia tau hubungan antara Edgar dan Risa. Bahkan soal Risa punya penyakit yang mematikan pun dia tahu. tapi dia memilih bungkam sampai sekarang.


"Jangan membahasnya didepan ku!" Marah.


"Baiklah." 


Melihat Edgar yang terdiam Dava kembali bersuara.

__ADS_1


"Sudahlah , tanyakan dulu pada istri mu gar, agar kamu tidak mengecewakan nya"


Ucap Dava yang langsung keluar dari ruangan atasan nya.


Diluar ruangan Edgar. Dava berdiri mematung sebentar.


"Sampai kapan kamu akan seperti ini gar?


Disini yang akhirnya tersakiti adalah Dewi. Dia menikah dengan laki laki yang belum selesai dengan masa lalu nya. Apa aku harus ikut campur lagi pada hubungan mu?"


"Huh! Dia yang punya masalah dengan hatinya kenapa aku yang harus pusing memikirkannya!" 


"Aku tidak akan ikut campur lagi, itu janjiku! " berkata dengan lantang, meyakinkan dirinya sendiri.


"Eh bukan, tapi aku akan berusaha cuek." ralat nya,


Dava bergumam sendiri seperti orang gila tidak menyadari sedari tadi ada gadis cantik yang tampak kebingungan melihat ke arah nya.


"Tuan tidak apa apa?" Tanya Lala sekertaris Edgar. Memandang asisten pribadi bos nya itu dengan tatapan bingung karena Dava berbicara sendiri.


"Hah! Apa? Aku? Aku tidak apa apa la." menggaruk garuk kepala nya, merasa bodoh sendiri tidak menyadari ada orang yang melihat nya sedari tadi.


Dava Melangkah menuju ruangan nya sendiri meninggalkan Lala yang masih kebingungan.


"kenapa dia? mungkin banyak pikiran. ya mungkin seperti itu!"


.


.


.


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2